
"Relakan jika memang itu kebahagiaannya nak"ujar Maharani bijak.
Maharani membelai pundak Joy dengan lembut.
"Makanlah, songsong hari esokmu, yakinlah ada seorang bidadari lain yang sedang menunggu cintamu, lepaskan Shanum dan biarkan dia bahagia dengan lelaki pilihannya".
"Tapi aku hanya ingin dia mom, meski beribu bidadari berderet menungguku, aku hanya ingin Shanum"jawab Joy penuh nada memelas, hatinya masih begitu tak rela jika ternyata wanita yang di cintainya akhirnya bersanding dengan pria lain.
"Dia bohong padaku mom, anak buahku tak tahu siapa calon suaminya, mereka telah ku sebar untuk mencari informasi lelaki yang merebutnya dari ku, tapi yang ada hanya ada Tuan Devon, yang sekarang sudah menjadi mantannya"ujar Joy semangat, karena ia berfikir jika Shanum sebenarnya belum memiliki pengganti Devon, jadi ia masih memiliki harapan untuk mendapatkannya.
Maharani menghela nafas berat, kegigihan putranya begitu besar.
"Makanlah, kau harus memiliki tenaga untuk menyongsong kebahagiaanmu yang sebenarnya"Maharani berusaha menghibur hati Joy karena tak ingin membuat putranya kembali kecewa, biarlah waktu yang akan menjawabnya, pikir Maharani.
"Baik mom"jawab Joy kini tersenyum penuh harap, memang kini tubuhnya seakan tak bertenaga karena dua hari ia tak makan apapun.
Maharani hanya tersenyum haru melihat Joy kini mau menghabiskan makannya.
Meski ia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan putranya, namun ia pun merasa berdosa jika harus memisahkan kedua insan yang saling mencintai demi menuruti rasa ego nya untuk kebahagiaan putranya.
Maharani tak tega mengatakan yang sebenarnya pada Joy, ia mendapat informasi dari orang kepercayaanya tentang identitas pria yang akan menjadi suami nona Shanum.
Sebuah pesan masuk di gawai tipisnya.
Apa kelebihannya hingga mampu membuat Joy kalak telak darinya, batin Maharani memandang poto yang di kirim oleh anak buahnya.
Pemuda sederhana dengan motor matic yang di milikinya, bahkan posisi di perusahaan hanya sebagai karyawan biasa.
Maharani masih memandang wajah Rangga.
"Mom, aku berangkat dulu"Joy membuyarkan lamunannya.
"Poto siapa itu mom?"tanya Joy saat melihat sekilas wajah seorang pria di layar ponsel sang mommy.
"Hmmm, apa momyku ini sedang jatuh cinta humm?"sambungnya lagi.
"Bukan sayang, dia salah satu model baru yang akan membawakan baju mommy pentas besok"Maharani berkelit, untuk saat ini tak ingin membuat Joy terluka lagi.
"Hmmm cakep juga mom"Joy berucap singkat dan berlalu dari Maharani yang dadanya terasa sesak.
Itulah pria yang membuatmu harus kehilangan Shanum nak, batin Maharani.
__ADS_1
Di tempat lain.
"Gila, beneran lu, wahhh gue kira cupu, ternyata suhu lu Ngga"sanjung Kevin bangga.
Meski belum sepenuhnya percaya pada yang di lihatnya tapi poto itu memperlihatkan kedekatan Rangga dengan nona CEO nya tidaklah bohong.
Poto saat keduanya berada di taman saat Kevin melihat Rangga berinteraksi begitu dekat dengan seorang gadis yang ternyata baru di ketahui gadis itu tak lain adalah Nona Shanum.
Sebenarnya Kevinpun merasa aneh saat Shanum datang ke kontrakan saat bu Hana mengunjungi Rangga, bahkan mereka terlihat begitu dekat, kini terjawab sudah rasa keraguan hatinya.
Kevin menggelengkan kepalanya bagai tak percaya saat Rangga mengundangnya menghadiri akad nikahnya dengan nona Shanum.
"Lu harus jaga bibir lemes lu Vin, Rara pun jangan sampai mengetahui hal ini"ancam Rangga, membuat Kevin mengerutkan kedua alisnya.
"Belum saatnya mereka mengetahuinya, jika sudah memungkinkan, kami akan memberitahu kabar gembira ini kepada umum" ukar Rangga serius.
