Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Cita-cita Ardi


__ADS_3

Malam kian larut, Shanum beranjak ke kamar untuk berganti baju tidur.


Tok tok tok


Shanum mengerutkan kedua alisnya, siapa yang bertamu tengah malam, pikirnya.


Ceklek


"Rangga" ujar Shanum melihat ke arah sosok yang kini tengah berdiri di depan pintu.


Rangga hanya menatap Shanum dengan bibir terkatup rapat.


"Ada apa Ngga?"tanya Shanum akhirnya, karena Rangga masih tetap berdiri diam menatapnya.


"Ya Tuhan, hilangkanlah pikiran kotor ini dari kepalaku, aku ingin memilikinya hingga kami sah untuk saling menikmati".


Rangga hanya dapat menelan salivanya saat melihat tubuh yang tercetak di balik baju tidur sebatas paha dengan tali pizza di kedua bahunya berbahan semi sutra lembut berwarna putih, hingga terlihat jelas b****** kecil tercetak di dada kanan kiri Shanum.


Glek


Shanum mengikuti arah pandangan Rangga yang tengah fokus ke bagian depan tubuhnya.


"Aaakkhh"teriaknya, membuat Rangga sontak tersadar dari pikiran kotornya.


"Akhh ma maafff,maafkan aku Sha, aku tidak sengaja"Rangga segera memalingkan badannya, sementara Shanum berlari masuk ke dalam kamarnya, nafasnya memburu sedangkan mukanya merah bak kepiting rebus.


Rangga menepuk-nepuk dadanya agar debaran jantungnya bergerak normal dan nafasnya teratur, di hirupnya udara lewat hidung lalu menghembuskan lewat mulutnya, berulang kali ia lakukan gerakan pengaturan nafasnya, agar degub jantungnya berjalan seperti biasa.


Lalu kembali Rangga membalikan tubuhnya setelah jantungnya kembali berfungsi seperti biasa.


"Shaa...aku hanya akan mengambil bajuku yang basah tadi"ujar Rangga dengan kalimat pelan.


"Ambilah di kamar mandi"sahut Shanum yang masih shock, dari dalam kamarnya.


Rangga lalu melangkah ke kamar mandi dan mengambil baju kotornya yang tertinggal, lalu kembali melangkah keluar.


"Sha ...aku pulang"


"Yaaa"Shanum menjawab tanpa keluar dari kamarnya.


"Shaaa"


"Apalagi"sahut Shanum tampak kesal.

__ADS_1


"Maafkan aku Sha..."Rangga kembali memohon dengan nada suara memelas.


Shanum yang mendengar menjadi merasa bersalah, lalu melangkah keluar dari kamarnya kali ini menggunakan auter panjang untuk menutupi tubuhnya.


Rangga masih tertunduk dengan wajah penuh sesal.


"Iya aku sudah maafin Ngga"ujar Shanum lembut.


"Ngga"


"Hmm"


"Kenapa wajahmu masih tertunduk seperti itu"


"Aku takut mataku khilaf lagi"ujarnya sungguh-sungguh, membuat Shanum tersenyum melihat tingkah polos calon suaminya.


"Aku sudah memakai auter yang lebih tertutup"


Rangga lalu menengadahkan wajahnya, dan benar saja, pemandangan indah yang tadi sempat di lihatnya kini sudah terlindungi dan tertutup rapat.


Akhirnya tak ingin kembali membayangkan bentuk yang membuat pikiran kotornya timbul, Rangga segera berpamit.


Sementara di tempat lain, Joy sedang bersenandung lirih dengan wajah berseri di kamarnya.


Tak bosan rasanya memandang wajah cantik bermata lentik dan bibir mungil yang sedang tersenyum manis di layar ponselnya.


"Kenapa kau begitu indah, tak sabar rasanya hati ini ingin memilikimu Sha" ujar Joy lirih.


Di raihnya kotak kecil yang ada di atas nakas yang sudah di persiapkannya sejak pertama kali pertemuannya dengan Shanum secara tak sengaja waktu itu.


Cincin berlian cantik bermata satu, yang ia pesan dan siap ia berikan pada Shanum saat ia akan menyatakan cintanya.


Senyumnya penuh percaya diri, saat membayangkan jari lentik Shanum memakai cincin di jarinya.


