
Dengan penuh kelembutan, Rangga membujuk sang istri agar mau meminum susu hamil atas anjuran dokter.
Namun Shanum dengan berbagai alasan selalu menolaknya.
Satu gelas yang sudah Rangga seduh pagi tadi pun kini terbuang percuma karena telah menjadi dingin.
Dengan berbagai alasan yang Shanum katakan, dari ingin meminumnya jika suhu sudah hangat namun ternyata itu hanya alasannya saja karena sampai dingin pun susu itu tak Shanum minum se teguk pun.
Rangga menghela nafas panjang, bujukan apa lagi yang harus ia lakukan agar Shanum mau me minum susu hamil nya.
Shanum menyandarkan tubuhnya di atas sofa, raut wajah bahagia terpancar jelas di matanya, sementara Rangga hanya dapat menggeleng kepalanya.
Nafsu makan seorang ibu hamil memang aneh baru jam sepuluh Shanum sudah menghabiskan tiga buah mangga berukuran besar, sedangkan untuk menghabiskan susu hamil, Shanum selalu menolak keras.
Untung lah setelah berkonsultasi lewat ponselnya dengan dokter Obgyn, Rangga merasa tenang.
Mengkonsumsi makanan apapun tidak ada larangan bagi ibu hamil, selagi masih dalam batas kewajaran.
Rasa mual saat me minum susu pun boleh di lewati, asal jika mual di perutnya berkurang, Shanum tetap harus meminumnya meski sedikit demi sedikit.
Untuk membunuh kebosanan, Shanum ingin menikmati aroma bunga yang ada di taman mansion.
Rangga hanya menurut saja saat sang istri memintanya membawa tikar beserta bantal untuk di bawa ke taman di samping mansion.
Cuaca siang yang terik tak membuat Shanum mengurungkan niatnya.
Bahkan sengatan sinar matahari bagai tak terasa di kulitnya.
Masih terasa sejuk karena terhalang oleh pepohonan di sekeliking taman, itu alasan yang Shanum ucapkan saat Rangga melarangnya karena terik matahari akan membakar kulitnya yang halus.
Rangga pun dengan senyum masam terpaksa mengikuti kemauan sang ratu.
Teriknya mentari yang membakar kulit tak di hiraukan oleh Rangga, ralat bukanya tak di hiraukan tapi ia tak ingin melihat sang istri yang tentu akan sedih dan murung jika keinginanya tak terlaksana.
Entah apa yang membuat Shanum begitu mengagumi teriknya matahari di siang bolong, bahkan hanya bermodal sebuah topi bulat yang tentu saja hanya bisa melindungi sebagian kecil kepalanya.
Senyumnya terbit saat Rangga selesai mengupas buah yang di inginkan, kali ini buah bengkoang yang Shanum minta, tentu saja beserta sambal dengan cabe merah level sekian yang membuat Rangga bergidik ngeri.
__ADS_1
Sudah beberapa kali Rangga dan para bibi melarang cabe yang terlalu banyak, namun Shanum seketika akan merubah murung jika keinginanya tak terpenuhi.
"Sayang ini sambal yang kau inginkan, tapi ku minta jangan terlalu banyak kau memakannya, sungguh tak baik untuk lambung mu?" Rangga untuk yang ke sekian kalinya memberi peringatan pada sang istri.
Shanum tampak ragu setelah memandang cobek berisi sambal yang di buat oleh bibi, bengkoang memang terlihat menggiurkan di matanya, namun aroma sambal yang begitu menyengat di hidung membuatnya berfikir ulang.
"Sayang, cobalah kau makan bengkoang ini" tawar Shanum yang menyodorkan irisan bengkoang ke arah Rangga.
Rangga meraih bengkoang dari tangan Shanum lalu memasukannya ke dalam mulutnya namun, "Sayang pakai sambalnya dong, aku ingin lihat kau makan lutis ini."
Wajah Shanum tampak memelas.
Dengan ragu Rangga menyolekan pucuk irisan bengkoang ke sambal di cobek.
Rangga memang penyuka pedas namun tidak dengan pedas level maksimal seperti itu.
