Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Jagoanku Kuat


__ADS_3

Shanum terbangun, di lihatnya jam dinding menunjukan pukul tiga sore.


Tubuh yang terasa segar setelah mandi membuat rasa kantuk menyerang Shanum, apalagi olah raga yang di lakukannya setelah sekian lama ia tinggalkan membuat badan terasa letih.


Apa memang begini rasanya ibu hamil, menggerakan badan sedikit saja terasa pegal semua otot tubuhnya, Shanum membatin.


Ingin Shanum meminta pijit pada bibi, namun ia takut akan membahayakan kehamilannya.


Bibi yang melihat Shanum berjalan tertatih dari lantai atas segera menghampiri nyonya muda dengan panik.


"Aduh non kenapa? jalannya kenapa begitu, apa non Shanum sakit?" wajah bibi tampak begitu panik.


"Ehm kakiku sedikit kaku bi, mungkin karena sudah lama nggak aku gerakin buat olah raga, meskipun hanya jalan santai"jawab Shanum.


"Apa sebaiknya non ke dokter aja non?" saran bibi.


Shanum menggeleng ringan, karena otot kakinya mungkin hanya belum terbiasa, jika setiap hari ia jalan santai seperti tadi mungkin makin lama tidak akan terasa kaku lagi, batin Shanum.


"Bi aku mau ke butik mau nganterin gaun yang kemarin, kalau Rangga nanyain bilang aja ya bi, aku nggak akan lama."


Bibi melihat ke arah Shanum intens, kenapa Nyonya mudanya tidak bicara sendiri pada suaminya.


"Aku tadi sudah nelfon tapi tak di angkat bi, mungkin ponselnya di taruh di tas dan dia lagi meeting" terang Shanum paham apa yang sang bibi pikirkan.


"Baik non."


Setelah mengganti baju dengan lebih casual, Shanum melangkah keluar dari mansion.


Mobil yang sudah siap terparkir di depan pintu mansion dengan sopir yang siap mengantarnya ke manapun.


Sementara di sebuah ruangan di Wijaya Corp, Rangga baru saja menyelesaikan meeting dengan salah satu klien yang membuatnya berkeringat dingin.


"Bagaimana Vid, apa kita sanggup menyelesaikan masalah ini tepat waktu seperti permintaannya?" tanya Rangga setelah klien itu keluar dari ruangan.


"Ehm kita harus bekeja keras pak, tapi jika kita bisa menemukan titik simpul masalah maka kita akan bisa menyelesaikan secepatnya."


Rangga menghela nafas panjang.


"Itu lah yang menjadi masalah, bagaimana kita dapat menghitung data dengan tepat jika berkas yang berisi prosentase pendapatan selama satu tahun milik mereka ternyata hilang."


David pun hanya terdiam.

__ADS_1


Untung saja mereka masih mau bermurah hati pada Wijaya Corp, dengan tidak mempublikasikan kejadian ini lewat media hingga nama baik Wijaya Corp masih terjaga.


"Mungkinkah berkas tersebut tidak hilang?" tanya David ragu, karena beberapa hari yang lalu ia sudah menge cek semua telah lengkap.


Rangga memandang asistennya dengan tajam, tak dapat ia pungkiri bahwa hati kecilnya pun berpendapat seperti itu.


Bagaimana mungkin berkas yang sudah tersimpan rapih bisa hilang tak berbekas.


Di lihatnya jam di pergelangan sudah hampir jam tujuh, Rangga pun membereskan meja kerjanya.


Sementara David sang asisten sudah pulang beberapa menit yang lalu.


Matanya membulat saat di layar ponsel ada beberapa panggilan dari Shanum yang tak terangkat olehnya.


Dadanya sedikit panik, panggilannya pun tak di angkat oleh sang istri, apa dia marah dan sengaja tak mengangkat panggilannya, Rangga membatin.


Tapi Shanum tak akan menghubunginya jika tak ada hal yang penting, pikirnya.


Tak ingin hatinya terus di hantui rasa kalut, Rangga pun bergegas melajukan mobilnya ke mansion.


"Ahh br******" umpat Rangga saat hendak menelfon sang istri namun ternyata daya batre nya habis.


Apa yang terjadi sayang, semoga kalian baik-baik saja.


Dongkol hati Rangga hingga umpatan kekesalan terus keluar dari mulutnya.


Ia tidak akan mengalami kemacetan jika saja ia mengendarai motornya, aarrrgggh.


Rangga menggeram kesal.


Waktu empat puluh lima menit kini harus ia tempuh lebih dari dua jam untuk sampai ke mansion.


Tubuhnya begitu letih, langkahnya lunglai tak bertenaga.


Sang bibi menyambut kedatangan sang tuan muda mereka.


"Mana Shanum bi?"


"Ehm ada di kamar den, mungkin sudah tidur"


"Ohh"

__ADS_1


"Den Rangga mau makan dulu ?"


"Iya bi tolong siapin, apa Shanum juga sudah makan?"


"Sudah Den."


"Ehm obat dan susu hamilnya juga sudah di minum bi?"


"Sudah semua Den."


"Apa bibi lihat waktu dia meminumnya?"


Sang bibi tersenyum gemas, hatinya terharu melihat suami nona mudanya begitu menyayangi dan perhatian pada istrinya.


"Iya Den, tadi bibi yang membuat susu dan menyiapkan obatnya, dan bibi juga melihat non Shanum meminumnya."


Rangga mengangguk puas.


"Apa dia tidak mengeluh apa pun hari ini bi?"


"Ehm tidak Den, hanya..."


"Hanya kenapa bi?" tanya Rangga panik.


"Tadi pagi non Shanum berjalan memutari taman mansion beberapa putaran agar tubuhnya bugar katanya, tapi setelah bangun tidur siang kaki non Shanum terasa pegal katanya."


"Lalu apa sudah di obati bi?"


Bibi menggeleng pelan.


"Kata non Shanum, tidak usah ke dokter, nanti juga sembuh sendiri, karena mungkin tubuhnya sudah lama tidak di pakai untuk olah raga."


Rangga manggut-manggut mengerti, lalu melangkah ke kamarnya lantai atas.


Ceklek.


Rangga melangkah mendekati ranjang, di pandangnya tubuh yang tertutup selimut.


Wajah mungil dengan pipi chuby terlihat menggemaskan saat terlelap, Rangga tersenyum dan membetulkan anak rambut di kening sang istri dan mengecupnya ringan.


Tidurlah yang nyenyak istriku.

__ADS_1


Tangan Rangga mengusap perut rata sang istri.


Kau pasti sehat dan kuat jagoanku, do'a Rangga dalam hati.


__ADS_2