
Shanum tak henti menyunggingkan senyum,
Sang penjual kue jadul yang bernama Asep mengatakan jika usia kandungan sang istri adalah lima bulan, dan itu merupakan calon anak pertama bagi mereka, Shanum merasa girang, ia merasa mendapatkan seorang teman karena senasib dengannya, istri bang Asep sudah yatim piatu demikian juga orang tua bang Asep yang semuanya sudah meninggal dunia.
Kehamilan pertama tanpa teman curhat tentu saja sangat di rasakan oleh Shanum, keduanya saling bertukar cerita.
Bang Asep yang sering merasa sedih karena belum bisa membelikan sang istri sesuatu yang di inginkannya, juga tentang istri yang selalu sabar meski terkadang dagangannya hanya sedikit terjual, tak jarang mereka berdua terpaksa hanya makan kue sisa dagangannya untuk mengganjal perut, daripada mubazir, karena para tetangga pun sudah dapat bagian, untunglah mereka memiliki tetangga yang baik dan sering bang Asep di kasih makanan atau pun rezeki dari para tetangga untuk istrinya yang sedang berbadan dua.
Trenyuh hati Shanum, dadanya berdenyut nyeri, di tengah ke masa-masa hamilan istri mang Asep masih bersabar bahkan saat mereka hanya makan kue jadul sebagai pengganjal perut.
Mata Shanum berembun saat bang Asep mengucapkan banyak terima kasih dan titipan salam dari istrinya untuk Shanum dan Rangga.
Sebelum pemuda tersebut meninggalkan mansion Shanum meminta bibi di mansion untuk membungkuskan makanan untuk di bawa bang Asep pulang, juga bahan makanan mentah berbagai sayuran dan buah segar, juga daging dan telur tak lupa Shanum pisahkan.
Wanita hamil membutuhkan banyak gizi dan protein, agar sang bayi yang di kandungnya tumbuh sehat dan sang ibu pun tetap segar dan kuat.
Air mata bercucuran dari sudut mata pemuda tersebut saat sepeda ontelnya penuh dengan bungkusan pemberian dari Shanum.
"Bang Asep pulang saja dulu, antarkan makanan itu, biar istri bang Asep tidak harus menunggu bang Asep pulang jualan kalau mau masak" titah Shanum.
Asep mengangguk haru.
"T terima kasih banyak Bu, sudah begitu banyak ibu memberikan pada kami, rasanya tak bisa kami membalas budi baik bapak dan ibu" Asep berucap dengan haru dan nada tulus.
Bukan tanpa alasan Shanum memberikan bahan makanan mentah tersebut, bang Asep tak pernah mau menerima pemberian dalam bentuk uang, kecuali membeli dagangannya.
Anggukan hormat dan rasa terima kasih yang begitu besar Asep ucapkan saat meninggalkan mansion.
"Jangan lupa besok pagi tetap datang ke sini ya Bang Asep, masih ada empat hari lagi hutang bang Asep" ujar Shanum sambil melambaikan tangannya.
"Tentu saja Bu, pasti saya akan datang besok pagi" jawab Asep lembut.
"Salam buat istri bapak ya, suruh makan yang banyak, juga makan buah-buahan dan minum susu hamilnya" teriak Shanum lagi.
"Baik bu, akan saya sampaikan salam ibu untuk istri saya" Asep mulai mengayuh sepeda ontelnya dengan penuh semangat, terbayang di matanya, senyum bahagia sang istri nanti, ia begitu ingin meminum susu hamil yang sejak pertama ia di nyatakan positif tak pernah ia minum susu hamil.
Harga yang tak terjangkau bagi mereka membuat sang istri terpaksa menahan keinginannya untuk menikmati susu hamil seperti wanita lain yang di saat kehamilan akan meminumnya setiap pagi.
"Non, kenapa non Shanum melamun?"
__ADS_1
Sang bibi yang melihat Shanum diam termenung sejak kepergian penjual kue jadul tersebut menjadi terusik.
"Ehm aku ingin melihat tempat tinggal mereka bi?" ucap Shanum lirih.
