
Rangga terbaring lemas di ranjang dengan jarum infus menancap di tangannya.
Untung lah ia tak terlalu kehilangan banyak cairan tubuhnya sehingga ia tak mengalami dehidrasi akut.
Wajah yang sempat memucat pun kini terlihat segar kembali, dokter yang di hubungi Shanum telah memberikan obat yang cukup manjur hingga rasa melilit di perutnya kini berangsur hilang.
Hanya tinggal lemas yang di rasakan tubuhnya kini.
Dan atas anjuran dokter, Rangga di perbolehkan di infus di rumah tanpa harus di rawat di rumah sakit.
Sepeninggal dokter, Shanum duduk dengan wajah penuh sesal.
Andai saja ia tak memaksa Rangga untuk memakan sambal dengan cabe maksimal tentu kejadiannya tak akan seperti ini.
Sesal kemudian memang tak ada guna.
Kini hanya penyesalan yang Shanum rasakan, di tatapnya wajah sang suami yang terbujur lemas di atas ranjang.
"Sayang bagaimana perutmu apa masih tidak nyaman?" bisik Shanum saat melihat pergerakan mata Rangga yang terbuka.
Rangga melihat ke arah Shanum sinar matanya memandang dengan tatapan penuh kepanikan.
Rangga menggeleng pelan, ia pun tersenyum kecil, tak tega rasanya melihat wajah di sampingnya bersedih.
"Aku tidak apa-apa sayang, perutku mungkin hanya kaget, sekarang sudah jauh lebih baik" terang Rangga berharap penjelasanya dapat menenangkan hati sang istri.
"Apa masih sakit, apa perlu dokter ke sini lagi?" Shanum sungguh tak ingin sesuatu terjadi pada Rangga.
Rasa bersalah yang semakin menggerogoti hatinya saat melihat Rangga yang sedikit memaksakan senyum ke arahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, sungguh aku tidak mengira jika akan membuatmu seperti ini."
Air mata Shanum kini tumpah, membuat Rangga panik dan mencoba menggerakan tubuhnya untuk merengkuh Shanum ke dalam pelukannya.
Namun gerakannya tertahan saat perutnya kembali bergetar lirih.
"Akhh" pekikan tertahan Rangga membuat Shanum sontak membulatkan matanya panik.
"Sayang kau kenapa, apa perutmu terasa sakit lagi, aku panggilkan dokter yaa."
Rangga menahan tangannya menandakan ia baik-baik saja.
"Apa yang kau ingin sekarang sayang?" tanya Shanum dengan berlinang air mata.
"Aku ingin agar kau tetap di sisiku, aku akan sembuh sayang, tenanglah kau tidak usah panik."
Rangga menggenggam tangan Shanum dan menaruhnya di atas dadanya.
"Tapi kau kesakitan karena aku penyebabnya hiks, maafkan aku."
Kembali Shanum terisak pilu, sungguh melihat suaminya tak berdaya membuat dadanya begitu sesak.
Dengan lembut Rangga mengusap punggung tangan Shanum yang masih terisak sambil berbaring di atas dadanya.
"Ssttt jangan menangis, hapuslah air matamu, jangan buat baby kita bersedih." bisik Rangga lembut.
Shanum bangun dari tubuh Rangga dan segera mengusap air mata dengan kedua tangannya.
"Ehm hmm, aku tidak menangis, ibu wanita kuat sayang, kami tidak bersedih, kami menangis karena bahagia sayang." kalimat Shanum kini terdengar penuh semangat, tangannya mengusap perut ratanya, seakan sedang berbicara dengan sang buah hati dalam dekapannya.
__ADS_1
Rangga tersenyum haru, tangan kanannya ikut mengusap perut sang istri.
"Dia baby yang pintar, dia pasti tahu kita sedang berbahagia."
Malam hari dokter kembali datang, setelah hasil pemeriksaan tubuh Rangga sudah kembali segar dan cairan tubuhnya normal kembali, akhirnya cairan infus pun di lepas.
Namun Rangga masih berpantang makan masakan yang dapat menyebabkan iritasi ususnya.
Semua penghuni mansion bernafas lega.
Begitupun Shanum yang kini tak mau sedetikpun meninggalkan Rangga dari tempat tidurnya.
Untuk menu makan malam sengaja bibi membuat bubur dengan sayur bening.
Lambung Rangga belum di perbolehkan mengkonsumsi makanan berbumbu.
Shanum dengan telaten menyuapi bubur ke mulut Rangga.
Ada rasa haru dalam hatinya, jika pagi hari sang suami yang penuh perhatian mengurusi semua keperluannya.
Dari mengelap tubuh hingga memakaikan bajunya, kini terbalik, Rangga yang Shanum layani dengan sepenuh hati.
Karena rasa lemas masih tersisa di tubuhnya, Rangga terpaksa menghabiskan waktu di pembaringan.
Sedangkan Shanum selalu setia di sampingnya.
Sementara itu Darmawan sedang berbicara dengan Hardy lewat ponselnya di ruang tengah yang terdengar oleh Daren.
Saat mendengar nama Shanum dari sang ayah, sontak terbit rasa penasaran Daren timbul.
__ADS_1
Apa, ada apa dengannya, apa sesuatu terjadi padanya?