Dengan penuh semangat ia akan mendatangi Wijaya Corp, dimana Shanum menjabat sebagai CEO, untuk mengungkapkan isi hatinya.


*


*


Rangga kini dapat bernafas lega saat acara lamaran berjalan dengan lancar, senyum Hana mengembang penuh bahagia, di rangkulnya Shanum dengan hangat, matanya berkabut saat memandang wajah cantik putri sahabatnya yang beberapa hari lagi akan menjadi menantunya.


"Bu kenapa malah menangis?"tanya Shanum yang melihat mata Hana mulai berkaca.

__ADS_1


"Ibu menangis karena bahagia, akhirnya putri sahabat ibu, akan menjadi menantu ibu"Shanum mengusap air mata yang membasahi pipi Hana dengan haru, hatinya sungguh bahagia calon mertuanya begitu menyayanginya.


"Sha, aku pamit mengantar ibu pulang dulu, mungkin akan langsung pulang ke kampung, ada saudara ibu yang sedang hajatan, nggak enak kalau ibu sama sekali tak hadir" ujar Rangga lirih sambil memegang kedua tangan Shanum, tak rela rasanya berpisah lagi, entah kenapa makin kesini hati Rangga tak bisa berada jauh dari Shanum, meski hanya sehari rasa sepi dan kosong ia rasakan jika jauh dari wanitanya.


"Hmm, hati-hati ya Ngga"ujar Shanum bijak, meski hatinya pun ingin menikmati waktu berdua dengan calon suaminya itu.


Rangga meraih tubuh Shanum dan memeluknya sejenak, lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.


"Ehmm hmm, kak udah kangen-kangenannya, sore juga bakal ketemu lagi"ujar Ardi yang merasa seperti obat nyamuk, yang hanya dapat menyaksikan kedua insan yang sedang di mabuk cinta.


"Ahh bilang aja lu sirik, makanya cepet-cepet lu cari jodoh, biar ntar nggak gue suruh ngasuh ponakan mulu"ujar Rangga cuek.


"Aaakhhh sakit Sha, kenapa kau mencubitku"Rangga meringis menahan sakit setelah Shanum mencubit pinggangnya.


"Lagian ngaco bicaramu Ngga, nikah juga belum, udah ngomong ponakan aja"ujar Shanum.


"Lha kan kita emang bakal langsung punya anak kan setelah nikah nanti?"sambung Rangga lagi dengan cuek, membuat Shanum makin salah tingkah.


"Tuh lihat, mba Shanum juga belum pengin punya anak dulu"jawab Ardi.


Rangga sontak melihat ke arah Shanum dan menatap tajam manik mata indah di hadapannya itu.


"Benarkah kau nggak ingin punya anak Sha?"tanya Rangga lirih.


"Apaan sih, ya pengin lah, tapi kan semua terserah pada sang Pencipta Ngga"ujar Shanum bijak.


"Sudahlah kalian segera berangkat, kasihan ibu sudah menunggu dari tadi" ujar Shanum karena melihat Hana sudah bersiap di ruang tamu.


Rangga melihat ke arah sang ibu dan calon mertuanya yang telah selesai merundingkan acara pernikahan esok, Rangga pun berjalan ke arah ibu lalu menyalami calon ayah mertuanya untuk berpamitan.


"Aahhh akhirnya, cita-citaku tercapai"ucap Ardi lega, saat di perjalanan.


Rangga menatap heran pada sang adik, begitupun Hana.


"Apa emang cita-citamu di?"tanya Rangga penasaran, tak biasanya sang adik berucap dengan nada penuh bangga.


"Ehmm memiliki kakak ipar yang cantik dan pintar seperti mba Shanum"ucap Ardi sambil mengedipkan satu matanya genit.


"Kan aku ntar jadi punya ponakan yang cantik seperti mamahnya"sambungnya lagi.


"Awas lu kalau berani-beraninya godain kakak ipar lu"ancam Rangga dengan mata menatap tajam pada adiknya itu.


"Ciee ciieee, yang bakal punya istri cantik, posesif banget"ujarnya Ardi menggoda Rangga, yang mulai bergemuruh hatinya karena panas.

__ADS_1


__ADS_2