Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Ku Yakin Kau Bisa


__ADS_3

"Sudah kau siapkan semua Run?"Hardy tak ingin membuang waktu terlalu lama, selepas sidang di gelar dan putusan hakim telah jatuh, maka saat itu Hardy akan mengumumkan jati diri menantunya pada umum.


Harun mengangguk pasti, karena sudah dari jauh hari Hardy memintanya untuk mempersiapkan data-data yang di perlukan untuk perkenalan menantunya secara resmi saat pengangkatannya sebagai wakil CEO.


Tentu saja hal ini tak akan mudah karena Rangga yang di ketahui hanya sebagai karyawan biasa mana mungkin tiba-tiba di angkat menjadi wakil CEO.


Pada saat itulah Hardy akan membuka rahasia tentang siapa sebenarnya Rangga.


Saat ini Hardy merasa lega setelah membaca rekam medis milik Hendy yang ternyata tidak mengalami penyakit yang serius.


Dan kini lewat informasi dari orang suruhannya, hendy telah kembali pulih jiwa dan raganya, bahkan benih kebencian pun masih terlihat dari mata lelaki paruh baya itu.


Hardy hanya dapat menghela nafas berat, walau bagaimanapum Hendy adalah saudara kandungnya, Hardy hanya menuntut Hendy untuk masuk penjara tanpa meminta ganti rugi harta yang telah ia ambil dari Wijaya Corp.


Karena Hardy hanya ingin Hendy menyadari bahwa perbuatannya salah namun ia tetap menyayanginya.


Dengan menghabiskan waktu beberapa tahun di penjara, Hardy ingin agar kakaknya menyadari kesalahannya.


Setelah melihat jejak rekam medis yang menyatakan bahwa Hendy tak memiliki penyakit dalam yang memberatkan maka Hardypun semakin bertekad untuk membuatnya jera dengan cara memasukannya ke jeruji besi.


Harun menyerahkan berkas daftar saham dan kekayaan yang akan di alihkan atas nama Rangga, yang sebelumnya masih beratas nama Satria, ayah Rangga.


Hardy mengangguk puas, tak ada lagi yang akan membuat orang memandang Rangga dengan sebelah mata, Hardy membatin dengan kepala mengangguk-angguk puas.


Selain kini harta yang sudah di milikinya, Rangga juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dan itu lah yang membuat Hardy dulu mengangkatnya menjadi karyawan kepercayaan pilihannya.


"Bagaimana menurutmu Run, jika acara resepsi pernikahan Shanum sekaligus pengangkatan Rangga menjadi wakil CEO?" tanya Hardy dengan tatapan tajam ke Harun.


"Katakan jujur menurut kata hatimu Run"kembali Hardy meminta dengan tegas.


"Maaf tuan, saya pun berpendapat jika tuan Rangga patut dan serasi menjadi suami non Shanum, dan pantas jika menjadi seorang wakil CEO di Wijaya Corp"Harun berucap dengan nada pelan namun tegas.


Hardy memandang Harun intens, mencoba mencari kebimbangan di mata asisten kepercayaannya itu, namun Harun terlihat tenang karena memang jujur itulah yang ada di dalam hati, tentang pendapatnya terhadap suami nona muda nya.


Sementara di tempat lain, Rangga menatap tajam layar laptopnya.


Seakan tak percaya pada apa yang di lihatnya.

__ADS_1


Hardy mengirimkan semua data Saham yang di miliki ayahnya sekaligus semua harta dan kekayaan yang kini telah menjadi hak dirinya dan Ardi sang adik.


Tak pernah terbayangkan bahwa, dirinya ternyata mewarisi saham di Wijaya Corp, yang begitu besar nilainya bagi dirinya yang merupakan anak seorang petani biasa.


Shanum mendekati Rangga dan duduk di sisinya.


Di tatapnya layar laptop yang di tunjukan Rangga.


Shanum menatap Rangga intens, ada kebimbangan terpancar dari tatapannya.


"Apakah aku sanggup menerimanya sayang?"tanya Rangga dengan sungguh-sungguh pada Shanum, berharap mendapat jawaban sejujur-jujurnya dari sang istri.


Shanum tersenyum lembut, memang kini keadaan Rangga telah berubah seratus delapan puluh derajat secara tiba-tiba, dan Shanum tak menyalahkan Rangga jika sampai saat ini suaminya itu masih tak percaya diri jika ayah Hardy mengangkatnya menjadi seorang wakil CEO.


