Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Siasat Jitu


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Linda wara-wiri ke Wijaya Corp.


Dengan berbagai alasan yang logis yang tentu saja membuat orang lain berfikir bahwa itu memang seharusnya.


"Siang bu Linda" sapa asisten Harun, yang kebetulan berpapasan dengan wanita berbody aduhai tersebut.


"Siang asisten Harun, saya harus memberikan berkas susulan pada pak Rangga, apa beliau ada di ruangannya pak?" Linda bertanya Ramah.


"Seingat saya, pak Rangga belum pulang dari makan siangnya bersama asisten David." Harun menjawab ramah.


Linda manggut-manggut, memang susah untuk bertemu dengan orang sesibuk Rangga tanpa membuat persetujuan terlebih dahulu, meski sebenarnya Linda bisa saja menitipkan berkas itu di personalia atau menitipkan ke asisten Harun, tapi bukan itu sebenarnya tujuan utamanya mendatangi Wijaya Corp.


Bertemu dengan pria tampan wakil CEO dari Wijaya adalah misi utamanya.


Sejak pertama kali bertemu dengannya hati dan pikiran Linda seakan terus berputar pada sosok Rangga.


Harun yang tak menyadari misi tersembunyi Linda bahkan menyuruh wanita itu untuk menunggunya di ruangan Rangga.


Dengan senyum lebar Linda melangkah memasuki ruangan luas yang terdapat dua meja kerja, karena memang Rangga satu ruangan dengan David.


Linda pun duduk di sofa tunggal di ruangan Rangga, di ambilnya alat make up dari dalam tas.


Pemerah bibir berwarna merah menyala ia oles kan lagi ke bibir sexy nya, alis dan bulu mata pun tak luput ia tebalkan kembali.


Senyum puas terbit di wajah Linda, hasil make up wajahnya kembali terlihat sempurna.


Mungkin kah pak Rangga akan menolak pesonaku, Linda membatin lirih.


Ceklek.


David berhenti di tengah pintu, melihat sosok sexy yang duduk tenang di sofa ruangan membuat jantungnya berdebar kencang.


Blouse lengan panjang berbahan sutra terlihat cocok di tubuh Linda.


Tonjolan gunung berukuran jumbo, semakin memperindah bentuk tubuhnya yang proporsional dengan pinggang ramping namun memiliki bagian belakang yang montok.


Glek.


David mengalihkan pandangannya, karena jengah dengan keberadaan Linda membuat tengkuknya dingin.


"Ah selamat siang pak David, maaf saya datang untuk menyerahkan berkas susulan pada pak Rangga dan kebetulan beliau tak berada di ruangannya, asisten Harun menyuruh saya untuk menunggunya di ruangan ini" jelas Linda.


"I iya silahkan bu Linda, sebentar lagi pak Rangga akan datang" jawab David kikuk lalu menuju meja kerjanya.

__ADS_1


Ada mahluk berjenis wanita di ruangan yang tak begitu luas sungguh membuat David gerah, apalagi tampilan Linda yang kali ini sungguh menggoda imannya.


Meski blouse yang di gunakan berlengan panjang namun rok span yang mempunyai belahan hingga sebatas paha berhasil meng ekspose kulit putih mulusnya hingga terpampang sempurna.


Siang yang gerah di tambah dengan pemandangan membuat hati panas, entah ucapan apa yang David keluarkan, apakah ucapan syukur atau umpatan kotor.


"Silahkan bu Linda duduk tenang, karena saya akan meneruskan pekerjaan saya."


"Baik pak, maaf kalau keberadaan saya di ruangan ini mengganggu."


Ya iya lah, mengganggu iman gue, balas David namun hanya ia ucapkan dalam hati.


Meski kedua matanya terlihat fokus dengan laptop namun otak David sungguh tak berada di tempatnya saat ini.


Bayangan adegan panas kini memenuhi fikirannya, adegan ranjang yang ia tonton sekilas di laptopnya kembali muncul dalam memorinya.


Sialan, kenapa malah si Ujang bangun lagi.


Linda terlihat tenang dan asik dengan ponselnya, sementara David kini tersiksa dengan bulir keringat yang mulai muncul dari pori-pori keningnya.


Sudah lebih dari tiga puluh menit namun Rangga belum juga muncul.


"Bu mau minum apa? Biar saya ambilkan" tawar David.


