Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Sang Auditor


__ADS_3

Rangga bangun dari ranjangnya, di tatapnya tubuh istrinya yang masih tertutup selimut.


Udara sejuknya pagi menerobos daun jendela yang ia buka setengah.


Tak ingin mengganggu tidur Shanum, Rangga melqngkahkan kakinya perlahan ke kamar mandi.


Untunglah hari ini ia masih cuti satu hari, hinga bisa sedikit santai.


Kepala Rangga terasa sedikit pening karena ia hanya tidur tak lebih dari tiga jam.


Entah karena badan yang terlalu lelah, badan Shanum terasa panas, bahkan bulir keringat dingin membasahi bantalnya.


Untunglah mama Hana masih terjaga, segera mengompres Shanum dengan air hangat, bibi pelayan mansion pun ikut sibuk membuat minuman sari jahe untuk menghangatkan tubuh nona mudanya.


Rangga kini merasa lega, karena suhu badan Shanum telah kembali normal.


Setelah membersihkan tubuhnya Rangga bergegas ke dapur mansion yang ternyata sudah ada ibu nya tengah membuat bubur.


"Sudah bangun kau Ngga?" sapa Hana melihat kehadiran putra sulungnya.


"Heum, jam berapa ibu bangun bu, bukannya semalam ibu juga tidur sebentar" Rangga balik tanya.


Hana hanya tersenyum.


"Ibu memang nggak biasa tidur bukan di kamar ibu Ngga, bagaimana pun nyaman dan mewah tapi tetap mata ibu nggak bisa merem "terang Hana dengan tertawa kecil.


Memang sebagus dan se nyaman apapun rumah orang lain, lebih nyaman rumah kita sendiri, meski sempit dan jelek, batin Rangga.


Rangga melihat ke dalam panci yang ibunya aduk, tercium aroma khas yang selalu membuatnya rindu akan masakan sang ibu.


"Masak apa bu, wangi" tanya Rangga dengan cuping hidungnya yang kembang kempis mencium aroma wangi masakan.


"Ibu buat makanan kesukaan kamu Ngga, untuk Shanum udah ibu buatkan bubur, jika dia bangun, tinggal di panasin lagi nanti buburnya" terang Hana.


"Makanlah dulu, biar nanti Shanum ibu siapin buburnya setelah ia bangun"perintah Hana.


Rangga pun menyantap makanan kesukaannya dengan lahap, membuat Hana tersenyum senang.


Sementara Ardi sedang ikut membantu membongkar tenda di taman mansion begitu juga mang Epi.


Nadya yang sibuk memunguti bunga di taman dengan girang, bunga-bunga cantik yang sudah tak terpakai tergeletak begitu saja di lantai taman.


Nia hanya tersenyum mengamati tingkah putrinya.


Hana segera membereskan baju-bajunya untuk di masukan ke dalam tas karena sore nanti mereka harus kembali pulang.


Hardy sudah menyiapkan mobil sekaligus sopir untuk mengantar mereka.


Hana tersenyum melihat menantunya muncul dengan wajah yang terlihat sudah lebih segar.

__ADS_1


Tangannya bergerak ke arah dahi Shanum dan merabanya dengan lembut.


"Ehhm syukurlah sudah turun panasnya" ujar Hana.


"Maaf bu, aku baru bangun" ujar Shanum dengan sedikit rasa sesal.


"Heum untuk apa kau minta maaf neng, bukan kamu yang salah, mungkin karena badanmu yang terlalu lelah dan lambung yang kosong membuat badanmu panas, sekarang kau harus makan" Hana menyodorkan semangkuk bubur yang sudah ia hangatkan.


Shanum tersenyum menerima bubur dari Hana, lalu menghirup aroma bubur yang terasa begitu harum menusuk hidungnya.


Senyum Hana mengembang sempurna saat melihat bubur buatannya habis tak tersisa oleh Shanum.


"Belum pernah aku makan bubur se enak ini" Shanum mengusap perutnya yang terasa kenyang.


Tak terasa waktu cepat beranjak sore, Hana dan keluarga mang Epi tengah bersiap untuk pulang.


Hana memeluk Shanum erat, seakan berat meninggalkan menantu kesayangannya itu.


"Sepertinya posisi kak Rangga kini tersisih oleh mbak Shanum" ucap Ardi seraya mengedikan kedua alisnya pada abang satu-satunya itu.


Rangga hanya mencebik kesal, karena memang perhatian Hana kini hanya fokus pada Shanum, seakan sosok Rangga sebagai anak kandung tak berarti.