"Aku yakin ayah sudah mempertimbangkan dengan matang akan hal ini, dan pastinya bukan tanpa alasan ayah mengangkatmu menjadi wakil CEO, yang aku tahu, ayah akan sangat hati-hati jika mempercayai seseorang apalagi menyerahkan tugas seberat ini"Shanum berusaha bijak, dan menenangkan hati suaminya.


"Tenanglah, kau tidak sendiri, aku ada di sini bersamamu".


Shanum menirukan kalimat yang biasanya di ucapkan Rangga saat dirinya merasa terpuruk dan lelah akan beban yang harus di pikul.


"Tapi apa pendapat orang lain nanti, aku yang hanya karyawan biasa kini telah menjadi suami seorang CEO, bahkan dengan singkat menduduki jabatan tinggi di wijaya Corp"ujar Rangga masih ada keraguan menyelimuti hatinya.


"Tidurlah, kita harus bersiap untuk sidang esok hari".


Ucap Shanum yang memang matanya sudah terasa sepat, di usapnya punggung bidang sang suami dengan lembut, aroma maskulin khas pria, tercium lewat hidungnya yang kini menempel di dada Rangga.


Irama detak jantung yang jelas terdengar seakan irama yang membuatnya tenang.


Perlahan nafas Shanum mulai teratur, dekapan yang tadinya erat kini semakin melonggar.


Rangga yang menyadari tubuh mungil Shanum mulai luruh kini membopong dan membaringkannya pelan ke atas kasur.


Cup.


Kecupan lembut mendarat di puncak lepalanya, Rangga tersenyum gemas, Rangga merasa tak tega jika ia masih saja menuntut kepuasan Arjunanya karena sore tadi pun sudah membuat Shanum terkulai lemas karena serangan panas yang ia lakukan saat mandi.


Akhirnya keduanya pun terlelap tanpa mengulangi kegiatan panas sore tadi.

__ADS_1


Shanum membuka matanya saat bagian perutnya terasa berat, tangannya melerai pelukan Rangga yang ternyata tangan kekar itulah penyebab utama yang membuat tubuhnya terasa sesak.


Dengan perlahan Shanum menarik tubuhnya menjauh dari Rangga, namun kembali tangan kekar itu menariknya masuk ke dalam pelukannya.


Shanum menatap bingung wajah Rangga, mata tertutup rapat tapi kenapa pergerakan kecilnya masih dapat di rasakan olehnya.


Tak ingin mengusik tidur sang suami, Shanum dengan lembut dan gerakan yang ia buat sepelan mungkin, mulai menarik tangan kekar yang nasih mendekap erat perutnya.


"Hhmmm mau kemana sayang, masih pagi"suara berat mengagetkan di sisi telinga Shanum.


"Ehhm aku haus, aku ingin minum"Shanum menjawab dengan wajah melirik ke wajah Rangga lalu perlahan bangkit namun lagi dan lagi, tangan Rangga menariknya untuk kembali merebahkan tubuhnya di sisi Rangga.


"Sstt tunggu di sini, biar aku yang akan mengambilkan untukmu" ucap Rangga dengan suara berat.


Shanum diam dengan jantung yang kini berdegub kencang, mata sayu dan suara berat Rangga membuat jalan fikiran Shanum melanglang ke negri entah berantah.


Suasana yang menjelang pagi dengan udara yang dingin membuatnya enggan bangkit dari tidurnya.


Rangga duduk di sisi ranjang dengan tangan menyodorkan segelas air minum pada Shanum.


Glek glek.


Dengan pelan Shanum menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong pada Rangga.


"Ayo kita tidur lagi"Shanum tak dapat berkutik saat Rangga merengkuhnya kembali.


Bulu halus di tubuh Shanum meremang sempurna saat Gerakan bibir Rangga menyapu permukaan kulit di tengkuknya.


Udara dingin pun kini berubah memanas, saat Rangga mulai melancarkan aksinya memainkan peran sebagai suami tangguh.


Tubuh Shanum menegang sempurna saat Rangga telah menanamkan tubuhnya secara utuh memasuki bagian inti tubuhnya.


Dan olah raga panas pun terjadi mengawali pagi mereka.


******* lembut keluar dari bibir Shanum saat ia memulai pelepasannya, bibir Rangga mengukir garis senyum puas saat iapun berhasil memuntahkan larva hangat dari Arjunanya.


Kecupan lembut mendarat di kening Shanum.

__ADS_1


"Ayo berjuanglah ku yakin kau bisa"ucap Rangga mengusap lembut perut datar Shanum.


__ADS_2