Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kau Begitu Menggemaskan


__ADS_3

Rangga terbangun saat Devon menepuk bahunya ringan.


Matanya nanar melihat ke arah brangkar di mana Shanum tengah tidur lelap.


"Apa dia sudah bangun?"tanya Rangga panik.


Devon tersenyum melihat kecemasan di wajah Rangga.


"Tadi istrimu sudah sadar dan kata dokter luka di bahunya tinggal menunggu masa pemulihan, Shanum di haruskan lebih banyak istirahat dan belum di bolehkan banyak bergerak"jawab Devon.


"Kenapa aku tidak di bangunkan?"tanya Rangga dengan nada penuh sesal.


"Tadinya aku akan membangunkanmu, tapi shanum melarangnya, ia ingin kau istirahat cukup"jelas Devon membuat Rangga menghela nafas panjang.


"Aku pamit dulu Ngga, ayah mertua dan ibumu sedang dalam perjalanan menuju ke sini"sambungnya lagi.


Rangga hanya mengangguk dan menyambut uluran kepalan tangan Devon.


Dengan langkah perlahan Rangga menuju kursi di samping brangkar Shanum.


Di usapnya puncak kepala istrinya dengan lembut, nafasnya teratur kini bibir mungil itu terlihat lebih segar dan tidak sepucat pagi tadi.


Dengan perlahan, Rangga mengusap punggung tangan yang lemah dan tertancap jarum infus, andai kan bisa, ia ingin menggantikan posisi Shanum dengannya, biarlah tubuhnya yang mengalami sakit dan luka, hatinya begitu perih melihat Shanum terbaring lemah denga luka-luka di tubuhnya, Rangga tak rela untuk kesekian kali melihat Shanum tak berdaya.


Berkali-kali Rangga mencium punggung tangan itu dengan penuh rasa bersalah.


"Egghh"erangan lemah membuyarkan kesedihan Rangga seketika.


"Sayang, kau sudah bangun?" mata Rangga berbinar saat Shanum kini membuka mata dan tersenyum padanya.


Shanum mengangguk pelan, senyum manis terbit dari bibir mungilnya.


"Sayang apa yang kau inginkan, apa mau ku pijit?"pertanyaan konyol yang Rangga lontarkan membuat Shanum tersenyum.


"Aku haus?"ucap Shanum lirih.


Rangga dengan cepat meraih gelas kosong yang ada di atas meja lalu menuangkan air bening dan menyodorkan pada Shanum agar meminumnya.


"Tunggu dulu", Rangga menaruh kembali air minum ke atas gelas, lalu melangkah ke luar dari ruangan.


Shanum hanya dapat melihat kepergian Rangga dengan wajah bingung.


"Huff"nafas Rangga memburu.


"Sudah sayang, sekarang kau sudah boleh minum"kata Rangga dengan suara terbata dan nafas memburu karena telah berlari ke ruang tunggu perawat untuk menanyakan apakah Shanum sudah di bolehkan minum.


Shanum tersenyum penuh haru melihat Rangga begitu perhatian dalam menjaga kondisinya.


Dengan lembut Rangga mengarahkan sedotan minuman ke mulut Shanum setelah lebih dulu menyetel brangkar agar lebih tinggi posisi kepalanya.

__ADS_1


Cupp.


Rangga mengecup puncak kepala Shanum ringan lalu mengusapnya lembut.


Tok tok.


"Maaf sekarang waktunya untuk Nona Shanum di bersihkan tubuhnya ya"ujar perawat yang datang membawa peralatan untuk menge lap tubuh pasien.


Perawat masih terdiam melihat Rangga tak juga keluar dari ruangan.


"Maaf Tuan, mohon tuan di persilahkan ke luar ruangan dahulu"ujar perawat dengan ramah.


"Ehm tapi saya suaminya sus,apa tidak boleh saya melihat istri saya sendiri?"tanya Rangga, sontak membuat wajah Shanum merona merah.


"Oh, maaf Tuan, saya kira nona ini masih gadis"jawab perawat gugup dan merasa bersalah karena telah mengusir sang suami dari pasien.


"Memang kami sudah menikah, tapi dia masih gadis kok sus"jawaban frontal dari mulut Rangga membuat Shanum membulatkan matanya, ingin rasanya ia bungkam mulut lemes Rangga dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Perawat pun tersenyum kikuk mendengar jawaban absur dari Rangga.


Bagaimana mungkin sudah menikah tapi masih gadis, gumam perawat penuh tanda tanya.


