Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Yang Pertama


__ADS_3

David memandang tubuh polos Linda yang terbaring di atas ranjang, lalu menutupinya dengan selimut tebal berwarna putih.


Tubuh Linda terkulai lemas, setelah kegiatan panas dengan David, telah menguras habis tenaganya.


Pengaruh obat laknat kini telah hilang, meski harus dengan bayaran mahal.


David menghela nafas berat, sikap Linda yang terlihat biasa dengan kehidupan malam ternyata ia masih menjaga dengan baik mahkota miliknya.


Dengan lembut di kecupnya puncak kepala Linda, nafasnya teratur dengan wajah tenang.


Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah ku perbuat.


David membatin lirih, ada rasa sesal di hatinya, andai saja ia melakukannya saat mereka sudah sah dengan ikatan tali pernikahan pastilah ia menjadi lelaki yang sangat bahagia.


Di bukanya jendela pintu balkon kamar hotelnya.


Angin malam terasa dingin menusuk kulit, di hembuskannya asap rokok yang keluar dari mulutnya.


Senyum masam terbit saat melihat beberapa panggilan dari nomor yang tak di kenal.


Mungkin itu panggilan dari supir taxi online yang bos nya pesan untuk mengantarkan Linda.


Drrt drrt.


"Vid lu di mana? Taxinya sudah datang belum? beberapa kali dia menghubungimu tapi tak kau angkat, sudah kau antar bu Linda pulang?"


Pesan berisi berondongan kalimat dari Rangga membuat David berdecak kesal.


"Sudah pak" jawaban singkat padat dan jelas.


Sudut mata David menangkap pergerakan halus dari dalam selimut.


Ceklek.


David melangkah kembali ke dalam kamar.


"Sshhhhh " Linda menggeliatkan tubuhnya.


Matanya mengerjap cepat, pandangannya menyapu seisi ruang kamar.


"D di mana ini" kalimat lirih dari mulutnya.

__ADS_1


"Aakhhh" pekikan keras keluar saat di lihatnya tubuhnya polos tak selembar pun kain menempel di tubuhnya.


Tatapannya nanar dan jatuh pada sosok David yang berdiri di ujung sisi ranjang.


"Minumlah" David menyodorkan segelas air.


Glek.


Sekali teguk tandas lah semua air berpindah ke perut gadis yang telah ternoda itu.


Linda menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, tangannya meremas rambutnya yang lebat.


Rentetan kejadian masih belum ter rangkai sempurna, ingatannya masih tertutup kabut.


"Pak David kenapa berada di sini?" tanya nya bingung.


Namun matanya membulat penuh, saat di ingatnya bahwa saat ini tubuhnya polos hanya selimut hotel yang menyelimutinya.


"P pak David, a apa ini, kenapa kita berdua di kamar ini, dan dan kenapa aku tidak memakai apapun."


Linda terlihat panik, samar-samar ingatannya mulai pulih.


Saat tubuhnya terasa terbakar setelah minum dengan seorang pria ber jas, lalu.


"Minumlah obat pusing ini bu Linda" David menyodorkan obat pereda pusing yang ia pesan pada karyawan hotel untuk membelinya.


Linda meminum dengan cepat.


"Terima kasih pak"


David mengangguk datar.


Linda menggeser tubuhnya dan melilitkan selimut ke sekujur tubuhnya.


"Aakhh ssshh" rintihnya pelan, rasa perih di bagian inti tubuhnya membuat bulu halus di tengkuknya meremang.


Linda menatap David nanar, berharap apa yang ada dalam pikirannya adalah salah.


Namun ternyata ia harus menelan pil pahit saat di lihatnya David menganggukan kepalanya dengan lesu.


"Maafkan saya bu, saya akan bertanggung jawab."

__ADS_1


"T tidak, k kenapa bapak lakukan itu kenapa pak David tega menyakiti saya, kenapa pak, kenapa bapak lakukan itu pada saya hiks.."tangis Linda pecah, dunianya seakan hancur, mahkota yang selama ini ia jaga kini hilang.


"Kenapa bapak David melakukan ini pada saya, apa dosa saya pak hiks hiks."


David memeluk tubuh Linda yang terus meronta dan kini memukul dadanya.


"Maaf bu, maafkan saya, saya pun terpaksa."


"Bohong,siapa yang memaksa bapak hah?"


Kalimat Linda terdengar penuh amarah, hatinya begitu murka, mahkota yang ia jaga dan akan ia persembahkan pada suaminya kelak, di renggut oleh pria yang sama sekali tak ia cintai.


"Saya melakukan itu karena ibu yang memaksa saya."


Jederrr...


David ber ucap lirih.


Linda menatap David tak percaya.


Kini ingatanya berputar cepat.


Saat dirinya berteriak keras kala David merenggut mahkotanya, juga saat David yang terus membisikinya agar tenang dengan kecupan- kecupan hangat, bahkan pria itu pun sempat mengerang kesakitan kala kukunya menancap di punggungnya.


Linda menutup mulut dengan kedua tangannya, lengkap sudah potongan kepingan adegan panas yang membuat wajahnya merona merah.


Tak sangka bahwa dirinyalah yang memulai, Linda tampak syok.


"J jadi kita sudah melakukannya?" tanya Linda polos.


David tersenyum masam.


"Iya bu, kita sudah melakukannya."


Linda berlari ke kamar mandi, meski rasa perih sangat menyiksa bagian inti tubuhnya namun ia tak mempunyai muka lagi untuk berhadapan dengan pria di hadapannya.


Entah seperti apa lagi warna mukanya saat ini, yang Linda tahu ia kini sedang malu luar biasa.


David tersenyum masam, noda merah karena perbuatanya terlihat jelas di atas kain seprei yang berwarna putih.


Ada terbersit rasa bahagia dalam hatinya.

__ADS_1


Ini sama-sama yang pertama baginya dan bagi Linda.


__ADS_2