
"Rangga, apa yang kamu lakukan, ingat, ini di kantor Ngga"bisik Shanum dengan was-was lalu melihat ke arah pintu ruangan.
Sementara Rangga masih tetap memeluknya erat.
"Biarkan seperti ini dulu Sha"ujar Rangga lirih seakan sedang menikmati harum tubuh Shanum yang masih tenggelam dalam dekapannya.
Untuk sesaat keduanya terdiam menikmati irama debaran jantung masing-masing, begitu jelas terdengar karena tak ada jarak di antara mereka.
"Sha, kau marah padaku?"tanya Rangga pelan lalu mencium puncak kepala Shanum dengan lembut.
Shanum menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau diamkan aku, telfon ku tak kau angkat, pesan pun hanya kau baca, kau tahu Sha, hatiku sakit jika kau mengacuhkanku, marahlah jika memang kau ingin, pukullah aku dan lampiaskan rasa kesalmu padaku Sha, tapi jangan pernah kau acuhkan aku"ujar Rangga dengan suara bergetar.
Sebesar itukah cintanya pada wanita yang kini berada dalam pelukannya, apa hanya dia yang merasa tersiksa karena begitu merindu.
Rangga menatap netra Shanum tajam.
"Sha, benarkah kau tidak marah padaku?"tanya Rangga.
Shanum menggelengkan kepalanya dan senyum manis terbit dari bibir tipisnya.
"Apa...kau benar-benar mencintaiku?" kalimat yang perlahan keluar dari mulut Rangga sontak membuat Shanum menajamkan matanya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Ngga?"
"Ehhm, aku takut jika ternyata selama ini hanya aku yang merindukanmu"sambung Rangga, bukan ragu akan perasaan Shanum padanya, benarkah Shanum tidak kecewa padanya setelah melihat interaksi Monik padanya yang mungkin terlihat berlebihan untuk hanya seorang teman.
Sedangkan Rangga, sudah tentu merasa ketar- ketir jika Shanum mendapat perhatian dari lelaki lain, hatinya dipenuhi dengan rasa cemburu.
"A apa kau tidak marah melihat perempuan lain, memelukku?"tanya Rangga ragu.
Kini Shanum sadar, Rangga begitu mencemaskannya setelah dengan mata kepala sendiri Shanum melihatnya begitu mesra dengan perempuan lain meski bukan Rangga yang memeluknya, tetapi gadis itulah yang mendekap erat bahunya.
"Aku percaya padamu Ngga, kita sudah sama-sama dewasa, hendaknya kita harus lebih berfikir dengan logika, aku tak berfikir kau akan menghianatiku dan bermain hati di belakangkau, andaipun kau ..."kalimat Shanum terpotong karena Rangga membungkamnya dengan bibirnya.
Shanum membulatkan matanya, sungguh tak pernah ia duga Rangga begitu berani m****** bibirnya di ruang kerjanya.
Dengan lembut Rangga m****** bibir mungil yang masih tertutup rapat, dengan perlahan di g****nya kecil b**** kenyal nan lembut itu hinga tak sadar Shanum membuka sedikit mukutnya, dan kesempatan itu tak Rangga lewatkan, akses yang sedikit terbuka membuat Rangga dengan leluasa me******* l****nya dan mulai meng absen rongga m**** Shanum.
Terlihat Shanum masih kaku, Rangga menyadari hal itu.
__ADS_1
Dengan gerakan perlahan, Rangga menekan tengkuk Shanum untuk memperdalam p******nya, Shanum mulai dapat menyesuaikan diri dan menerima kehangatan yang kini menjalar di sekujur tubuhnya, deru nafas keduanya kian memburu.
"Sshhhhhh" Rangga melepaskan C**** nya, di sapunya sudut bibir mungil dari sisa salivanya, tatapan Rangga kini tampak sayu sementara entah sejak kapan bagian inti tubuhnya kini terasa begitu menegang.
Shanum menunduk, entah apa kini warna wajahnya, sungguh malu hingga tak berani ia menatap pria yang telah menodai bibirnya itu.
Rangga tersenyum bahagia, terlihat bibir mungil itu kini tampak lebih tebal karena ulahnya.
"Maaf"tangan Rangga kembali mengusap b**** Shanum perlahan, lembut hangat dan manis, itulah yang membuat Rangga begitu candu pada b**** kenyal itu.
