
Linda merasa sedikit bersalah saat ia menolak permintaan David untuk melakukan panggilan vidio dengan sang Mamah.
Bukan tidak percaya diri, tapi Linda sungguh belum siap untuk menyapa sang calon mertua.
"Maafkan aku, hiks" isak Linda tiba-tiba.
"Maaf kenapa ?" tanya David panik.
Linda menggeleng kepalanya yang tertunduk sambil di tutupi kedua tangannya.
Hidup tanpa kedua orang tua, membuatnya terbiasa sendiri dalam menghadapi semua masalah hidupnya, kini tiba-tiba ia harus beramah tamah dan bertegur sapa dengan wanita asing yang kelak menjadi mertuanya, dirinya tentu saja harus mempersiapkan diri dengan matang.
"Maaf kalau aku belum siap berbicara dengan Mamahmu" ucap Linda lirih."
David tersenyum gemas.
"Baiklah, jangan terlalu kau pikirkan,Mamahku sangat santai."
"Maaf boleh aku numpang ke kamar kecil?" tanya David tiba-tiba.
Linda menunjuk ke sebuah kamar tamu di mana terdapat kamar mandi.
David melangkah perlahan memasuki kamar tamu yang di tunjuk Linda.
Mansion yang besar dan banyak terdapat kamar-kamar membuat David menggelengkan kepalanya, untuk apa mansion luas dan mewah jika mereka hanya hidup berdua, batin David.
Setelah menyelesaikan urusannya, David pun kembali ke ruang tamu.
"Kruuukk kruuuk" terdengar bunyi perut Linda.
"Kau lapar?" tanya David.
Linda mengangguk pelan, karena keasikan bicara lewat panggilan vidio dengan Shanum membuat Linda melewatkan makan siangnya.
"Ayo kita makan di luar" ajak David sambil meraih tangan Linda.
Ia tak ingin bayi dalam kandungan Linda merasa kelaparan karena ibunya telat makan.
"A aku ganti baju dulu" pinta Linda.
"Tidak usah, nanti anak kita semakin lapar" ujar David tegas.
Dada Linda berdesir mendengar kalimat David yang menyebut'anak kita'.
David melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran yang berada paling dekat dari mansion Linda.
Beruntung jalanan tidak macet hingga waktu yang mereka tempuh pun tak lama.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya David lembut saat mereka di sodori buku menu.
"Apa saja, aku sangat lapar" jawab Linda singkat.
David pun memesan makanan yang simple agar tak butuh waktu lama bagi pelayan resto untuk menyiapkannya.
Dan memang rasa lapar Linda jelas terlihat saat ia dengan lahap menghabiskan makannya.
David tersenyum puas, jika sang ibu makan lahap maka bayi yang ada dalam perutnya pun akan sehat dan kuat, batinnya.
Karena waktu semakin sore, keduanya pun langsung pulang menuju mansion.
Sebenarnya Linda ingin lebih lama lagi berdua dengan calon suaminya itu, tapi David terlihat sedang buru-buru.
Perlakuan yang sangat lembut dan penuh perhatian membuat Linda merasa nyaman berdekatan dengan calon suaminya itu.
"Aku pulang dulu, sudah sore muacchh" ucap David sambil mengecup puncak kepala Linda.
"A apa kau sangat sibuk?" tanya Linda ragu, baru saja mereka tiba kembali di mansion dan David sudah hendak pamit.
"Tidak, hanya aku ingin segera menyerahkan berkas persyaratan pernikahan kita ke kantor KUA besok pagi, jadi aku harus menyiapkannya dari sekarang."
"Oh" singkat jawaban Linda.
David kini diam, sikap Linda tiba-tiba berubah murung, apakah karena ia bilang akan pulang, pikirnya.
Dengan lembut di rengkuhnya tubuh Linda ke dalam pelukannya, untuk beberapa saat tubuh keduanya menyatu tanpa jarak, hanya baju yang nereka kenakan sebagai pembatas keduanya.
Dengan jelas David merasakan debaran jantung Linda, juga benda kenyal yang kini menempel erat di dadanya.
Glek.
Terbayang kembali semangka yang pernah ia nikmati, besar dan sungguh lembut.
David merutuk dalam hati saat juniornya kini mulai mengeras.
Perlahan David mengurai pelukannya, di usapnya air mata yang membasahi pipi halus Linda.