Mendengar cerita kehidupan mang Asep, hati Shanum begitu trenyuh, sesama wanita ia pun ikut merasa bagaimana rasanya di saat masa kehamilan tak memiliki teman atau sahabat untuk berbagi cerita.
"Emang non Shanum tahu di mana rumah bang Asep?" Shanum menggeleng lesu.
"Kalau begitu kita tanyain besok saja ya bi?"
"Baik non"
"Tolong ingatkan kalau aku lupa bi" ujarnya sambil melangkah ke kamar.
Bibi tersenyum haru, kebaikan sang Nona mudanya tak pernah berubah, kelembutan hatinya mudah tersentuh, apalagi mendengar penuturan kisah hidup abang penjual kue jadul tersebut.
Hidup bergelimang harta tak membuat nona muda Shanum menjadi sombong ataupun acuh pada kaum yang berada di bawahnya, bahkan ia seakan tak rela jika masih ada kesedihan di sekitarnya.
"Bi" panggil Shanum saat keluar dari kamarnya.
"Iya ada apa Non"
"Iya Non, sama siapa Non?"
"Sapa supir bi" bibi mengangguk pelan memandang kepergian nona mudanya, tak biasanya non Shanum pergi ke minimarket, karena biasanya ia akan ke mall besar untuk membeli keperluannya.
Terdengar suara mesin kendaraan memasuki parkir mansion, seperti janjinya, Rangga pukang pukul empat sore karena mulai hari ini ia tidak lembur.
"Bi mana istriku bi?" tanya Rangga yang masih melihat sang bibi di depan mansion.
"Non Shanum pergi ke minimarket di depan Den, baru saja berangkat."
"Sapa siapa Bi?"
"Sendiri Den, hanya di antar supir."
Rangga pun mengangguk dan segera pergi ke kamar untuk membersihkan diri, agar ia bisa menikmati jalan sore dengan Shanum seperti kemarin.
"Kenapa Shanum lama ya Bi?"
__ADS_1
Tanya Rangga yang setelah mandi dan makan tentu sudah menghabiskan waktu lebih satu jam, namun sang istri belum juga kembali.
Di liriknya jam di pergelangan tangan, wajahnya kini mulai panik.
"ish bilangnya bentar, tapi ini sudah lebih dari satu jam" Rangga bicara sendiri sambil berjalan mondar-mandir di ruang tengah.
Matanya kini memandang ke gerbang mansion saat telinganya menangkap suara kendaraan memasuki gerbang mansion.
Langkahnya cepat menyongsong kedatangan mobil sedang silver yang membawa sang istri.
Dengan tak sabar Rangga membuka pintu penumpang, namun hatinya mencelos karena tak ada sosok Shanum.
Ceklek.
Shanum keluar dari pintu depan sambil tersenyum memandang sang suami.
"K kenapa kau duduk di depan?" tanya Rangga bingung.
"Di belakang tidak cukup, penuh sama belanjaan" jawab Shanum santai.
"Belanjaan?" Rangga kembali menundukan tubuhnya dan melihat ke dalam mobil.
Benar saja, kursi tengah penuh dengan barang belanjaan sang istri begitupun kursi belakang, beberapa kantung plastik besar saling bertumpukan.
"Sayang apa yang kau beli, hingga sebanyak ini?" tanya Rangga memandang takjub isi mobil yang kini penuh dengan kantung plastik besar.
"Aku beli keperluan sehari- hari di mini market depan sayang."
"Kenapa kau tak menungguku pulang, kita bisa belanja di mall xx yang lebih lengkap dan banyak pilihan."
"Tidak perlu, di mini market depan pun semua ada, dan tidak terlalu jauh dari sini" jawab Shanum tegas.
Rangga hanya bisa menelan salivanya sambil ikut membawa jinjingan plastik besar.
Sopir dan beberapa bibi yang membawa belanjaan nona muda mereka memandang dengan wajah bingung.
Semua keperluan sehari-hari yang non Shanum beli, sudah tersedia semua di mansion, jadi untuk apa nona muda mereka membelinya lagi, batin bibi.
"Sayang untuk apa kau belanja sebanyak ini, dan ku lihat di gudang masih banyak persediaan perlengkapan mandi dan makanan untuk satu bulan."
__ADS_1
"Ini untuk teman baruku."