Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Aku Lebih Mencintaimu


__ADS_3

Pukul tiga pagi Linda membuka matanya, perutnya terasa berat dan hangat.


Untuk sesaat jantungnya berdegup kencang, rupanya tangan kekar David yang melingkar erat di pinggangnya.


Linda berusaha mengurai pelukan suaminya perlahan, tenggorokannya terasa kering dan haus.


Setelah beberapa saat akhirnya tangan David yang memeluknya bisa di urai.


Ia pun melangkah ke dapur untuk mengambil minuman.


Ceklek.


"Whuaahhh" pekiknya tertahan saat tiba-tiba mulutnya sudah tertutup oleh jari tangan David.


"Ssstt, ini aku suamimu" bisik David yang panik karena takut jika suara teriakan Linda membangunkan pelayan mansion.


Linda pun bernafas lega.


"Tidak akan ada yang mendengarnya, kamar pelayan berada di belakang mansion dan jauh dari kamar ini, mana mungkin mereka akan mendengar" ujar Linda.


"Kenapa kau bangun?" tanya Linda masih dengan merendahkan nada suaranya.


"Aku mencari istriku yang menghilang" jawab David polos.


Linda tersenyum lalu menyodorkan segelas air bening pada David.


"Minumlah" ujarnya.


David menarik tangan Linda untuk kembali tidur.


"Masih pagi, ayo tidur lagi" ucapnya.


Keduanya pun kini berbaring dengan tubuh Linda terlentang sedangkan David menghadap ke arahnya.


Linda akan susah kembali tidur karena jika sudah bangun tengah malam apalagi kini di sebelahnya ada seseorang.


David masih terus memegang erat pinggang Linda sambil mengendus leher istrinya dengan posesif.


"Maafkan aku" bisiknya, ia baru menyadari kebodohannya yang telah meninggalkan sang istri di malam pertama dan tertidur begitu lelap.


"Maaf? Kenapa" jawab Linda sambil membalikan tubuhnya agar kini berhadapan dengan sang suami.


"Hmmm, maafkan aku yang mengacuhkanmu tadi, aku sangat mengantuk" jawab David yang kini merebahkan kepalanya di ceruk leher Linda.


Menikmati harum aroma tubuh Linda,


Dan entah siapa yang pertama memulainya, kini ruangan dingin itu terasa panas, ******* nafas yang memburu dengan sesekali lenguhan dari mulut Linda.


Erangan dan dan rintihan manja Linda membuat David semakin bersemangat mengayuh perahu menikmati surga dunianya yang tertunda.


Irama tubuh David yang berada di atas tubuh Linda mulai mengejan saat ia merasakan titik puncak hasratnya telah membuncah, dan Lindapun mencengkeram punggung kekar sang suami saat keduanya merasakan pelepasan untuk pertama kali.


Linda dengan jelas merasakan semburan hangat memenuhi rahimnya, tubuh keduanya yang masih menyatu kini telah basah oleh keringat yang membanjiri keduanya.


Untuk beberapa Detik keduanya terdiam saling menikmati puncak kegiatan panas mereka malam ini.


Cupp.

__ADS_1


David mengecup puncak kepala sang istri dengan lembut lalu bangun dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di tutupnya tubuh polos sang istri yang terkulai lemas tak berdaya.


Senyum penuh kemenangan terbit dari wajahnya.


Andai ia tahu malam pertama begitu indah, tak akan ia melewatkan sedetikpun, gumam David yang merutuki kebodohannya karena tertidur sebelum mereka menikmati surga dunia.


Sementara di kamar mansion Hardy, Shanum tak bisa berbuat apa-apa lagi, mood Rangga sangat buruk setelah tiba dari mansion Lefrant.


Entah apa yang terjadi hingga kini suaminya tidur membelakanginya.


Tak pernah suaminya bersikap seperti itu.


Dan sudah beberapa kali Shanum bertanya hanya di jawab gelengan kepala oleh Rangga.


Merasa lelah Shanum pun akhirnya jatuh tertidur.


Rangga sungguh kesal setelah mengetahui bahwa Daren ternyata berada di mansion Lefrant, ikut menyaksikan upacara ijab kabul Linda.


Dan selama acara berlangsung Rangga tak menyadari hal itu, ia merasa kecolongan dengan hadirnya Daren.


Bukan hal yang mustahil jika pria itu masih memendam perasaan pada istrinya.


Ah kenapa aku bisa sampai membiarkan Shanum pulang bersama Ayah, bukankah Daren akan berpikiran bahwa aku tak meperhatikan istriku, dan hatinya pasti merasa bahagia karena mendapat celah untuknya menggoda Shanum, beka Rangga.


Sungguh otak Rangga di penuhi dengan pikiran-pikiran yang sungguh menakutinya.


Meski mereka sudah menikah dan ada seorang bayi dalam perut Shanum, hati Rangga masih terus di liputi keresahan, ia takut jika Shanum akan pergi dengan lelaki lain, bukan Rangga tak mempercayai ketulusan istrinya, namun pesona Shanum yang tak pernah redup, meski perutnya kini membuncit dan ada hasil cinta mereka namun masih banyak lelaki yang selalu jatuh hati dan berusaha menarik hatinya.