"Sabarlah, beberapa hari lagi kita akan bersama, tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita" kalimat puitis keluar dari bibir David denagn spontan.
Di rengkuhnya wajah Linda hingga kini ia bisa menatap wajah cantiknya dengan puas.
Sedikit demi sedikit David memajukan wajahnya.
Dan dengan lembut di kecupnya bibir kenyal Linda.
Namun ia begitu terkejut saat Linda bukan hanya membalas ciumannya, wanita itu bahkan dengan lihai memainkan lidahnya dan mengabsen rongga mulut David.
__ADS_1
Tak tinggal diam, David pun yang kini mulai terbakar gairah mulai berusaha mengimbangi ketrampilan Linda yang cukup mahir dalam memainkan lidahnya.
Keduanya kini menyatu dalam ciuman panas yang kian menuntut, beberapa kali David melepas bibirnya untuk mengambil nafas lalu kembali mereka meneruskan ciuman panas yang sudah berlangsung cukup lama.
Tak ingin terlalu jauh bertindak, David pun menyudahi kegiatan, karena bukan tak mungkin, dirinya akan hanyut terbuai dengan pesona bibir Linda yang begitu candu baginya dan mereka akan melakukan hal terlarang itu kembali.
Nafas keduanya tampak memburu, di usapnya sisa salivanya di bibir sexy Linda.
Rona wajah merah terlihat semakin menggemaskan, di rengkuhnya kembali tubuh Linda ke dalam pelukannya dengan erat, dan perlahan ia membungkukan tubuhnya hingga kini bertumpu pada kedua lututnya.
"Nak, ayah pulang dulu, untuk sementara kita belum bisa bersatu, ayah janji sebentar lagi Ayah akan rajin menengok kamu di sana, baik-baik sayang, jangan buat ibumu sedih ya muaacchh" kalimat yang David ucapkan begitu lembut, dengan ucapan tangannya menyapu perut Linda yang masih rata.
Bluus.
Linda kini merasa kedua pipinya sangat panas, entah kenapa hatinya begitu bahagia mendengar kalimat yang David ucapkan, tak sabar rasanya ia hidup bersama dengan ayah dari bayi yang di kandungnya.
Dan senyum Linda masih saya terlihat meski David telah pulang dari mansion beberapa jam yang lalu.
Langkah Lefrant terdengar memasuki mansion.
"Makan Kak, bibi sudah masak makanan kesukaan Kakak" ucap Linda dengan wajah manis.
Lefrant menatap sang adik intens, hari ini rupanya mood sang adik sedang membaik, batinnya.
********
Tak terasa hari H sudah tinggal satu hari lagi, David semakin tak sabar menanti hari pernikahan mereka.
Mamah Sarah sudah bilang mereka tak bisa pulang, namun ia meminta David membawa sang istri ke negara X agar mereka bisa bertemu langsung, sementara Papah Stevan dengan sikap dinginnya tampak tak begitu tertarik dengan pernikahan putra satu-satunya itu, ia masih fokus pada dunia bisnisnya, dan David pun tak heran dengan sikap ayah kandungnya itu.
Karena acara di adakan malam selepas maghrib, maka Rangga pun tak lembur hari ini.
Sementara di mansion Linda sudah bersiap dengan gaun sederhana namun elegan, karena hanya acara ijab kabul mereka pun tak mengundang banyak orang, hanya beberapa keluarga inti dan petugas dari KUA yang akan datang.
Para pelayan di mansion sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk para tamu, juga bingkisan yang khusus untuk para petugas KUA nanti.
Lefrant berjalan bolak-balik di ruang tamu, sikapnya seperti seorang ayah yang merasa gugup di hari pernikahan putri satu-satunya.
Deru mesin mobil memasuki garasi mansion.
Dua mobil masuk beriringan di mana calon pengantin pria di mobil depan dan mobil kedua berisi Rangga, Shanum dan Hardy.
Tak berapa lama datanglah mobil ketiga yang berisi para petugas dari kantor KUA yang sengaja Lefrant jemput dengan mobil miliknya.
Setelah saling bersalaman mereka pun duduk di kursi yang mengelilingi ruang tamu mansion.
Satu buah meja terletak di tengah di mana acara inti pengucapan ijab kabul akan berlangsung.
__ADS_1