Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Ksatria Sejati


__ADS_3

"Heh lu juga ada hutang cerita sama gue Ngga?"bisik Kevin pada Rangga.


Memang sejak hari pernikahannya, Rangga belum sempat bertemu dengan Kevin dan menceritakan kejadian yang menimpa Shanum.


Karena waktu yang tidak banyak, Rangga pun menjelaskan pada Kevin semua kejadian yang di alami istrinya, dari mulai penculikan di hari pernikahan setelah pembacaan ijab kabul, hingga kecelakaan dan dalang di balik itu semua.


Kevin yang menyimak dengan sungguh-sungguh kini terdiam seakan tak percaya apa yang menimpa sahabatnya itu.


"Rupanya tidak mudah memasuki kehidupan mereka yang jauh di atas kita"ucap Kevin dengan pandangan menerawang kosong.


Kevin belum mengetahui sejatinya identitas Rangga sebenarnya.


Karena Rangga pun tak ingin Kevin berubah, jika tahu yang sebenarnya, bahwa ia adalah seorang ahli waris pemilik saham terbesar kedua, di Wijaya Corp.


Bahkan menurut Hardy, kekayaan yang menjadi hak Rangga lebih besar dari yang di miliki Devon saat ini.


"Lu gimana Ngga, apa lu bisa adaptasi dengan nona CEO kita?"tanya konyol Kevin.


"Ya selama kita bersama, dalamnya lautan dan terjalnya gunung, akan gue lalui"jawab Rangga pasti.


"Hmm beruang kutub kalau udah mencair kayak elu nih, bucin abiezzz"sindir Kevin.


"Eh tapi gue juga kalau dapet seperti istri lu, pasti gue bakalan sama kaya elu, jangankan hujan badai, lautan api gue sebrangi"Kevin tampak penuh percaya diri.


"Halahhh, ngomong lautan api sanggup lu sebrangi, minum kopi panas aja lu tiup dulu"Rangga menoyor kening Kevin sambil berlalu.


Rangga menggerakan tangannya ala memutar kunci di depan mulutnya ke arah Kevin dengan maksud agar Kevin tutup mulut setelah ia mendengar semua ceritanya.


"Siip"Kevin menjawab dengan menautkan ibu jari dengan telunjuknya membentuk huruf O.


Rangga memeriksa beberapa email di kotak masuk, secara diam-diam ayah mertua sudah mulai menugaskannya untuk mempelajari tentang salah satu anak cabang Wijaya Corp yang nantinya ia pimpin.


Dan lewat email itulah Hardy mengirim semua data-data penting yang harus Rangga pelajari.


Sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Rangga untuk menguasai materi yang baru di pelajarinya, karena dengan melihat data dasar dari apa yang di lihatnya, Rangga sudah mengetahui di mana titik rawan yang harus di waspadai agar tidak terjadi kondisi perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan.


Hardy tersenyum bangga melihat balasan email dari Rangga.


Tak salah aku memilihmu menjadi menantuku, gumam Hardy.


Rangga menuliskan secara lengkap hambatan dan sekaligus solusi yang harus di lakukan berikut ketimpangan yang terjadi saat ini hingga membuat anak cabang Wijaya Corp satu itu mengalami pertumbuhan yang lambat dan keuntungan yang begitu minim hingga hanya sedikit investor yang berani menanamkan modalnya.


Kini Ranggapun harus berfikir keras agar anak cabang Wijaya Corp dapat meraih kembali keuntungan lebih besar dan dapat menarik investor untuk mau bergabung.


"Apakah aku harus ke kota C untuk melihat secara langsung keadaan perusahaan itu"tanya Rangga lewat ponselnya.


"Apa kau sudah pasti tentang simpul masalah yang kau temukan itu?"balas Hardy.


"Iya Yah, aku yakin itulah yang membuat anak perusahaan itu tidak berkembang"Rangga dengan keyakinan penuh membuat Hardy berfikir keras.

__ADS_1


Seandainya sekarang ia menugaskan Rangga mengatasi permasalahan di kota C maka mereka terpaksa harus tingal terpisah untuk sementara waktu.


Dan Hardy tidak merelakan hal itu, ia secepatnya ingin agar Shanum memberinya cucu.


"Tidak perlu, kau tidak perlu harus ke kota C, kau cukup kirimkan lewat email maka aku akan mengutus orang kepercayaanku yang akan melakukan tugasnya"jawab Hardy pasti.


Rangga kini bisa bernafas lega, berpisah sehari pun begitu menyiksanya apalagi jika Hardy memintanya untuk memimpin anak cabang perusahaannya di kota C, sudah bisa di pastikan Rangga akan mengalami bagaimana tersiksanya sebuah LDR.


Membayangkan saja sudah membuat hatinya hancur apalagi sampai benar-benar mengalaminya, amit-amit deh jangan sampai, gumam hati Rangga lirih sambil tangannya mengetuk meja.


Danu dan Dika saling lirik melihat tingkah absurb sahabatnya.


