
"Deg..deg...deg!!"
Sung Hwa merasakan jantungnya berdegup terlalu keras. Menghantam-hantam isi dadanya seolah bisa keluar kapan saja. Ia muntah darah, pandangannya menggelap dan tanpa dapat dicegah lagi jauh berlutut.
Karena mendengar suara keributan bentroknya Yu Nan Sia dengan si jubah merah itu, membuat dia khawatir sekali dan memaksa diri untuk bangun. Akan tetapi karena tindakan ini tubuhnya menjadi tak karuan dan aliran tenaga dalamnya semakin kacau.
"Ughh..." darah menetes dari ujung bibirnya.
"Nona!!" serentak tiga orang pria itu berseru panik. Karena sedang terluka, Mi Cang dan Yu Nan Sia hanya mampu memandang tanpa dapat bertindak. Sedangkan si jubah merah itu sudah bergerak memegang kedua pundak Sung Hwa. Mengurut-urut di beberapa tempat.
"Bangsat memang!!" umpatnya kesal, "Manusia dataran rendah telah merusak nona kami!! Inilah akibatnya kalau terlalu sombong dengan kepandaian diri sendiri. Aliran tenaga dalam sangat kacau!!"
Tanpa ragu lagi, ia menggendong tubuh Sung Hwa dan membawanya masuk ke dalam.
"Hei kalian, cepat bantu aku!! Bawakan bahan-bahan ini!" orang itu berkata kepada Yu Nan Sia, Mi Cang, tabib desa dan kepala desa sambil melempar selembar kertas kecil. Lalu dia melangkah masuk lagi sambil berkata, "Kau dua orang cukup beruntung. Karena telah melindungi nona kami, maka aku ampuni kalian!!"
Mi Cang dan Yu Nan Sia belum cukup paham dengan apa yang terjadi. Kenapa nona mereka diaku-akui sebagai nona orang aneh itu? Jelas semenjak kecil dahulu Sung Hwa telah menjadi nona muda Hati Iblis.
Tapi karena keadaan Sung Hwa yang makin parah, dua orang ini memaksa bangun untuk mengambil kertas itu. Membaca sekilas dan tubuh mereka pergi dari sana. Meninggalkan si tabib dan kepala desa yang menjadi bingung sekali.
"Tuan tabib dan kepala desa, mohon masak air sampai mendidih. Campur dengan garam kasar." terdengar ucapan Mi Cang dari jauh dengan pengerahan tenaga dalam. Dua orang tua itu cepat bertindak untuk melaksanakan perintah.
Sedangkan si jubah merah, dia sudah membaringkan tubuh Sung Hwa di kamar yang tadi digunakan gadis itu beristirahat. Agaknya si jubah merah itu sudah sering keluar masuk rumah ini sehingga sudah hafal dengan seluruh ruangan.
"Maafkan kelancangan saya nona, ini terpaksa." katanya dan membungkuk hormat. Sung Hwa yang sedang bingung, juga kesakitan itu tak menghiraukan tindakan orang.
Hampir dia memekik kaget juga ngeri ketika lelaki itu membuka baju bagian dadanya. Kalau saja dia dalam keadaan sedikit lebih baik, mungkin lututnya sudah mendarat di hidung orang tersebut.
Akan tetapi si jubah merah melakukan ini bukan karena nafsu binatangnya. Justru dia memang ingin menyembuhkan Sung Hwa.
Setelah membuka jubah gadis tersebut, ia tempelkan kedua tangan di dada atas sebelah kiri Sung Hwa. Sebelumnya dia sudah mengolesi kedua tangannya dengan cairan kental berwarna merah.
"Ugh...." Sung Hwa merintih lirih ketika dirasanya ada sensasi panas menyengat di dada kirinya, merasuk sampai ke jantung seperti *******-***** organ penting itu.
"Tahan nona...sebentar lagi mereka akan datang membawa bahan-bahan obat."
Tak berselang lama, datanglah Mi Cang dan Yu Nan Sia yang membawa banyak tetumbuhan, kulit pohon dan akar-akar di tangan kanan kiri. Bersamaan dengan itu, tabib desa dan kepala desa sudah masuk ke kamar membawa air panas.
__ADS_1
"Masukkan daun merah dan akar-akar itu ke air panas. Berikan kulit pohon padaku!" si jubah merah sudah memerintah dengan keras ketika dilihatnya Yu Nan Sia mulai menggereng marah. Pasti dia berpikir Sung Hwa hendak diperlakukan buruk.
Dua orang muda itu melakukan apa yang diperintahkan. Kemudian Mi Cang menyerahkan kulit pohon yang warnanya hitam kecoklatan.
"Nona, kunyah ini dan telanlah." kata jubah merah itu.
Sung Hwa tak dapat berbuat apa-apa ketika kulit pohon itu secara sedikit paksa dimasukkan ke dalam mulutnya. Ia kunyah dan hampir muntah ketika rasa pahit bercampur sensasi dingin memenuhi rongga mulut. Cepat-cepat ia telan semuanya.