Tak apa-apa Ngga, pengorbanan ini tak ada artinya di banding istrimu yang dengan taruhan nyawa mengandung buah hati mu dengan tulus, ucap Rangga pada dirinya sendiri.
Rasa pedas yang menggigit di lidah membuat Rangga kini berkeringat, lidahnya menjulur karena terasa kebas.
Sang bibi yang melihat suami nona muda nya tersiksa karena pedasnya cabe pun segera memberinya segelas jus buah mangga.
Suasana siang semakin terik, bulir keringat di dahi Shanum mulai keluar.
Dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu milik bibi pelayan di dapur mansion yang di ambilnya, Rangga menggerakan tangannya bak tukang sate yang sedang mengipase sate bakarnya.
Sebenarnya bisa saja ia membawa kipas angin di mansion dan membawanya ke taman namun kondisi sang istri yang tengah hamil muda tentu tak baik untuk kondisi tubuhnya.
Maka Rangga pun mengurungkan niatnya dan kini ia dengan sabar dan mengipasi Shanum denga tangannya yang terus bergerak mengipasi tubuh sang istri.
"Sayang, bukankah ini sudah terlalu lama kita di sini, kulit kita akan terbakar jika tak segera menyudahi kegiatan out door ini."
Rangga sungguh khawatir Shanum akan kepanasan dan akhirnya akan menyebabkannya dehidrasi.
"Hmm, baiklah kita masuk ke dalam" Shanum menjawab santai lalu bangkit dan berjalan santai meninggalkan Rangga yang masih duduk di tikar.
Heuum, kalau kau tidak sedang hamidun usia muda, ku buat kau tidak bisa berjalan sayang, geram batin Rangga.
__ADS_1
Sepeninggal Shanum, entah kenapa Rangga merasa tak nyaman dengan perutnya.
Rasa melilit bahkan bagai sebuah tangan yang meremas isi perutnya.
Rangga meringis beberapa kali, lalu berlari cepat menuju ke kamar kecil di dapur mansion, karena itulah kamar kecil terdekat yang dapat di jangkau secepatnya oleh Rangga.
Huf kenapa tiba-tiba perutku rasanya tak karuan seperti ini, batin Rangga saat di kamar mandi.
Setelah di rasa sudah tuntas ia mengeluarkan penyebab sakit di perutnya, Rangga pun melangkah menuju lantai atas menyusul Shanum.
"Bi, tolong bereskan tikar dan bantal yang ada di taman ya bi, maaf aku buru-buru."
Belum lebih dari lima belas menit sejak keluar dari kamar kecil tadi, entah kenapa rasa melilit di perunya kembali terasa.
Rangga pun kembali berlari, kali ini langkahnya di percepat ke kamar kecil yang ada di kamarnya.
Ceklek.
Shanum hanya diam memandang sang suami yang begitu terburu-buru masuk ke kamar kecil.
Rangga keluar dengan tubuh lemas, lalu duduk bersandar di sofa.
"Sayang, apa yang terjadi padamu?" tanya Shanum yang masih bingung dengan tingkah aneh suaminya.
Rangga menggeleng lemas tanpa menjawab.
Shanum mendekat ke arah Rangga lalu menempelkan telapak tangannya ke kening sang suami.
"Dingin" ucapnya singkat.
Namum keningnya mengerut saat di lihatnya bibir sang suami yang kini berwarna pucat.
"Sayang, kau sakit?" Shanum kini terlihat panik, Rangga sama sekali tak menjawabnya dan matanya pun terpejam rapat.
"Sayang apa yang ter.." kalimat Shanum terputus saat tiba-tiba Rangga bangkit dan berlari ke kamar kecil lagi.
Shanum mengejar Rangga.
__ADS_1
"Sayang apa yang terjadi denganmu!" Shanum berteriak panik dengan menggedor pintu.
"Sayang katakan, apa kau sakit perut?" tebak Shanum, karena Rangga terlihat begitu terburu-buru ke kamar kecil, maka kemungkinan terbesar adalah sesuatu sedang terjadi dengan perutnya.