Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 154 – Pewaris Pusaka Keramat


__ADS_3

Memang tiga orang itu merupakan tokoh-tokoh kelas tinggi yang bukan hanya memiliki kepandaian hebat saja, bahkan salah satunya adalah pendekar sejati. Dia adalah seorang kakek yang sebelumnya memperingati Nie Chi yang duduk di bawah pohon pinggir jalan.


Orang hanya kenal dengan nama julukannya, yaitu Burung Walet Hitam. Dia ini adalah seorang pendekar masa lampau yang sudah lama mengasingkan diri, bosan dengan urusan dunia dan hanya tinggal berdua dengan istrinya di puncak pengasingan.


Namun mengetahui bahwa pangeran Chang Song Ci hendak menggulingkan kaisar, bahkan beberapa utusan langsung dari pangeran itu datang menghadap padanya, hatinya tergerak dan tertarik juga. Maka bersama istrinya yang berjuluk Si Tua Tangan Panas, mereka turun gunung untuk menghambakan diri kepada pangeran itu.


Nama mereka benar-benar menebar perasaan takut dan seram ketika jaman Sie Kang masih muda. Kala itu kakek Rajawali Putih itulah yang menjadi musuh bebuyutannya.


Sedangkan dua orang lainnya, berupa pelayan dan pemilik rumah makan, sebenarnya dua orang itu merupakan saudara seperguruan. Guru mereka tinggal di suatu tempat yang tak menentu, selalu berpindah-pindah. Bahkan sampai saat ini, dua orang itu tidak tahu di mana adanya letak guru mereka yang entah masih hidup atau tidak.


Maka dapat dibayangkan seberapa kuat empat orang ini. Mereka merupakan orang-orang sakti yang jarang ada bandingannya, jika saja lawannya bukan lewaris pusaka keramat, pastilah sulit untuk keluar hidup-hidup dari situasi ini.


"Ingat, jangan bunuh!" ucap kakek berjuluk Walet Hitam itu. Kemudian dia menoleh ke arah si pemilik rumah makan, "Kau dan saudaramu hadapi si pedang!"


Orang itu mengangguk, lalu saling pandang dengan saudaranya. Dalam tatapan mereka, keduanya sudah paham akan rencana masing-masing, memang hebat ikatan batin antara dua orang ini.


Sedangkan Walet Hitam dan Si Tua Tangan Panas itu sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Mereka juga saling pandang, namun sambil terkekeh-kekeh. Nie Chi yang menjadi lawan orang ini, tanpa dapat dicegah lagi merasa tidak nyaman. Dia tahu kalau kakek dan nenek ini mungkin yang lebih lihai.


"Aiihhhh!!"


Seruan ini keluar dari mulut Khuang Peng yang terkejut sekali ketika dirasa ada serangan mendadak yang datang dari bawah. Begitu pedang menyambar, kiranya serangan itu adalah sebuah jala hitam halus yang dilepas oleh si pemilik rumah makan.


Ketika dia sedang dalam keadaan menunduk, tiba-tiba si pelayan rumah makan sudah menerjang dengan cengkeraman menuju tengkuk. Serangan ini luar biasa hebat karena kalau sampai mengenai batu karang yang kokoh pun, kelima jari akan melesak ke dalam.


Khuang Peng menyadari serangan ini, namun sedikit terlambat dalam mengelak, maka terpaksa ia gerakkan pedang untuk menangkis. Namun lawan sudah lebih dulu menarik tangannya dan dari kanan sudah menyambar jala hitam itu lagi. Hebatlah pertempuran ini dan terpaksa Khuang Peng menjauhi Nie Chi karena kalau terus berdekatan, bisa-bisa jala itu akan menangkap kawannya.


Di lain pihak, bukan berarti Nie Chi dalam keadaan yang lebih baik, justru sebaliknya. Serangan dua orang tua itu datangnya bagai air bah yang tak tertahankan, bergulung-gulung tiada ampun. Saling melengkapi satu sama lain dan kerja sama mereka sungguh luar biasa.


Baru segebrak saja, hampir saja pundaknya kena totok nenek itu ketika dia baru saja menghindari serangan si kakek. Tongkatnya diputar sedemikian rupa untuk melindungi seluruh tubuhnya, ilmu tongkat keramat itu ia mainkan sekuatnya.

__ADS_1


"Hiaaaaahhh!!!"


"Wuutt-wutt!"


Dua kali sinar hitam menyambar-nyambar, kakek dan nenek itu sama sekali tak mau ambil resiko, mereka melompat menghindar. Karena tahu kalau si nenek yang lebih lemah, maka dalam sekali hentakan Nie Chi menerjang ke arah nenek dan menyerang kalang kabut.


"Wutt-wuuuttt-wuutt!!"


"Aauuhhh!!"


Nenek itu mengeluarkan pekik nyaring ketika pundaknya berhasil kena totok tongkat, membuat lengannya setengah lumpuh. Walet Hitam menjadi marah bukan main, ia menerjang lagi lebih ganas.