"Ngapain lu Ngga, pake ngetok-ngetok meja segala"Rangga hanya melihat sekilas sambil gelengkan kepalanya"


Berapa kali Rangga mengintip jam di dinding ruangan, waktu bagai berjalan begitu lambat, apakah ini yang di rasakan para pengantin baru, pikirnya.


Hanya mengingatnya pun membuat Rangga panas dingin, membayangkan wajah cantik dengan bibir mungil kesukaannya tengah tertidur pulas.


"Iyezzz"teriak Rangga saat mendengar tanda waktu kerja telah berakhir.


Duo D hanya saling memandang, tak biasanya Rangga begitu girang mendengar bel tanda usai.


Sementara Rangga sudah melangkah cepat ke arah parkiran dan melajukan motornya dengan kencang menemui bidadari cintanya.


"Sha-sha mana bi?"tanya Rangga sesampainya di mansion.


"Ada di dalam den"jawab bibi dengan senyum ramah.


Wajah berubah ceria saat melihat Shanum tengah duduk di balkon kamarnya, namun ada satu yang tampak janggal.


Bahu Shanum tampak mengecil karena sudah tak ada lagi perban yang membelitnya.


"Sayang, bahumu sudah tak memakai kain perban?"tanya Rangga bingung.


"Hu um, tadi dokter datang untuk memeriksa, ternyata lukanya sudah kering, dan lebih baik kata dokter perbannya di lepas"kata Shanum sambil menggerakkan bahunya.


"Sstt jangan sayang, lukamu masih baru, jangan kau buat banyak bergerak"Kata Rangga cemas.


Shanum hanya tersenyum.


"Dokter bahkan menyuruhku untuk lebih banyak menggerakkan bahuku agar semakin terbiasa dan tak kaku lagi"ujar Shanum.


"Oooh"Rangga membulatkan mulutnya.


"Kau mandi lah kita makan sama-sama, kau lapar kan?"tanya Shanum.


Rangga menggeleng pelan sambil mendekati ke arah Shanum.


"Aku memang lapar, tapi ingin makan kamu sayang"bisik Rangga sambil mengusap rambut hitam Shanum yang terurai lembut.

__ADS_1


Shanum diam dan pasrah saat Rangga mendaratkan bibirnya, dan ciuman panas pun menjadi hidangan pembuka.


Rangga melepas tautan bibirnya saat nafasnya kian memburu, di tatapnya bibir mungil yang kini terlihat semakin menebal karena ulahnya, dengan lembut di usap sisa salivanya, bahkan warna merah muda lipstik Shanum kini berpindah ke bibirnya sendiri.


Shanum pun terkekeh kecil lalu mengambil tisu di atas nakas dan mengelap bibir Rangga.


"Sayang, apa boleh?"tanya Rangga ragu.


Shanum yang mengerti maksud Rangga pun mengangguk lembut.


Dengan cepat Rangga membopong tubuh mungil itu ke atas ranjang, lalu menutup jendela balkon dan menguncinya.


Kamar luas dan dingin seakan tidak ada artinya bagi kedua insan yang sedang mengarungi surga dunia itu, peluh membahasi kedua tubuh polos itu.


Rangga mendekap erat tubuh Shanum saat merasakan getaran tubuh itu kala pelepasaannya untuk pertama kali.


Dengan irama nan lembut dan penuh cinta, akhirnya Arjuna memuntahkan larva hangatnya.


Berkali-kali Rangga mendaratkan ciuman hangat di kening Shanum yang kini terkulai lemas dalam dekapannya.


"Terima kasih sayang"Rangga mengusap air bening yang mengalir dari sudut mata indah Shanum.


Masih terasa perih punggungnya saat cakaran dari kuku tangan mungil Shanum menancap di punggungnya saat pertama kali Rangga berhasil menembus mahkotanya.


"Sayang"


"Hmmm"


"Mandi yuuk"


Bisik Rangga pada Shanum yang masih terpejam dalam dekapannya.


"Aku lelah"jawab Shanum lemah, remuk rasanya kini seluruh tubuhnya, bahkan daerah intimnya masih terasa perih dan sakit.


"Kalau mandi nanti jadi segar"ucap Rangga.


Shanum menganggukan kepala nya.


"Aakkkh"teriak Shanum saat Rangga membopongnya dan membawa ke kamar mandi, lalu mendudukan di atas kloset.


"Diamlah sebentar"ujar Rangga lalu menyiapkan air hangat di bathub.


Shanum melingkarkan selimut ke sekujur tubuhnya, karena kini ia masih dalam keadaan polos tak sehelai benang pun melekat di tubuhnya.


"Aku ambil handuk dulu"Rangga keluar dari kamar mandi dan pandangannya kini tertuju ke atas ranjang di mana terlihat noda berwarna merah jejak permainannya.


Kau memang ksatria sejati, Gumam Rangga sambil memandang Arjunanya yang kini kembali tertidur pulas setelah menyemburkan larva ganasnya.


Rangga pun mengganti seprei dengan yang baru di ambilnya dari lemari, lalu kembali ke kamar mandi di mana Shanum telah terpejam dalam bathub dengan air hangat.

__ADS_1


"Kita mandi barenga ya?".


__ADS_2