Setelah menelannya, tubuhnya menjadi lemas seperti melayang-layang. Kemudian ia pingsan lagi.
"Ayo, cepat minumkan air rebusan itu...cepat! Cepat!!" bentaknya kepada Yu Nan Sia.
Dengan gelas kecil yang terbuat dari tanah liat, pemuda itu meminumkan air rebusan tadi dengan hati-hati. Setelah habis, dia memandang ke dokter jubah merah itu seolah menunggu perintah selanjutnya.
"Cih, terpaksa harus menggunakan cara orang dataran rendah untuk menyelesaikan ini!!" orang itu mengumpat tak senang, "Tak ada pilihan lain!!"
Ia tempelkan salah satu tangan di tempat semula, di dada kiri atas Sung Hwa. Sedang tangan kirinya menempel di dahi.
"Hhhh...."
Tiba-tiba suhu sekitar menjadi panas dingin. Pakaian dokter jubah merah itu sampai berkibar-kibar, padahal tak ada angin lewat. Saat itu, tubuh Sung Hwa berkelojotan dan mukanya berubah merah kehitaman.
"Diam dan biarkan aku menyelesaikan ini!!" bentak si jubah merah itu pula.
Sampai sekitar lima menit berselang, tubuh Sung Hwa berkelojotan makin hebat dan pada akhirnya, tubuhnya melambung ke atas.
"Aakkhhh!!!!" darah kental yang berwarna merah gelap kehitaman menyembur keluar dari mulut gadis itu. Saat sudah jatuh lagi ke atas pembaringan, tubuhnya lemas.
"Bangsat, dokter palsu!! Apa yang kau lakukan tadi!??" kali ini Yu Nan Sia membentak.
"Hmm...orang-orang yang hanya pandai menggertak! Tunggu satu hari dan lihat apa yang terjadi!!" orang ini berkata, napasnya memburu. Agaknya dia kelelahan.
Lalu dia mendudukkan diri, bersila dan memejamkan mata. "Aku akan menjaga nona!" katanya singkat.
...****************...
"Nona, berhentilah melakukan itu. Apakah anda tak ingat saya lagi? Walaupun anda hilang ingatan, tapi apakah sama sekali tidak mengingat wajah saya?" si jubah merah itu berkata sambil meletakkan gelas berisi cairan obat di meja kamar.
__ADS_1
Sung Hwa yang sedang bermeditasi itu membuka matanya dan melirik, "Apa maksudnya jangan lakukan itu? Tenaga dalamku menurun drastis. Sampai tiga hari ini pun aku belum bisa mencapai kekuatan seperti sebelumnya."
Orang itu menghela napas lelah, "Raja sudah menunggu selama tiga tahun lebih. Marilah pulang nona."
"Chunglai, diam dan keluar. Jangan menganggu konsentrasiku!"
Orang yang agaknya bernama Chunglai itu menunduk dan berjalan keluar dengan lemas. Dia menutup pintunya perlahan-lahan agar jangan sampai mengganggu nonanya itu.
"Nona!!"
Tiba-tiba dari jendela kamar itu, menyembul kepala dua orang. Sung Hwa terkejut sekali dibuatnya. Mereka tak lain adalah Mi Cang bersama Yu Nan Sia.
"Kenapa tidak berterus terang saja?" tanya Mi Cang yang tadi menyapa.
"Sudah kulakukan, orang itu saja yang keras kepala." jawab Sung Hwa sambil mengambil gelas berisi obat itu. Ia minum sampai tandas, setelahnya batuk-batuk dengan suara seperti seorang nenek tersedak makanan. Rasa obat itu semakin pahit setiap harinya.
"Bagaimana kalau menurut saja nona? Mari kita bertiga pergi ke kerajaan mereka." Yu Nan Sia berkata antusias.
"Apa katamu?" gadis ini menoleh cepat untuk memandang tajam, "Jangan gegabah!!"
"Siapa yang gegabah? Ini bisa jadi keberuntungan nona. Bisa saja mereka itu adalah sekumpulan orang-orang pendekar sejati. Siapa yang tahu kalau para pertapa di Pegunungan Tembok Surga membangun sebuah kerajaan?"
"Yu Nan Sia, jangan asal bicara!" sentak Sung Hwa.
"Jika memang begitu, mungkin nona bisa mendapat kekuatan lebih." kata Yu Nan Sia yang membuat nonanya terdiam.
Mi Cang bergerak cepat untuk memukul kepala juniornya itu, "Hati-hati kalau bicara!"
Sung Hwa masih terdiam. Teringat akan tindakan Sung Han yang meratakan sisa-sisa anggota partainya. Teringat akan kelemahannya. Teringat akan kekuatannya yang belum seberapa.
Ia mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Nona, kami permisi." Mi Cang berkata karena merasa sungkan setelah Yu Nan Sia berkata seperti itu. Dia menarik paksa juniornya.
Sung Hwa masih terdiam.
"Benarkah....aku akan mendapat....kekuatan?" gumamnya lirih. Matanya kosong.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG