
Untuk beberapa detik keduanya saling bertatap dalam diam, David memajukan wajahnya, mengikis jarak yang kian tipis.
Perlahan David kembali mencium bibir Linda, jika tadi hanya kecuoan ringan, kali ini ia menyesap bibir kenyal Linda dengan penuh perasaan, lama keduanya saling bertukar saliva, bahkan David menekan tengkuk wanitanya hingga pagutannya semakin dalam.
Tepukan tangan Linda di pundak menyadarkan David.
"M maaf" ucapnya, entah kenapa dirinya begitu terhanyut dengan wanita pemimpin Testafood tersebut.
Setelah malam panas itu, membuatnya harus mengeluarkan seluruh ke ahliannya dalam mempraktekan ketrampilan bibirnya dalam kissing, Linda yang begitu agresif membuat David harus berusaha mengimbanginya.
Kini dengan kesadaran penuh, ia bisa menikmati kembali kelembutan bibir sexy itu.
Linda tersenyum gemas, dari gaya berciuman yang David kuasai, jam terbangnya kalah jauh dengannya.
Tok tok tok.
Untuk beberapa saat keduanya saling pandang.
Linda menggeleng saat David menanyakan siapa gerangan tamu yang datang.
Tok tok tok.
Kembali suara ketukan terdengar, Linda melangkah ke pintu apartement, memang sandi pintu telah di rubah, karena ia merasa pin lama banyak yang sudah mengetahuinya.
"Dari mana kau hah, kenapa kau tidak berangkat ke kantor hari ini?" Lefrant dengan tatapan mata penuh amarah memasuki apartement.
Mata tajamnya kini terpaku pada sosok yang sedang duduk di sofa, David merasa kikuk mendapat tatapan penuh intimidasi dari calon kakak iparnya.
"Bukankah kau.." kalimat Lefrant tertahan saat David berdiri dan mengulurkan tangan.
"Saya David, asisten pak Rangga" ujarnya dengan dada berdebar.
Lefrant menyambut jabatan tangan pemuda tampan tersebut dengan wajah datar.
"Maaf pak Lefrant, ada yang perlu kita bicarakan" ucap David.
Lefrant menatap David lalu beralih ke adiknya bergantian.
"Ada apa ini?" tanya Lefrant penuh curiga.
"Jangan-jangan kau.."
"Maafkan saya" ucap David terbata dengan duduk bersimpuh di hadapan Lefrant.
"Jadi, benar kau yang sudah lancang berani menodai adiku hah!"
Bugh.
__ADS_1
Kepalan tangan Lefrant mendarat di pipi David hingga mengalir darah dari sudut bibirnya yang sobek.
"Kak jangan" pekik Linda.
David tetap berusaha diam saat Lefrant menarik kerah kaosnya dan..
Bugh.
Kembali rahang kekar David mendapat pukulan pria yang sedang di landa amarah.
Bugh.
"Kakak hentikan ku mohon!!" teriak Linda lantang.
Brakk...
Linda berlari menghampiri tubuh David yang terlempar beberapa langkah karena pukulan kuat dari Lefrant.
"Bajingan kau... masih berani kau menampakan mukamu hah!" teriakan penuh amarah dan nafas memburu membuat mata Lefrant merah membara.
"Bangun kau brengsek, jangan berpura-pura lemah kau di hadapan adiku, jangan harap aku berbelas kasihan padamu."
David membiarkan tubuhnya berada dalam cengkeraman Lefrant, ia sadar amarah lelaki di hadapannya sudah sampai puncak, maka percuma baginya untuk mengajaknya berbicara dengan kepala dingin.
"Kak, hentikan ku mohon, dia akan bertanggung jawab, dia datang ke sini karena akan mempertanggungjawabkan semuanya, dan satu lagi, itu semua bukan salahnya kak, aku yang membuat terjadinya petaka ini" air mata Linda mengalir deras dari sudut matanya.
"Apa kau bilang, dia akan bertanggung jawab? Baiklah aku tunggu sampai besok, jika tak ada itikad baik maka, tunggulah, tanganku sendiri yang akan menghabisimu."
Lefrand melempar tubuh David hingga membentur dinding.
Brakk.
Lefrant melangkah leluar apartemen seraya membanting pintu, andai tak ada Linda di apartemen ini, mungkin saja ia sudah membunuh pria itu.
