
Rupanya moodbooster seorang calon ayah yang tak menentu, memang selalu memancing emosi, itulah yang sekarang di alami oleh David.
Bukan cuma David saja yang menjadi korban Rangga.
Wijaya Corp pun hampir menjadi korban prank Rangga.
Karena kelalaiannya, Rangga tak sadar meninggalkan berkas penting salah satu klien di mansion.
Untung saja klien sudah menjalin hubungan bisnis dengan Wijaya Corp sudah cukup lama, hingga mereka masih bisa mentolelir kesalahan besar yang Rangga lakukan.
Dengan permohonan maaf yang di lakukan oleh Hardy dan Rangga, klien tersebut pun tetap meneruskan kerja sama mereka.
Peluh David bercucuran, karena asinan Bogor yang ia pesan ternyata rasanya begitu pedas membuat lidahnya terasa kebas.
Satu bungkus asinan sudah tandas ke dalam perutnya sedangkan satu bungkusan lagi ia kasihkan pada satpam gerbang depan.
Satu bungkus pecel ayam pun masih utuh karena Rangga memesan dua porsi.
Beruntung lokasi tukang pecel berada di lokasi tak jauh dari tukang asisan bogor, dengan jarak satu lemparan batu membuat David tak perlu lagi mencarinya di area yang lain.
"Vid makan tuh pecel satu lagi, sayang kalau mubazir."
Ucapan tak berdosa Rangga membuat David geram bukan main.
"Ehm saya sudah kenyang pak."
Kenyang sama ucapan anda.
"Kalau begitu kau kasih ke satpam gerbang depan saja Vid."
Sama dia juga sudah kenyang pak, asinan yang tidak bapak makan tadi sudah sukses masuk mengisi perut kosongnya pak.
David mengangguk lalu melangkah keluar dari ruangan, hatinya sedikit lega, setidaknya untuk sesaat dapat menghindar dari perintah raja yang mengesalkan hatinya itu, mungkin nasi pecel itu akan di kasihkan pada OB saja, pikir David.
Setelah masalah dengan klien sudah clear, David bisa sedikit mengistirahatkan tubuh dan otaknya.
"Huff, ku kira kerja dapat jabatan lumayan bisa kerja sambil santai, ternyata bukan hanya tubuh yang remuk, otak pun tetap di bantai" David bermonolog sendiri di pantry yang kosong.
__ADS_1
Di seruputnya kopi hangat yang di buatnya, untuk sejenak, ketenangan dapat ia nikmati.
Pandangannya tertuju pada kiruk pikuk kendaraan yang terlihat kecil di bawah gedung.
Sementara di tempat lain.
Shanum duduk di dekat jendela kamarnya, semilirnya udara ia biarkan memasuki ruang kamarnya.
Hari ini ia sama sekali tak melakukan kegiatan yang dapat menyebabtkan otot perutnya kembali tegang.
Perasaan cemas kini menghantui pikirannya.
Dan anjuran dokter Obgyn yang di hubunginya lewat ponsel pun menganjurkan untuk istirahat total padanya.
Otot tegang pada perutnya, yang terjadi pada usia kehamilan saat tri mester pertama sangat di khawatirkan, apalagi jika terjadi dengan jarak waktu yang sebentar karena berbahaya bagi janin dan sang ibu bayi, kata dokter.
Namun Shanum masih dapat bernafas lega karena kram perutnya bisa di katakan jarang.
Jam menunjukan pukul satu siang, dan ketukan pintu menyadarkan lamuannya.
"Non mau makan di kamar apa di ruang makan?" tanya bibi.
Bibi mengangguk ringan dan beranjak ke lantai bawah untuk mempersiapkan makan siang nona muda mereka.
Sop ikan, ayam srundeng dan perkedel kentang tersaji di atas meja, juga buah-buahan yang sudah di siapkan sang bibi menurut request Shanum.
Siang ini Shanum tak terlalu berselera menghabiskan makan siangnya.
"Non sakit?" tanya bibi yang melihat wajah lesu Shanum.
"Tidak bi, hanya sedang tidak nafsu makan hari ini."jawab Shanum.
"Apa ada suatu makanan yang sedang non inginkan, kalau bisa akan bibi buatkan?"
Kembali Shanum menggeleng, kehamilannya memang tidak merepotkan dengan keinginn aneh yang biasanya ibu hamil inginkan.
"Tidak bi, mungkin hari ini memang babyku sedang tak ingin makan banyak, nanti kalau aku ingin makan sesuatu pasti minta ke bibi?"
__ADS_1
Senyum bibi merekah, sungguh melihat Shanum yang selalu tenang di masa kehamilan pertama membuatnya merasa kagum.
Jika biasanya seorang wanita yang hamil pertama tentu akan mengalami masa ngidam sesuatu, dengan menginginkan makanan yang nyeleneh namun berbeda dengan nona mudanya ini, sikapnya tak berubah, selalu anggun dan lembut, tanpa sikap manja nan penuh drama.
Bibi melangkah kembali ke dapur mansion.
Shanum mengambil alpukat dan memotongnya bentuk dadu, lalu beberapa strowberry yang berukuran besar dan berwarna merah segar, dan anggur hijau pun ia belah dua lalu potongan beberapa buah tersebut ia satukan ke dalan sebuah mangkuk, minuman dalam kemasan botol kecil, dengan slogan perintah untuk cintai ususmu ....' di tuangkan ke dalam campuran buah tersebut.
Dengan penuh penghayatan Shanum mengunyah salad buatannya.
Shanum menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk garis senyum puas.
Setengan mangkuk salad KW buatannya sudah masuk dalam perut.
Shanum bangkit dari duduknya, menikmati salad di taman samping mansion mungkin akan lebih nikmat, pikirnya.
Namun dua langkah yang baru di ambilnya tiba-tiba terhenti saat rasa tegang di perutnya kembali terasa.
"Sshhhh" desisah halus keluar dari bibirnya, dan mangkuk pun terlepas dari tangan.
"Praaangg"
Tangannya sontak memegang area perut yang menegang.
Bibi yang melihat dari dapur pun berteriak sambil berlari tergopoh-gopoh ke arah nona muda mereka.
"Non, kenapa non?" teriak bibi, panik.
Shanum diam berdiri tak bergerak, tangannya menahan di udara dan memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja.
Dengan perlahan Shanum mulai mengatur nafasnya.
Bibi yang panik segera mengambil air minum hangat lalu di berikan pada sang nona.
"Minum dulu non, biar perut non Shanum sedikit nyaman."
Bibi segera menyodorkan minuman hangat pada Shanum.
__ADS_1
Wajah yang sedikit pucat namun ia memaksakan untuk tetap tenang dan tersenyum, lalu meneguk air hangat itu.
"Non, kita ke dokter ya?" pinta bibi yang masih panik setelah melihat wajah memucat sang nona muda mereka.