Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Level Paud


__ADS_3

"Ayo sayang cepatlah, nanti acaranya mulai" rengekan Shanum di dalam mobil saat Rangga melajukan mobil perlahan memasuki sebuah SPBU.


"Iya iya sebentar sayang" jawab Rangga lembut.


Shanum mengedarkan pandangan ke area SPBU, terlihat beberapa kendaraan lain sedang antri.


"Bu, bu Linda" teriakan Shanum membuat Linda yang hendak melajukan mobilnya mengalihkan wajah ke arah Shanum.


Shanum melambai dari kaca samping mobil.


Linda pun kembali mematikan mesin mobil lalu turun dan menghampiri Shanum, rupanya ia pun habis mengisi bahan bakar mobilnya.


"Selamat malam Nyonya Shanum."


"Ah bu Linda jangan terlalu resmi memanggil saya, kita sepantaran, panggil saja saya Shanum" titah Shanum hangat.


"Ah mana bisa begitu bu."


"Ya terserah bu Linda saja deh, yang penting jangan Nyonya, emmh bu Linda mau pulang?"


"Iya bu, s saya panggil 'bu' saja ya he he, biar kita sama-sama manggil 'bu', saya memang baru pulang dari kantor bu Shanum, ehm ibu sama pak Rangga mau kemana nih sore-sore jalan berdua?" Linda melirik ke arah Rangga yang memasuki mobil.


"Kita mau ke rumah bang Asep, mau menghadiri acara tujuh bulanan istrinya."


"Wah asik tuh acara tujuh bulanan pasti ada rujak" ujar Linda.


"Jadi bu Linda juga tahu kalau acara tujuh bulanan akan ada rujak?, saya baru tahu hal ini bu?" terang Shanum.


"Iya bu, dulu kan saya hidup di kampung dan ibu saya kalau habis dari masak tujuh bulanan pasti dapat rujak."


Shanum mengangguk paham.


"Bu Linda bagaimana kalau ibu ikut kami saja bu ke rumah bang Asep, nanti kita minta rujaknya he hee" Shanum terkekeh ringan.


Linda termenung sejenak, sebenarnya dirinya pun ingin menikmati rujak, makanan yang hanya akan ada di acara tujuh bulanan.


"Boleh kah bu, saya kan tidak kenal bang Asep." tanya Linda ragu dan melirik ke arah Rangga yang sudah berada di depan kemudi.


"Tentu boleh dong bu Linda, bang Asep adalah Office Boy di kantor Wijaya."


Linda menaikkan alisnya lalu mengangguk antusias.


"Boleh bu, ayo" ajak Linda antusias, lalu menuju mobilnya.


Kedua mobil mereka pun berjalan beriringan.


Tiga puluh menit akhirnya mereka memasuki sebuah permukiman padat penduduk, Rangga memarkirkan mobil di sebuah tanah kosong yang mungkin biasa di gunakan untuk main bola volly.


Linda keluar dari mobil saat Shanum mendekat ke arah mobilnya.


"Ayo kita masuk ke dalam, Anah pasti kaget lihat kita" ucapnya seraya menggandeng tangan Linda.


Hati Linda menghangat, seakan tak percaya tangannya kini di genggam erat oleh wanita yang di hari lalu menjadi sasaran umpatan kekesalanya bahkan niat buruk untuk membuatnya hancur.

__ADS_1


Linda tersenyum masam, bukan hanya wajahmu yang cantik, ternyata hatimu pun bagai malaikat, batinnya.


Rumah sederhana yang di terangi lampu remang, tampak sudah rame dengan para pria yang kebanyakan berumur paruh baya.


Mereka duduk lesehan melingkar di ruang tamu , karena ruangan yang tak begitu luas, sebagian tamu pun duduk di teras, Rangga dan Shanum tampak ragu saat hendak memasuki rumah Asep.


"Bu Shanum, apa kita akan berdiri di sini saja?" tanya Linda yang beberapa kali menilik ke dalam rumah dan tak ada yang menyambut mereka.


Shanum pun menggeleng pelan.


Untunglah di tengah kebingungan mereka bertiga, ada satu orang ibu-ibu paruh baya mendatangi mereka.


"Mari silahkan masuk bu, pak, Asepnya sedang memanggil pak ustad dulu, sebentar lagi mungkin akan pulang" jelas ibu tersebut ramah.


"Mari saya antar" sambungnya lagi.


Shanum dan Linda mengikuti wanita paruh baya tersebut ke dalam rumah, sedangkan Rangga ikut bergabung dengan para lelaki yang duduk lesehan di teras.


Anah yang sedang menata nasi box tampak antusias melihat kedatangan Shanum.


"Aduh ibu, kenapa repot-repot datang malam-malam begini" Anah menyalami Shanum dan memeluknya erat.


Linda terperanjat di tempatnya berdiri, wanita dengan dandanan sederhana dengan perut buncit dengan tak segan memeluk Shanum begitu erat, seakan mereka begitu dekat, batin Linda.