Khuang Peng dan Nie Chi mempertahankan diri sekuatnya untuk menghadapi keroyokan orang-orang lihai itu. Memang di tangan mereka tergenggam benda pusaka, namun di tangan lawan terdapat banyak macam ilmu aneh dan membingungkan, juga mereka menang pengalaman. Maka untuk keluar sebagai pemenang, agaknya sulit sekali hampir mendekati tidak mungkin.


...****************...


Kita tinggalkan dulu dua orang itu yang rasa-rasanya tidak mungkin memang melawan keroyokan empat orang, marilah kita lihat keadaan pewaris pusaka keramat pula yang berada di lain tempat.


Menurut rencana, seharusnya besok siang tepat tengah hari, mereka bertemu di kaki gunung yang tak seberapa jauh lagi di depan, mungkin hanya sekitar beberapa jam perjalanan.


Di desa ini, Gu Ren memilih untuk beristirahat sampai besok dan baru berkumpul di titik perjanjian. Akan tetapi ketika dirinya hendak membelok ke salah satu penginapan, perhatiannya tertarik oleh serombongan orang berpakaian pendekar yang beramai-ramai berkumpul di satu tempat.


Sebagai seorang rimba persilatan, tentu saja Gu Ren merasa penasaran melihat berkumpulnya para pendekar itu. Pasti ada apa-apa, pikirnya menduga-duga.


Karena penasaran, maka diputuskanlah untuk datang mendekat dan melihat-lihat. Kiranya di sana itu mereka sedang mengerubungi soerang pria dan gadis muda. Wajah keduanya menegang ketika menjawab segala macam pertanyaan rombongan itu.


"Memang benar, kami melihatnya!" kata si gadis. Tangannya terus menggemgam si pemuda, "Mataku tak akan salah lihat!"


"Mana ada yang macam itu, lagipula aku belum pernah dengar jika padang rumput di sana itu merupakan tempat angker. Pohon raksasa di tengah-tengah tempat itu bukanlah sarang setan, justru berkah karena terdapat mata air di bawahnya." bantah salah seorang pengerubung itu.

__ADS_1


Saat itu, Gu Ren sudah tiba di sana dan ikut mendengarkan. Dua orang muda dan belasan orang yang sedang bergerombol itu masih saling berbantahan soal bangsa siluman, demit dan setan.


Setelah ikut mendengarkan pula, ternyata dua orang muda itu mengatakan jika sebelumnya mereka melihat siluman ular kepala wanita di pohon besar tengah padang rumput di kaki gunung sebelah depan. Gu Ren merasa tertarik sekali. Bukan karena soal siluman itu, namun soal pohon raksasa di tengah-tengah padang rumput. Jika benar ada siluman, paling dia hanya seorang pertapa sakti yang tinggal di sana. Demikian dia menduga.


Kedatangan Gu Ren ini disadari oleh dua orang muda itu. Mereka menoleh dan seketika bertemu pandang dengan Gu Ren.


"Ah...bukankah tuan adalah ketua Naga Hitam?!" si gadis itu berseru kaget ketika bertemu pandang dengan Gu Ren, lantas ia tarik tangan si pemuda untuk mendekat dan menjura.


Tentu saja semua orang di sana terkejut sekali ketika orang yang baru datang itu adalah ketua Naga Hitam. Satu perkumpulan tersohor yang sepak terjangnya awut-awutan. Kadang bisa digolongkan sebagai golongan hitam, tapi tak jarang pula digolongkan sebagai golongan putih. Namun setelah pergantian ketua, Naga Hitam jarang muncul di dunia ramai.


Gu Ren mengangkat bangun keduanya, tersenyum masam. Dia merasa tidak enak sekali identitasnya terbuka begitu saja. Namun karena sudah terlanjur, tak ada gunanya melawan.


"Ah, bagaimana nona bisa mengenal saya?" tanya Gu Ren sambil memandang keduanya dan beberapa orang yang agaknya sudah mengenalnya pula.


"Tentu saja kami mengenal!" kata si pemuda, "Sepasang kipas itu merupakan ciri khas ketua Naga Hitam."


Gu Ren melirik pingganggnya yang terselip sepasang kipas, dia menghela napas.


Tiba-tiba ada orang yang berceletuk, "Eh, bukankah anak kalian tadi ditawan siluman? Minta bantuan tuan ini saja."


"Ah benar juga!" kata si pemuda itu dengan muak pucat. Lalu dia menjura lagi lebih dalam ke arah Gu Ren, "Mohon tuan sudi melimpahkan sedikit kebaikan. Anak kami ditawan siluman itu. Saya dan kekasih saya ini tak kuasa menolong."


"Eh, kalian sepasang kekasih atau suami istri?" tanya Gu Ren dengan bingung.


Keduanya nampak gugup, namun si pemuda tetap menjawab, "Sebagai orang gagah, pantang untuk menyangkal dan membohong. Kami memang sebagai sepasang kekasih telah memiliki anak, namun tak lama ini akan segera menikah." katanya membuat wajah si gadis memerah.


"Ah...." seru mereka semua hampir berbareng. Mereka pun baru tahu akan hal ini.


"Tunjukan tempatnya!" tegas Gu Ren yang merasa tak bisa mengabaikan hal ini. Dia juga merasa penasaran dan tertarik sekali akan siluman itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2