Begitupun Nadya, gadis kecil yang selalu menggandeng tangan Shanum dan tak ingin melepasnya.


Tanggannya melambai melepas kepergian ibu mertuanya, Nadya tak henti juga menggoyangkan tangannya ke arah Shanum dengan boneka teddybear pemberian Shanum yang selalu di peluknya erat.


Rangga merangkul Shanum menuju lantai atas.


"Mau kemana sayang?" tanya Rangga heran karena Shanum justru melangkah ke ruang tengah.


"Aku mau membuka beberapa kado" jawab Shanum.


Ruang tengah mansion yang luas menjadi tempat menyimpan kado dari para tamu undangan dan kini terlihat sempit.


Berpuluh kado dengan ukuran kecil sampai sebesar lemari pendingin semua tertata tak beraturan.


"Ish masih banyak waktu, besok aja" jawab Rangga justru menahan tangan Shanum lalu menariknya kembali.


Shanum hanya dapat memandang tumpukan kado dengan hati berat.


Ceklek.


Rangga menatap Shanum intens, bara dalam dada nya masih belum padam sepenuhnya, karena melihat kedekatan Shanum dengan Daren.


Rangga semakin memajukan langkahnya hingga langkah Shanum terpojok di sudut ruang kamarnya.


"A apa yang akan kau lakukan?" Shanum menggeser tubuhnya hingga menyapu tembok kamarnya.


"Aku akan menghukum istriku yang tak peka ini" kalimat Rangga terucap dingin.

__ADS_1


"Istri yang membuat suaminya harus selalu terjaga dua puluh empat jam agar tak ada pria lain yang menculiknya"


Glek.


"T tapi bukankah kau sudah memaafkanku sayang" elak Shanum dengan nada lirih, rasa tegang kini berkecamuk di dalam dadanya.


"Aku memang sudah memaafkanmu, tapi tentu saja ada syarat yang harus kau penuhi" nada ucapan Rangga kian membuat bulu halus di tubuh Shanum meremang.


"A apa itu?".


"Heum" Rangga menahan kalimatnya, matanya menelisik tubuh Shanum.


Jika saat ini ia menghabiskan di ranjang apa tidak apa-apa?, pikir Rangga ragu.


Baru semalam badan Shanum panas karena keletihan yang mendera tubuhnya, tak berperasaan rasanya jika ia masih saja tetap mengajaknya bercocok tanam.


Rangga mengikis jarak hingga kini bibirnya berhasil menyambar benda kenyal nan lembut milik Shanum.


Dengan tangannya Rangga menekan tengkuk Shanum agar mempermudah baginya untuk memperdalam ciumannya.


Rangga memandang Shanum intens, wajah yang merona merah begitu menggemaskan.


Tapi tak tega rasanya untuk menggempurnya malam ini.


Rangga hanya menghela nafas panjang dan berusaha menahan gejolak yang kini membuat hasratnya ingin tersalurkan.


"Istirahatlah, tubuhmu masih lemah" ujar Rangga lembut.


"Hah!!".Shanum tertegun memandang Rangga yang pergi meninggalkannya dengan santai begitu saja.


Bagaimana mungkin dia menghentikan permainan di tengah jalan begitu saja, setelah membuatku terbang ke awan, kini ia dengan tak berdosa meninggalkanku, awas saja kau , gumam Shanum dengan perasaan geram.


Tak dapat di pungkiri bahwa hasrat hatinya pun mendamba untuk di tuntaskan.


Dengan perasaan dongkol Shanum melangkah ke kamarnya, lalu membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Shanum merebahkan tubuhnya setelah meminum vitamin penambah daya tahan tubuh.


Rangga yang kini fokus pada laptopnya pun telah dapat mengendalikan Arjunanya hingga kembali tidur lelap dalam sangkar.


Dua hari tidak berangkat ke kantor membuat pekerjaannya menumpuk.


Schedule esok hari sudah beberapa map yang harus ia cek dan tanda tangan.


Seluruh kepala divisi sedang mati-matian bekerja keras karena beberapa hari lagi jadwal kunjungan audit dari pusat.


Bukan hal baru lagi jika berita jadwal kunjungan auditor adalah momok yang menakutkan bagi para perusahaan yang sudah ada dalam daftar kunjungan tersebut.


Bulu halus di tengkuk Rangga tiba-tiba meremang saat menyadari kata 'Auditor'.

__ADS_1


"Bukankah dia juga seorang auditor?" Rangga mengerutkan alisnya.


__ADS_2