Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Tante


__ADS_3

Seperti kemarin, pagi ini pun Shanum bangun lebih siang dari sang suami, karena begitu matanya membuka, Shanum sudah tak melihat tubuh sang suami di sampingnya lagi.


"Sayang kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Shanum tampak kesal karena melihat sang suami yang sudah rapi dengan seragam kantor yang biasa ia pakai.


"Ehm ku lihat kau sangat nyenyak, jadi aku tak tega membangunkanmu cup." Rangga tersenyum dan mengecup puncak kepala sang istri.


"Aku berangkat sayang, kalau ada urusan mendesak dan kau tak bisa menghubungiku, kau bisa hubungi David asistenku."


"Heum."


"Aku berangkat sayang, jaga kesehatanmu dan baby kita, makan yang banyak, jangan lupa susu dan obatnya, cepat hubungi aku jika ada hal mendesak oke." pesan Rangga panjang lebar.


"Sayang, hari ini aku harus pergi ke mall lagi..."


Shanum dengan harap cemas menanti jawaban Rangga.


Tak ingin kecerobohannya terulang lagi Rangga menatap Shanum tajam.


"Apa ada hal penting hingga kau pergi ke mall itu lagi?" tanya Rangga dengan nada mengintimidasi.


"Ehm, kemarin ada belanjaan yang bukan miliku dan tak sengaja di bawa oleh pengawal jadi hari ini aku harus mengembalikan barang itu ke butik." Shanum menjawab dengan wajah sedikit tegang.


"Benar hanya itu?"


Shanum mengangguk pasti.


"Janji?" Rangga bertanya penuh selidik.


"Aku janji dengan sepenuh hatiku."


Rangga tersenyum gemas lalu meraih tubuh Shanum ke dalam pelukannya.


"Baiklah, aku percaya padamu, tapi ingat pesanku, langsung pulang ke mansion setelah semua urusanmu selesai."


"Siap laksanakan" Shanum mengangkat tanganya dan di tempelkan di atas pelipis membentuk gaya hormat.


"Aku berangkat sayang, kamu hati-hati di jalan, janganlah berangkat di jam sibuk, aku tak ingin kalian tersiksa kemacetan" Pesan Rangga.


Rangga menahan tubuh Shanum saat hendak mengikuti langkahnya.


"Nggak usah antar aku, kau belum memakai baju mu" kerlingan mata genit Rangga menyadarkan Shanum.


"Aaakkhh" pekikan dari mulut Shanum terdengar tertahan karena Rangga dengan cepat membekap mulutnya.


"Ssttt, itu hukuman karena kecerobohanmu kemarin, dan jika kau mengulanginya lagi, aku pastikan akan lebih banyak hasil karyaku menghiasi tubuhmu mmuuaachhh"


Senyum Rangga terbit, lalu berlari keluar dari kamar meninggalkan Shanum yang sedang mengumpatnya panjang pendek..


"Ishhh bagaimana aku bisa keluar rumah jika leherku ada hiasan sebanyak ini." Shanum bermonolog dengan kesal.


Matanya pun kini membulat sempurna, di depan cermin kamar mandi dapat di lihat dengan jelas jika hasil karya sang suami bukan hanya di lehernya saja, bahkan di tempat-tempat yang sulit di lihatnya sendiri pun ada karyanya di situ.

__ADS_1


Apa se lelap itu tidurku hingga tak merasakan saat ia memahat karyanya, batin Shanum geram.


Iapun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, meski di gosok beberapa jam pun tak akan hilang tanda cinta dari Rangga di tubuhnya.


Akhirnya setelah lebih dari satu jam Shanum mencari pakaian yang dapat menutupi lehernya namun ternyata nihil.


Tak ada satu pun model baju miliknya yang mempunyai model krah baju yang menutupi leher jenjangnya.


Tak ingin lebih lama membuang waktu, akhirnya sebuah Syal putih ia gunakan untuk menutupi kissmark Rangga.


"Non, non Shanum sedang sakit?" tanya bibi yang melihat kemunculan Shanum dari kamarnya dengan berbalut syal di leher karena itu bukanlah gaya nona mereka.


