
Daren menajamkan telinganya, mata menatap layar ponsel namun telinga dan pikiran terpusat pada sang ayah yang sedang berbicara di ponsel dengan sahabatnya.
Setelah beberapa menit akhirnya lelaki paruh baya itupun menyudahi obrolannya.
Daren menghela nafas panjang, meski ia kerahkan seluruh kemampuan mengupingnya namun ia masih tak dapat menerka apa yang menjadi topik obrolan sang ayah dan sahabatnya itu.
"Ayo Ren, kita makan" ajak Darmawan pada sang putra.
Keduanya melangkah menuju ruang makan di mana telah tersaji makanan di atas meja.
"Silahkan makan tuan, den" tawar mbok Minah, perawat yang sudah mengasuh Daren sejak pemuda itu masih remaja.
"Terima kasih bi."
Darmawan hanya mengangguk ke arah bi Minah, pelayan setia nya.
Setelah kepergian sang istri sebenarnya Darmawan sudah memberi kebebasan pada bi Minah untuk memilih apakah akan tetap bersamanya ataukah ingin pulang ke kampung halamannya.
Karena kasih sayang dan perhatian juga rasa hutang budi pada almarhumah ibu Daren lah, bi Minah akhirnya lebih memilih untuk tetap setia menjaga dan mengasuh Daren hingga kini.
Sesekali bi Minah akan pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu pada anak dan sanak keluarganya.
Sebagai seorang yang merawat pemuda itu sejak remaja, bi Minah sangat jeli melihat wajah tuan muda nya yang malam ini tampak murung.
Setelah menyelesaikan makannya Darmawan menuju ke ruang kerjanya.
Sementara Daren masih di kursi di ruang makan.
Wajahnya tampak lesu dan tak bersemangat.
Tatapannya hanya fokus pada layar ponsel yang berada dalam genggamananya, tanpa menyadari bahwa bi Minah sejak tadi memperhatikan semua tingkahnya.
"Den, apa den Daren sakit?"
"Ah ehm t tidak bi, kenapa?"
"Bibi perhatikan beberapa hari ini den Daren makannya sedikit, apa masakan bibi kurang enak ya?"
"Tidak bi, masakan bibi seperti biasa, lebih enak dari restoran manapun." sanjung Daren.
"Lalu kenapa den Daren makannya sedikit, apa ada yang sedang den Daren pikirkan?"
Daren memandang bi Minah, hidup bersama dengan perempuan yang sudah di anggapnya seperti ibunya sendiri membuat ikatan batin antara mereka begitu kuat, bahkan hatinya yang sedang tak baik-baik saja pun bi Minah memahaminya.
Daren menghela nafas panjang.
"Katakanlah pada bibi den, meski bibi mungkin tak dapat memberikan jalan keluar setidaknya beban yang menghimpit aden bisa berkurang, katakanlah pada bibi , apa yang membuat den Daren murung selama beberapa hari ini."
__ADS_1
Daren memandang bi Minah intens, wajah yang sudah terlihat keriput karena usia juga beban yang di pikulnya, apa dia masih tega dengan menambah keluh kesah cerita cintanya yang kelabu.
"Aden jangan sungkan, bibi akan menjadi pendengar setia semua isi hati den Daren" lanjut bi Minah lembut.
Di kupasnya sebuah jeruk manis lalu di serahkan pada Daren, sudah menjadi kebiasaan pemuda itu jika sesudah makan berat ia pasti akan memakan buah-buahan, apapun itu.
"Ehm bibi tahu teman ayah yang bernama tuan Hardy bi?" tanya Daren memulai curhatnya.
Bi Minah mengangguk pasti, karena memang beberapa kali tuan Hardy bertandang ke rumah Darmawan.
"Aku menyukai putrinya bi" lanjut Daren lagi, sontak wajah sang bibi membulatkan matanya dengan mulut terbuka.
Seakan tak percaya kalimat yang tuan muda nya katakan.
Setelah sekian lama Darmawan kebingungan dengan sikap Daren yang begitu anti pada wanita, sikapnya begitu datar dan dingin meski secantik apapun wanita yang mendekatinya, semua itu tak membuat hati Daren tertarik.
