Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kisah Lama Tentang Kita


__ADS_3

Devon mamandang wajah cantik di hadapannya yang terlihat sendu ,wajah yang pernah singgah di hatinya ,yang selalu menghiasi hari-harinya ,namun Devon telah menorehkan luka di hatinya ,luka yang mungkin sampai kini masih membekas di hati gadis itu .


Kisah cinta yang telah terjalin cukup lama ,dengan terpaksa Devon sudahi ,karena keputusan kedua orang tuanya untuk memintanya bertunangan dengan putri sahabatnya .


Isak tangis tak henti keluar dari bibir tipis di hadapannya ,saat keputusan Devon untuk menerima keputusan kedua orangtuanya dan rela memutuskan tali kasih dengan gadis cantik yang telah tiga tahun menjadi kekasihnya itu .


"Apa kabarmu Vin ,sudah lama kita tak berjumpa "sapa Devon memecah kesunyian .


"Hmm baik Dev "jawab Vina pelan dan berusaha tetap tegar memandang wajah yang begitu ia rindukan namun juga sekaligus yang telah menorehkan luka yang dalam .


"Maafkan aku ,baru kali ini menghubungimu ,dan ku ucapkan terima kasih kau masih sudi untuk mau menemuiku setelah dua tahun "ucap Devon memandang manik mata Vina yang terlihat sendu.


"Sudahlah Dev ,lupakan masa lalu aku tak ingin lagi mengingat masa yang hanya akan membuat hatiku kembali sakit"ujar Vina dengan tenang .


Devon memandang takjub pada Vina ,rupanya dua tahun setelah kandas hubungannnya ,Vina memutuskan untuk memfokuskan dirinya pada pendidikan yang sempat terbengkalai ,dokter spesialis yang ia tekuni pun akhirnya selesai meski waktu yang ia tempuh hampir enam tahun lamanya .


Kini Vina sudah semakin terlihat lebih dewasa dan bijak ,Vina kini telah berubah menjadi seorang dokter handal .

__ADS_1


"Aku membutuhkan bantuanmu Vin ,"ucap Devon meski hati kecilnya merasa enggan namun tak ada lagi dokter yang lebih handal dalam bidangnya selain Vina.


*


*


Rangga melangkah memasuki mansion megah yang terasa sunyi ,sapaan hormat dan senyuman ramah dari para pelayan yang kebanyakan wanita,tengah memandangnya dengan penuh rasa kagum ,entah apa yang ada dalam otak mereka dan Rangga tak ambil pusing untuk memikirkannya .


"Wah wahh ...selamat datang Rangga,kukira kau sudah lupa jalan menuju ke rumah ini hingga tak pernah sekalipun kau datang "sapa Hardy hangat sambil memeluk pemuda di hadapannya dengan senyum hangat ,meski Rangga hanyalah seorang karyawan ,namun Hardy begitu menyayangi selayaknya putranya sendiri .


"Sudahlah ,aku maklum dengan kesibukanmu ,Devon pun sudah mengatakan bahwa kau ikut membantunya mengatasi kekacauan di Wijaya Corp .dan aku ucapkan terima kasih karena kerja kerasmu kini perusahaan telah berjalan lebih stabil "ujar Hardy dengan menepuk bahu pemuda itu dengan bangga .


"Terima kasih tuan ,sebenarnya saya hanya sedikit membantu mereka karena sebenarnya dengan keberadaan tim tuan Devon pun, sudah dapat mengatasi masalah di Wijaya Corp."Rangga berucap merendah ,sebenarnya tim yang Devon miliki pun sudah dapat mengatasi masalah tersebut hanya saja mereka kalah dalam tenaga yang begitu terbatas hingga akhirnya Devon meminta bantuan Rangga.


*


*

__ADS_1


Sementara di tempat lain ,Shanum terdiam di atas brangkar sedang mengancingkan baju kemejanya.


"Sebenarnya tidak ada masalah serius yang terjadi dalam kandungan nona Shanum ,hanya saja anda harus lebih memperhatikan kondisi tubuh anda ,dan akan saya tuliskan resep beberapa obat dan vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh nona yang lemah " ucap dokter Vina di hadapan Shanum dan Devon setelah memeriksa kondisi tubuh Shanum dan menuliskan resep untuk di berikan padanya.


Shanum melangkah keluar ruangan mendahului Devon yang berada di belakangnya ,interaksi antara keduanya terlihat bahwa mereka saling mengenal dan dan akrab ,karena itu Shanum tak ingin keberadaannya mengganggunya .


"Terima kasih Vin "Devon berucap pelan ,wajah cantik yang kini menatapnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca menahan sakit di dadanya .


Dua tahun ia berusaha menyembuhkan luka dan berharap ingin melupakan pria yang amat di cintainya ,namun kini sosok itu kembali, bahkan menaburkan air garam pada lukanya hingga kembali terasa perih yang tak terkira .


"Pergilah Dev ,dan jangan kembali lagi ,kuharap kau bahagia bersamanya ,"mata indah yang kini telah basah oleh air mata yang tak dapat ia bendung lagi .


Devon menelan salivanya yang kini terasa begitu pahit ,tak dapat di pungkiri ,hatinya pun merasakan sakit saat melihat air mata itu keluar dari sudut mata berbulu lentik itu ,ingin rasanya ia memeluknya erat .


Shanum terdiam dengan pandangan lurus ke arah jalan di depannya ,sikap Devon yang kini berubah menjadi lebih pendiam sejak keluar dari rumah sakit tadi ,tentu saja hal ini membuat Shanum serba salah ,namun ia tak ingin menanyakan seatu hal jika ternyata Devon tak ingin berbagi tentang masalah yang di alaminya .


"Maaf kan aku yang kembali melukai hatimu Vin "gumam hati Devon lirih .

__ADS_1


__ADS_2