Di dalam mobil, Lefrant duduk dengan tangan mengepal keras kemudinya, tak terasa matanya mulai ber embun, ia gagal menjaga adik satu-satunya, ia merasa sangat berdosa pada kedua orang tuanya yang telah menitipkan sang adik agar di jaganya.
"Brengsek !!!!" di pukulnya kemudi berkali kali, dan air mata pun akhirnya jatuh untuk pertama kali dari sudut mata Lefrant.
Pria tegas dan berwibawa itu merasa hancur, ia merasa gagal menjaga adik perempuan satu-satunya.
Beberapa menit setelah menumpahkan isi hatinya, Lefrant pun segera melajukan kendaraan menuju mansionya.
"Jack, lu cari semua informasi tentang orang ini, lalu segera kirim ke gue" Lefrant mengitim pesan ke anak buah kepercayaannya.
Lelaki bernama David yang di ketahuinya adalah asisten dari Rangga, CEO Wijaya Corp, dan tak ada jejak bahwa ia menjalin hubungan dengan sang adik, lalu kenapa sekarang Linda mengatakan bahwa dia adalah ayah dari bayi yang di kandungnya.
Sementara itu di apartement Linda, David meringis menahan sakit saat Linda mengoleskan salep pada luka sobek di bibirnya.
__ADS_1
"Maafkan kakaku" ucap Linda lirih.
"Heum, aku tahu apa yang ia rasakan, tenanglah, aku tidak apa-apa" ujar David tenang.
Jam menunjukan pukul lima sore, dan mungkin karyawan sudah pulang.
David beranjak bangkit dari tidurnya di sofa.
"Aku harus pulang, sssshh" ucapnya dengan tertahan.
"Tapi lukamu belum sembuh" ucap Linda dengan wajah menggambarkan kecemasan.
"Stt tenanglah, kau istirahat, aku baik-baik saja, aku akan meminta Papa dan Mama untuk segera melamar mu" ujar David, meski mungkin itu adalah hal yang mustahil, saat ini mereka sedang di luar negri dengan banyak kesibukan pekerjaan.
Papah Deni yang tentu saja masih fokus dengan pembukaan cabang perusahaannya yang baru, juga Mama Susan dengan butik nya, mereka selalu saja sibuk dengan dunia masing-masing bagaimana mungkin akan mau di minta pulang hanya untuk meminang seorang wanita untuknya, batin David.
David pulang menuju rumah kedua sepupunya Danu dan Dika, mungkin mereka mau menolong, pikir David.
Dan tatapan penuh rasa kaget luar biasa dari David,yang ternyata bukan hanya Danu dan Dika yang sedang berada di rumah, atasannya Rangga pun ada bersama mereka.
Glek.
Bagai mati kutu David diam membeku di tempatnya berdiri.
"Baru datang lu Vid, gue pikir elu nggak enak badan eh ternya..."Rangga tak meneruskan kalimatnya karena perhatiannya lebih fokus pada luka sobek di sudut bibir dan rahang David berwarna ungu ke biru-biru an, sudah jelas, asietennya telah mengalami pemukulan.
Danu dan Dika pun berdiri mendekat ke sepupunya yang baru datang lalu mengamati wajah David.
"Heh, lu habis berantem?" tanya Danu.
David menghela nafas berat, mungkin sebaiknya ia menceritakan semuanya pada mereka, toh seiring berjalannya waktu, semua pun harus tahu, pikir David.
Ketiga pria itu saling pandang, kini masalah besar sedang menanti sepupu mereka.
"Baiklah besok aku yang akan datang melamar bu Linda untukmu" ucap Rangga tiba-tiba.
Kini pandangan Danu, Dika dan David tertuju ke arah Rangga.
"Kenapa? kalian mau meminta bantuan siapa lagi?kedua orang tuanya? yang bahkan tidak perduli dengan apa yang di alaminya selama ini, mereka tak mungkin datang meski pun tahu jika putra satu-satunya itu sedang mengalami masalah besar" jelas Rangga.
Davin hanya memandang dengan tatapan nanar.
Malang sekali nasibku, batinnya lirih.
"Oke gue pulang dulu, besok kita berangkat jam tujuh malam, dan elu Vid, lu obatin tuh muka, masa acara lamaran tapi wajah calon pengantin babak belur" sindir Rangga.
"Baik pak, terima kasih banyak" nada ucapan David bergetar.
__ADS_1