Shanum menggeleng kikuk.


"Ehm aku mau pergi ke mall bi, dan tenggorokanku agak kering, aku tutupi biar tak terlalu kena angin nantinya."


Bibi mengangguk paham.


"Kalau begitu silahkan makan dulu non, dan ini obatnya." Sang bibi dengan telaten menaruh obat-obat yang harus Shanum minum setelah makan.


Sementara itu di tempat lain.


David yang melihat kedatangan sang bos dengan rona wajah ceria sedikit bertanya-tanya.


Moodbooster apa yang membuat paginya begitu semangat setelah insiden kemarin yang membuat mereka berkeringat dingin, batin David.


"Pagi pak."


"Pagi Vid, sudah sarapan?"


Rangga yang memergoki David beberapa kali mencuri pandang ke arahnya merasa risih.


"Ada apa Vid?"


"Hah, apa pak?"


"Kamu dari tadi melirik ke arah saya, apa ada yang aneh di tubuhku ini?"


"Aah ehm t tidak pak, hanya saja pagi ini pak Rangga terlihat sumringah dan berseri-seri."


Rangga tersenyum simpul, kembali teringat apa yang sudah di lakukannya pada tubuh Shanum.


Mungkinkah saat ini dia masih marah setelah menyadari hasil karya ku di tubuhnya, batin Rangga.


Atau ia saat ini tengah sibuk menutupi tanda jejak cinta dengan bedak miliknya, senyum Rangga tersungging.


Kini David semakin di buat bingung dengan tingkah atasannya yang diam namun wajah senyam-senyum aneh.


Jangan bilang kalau ia stres berat karena kasus klien kemarin, pikir David.


"Pak, pak Rangga.."

__ADS_1


Ya bengong dia, umpat David dalam hati.


"Pak R a n g g a..." panggilnya lagi.


"Eh ah ..apa, apa Vid?"


"Apa bapak mau di bikinin kopi?"


Haiisstt, kenapa si bos ku pagi ini, bikin orang bingung aja, rutuk David.


"Ehm boleh Vid."


David pun melangkah ke pantry.


Sementara Rangga masih asik dengan lamuannya.


Andai saja ia tak ingat perkataan sang bibi yang mengatakan bahwa Shanum mengalami pegal-pegal di tubuhnya setelah olah raga pagi, tentu Rangga akan menyerang Shanum semalam.


Makin bertambahnya usia kehamilan membuat tubuh mungil Shanum kian berisi dan mon***.


Rangga semakin di buat ketagihan untuk selalu bermain dengan tubuh sang istri.


Tak dapat terlelap rasanya jika belum memainkan benda kenyal favoritnya.


Untunglah Shanum tidur nyenyak hingga keasikannya tak terganggu.


Jika saat ini Rangga tengah gembira karena kepuasannya tersalur namun berbeda dengan Shanum yang kini masih sibuk membetulkan syal di lehernya.


Karena tak terbiasa dengan leher yang tertutup membuat langkah Shanum merasa terganggu karena rasa gerah yang kini menyerangnya.


Beruntung pagi ini pengunjung mall belum terlalu banyak, hingga Shanum bisa melenggang lebih leluasa.


Pelayan butik yang melihat kedatangan Shanum pun mengangguk hormat.


"Selama pagi nyonya, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu karyawan dengan ramah.


Shanum tersenyum senang karena karyawan itulah yang melayaninya kemarin.


Karyawan itupun tersenyum saat Shanum mengatakan maksud kedatangannya di butik tersebut.


Shanum menurut saat karyawan itu memintanya untuk bertemu langsung dengan pemilik butik.


"Silahkan duduk nyonya, sebentar lagi nyonya kami akan menemui anda."


Shanum mengangguk dan duduk di sofa yang ada di ruangan pribadi yang pemilik butik.


Ceklek.


Tak lebih dari sepuluh menit akhirnya seseorang memasuki ruangan tersebut.


Mata Shanum membulat saat tatapannya beradu dengan sosok yang baru memasuki ruangan.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang masih terlihat aura kecantikan di wajahnya kini memandang ke arahnya dengan senyum lembut.


"Tante...?"


__ADS_2