Anah pun menjulurkan tangan untuk menyalami Linda dengan ragu.


"Dia temanku Anah, dia pemilik salah satu perusahaan besar di kota ini" jelas Shanum.


Linda tersenyum kikuk.


"M mari masuk bu Linda, bu Shanum, maaf kalau tempat kami sempit dan kotor" ucap Anah dengan wajah tertunduk.


"Ah kau seperti baru mengenalku saja Nah, tenang saja bu Linda juga tidak keberatan kok tadi ku ajak dia ke sini, malah sangat senang, iya kan bu Linda" Shanum melihat raut muka Linda yang masih kaku mencoba menetralisir suasana.


"Iya Anah, maaf saya datang tanpa di undang" ucap Linda jujur.


Anah menutup mulutnya.


"Aduh tentu saja kami sangat senang di datangi tamu kehormatan seperti bu Shanum dan bi Linda, sungguh suatu berkah bagi kami jika kalian berkenan mampir ke gubug jelek ini."


Shanum dan Linda terkekeh.


Acara pun di mulai setelah Asep datang bersama pak uztad.


Shanum dan Linda duduk lesehan di ruang tengah yang bersatu dengan dapur.


Anah menyajikan beberapa piring berisi kue ringan.


Linda mengambil Teh manis hangat dan meminumnya, harum aroma daun teh tercium hidungnya.


Ingatan masa kecil kembali membayang di memorinya.


Ibunya selalu menyajikan teh manis hangat di pagi hari, sebelum ayahnya bekerja dan sebelum ia berangkat ke sekolah bersama Lefrant sang kakak.

__ADS_1


Tak ada susu putih di atas meja makan atau pun roti dengan berbagai jenis selai untuk mereka sarapan.


Linda tersenyum haru, di jaman sekarang ternyata masih ada kisah hidup miris seperti kisahnya semasa kecil.


Tiba-tiba tatapan mata Linda tertuju pada sebuah piring berisi mangkok-mangkok kecil yang di bawa oleh wanita paruh baya untuk di sandingkan di depan mereka.


Rujak, pekik Linda dalam hati.


Dengan pelan Linda mengedikan siku ke arah Shanum.


"Ada apa bu Linda?" bisik Shanum saat tanganya merasa Linda sengaja menyentuhnya.


"Itu" Linda menunjuk dengan dagu dan lirikan mata ke arah piring rujak.


"Itu apa?" tanya Shanum bingung.


"Itu yang namanya rujak" sambung Linda lagi.


"Ohhh" Shanum hanya ber oh ria, membuat Linda kesal, air liurnya kini serasa memenuhi rongga mulutnya.


Shanum mengenduskan hidungnya, berharap dapat mencium aroma masakan rujak yang di tunjuk Linda.


Tapi hidungnya tak mencium aroma wangi masakan rujak tersebut.


"Bu Shanum dan bu Linda silahkan mencicipi rujaknya, semoga pas bumbunya" Anah menyodorkan piring rujak pada kedua wanita cantik di hadapannya, Lirikan bu Linda begitu mengusiknya saat berkali-kali Anah memergokinya tengah menelan ludah kasar.


Penuh semangat Linda mengambil semangkok kecil dan memakannya, rasa pedas dan manis memasuki rongga mulutnya seketika, sedikit asam yang berasal dari mangga muda menambah kesegaran rujak buah tersebut.


Shanum yang masih diam menatap Linda, keringat mulai keluar dari pori-pori keningnya.


"Ssssh hahh" Linda berusaha menetralisir rasa pedas di lidahnya, meski bibir dan lidahnya mulai terasa kebas namun tak membuat nyalinya surut, bahkan Linda kini mengambil satu mangkuk lagi lalu memakannya.


"Apa rasanya bu Linda?" tanya Shanum, wajah Linda terlihat begitu tersiksa namun kenapa wanita itu belum juga menyudahi makannya, pikir Shanum.


Linda mengacungkan dua jempol ke arah Shanum sambil mengangguk puas.


"Bagaimana rasanya bu Linda?" tanya Anah penasaran.


"Hmm benar-benar segar dan rasanya pas, mungkin baby nya cewek" jawab Linda antusias.


Anah berbinar, lalu mengambil satu mangkuk dan di sodorkan pasa Shanum.


"Bu Shanum cobalah?"


Perlahan tangan Shanum meraih mangkuk berisi rujak dan menyuapkan ke mulutnya sedikit.


Sesapan pertama sungguh membuatnya kaget.


Rasa pedas, manis dan asam bersatu dengan kesegaran buah dalam mangkuk tersebut.


Shanum tersenyum, baru kali ini lidahnya merasa sensasi rasa yang pertama kali langsung membuatnya jatuh cinta pada makanan rujak.


"Bu Shanum apa tidak pedas?" Linda berbisik kecil, wajah cantik itu sama sekali tak terlihat menderita dengan rasa pedas rujak tersebut.

__ADS_1


Shanum menggeleng pasti.


Kalau hanya level paud seperti ini mah, keciiil, Shanum membatin.


__ADS_2