Namun kini tak ada angin tak ada hujan Daren memberitakan kabar yang sungguh menggembirakan bagi bi Minah.
"Sungguh den, ya Tuhan, akhirnya setelah sekian lama akhirnya ada juga seorang gadis yang membuatmu luluh dan jatuh cinta den."
Bi Minah tersenyum bahagia lalu memeluk tuan muda nya dengan erat.
"Selamat ya den, bibi sungguh senang mendengar berita bahagia ini, pasti putri tuan Hardy adalah seorang gadis yang istimewa, ajaklah dia ke sini den, bibi ingin berkenalan dengannya."
Mata penuh dengan binar bahagia terpancar dari mata bi Minah.
"Tapi bi..."
"Tapi apa den, apa tuan Hardy tidak menyetujui kalian?" tanya bi Minah panik.
Daren menggelengkan kepalanya lesu.
"Lalu kenapa den?"
Daren menghela nafas berat, kisah cintanya bagai kapal yang berlabuh di dermaga yang salah.
Jangkar yang sudah tertancap kokoh, harus kembali ia cabut.
"Katakan den, apa yang bisa bibi bantu buat den Daren" bi Minah terlihat begitu sedih melihat tatapan tuan muda nya yang begitu kosong dan putus asa.
"Aku datang terlambat bi."
Kalimat yang terucap pelan dengan suara yang bergetar, tampak kesedihan yang mendalam saat Daren mengatakan yang sesungguhnya.
"Terlambat kenapa den, kenapa bisa begitu apa tidak bisa di susul kalau terlambat."
Ucapan polos dari sang bibi membuat Daren tersenyum masam.
__ADS_1
"Dia sudah ada yang memiliki bi."
Jederrr.
Bagai mendengar petir di sebelah telinganya.
Bi Minah menutup mulut dengan tangannya, rasa kaget, sedih dan tak percaya menjadi satu.
Tak percaya bahwa tuan muda nya yang berparas tampan idaman semua wanita, ternyata telah menyukai seorang gadis yang sudah tidak single lagi.
Bi Minah tak dapat berkata-kata lagi, ia hanya melihat wajah tampan yang sedang terluka hatinya.
"Sungguh malang nasibku ya bi, barunya sekali jatih cinta tetapi jatuh pada hati yang salah."
Bi Minah menggeleng pelan.
"Kau tidak bersalah den, hati akan berlabuh di mana ia merasa nyaman, tapi..apakah putri tuan Hardy juga tahu jika kau menyukainya?"
"Mungkin saat ini dia sudah tahu bi."
"Lalu, apakah di hatinya sama sekali tak ada namamu den?"
Daren menggeleng lemah.
"Dia sudah menjadi istri orang bi."
Jederrr.
Untuk kedua kali bi Minah bagai mendengar gledeg di dekat telinganya lagi.
"Jadi aden menyukai istri orang??"
Daren mengangguk masam.
"Duuh den, amit-amit deh, jangan jadi pebinor den mending cari aja gadis lain yang masih single, jangan pernah merebut milik orang lain, karma tidak pernah ada dalam kalender den."
Bi Minah berkali-kali mengusap punggung tuan mudanya.
Meski begitu sayang pada tuan muda nya tapi bi Minah nggak mau jika putra bos nya menjadi orang jahat yang merampas milik orang lain.
"Bi aku juga sadar bi, tenang lah, aku bukan lelaki bodoh yang selalu menuruti ke egoisannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain, aku tidak akan merampasnya dari suaminya bi, aku senang jika melihat dia bahagia" terang Daren panjang lebar.
Bi Minah tersenyum senang.
"Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu den, bibi yakin, kau adalah pria baik, yang pasti akan mendapatkan wanita yang pantas menjadi pelabuhan terakhirmu."
Ujar bibi.
__ADS_1
Daren pun menarik sudut bibirnya hingga senyum manis pun terbit.
"Do'a kan agar kapalku tak berlabuh di dermaga yang salah lagi ya bi."