Kevinpun mengangguk, ia yang hanya seorang karyawan biasa, bukan kapasitasnya mengetahui seluk beluk kehidupan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan Wijaya Corp.
Begitupun Rangga, meski telah dua tahun lamanya ia bersama, tapi ternyata Kevin belum sepenuhnya mengetahui identitas Rangga yang sesungguhnya, terlihat sebagai karyawan biasa namun ada hal besar yang di sembunyikan dan Kevin kini sadar, Rangga bukanlah orang biasa.
KeviƱ hanya menatap kepergian Rangga dari ruangannya dengan tatapan penuh tanda tanya, siapa sebenarnya elu Ngga, batinnya lirih.
Wajah yang merona dengan bibir yang berubah semakin tebal, sungguh begitu menggodanya untuk mengulangnya lagi dan lagi.
"Sshhhmm, tak sabar rasanya ingin segera menghalalkanmu Sha"gumam Rangga.
"Ngapa lu Ngga, cengar-cengir sendiri"tanya Danu heran melihat Rangga tengah tersenyum simpul seorang diri.
"Hah ehmm tadi lihat Kevin nabrak pintu lift gara- gara lihat tukang karedok"jawab Rangga asal.
Danu kini terdiam membayangkan,mana ada tukang karedok naik ke lantai atas, siapa yang pesan, tega-teganya nyuruh nganter sampai lantai sini, pikir Danu polos.
"Ehmm hmm",
Rangga segera duduk di kursinya, sambil menunggu waktu pulang tiba, kini hatinya sungguh bahagia di penuhi bunga warna warni dan kupu-kupu cantik, ternyata c***** merupakan mood booster terbaik, gumamnya.
"Iyess"Rangga berteriak girang saat akhirnya waktu pulang tiba, setelah merasakan kehangatan b**** mungil itu, Rangga kini di landa rasa rindu yang begitu dalam, bahkan baru beberapa jam yang lalu ia menikmati lembut dan hangatnya dekapan Shanum.
"Apa yang telah kau perbuat hingga aku begitu tersiksa karena merindukanmu Sha".
Drrt drtt.
__ADS_1
Mata Rangga langsung berbinar, Shanum pengiriminya pesan.
"Maaf aku pulang agak larut, tugas ku belum selesai"
Wajah cerah kini berubah muram seketika saat satu kalimat dari Shanum telah terbaca.
Kini ia hanya dapat menghela nafas berat.
Drrt drrt
Tak ada semangat lagi hati Rangga untuk melihat pesan yang kini datang lagi.
Namun pikirannya kini bercabang.
Jangan-jangan Shanum membatalkan lemburnya dan kini mengajaknya pulang.
Rangga segera membuka kembali gawai tipisnya.
"Datanglah ke mansion, ada hal yang harus kita bicarakan segera"pesan dari ayah Hardy kini membuatnya menelan saliva.
Apa yang akan di bicarakan oleh calon ayah mertua yang terlihat begitu mendesak, setelah kemarin ia sendiri yang menganjurkan anaknya untuk tidak saling bertemu dahulu, benak Rangga berfikir keras.
Bukankah Shanum sekarang lembur, jadi kemungkinan besar ia tak akan bertemu Shanum di mansionnya, dan hal itu membuat Rangga tak begitu tertarik datang ke mansion tuan Hardy.
Namum sebagai calon menantu yang baik, akhirnya Rangga pun segera membereskan meja kerjanya dan pulang ke mansion calon mertua.
Senyumnya kembali terbit.
Aku kini mempunyai calon mertua, gumamnya dengan senyum ceria.
Langkahnya kini pasti, pulang ke rumah calon mertua, sungguh kalimat yang membuat hati berbunga.
"Woyy, kemana lu, tunggu gue"teriak Kevin karena ia tak membawa motornya maka ia pun harus pulang bersama Rangga lagi.
"Sorry bro, lu bareng Rara aja, gue ada perlu"jawab Rangga sambil melangkah menuju parkiran.
"Mau kemana lu?"lanjut Kevin lagi.
"Kerumah calon mertua"sahut Rangga keras, dan tanpa disadari ada sepasang mata membulat penuh saat mendengar ucapan Rangga.
"Calon mertua?"
__ADS_1