Tak ingin mengganggu tidur Shanum, Rangga pun tertidur tanpa ingat hukuman yang sudah ia rancang karena Shanum sudah membuatnya panas dingin di bakar api cemburu.


Shanum menggeliatkan tubuhnya, di tatapmya wajah sang suami yang semalam tampak murung, entah apa yang membuatnya bertinggakah begitu menggemaskan.


Dengan gerakan perlahan di usapnya wajah tampan berhidung mancung itu, rahang tegas Rangga begitu gagah dan indah di pandang apalagi bibirnya yang berwarna merah alami, sungguh Shanum sangat menyukai ciumannya.


Wajah datar dan dingin, tetapi selalu bisa membuatnya terbang melayang jika sedang di atas ranjang.


"Sudah puas menatap wajah suamimu ini heuumm" suara berat Rangga membuat Shanum terlonjak.


"K kau sudah bangun?" tanyanya panik.


"Kau yang telah mengganggu tidurku" jawabnya.


"Maaf" ucap Shanum lalu beranjak ke kamar mandi.


Setelah menuntaskan hajatnya, Shanum kembali ke kamar untuk meneruskan tidurnya, di lihatnya Rangga pun kembali terpejam.


Rupanya suaminya masih sedang merajuk, dan Shanum akan menanyakannya nanti setelah ia bangun.


Dengan gerakan perlahan Shanum membaringkan tubuhnya di sisi Rangga, namun gerakan tubuhnya tertahan saat tangan kekar Rangga tiba-tiba menariknya ke dalam dekapan tubuhnya.


Hati Shanum tercekat, untuk beberapa saat keduanya saling menatap netra lawannya tajam.


Greep.


Dan lagi, Rangga merangkul Shanum erat, keduanya kini saling berpelukan, dan kali ini dekapan Rangga begitu posesif hingga Shanum tampak sedikit sesak.

__ADS_1


Rangga mengurai pelukannya saat di rasa Shanum merasa tak nyaman.


"Maaf, maafkan aku" ucap Rangga lirih.


"Kenapa?" tanya Shanum sedikit cemas, kesalahan apa yang membuat suaminya begitu bersikap aneh.


"Maafkan aku yang selalu merasa takut kehilanganmu, aku selalu merasa kau akan pergi dariku" ujarnya dengan kedua tangan menggenggam tangan Shanum erat.


"Kau bicara apa? Kita sudah menikah, dan tak akan ada yang mampu memisahkan kita selain maut yang datang menghampiri kita, kita akan selalu bersama hingga sampai nafas terakhir kita."


Rangga menatap Shanum lekat.


"Benarkah kau akan selalu bersamaku dalam suka dan duka, benarkah kau tak akan berpaling dariku meski banyak lelaki di luar sana yang jauh lebih sempurna dariku.."


"Sstt, kaulah lelaki paling sempurna bagiku, dan kaulah ayah dari anak-anaku yang akan ku lahirkan kelak, kita akan selalu hidup bersama hingga anak cucu kita lahir."


"Apa kah kau mau mempunyai banyak anak denganku?" tanya Rangga dengan wajah penuh harap.


Shanum mengangguk sungguh-sungguh.


"Aku ingin hidup menua bersamamu dan melahirkan banyak anak denganmu, aku ingin keluarga besar, agar anaku nantinya tak lagi merasa kesepian seperti diriku."


Senyum Rangga terbit, sungguh bahagia rasa hatinya saat ini, wanita yang sangat di cintainya menginginkan banyak anak yang akan lahir dari rahimnya.


Rangga mengangguk pasti.


"Kita akan hidup bahagia dengan banyak anak, aku akan rajin membuatnya bersamamu" ucap Rangga dengan senyum penuh arti.


Shanum pun mengangguk menyambut bibir Rangga.


Ciuman kini mulai menuntut, Rangga pun melucuti kain di tubuh sang istri, tubuh putih polos terpampang indah di depannya.


Tak menunggu waktu lama lagi, dengan gerakan tangan cepat, Rangga pun menanggalkan pakaiannya.


Tubuh keduanya kini menyatu dengan gerakan lembut, ******* dan rintihan lirih memenuhi ruangan.


"Aku akan rajin membuat anak setiap malam bersamamu" bisik Rangga lalu perlahan membalikan tubuh Shanum hingga kini berada di atasnya.


"Dan aku akan senang hati melahirkan buah cinta kita" Shanum tersenyum dengan desisan penuh kenikmatan.


Keduanya menghabiskan sisa waktu pagi dengan olah raga panas dengan berbagai gaya.


Dan senyum puas terbit dari bibir keduanya setelah mencapai pelepasan yang begitu indah.


Cup.


"I mencintaimu" ucap Rangga lihir.


"Aku lebih mencintaimu" jawab Shanum dengan tubuh terkulai di atas Rangga.


"Aku amat sangat mencintaimu dan tak ada yang melebihi cintaku padamu" sambung Rangga tak kalah.


"Dan aku le...emmphh" kalimat Shanum tak pernah selesai karena Rangga lebih dulu menyambar bibir Shanum dan ********** dengan lembut.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’TAMATπŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


__ADS_2