"Ehm atau sebaiknya Tuan saja yang membersihkan istri anda tuan?" tanya perawat menawarkan diri.


"Eh tidak sus untuk saat ini suster dulu yang melakukan, biar saya belajar dulu caranya, baru besok saya yang membersihkan sus" jawab Rangga dengan percaya diri.


Seandainya saja orang lain yang berani memegang tubuh istrinya itu bukan seorang perawat, maka sudah habis riwayatnya karena Rangga tentu akan menghajarnya.


Membayangkan tubuh yang seharusnya hanya menjadi miliknya namun kini dengan santai perawat itu mengusap, memijit bahkan menggosoknya dengan lembut membuat hatinya mendidih.


Rahangnya mengeras menahan geram di dadanya, namun yang bisa di lakukan hanya menelan salivanya yang terasa pahit.


"Tuan, apakah tuan membawa pakaian ganti untuk istri tuan?"tanya perawat.


"Ehm anu sus, ibu saya masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ini, jadi baju gantinya belum ada"jawab Rangga terbata.


"Kalau begitu kami akan mengganti dengan baju sementara yang sudah di persiapkan oleh pihak rumah sakit untuk pasien"


"Baik sus, lakukan yang terbaik" perintah Rangga akhirnya dengan tenang.


Perawat pun mengangguk hormat sebelum meninggalkan ruangan.


Wajah Shanum masih bersemu merah bak kepiting rebus, ingin rasanya ia menghilang dari muka bumi saat ini juga.


Meski mereka telah sah menjadi sepasang suami istri tapi mereka belum sempat menikmati indahnya belah duren.


"Kenapa wajahmu sayang?"tanya Rangga dengan polos.


Shanum mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari tatapan dan senyum smirk dari Rangga yang kini terlihat mesum di mata Shanum.

__ADS_1


"Untuk besok, aku yang akan membersihkan tubuhmu sayang"bisikan kecil di telinga Shanum sontak membuat tengkuknya meremang sempurna.


"Kenapa kau berubah semakin mesum sayang"nada Shanum kini sedikit kesal.


"Lha kan mesum sama istri sendiri"


"Iya tapi ini kan rumah sakit sayang, kan malu sama para perawat, pake curhat segala"jawab Shanum dengan wajah jutek namun menggemaskan.


Jika bahunya sedang tidak sakit tentu Shanum ingin membungkam mulut lemes suaminya itu, yang dengan polosnya mengatakan belum belah duren pada orang lain.


"Iya iya maafin aku ya, aku nggak mesum lagi"ujar Rangga dengan mimik wajah tak berdosa.


Shanum hanya mengerucutkan bibirnya seakan tak percaya janji suaminya itu.


"Ish kalau kamu seperti itu, aku nggak janji tidak mesum lagi lho ya"nada suara mengancam dari Rangga mengagetkan Shanum.


"Apa maksudnya, baru satu detik kau janji tidak akan mesum lagi, kini bahkan kau mengancam akan melakukan hal bodoh itu lagi" tanya Shanum dengan mata membulat kesal.


Bukannya merasa kesal, Rangga bahkan kini mendekatkan wajahnya hingga jarak habis terkikis.


Shanum memalingkan wajahnya jengah.


Entah kemana hilangnya sifat cuek dan dingin Rangga kini.


Mata dan senyumnya selalu terlihat penuh dengan pikiran mesuman yang tak tersalurkan.


Rangga meraih dagu Shanum dan menangkup kedua pipinya.


Bibir yang mengerucut karena tekanan tangannya membuat wajah Shanum begitu menggemaskan.


"Uhhff"Shanum menggelengkan kepalanya dengan harap tangan Rangga terlepas.


Cupp.


Bukannya melepas kedua tangannya , Rangga bahkan kini mendaratkan bibirnya ke bibir Shanum yang masih mengerucut lucu.


Hanya kedua mata indah yang berkedip cepat, tangan yang masih tertancap jarum infus membuat gerak tangan Shanum tertahan, kini ia hanya pasrah karena tidak kuasa menghindar dari kejahilan Rangga.


Kini tatapan keduanya semakin intens, mata bening berbulu mata lentik itu terlihat pasrah saat ciuman lembut mendarat mengecup dahinya.


"I love you so much"bisik Rangga membuat wajahnya kini kembali merona.


"Kau sungguh menggemaskan istriku sayang"Rangga memeluk dengan erat tubuh Shanum.


"Heii heii, kau mau membunuh putriku Ngga"


💕💕💕💕


Gimana rasanya ke gap sama mertua Ngga...😅😅

__ADS_1


__ADS_2