"Apa adanya saja pak "


"Huff" untuk sesaat dirinya terbebas dari siksa terberatnya hari ini.


Di teguknya sebotol air dingin dari dalam kulkas hingga tandas.


Kerongkongan yang terasa kering kini sudah kembali segar, lalu di ambilnya lagi dua kaleng soft drink untuk Linda dan sang bos di ruangan nanti.


Mulutnya merapal do'a terlebih dahulu saat hendak masuk kembali ke ruangan, setidaknya ia berharap imannya tak goyah karena adanya wanita itu.


Ceklek.


Masih belum juga muncul bosnya itu, tak biasanya Rangga datang telat setelah istirahat siang, David tahu betul sifat bosnya yang sangat disiplin waktu.


"Maaf bu silahkan di minum."


Linda tersenyum manis, bos dan anak buah sama-sama tampan, pikirnya, hanya saja Linda sudah sangat tertarik pada sosok Rangga.


"Pak, sedang ada di mana? Ada orang yang sudah menunggu bapak di ruangan" pesan yang David kirim pada Rangga.

__ADS_1


"Siapa?" jawab Rangga.


David tersenyum masam,jika ia mengatakan bahwa Linda ada di ruangannya tentu bosnya akan datang semakin lama.


"Klien baru mau menyerahkan berkas penting dan harus tanda tangan bapak" jawaban David tentu saja membuat Rangga yang sedang berada di ruangan Kevin segera meluncur kembali.


Lama tak bertemu dengan teman satu kontrakannya membuat Rangga merasa kangen bersenda gurau dengan sahabatnya itu.


Ceklek.


Jrenng jrengg.


Sepersekian detik Rangga dan Linda saling tatap.


Sialan tu bocah, kalau tahu klien yang di maksud adalah wanita ini, aku tak akan buru-buru ke ruangan ini..


"Oh bu Linda, maaf lama menunggu." Rangga basa-basi dengan suara di buat sewajar mungkin.


Padahal dalam hatinya saat ini, berbagai sumpah serapah ia tujukan pada sang asisten yang pura-pura fokus dengan laptopnya.


"Tidak apa-apa pak" jawab Linda lembut.


Sebenarnya wanita ini memiliki suara cempreng yang khas, namun akan berubah lembut selembut tepung tapioka jika saat berbicara dengan Rangga.


David yang merasa kejanggalan itu pun hanya tersenyum masam, meski se keras apapun usaha yang kau lakukan untuk membuat pak Rangga terpesona padamu, kau tak akan bisa mengalahkan nona muda Shanum, ucap David yang hanya ia sendiri yang mendengarnya karena hanya terucap dalam hati.


Rangga lalu mengambil berkas yang di bawa Linda dan memeriksanya dengan teliti.


Linda berkali-kali menatap Rangga dengan intens, dirinya sungguh tergila-gila dengan wajah tegas Rangga yang tengah fokus.


"Baiklah bu, data ini akan saya periksa lebih lanjut lagi, karena memerlukan waktu yang lama, mungkin bu Linda sebaiknya tinggalkan saja berkas ini, biar nanti asisten saya yang akan mengantarkannya ke Testafood."


Glekk


"K kenapa gue, aisshh balas dendamnya tidak tanggung-tanggung" David membatin dengan lirikan tajam ke arah bosnya.


"Baiklah pak, jika itu permintaan bapak, tolong hubungi saya jika bapak sudah selesai memeriksanya" ujar Linda yang kini lesu karena niat berdua dengan Rangga pupus sudah hari ini.


Linda pun keluar dari ruangan dengan otak yang berfikir keras, siasat apalagi yang harus di jalankan agar ada berkesempatan untuk menikmati waktu hanya berdua dengan pria itu, namun dua langkah sebelum tangannya menyentuh tuas pintu, tiba-tiba...


Bruggh


Rangga yang sedang melangkah kembali ke meja kerjanya pun membalikan tubuhnya.

__ADS_1


Mulut Rangga menganga lebar namun tubuhnya diam membeku, tubuh sexy Linda tergeletak di lantai dengan posisi yang membuatnya menelan saliva pahit.


"Ya ampun bu Linda, pak...pak Rangga kenapa anda membiarkan bu Linda jatuh." David berteriak tanpa sadar, protes pada bosnya yang membiarkan wanita itu jatuh pingsan.


__ADS_2