
Shanum meremas ujung gaun yang di kenakan dengan hati cemas.
Nada ucapan Rangga terdengar dingin namun mampu menggetarkan hatinya.
Shanum melangkah ke kamar bermaksud melepas gaun yang sudah di cobanya.
Rangga mengikuti langkah Shanum ke dalam kamar.
Di ambilnya berkas yang ada di atas nakas lalu melangkah lagi ke luar kamar.
"Huff" kini Shanum menghirup nafas lega.
Tatapan mata Rangga begitu tajam hingga dadanya bagai terhujam anak panah yang tepat mengenai jantungnya.
Meski Shanum tak pernah ada hubungan dengan Joy, namun pemuda itu pernah menyelamatkan nyawanya saat kecelakaan di malam pernikahannya, bahkan dia pun mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk biaya rumah sakit tempat Shanum di rawat.
Begitu marahkah hingga kembali ke kantor pun tak pamit, batin Shanum.
Shanum melipat gaun lalu memasukannya ke dalam lemari bajunya.
Di ambilnya baju rumahan yang lain lalu mengenakannya.
Ceklek.
Shanum menoleh ke arah pintu yang kembali terbuka.
"S sayang bukannya kau kembali ke kantor?" tanya Shanum.
Rangga menggeleng lemah, perasaannya tiba-tiba berubah kacau, mendengar nama yang Shanum ucapkan, membuat moodboosternya hancur.
Di hempaskannya tubuh ke ranjang besar miliknya.
"Aku sudah tak bersemangat lagi kembali ke kantor, berkas sudah ku titipkan pengawal untuk mengantarnya ke kantor"
Rangga berucap sambil memejamkan matanya.
Gemuruh dadanya kini semakin menyesakan dada.
Kenapa perempuan itu memberi Shanum sebuah gaun indah dengan alasan yang tak masuk akal, Rangga membatin.
__ADS_1
Apa maksud pemberiannya itu, bukankah mereka sudah tahu bahwa Shanum sudah ada yang memiliki seutuhnya.
Akal sehatnya berfikir keras, alasan apa yang membuat wanita itu berbuat aneh seperti itu pada istrinya, batin Rangga berkecamuk.
Shanum membiarkan suaminya terbaring dengan mata terpejam dengan kemeja putih masih melekat di tubuhnya.
Dengan perlahan di angkatnya kaki Rangga yang menjuntai ke lantai, lalu menarik ikat pinggang dengan lembut agar perutnya terasa nyaman.
Nafas yang bergerak teratur menandakan saat ini Rangga sudah terlelap.
Di usapnya alis berbulu tebal yang menaungi mata teduhnya, hidung mancung yang kokoh dan rahang yang tegas sempurna.
Bagaimana aku bisa berpaling darimu jika kau se mempesona ini.
Tak terasa Shanum pun akhirnya jatuh terlelap di sisi Rangga dengan tangan masih memegang dagu sang suami.
Pukul empat sore Rangga membuka mata perlahan.
Pertama kali tatapannya tertuju ke tangan kecil yang berada di atas dadanya.
Mata dengan bulu lentik yang terpejam, dengan mulut yang sedikit terbuka, terlihat semakin menggemaskan melihat posisi tidur sang istri.
Rangga tersenyum gemas, di coleknya pipi putih nan mulus yang kini semakin chuby.
Bibir berwarna merah alami Shanum terlihat begitu menggoda.
Ingin rasanya ia melahap habis bibir lembut nan kenyal itu, agar tak ada lelaki lain yang bisa melihat keindahan bibir mungil kesayangannya.
Tangan Shanum bergerak pelan menghalau sesuatu yang menggelitik bibirnya.
Matanya tetap terpejam rapat membuat Rangga meneruskan kembali aksi jailnya.
"Eiuuggghhh"
Suara lenguhan pelan keluar dari mulut mungil Shanum.
"Kenapa kau begitu menggemaskan sayang, kau bahkan membuat wanita paruh baya begitu menyayangimu, mungkinkah ia akan menculikmu dan membawamu pergi dari sisiku" Rangga berucap pelan.
Tubuh Shanum menggeliat perlahan, membuat posisi baju atasannya tersingkap sebagian, memperlihatkan dadanya yang putih mulus.
__ADS_1
Glek.
"Sayang kini kau berani menggodaku heum?" Rangga tak kuasa menolak pemandangan indah yang terbentang di hadapannya.
Gundukan putih yang tersembul dari balik kain penutupnya sungguh tak bisa membuat Rangga mengalihkan pandangan.
Nafas yang tenang membuat gerakan gundukan indah itu naik turun dengan lembut.
Rangga kini mengusap tengkuknya yang mulai panas, hawa ruangan yang ber AC kini berubah panas di rasa tubuhnya.
Dan pusakanya pun kian mengeras sempurna, celana bahan yang pas di tubuhnya pun seakan tak mampu menahan benda tumpul yang sudah berontak ingin menyembul keluar mencari sarangnya.
"Kau yang membangunkannya sayang, maka kaupun harus bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali" bisikan Rangga yang kini berubah parau karena hasrat yang memanas hingga ke puncak kepalanya.
Di kecupnya perlahan bibir Shanum, dengan gerakan super lembut Rangga membuka satu persatu kancing baju Shanum.
Jejak cintanya yang terlihat samar masih menghiasi leher putih jenjang Shanum.
Ciuman ringan ia daratkan kembali, kini sasaran Rangga adalah kulit putih di leher jenjangnya.
Perlahan namun pasti, Rangga menyisir bagian tubuh sang istri dengan sapuan bibirnya, mencari titik pembangkit gairah yang tersembunyi.
Lenguhan pelan lolos dari bibir Shanum.
Matanya membuka perlahan saat gelenyar aneh yang terasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Matanya membulat saat di lihatnya sang suami yang tengah asik bermain dengan dua benda lembut miliknya.
Entah sejak kapan Rangga bermain asik di situ, hingga dadanya terasa basah karena aksi nakalnya.
"Sayang...hhh" Shanum tak dapat lagi melanjutkan rasa terkejutnya karena kini ia pun ikut hanyut dalam permainan Rangga.
Senyum Rangga pun terbit saat sang istri mulai menyambut gerakan bibir dan tangannya.
Akhirnya kegiatan panas sore hari itu pun berlangsung cukup singkat, peluh membanjiri kedua tubuh polos yang baru saja menyelesaikan penyatuan mereka.
Nafas keduanya saling beradu, Rangga membaringkan tubuh Shanum perlahan di sampingnya, karena tak ingin membuat perutnya tak nyaman Rangga berusaha melakukan penyatuan selembut mungkin.
Di usapnya keringat di kening Shanum dengan selimut.
__ADS_1
"Kita mandi sayang" bisiknya.
Shanum mengangguk lemah, meski Rangga menggunakan setengah tenaganya namun masih mampu membuat tubuhnya terasa remuk.