Tok tok
Keduanya langsung terhenyak dan melerai pelukannya, lalu Shanum membenahi rambutnya yang tampak kusut.
"Ehmm hmm"Rangga mengangguk memberi tanda bahwa ia telah siap jika pintu di buka.
"Ya masuk"perintah Shanum berusaha menguasai kegugupannya.
Mata Rangga membulat sempurna saat melihat ternyata Kevin yang memasuki ruangan, Rangga mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela, entah kenapa hati kecilnya bagai seorang maling tertangkap basah, padahal Kevin tentu sama sekali tak melihat adegan panasnya dengan Shanum.
"Maaf Nona, ini berkas yang sudah kami kerjakan, Nona tinggal mengeceknya"Kevin menyodorkan map berisi data dari Divisi keuangan.
"Ya terima kasih"Shanum menjawab singkat.
Ceklek.
"Huuuffh"Rangga menghembuskan nafas dengan lega setelah keprrgian Kevin.
"Aku pamit dulu Sha"ucap Rangga, tak enak rasanya lama berada di ruangan yang bisa membuatnya khilaf.
"Hmm"anggukan kepala dan senyum manis mengiringi kepergian Rangga.
Ceklek
"Whuaahh"
Jantung serasa copot saat Rangga melihat Kevin masih berdidi tenang di samping pintu ruangan, tengah menunggunya.
"Heh Samsul, lama banget lu ada di ruangan Nona Shanum"tanya Kevin penuh selidik.
Rangga menatap Kevin kesal.
__ADS_1
"Ada dataku yang salah, dan harus di revisi"
Kevin menatap Rangga dan menyisir tubuhnya.
"Mana data mu dan ...apa ini?"tajam mata Kevin rupanya menangkap satu keanehan di bibir Rangga, terlihat noda merah tertinggal.
Kevin yang sudah berpengalaman dengan Rara pun kini tersenyum smirk.
Jempol Kevin mengusap noda lipstik di bibir Rangga dengan lembut, lalu mendekatkan jarinya agar dapat lebih jelas ia teliti.
Rangga terdiam membeku, bibirnya terkatup rapat.
Sialan, kalau sudah senior memang susah di bohongi, batinnya.
Kevin masih fokus mengamati noda lipstik yang kini berpindah ke jempolnya.
"Hhm, ada yang ingin kau jelaskan padaku, perbuatan siapa ini Rangga"
Kalimat Kevin tegas, bagai seorang polisi yang sedang menginterogasi maling tangkapannya.
"Oke, aku akan jelaskan semuanya, tapi tidak di sini, ayo"
Tak ingin berdebat Rangga segera merangkul sahabatnya itu menuju lift ke lantai ruangannya, cepat atau lambat Rangga memang harus menjelaskan pada Kevin tentang hubungannya dengan Shanum.
Sementara di tempat lain, Joy masih enggan beranjak dari kamarnya, semangat hidupnya seakan hilang, hari-harinya tak berwarna lagi.
Kehadiran Shanum telah memporak porandakan hatinya, hancur kini tak tersisa setelah mendengar penuturan gadis yang amat di cintainya itu.
Entah apa yang telah Shanum perbuat hingga Joy begitu berharap cintanya dapat berlabuh di hatinya.
Hingga tak ada tersisa tempat untuk gadis lain, seluruh hatinya seakan terampas bahkan warna harinya kini berubah kelabu setelah kepergiannya.
Cintanya kini telah layu bahkan sebelum ia sempat memupuknya.
Tatapan Joy kosong memandang keluar jendela balkon kamarnya, wajah yang terbiasa penuh senyum dan canda tawa, kini bagai hilang pesona dari wajahnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Maharani masuk dengan nampan berisi makanan.
"Makanlah dulu nak, boleh kau bersedih tapi kau juga harus ingat, hari esok masih ada, dan matahari masih setia terbit menyongsong pagi, semangatlah, jika benar kau mencintainya, kau harus rela melepasnya demi kebahagian yang dia impikan, dia memang bukan jodohmu tapi kau masih bisa tetap melihatnya bahagia nak"kalimat bijak Maharani tak bosan ia katakan agar semangat putra kesayangannya kembali pulih.
__ADS_1
"Tapi apa aku sanggup melihatnya bersanding dengan lelaki lain mom"nada putus asa terucap dari bibir pucat Joy.