Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Titipan Dari Ibu


__ADS_3

Devon hanya mampu terdiam di tempat duduknya,tatapan Hardy sungguh membuat tubuhnya kaku.


Meski mungkin hubungan mereka tidak akan sebaik saat ini,tapi Kevin harus membuat satu keputusan.


Helaan nafas berat, keluar dari mulut Hardy, jika di banding dengan rasa malu yang kelak di terimanya, ia merasa lebih tak rela jika sang putri kesayangannya akan hidup dalam derita yang tak berujung karena perjodohan ini.


Hardy akui, Devon memiliki keberanian dan tanggung jawab yang dapat di akui jempol karena sudah mengambil keputusan yang benar,meskipun rasa kecewa yang begitu dalam di hatinya karena di hianati calon menantunya itu.


Jika pernikahan tak berdasar rasa cinta,maka apa yang akan terjadi sungguh tak dapat ia bayangkan, biduk rumah tangga yang seharusnya di isi dengan kasih sayang, perhatian, dan saling mengisi kekurangan masing-masing, tentu tak akan mereka nikmati.


"Sekali lagi maafkan aku om, apapun akan aku lakukan agar Om dan Sha-sha...memaafkan kesalahanku"ucap Devon dengan suara bergetar.


"Aku sungguh kecewa denganmu Dev".


Hardy berucap dengan tatapan mata dingin dan rahang mengeras,jika saja saat ini ia tak memandang pemuda di hadapannya adalah putra dari sahabat baiknya,tentu saja ia akan menghabisinya saat itu juga.


Devon masih tertunduk lemah,sungguh hatinya tak ada keberanian memandang pria yang begitu di seganinya itu.


Hardy hanya memandang Shanum yang juga masih terlihat shock di tempat duduknya.


Meski rasa kecewa kini mendera di dadanya,namun Shanum tak dapat menolak apa yang menjadi keputusan Devon.


Jika memang tali pertunangan ini tak dapat di lanjutkan, iapun tak dapat memaksakan hati yang ternyata bukan untuknya.


"Sha....maafkan aku,"Devon memandang manik mata Shanum dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


Ingin rasanya ia memeluk gadis cantik bermata indah di hadapannya dan mengucapkan maaf beribu kali,karena telah menyakiti dan mengecewakannya.


Shanum hanya dapat menghela nafas panjang, seakan beban di hatinya yang selama ini menghimpitnya telah sirna, entah kenapa hatinya tak ada rasa pedih ataupun dendam pada lelaki yang kini telah menjadi mantan tunangannya itu, bahkan rasa lega kini yang ia rasakan.


Mungkinkah karena pertunangan ini hanya keinginan antara orang tua mereka,ataukah karena di hati Shanum memang sebenarnya tak ada Devon di sana.


Hingga malam pun kian larut, dan Devon telah pamit beberapa jam yang lalu.


Hardy yang mungkin sudah terlelap ke alam mimpinya, karena keadaan kamarnya tampak hening.


Shanum memandang langit dari atas balkon yang terasa sangat cerah baginya, masih tak percaya, dirinya kini telah bebas dari ikatan yang membelenggunya selama lebih dari dua tahun lamanya, namun hati kecilnya tak ada sama sekali perasaan kehilangan atau pun sakit hati saat Devon memutuskan tali pertunangan dan lebih memilih melanjutkan cintanya dengan sang kekasih yang tak lain adalah cinta pertamanya.


*


*


Mata Kevin berbinar melihat berbagai hidangan telah tersaji di atas meja makan, jarang-jarang ia sarapan dengan menu lengkap hidangan rumahan seperti ini.


Hana dengan telaten menyiapkan seluruh hidangan sejak subuh tadi.


Rangga makan dengan lahap, begitupun Kevin yang seakan lupa jika ia harus berangkat lebih awal karena harus menjemput Rara.


"Tumben biasanya kau jemput bini lu Vin?"Rangga bertanya sambil mengeluarkan motornya dari garasi.


"Waduuuh biyuuung,kenapa lu nggak bilang dari tadi bro"Kevin menepuk jidatnya ,baru sadar keteledorannya.

__ADS_1


"Wahhh bisa marah nih ayang mbeb"ucapnya dengan risau, lalu mengeluarkan ponselnya.


"Bu,aku pamit dulu yah"ujar Rangga lalu menyalami tangan sang ibu dan menciumnya.


"Hati-hati Ngga, eh apakah Kevin memang sudah nikah, lalu kenapa nggak tinggal bersama"bisik sang ibu pelan agar tak terdengar Kevin.


"Kawin sih udah bu, tapi nikah mah belom"jawab Rangga sarkas dengan nada sedikit keras agar Kevin mendengarnya.


"Sialan lu, nggak bu, aku belum nikah bu,jadi belum boleh kawin kan bu"sahut Kevin dengan mata melotot kearah sobat tak berahlaknya itu.


"Gini-gini gue juga masih waras bro, nggak bakalan mengacak- acak kebun kacang orang,dan tak bertanggung jawab"sewotnya lagi, di sambut senyuman puas Rangga.


"Hmmm, syukurlah jika kau memang masih perjaka ting-ting, pertahankan itu bro hingga nanti kau naik pelaminan"ujar Rangga lalu melajukan motornya.


"Sialan lu, mentang-mentang jomblo abadi dan masih bersegel".


Hana hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.


Di area parkir Rangga sengaja menunggu kedatangan mobil CEO kesayangannya, beberapa menit sudah berlalu namun belum juga terlihat kedatangannya.


Rangga akhirnya melangkah menuju ke lift dan memencet tombol di lantai ruangan Shanum.


"Titipan dari ibu".


Bunyi kalimat yang Rangga tulis di kertas kecil yang di selipkan di bawah toples cantik, berisi asinan dari sang ibu untuk Shanum.

__ADS_1


__ADS_2