
Keduanya berdiri saling pandang dalam diam, sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jika Jin Yu yang merasa curiga dengan Sung Han yang membantai dua kelompok penyergap waktu itu, sedangkan Sung Han adalah mencari alasan kuat soal keanehan keadaan dirinya.
"Tapi kekuatannya tidak beda jauh denganku, kalaupun lebih tinggi, bedanya tak sampai setebal satu lembar kertas. Tapi mengapa...." gumam Jin Yu terus menerka-nerka.
Lelaki besar ini menajamkan pandangannya ketika merasa Sung Han tiba-tiba menjadi tidak fokus. Kadang ia seperti berwaspada padanya, namun tak jarang pemuda itu memandangi tangannya sendiri dengan bingung.
Cepat Jin Yu bertanya, "Apa yang kau lakukan bocah?"
Sung Han melirik sejenak dan tak menjawab. Lebih dulu ia memasang kuda-kuda siap.
"Kau kah yang meratakan dua regu penyergap itu? Phiang Bi Sun dan Siauw Goan?" tanya Jin Yu lagi meminta kepastian akan pemikirannya sendiri.
Jawaban yang diucapkan Sung Han membuat darahnya mendidih sampai memerah seluruh wajah itu. Dengan santai pemuda ini menjawab.
"Benar, semua tokoh Hati Iblis telah kulenyapkan. Tinggal kau seorang."
"Bajingaaannn!!!!"
Jin Yu yang ingat betapa kekalahan Hati Iblis disebabkan oleh hancurnya dua penyergap itu, menjadi berang dan tanpa berkata-kata lagi segera maju menerjang. Kedua tangan membentuk cakar-cakar mematikan yang mengarah pada titik vital Sung Han.
"Ingin kulihat, mengapa orang-orang sekuat mereka bisa patuh terhadapmu?" Sung Han bicara datar, wajahnya tanpa ekspresi dan tatapannya kosong. Meskipun begitu kaki kanannya terangkat melakukan gerakan yang aneh juga hebat sekali.
"Tak–Tak–Syuut!!"
"Aiihhh!!!"
Jin Yu memekik. Kaki itu bergerak cepat, saking cepatnya sampai tidak terlihat. Di samping itu, juga menyimpan gerakan aneh seperti gerakan seekor ular yang gesit.
Kaki Sung Han dalam sekali gerak saja sudah menyepak dua tangan Jin Yu yang membuat pertahanannya terbuka seketika. Lalu dilanjut tendangan ketiga berupa totokan maut ujung sepatu ke jakun Jin Yu.
"Haiittt!!" Jin Yu memekik dan cepat memaksa tangannya bergerak. Menyilang di depan leher untuk mengapit kaki Sung Han dan menekannya ke bawah.
"Braaakkk!!" tanah yang terkena tumit Sung Han itu pecah seketika.
"Bagus....bagus, kau mampu menahan kakiku yang kalau berhasil tentu akan membunuhmu dalam sekali gebrak. Kau tangguh!!" puji Sung Han bersungguh-sungguh tanpa niat sombong atau meremehkan.
Memanfaatkan kakinya yang menancap dan tertahan tangan Jin Yu, Sung Han kembali melakukan gerakan aneh. Kali ini bahkan orang-orang di sana merasa kagum sekali.
Bertumpu di kaki kanan, Sung Han miringkan tubuh ke kanan dan mengangkat kaki kiri mengarah langit. Jin Yu yang melihat ini sampai terperangah seolah tak sadar akan bahaya.
Detik berikutnya, terdengar suara berdesing ketika kaki kiri menyambar turun bagai lecutan cambuk ganas, tepat mengarah tengkuk.
__ADS_1
Jin Yu kembali memekik sambil melempar diri ke belakang.
Nyatanya dia telah tertipu. Ternyata sengaja serangan itu sebagai tipuan untuk melepas kaki kanannya. Karena pada saat berikutnya, dia melompat sedikit menggunakan tolakan kaki kanan dan membelokkan laju kaki kiri. Jika sebelumnya kaki kiri itu meluncur dari atas ke bawah, tepat ketika berhenti setinggi satu meter dari atas tanah, disertai lompatan Sung Han meluncur cepat mengarahkan kaki kirinya ke arah dada lawan.
"Buaghhh!!"
"Ughhh!!" lenguh Jin Yu merasakan tangannya kebas dan kakinya gemetaran. Ia terjajar lima tombak ke belakang dengan wajah pucat.
Tapi walaupun begitu, Sung Han sama sekali tidak puas. Dalam hati dia berpikir, "Bukankah jika sebelumnya, dengan kekuatan seperti itu tulang tangannya dapat kuhancurkan? Benarkah kemampuanku telah menurun? Tapi karena apa?"
Saat itu, terdengar suara memanggil dibarengi kelebatan bayangan putih yang sudah berdiri di depan Sung Han.
"Sung Han, biar aku yang membunuh keparat satu ini." Kay Su Tek berkata tenang. Walaupun begitu sikapnya angker sekali.
Sung Han hendak membantah, tapi suaranya hanya bisa sampai di tenggorokan ketika dia melihat Kay Su Tek mencabut pedangnya. Tubuhnya gemetaran dengan wajah sepucat mayat.
"Pedang Gerhana Bulan?" tanpa sadar dia bergumam.
"Ternyata kau memang tahu akan pedang ini." ujar Kay Su Tek melirik Sung Han. Lantas dia tersenyum, "Kau habisi sisanya, terutama dua orang bertopeng itu. Urusanku dengan Jin Yu adalah soal harga diri perguruan. Kau tak boleh sampai ikut campur sungguhpun aku mati di sini."
Saking terguncang hatinya, Sung Han tak sempat mempergunakan otaknya untuk berpikir dan mendebat. Ia hanya mengangguk dengan wajah yang masih pucat dan menerjang ke sisa orang-orang yang menjadi mengkirik ngeri.
Terdengar pekik-pekik mengerikan ketika Sung Han mengamuk di tengah gerombolan itu. Sekejap saja darah membanjir ke mana-mana.
Ia berkata dingin, "Ini pertarungan hidup mati. Di pundak kita membawa nama besar partai masing-masing. Ini soal kehormatan dan harga diri!!"
"Haha, mari lihat seberapa kuat tuan muda Perguruan Awan." katanya yang sedikit lega karena tidak jadi melawan Sung Han.
...****************...
"Heyaaaattt!!!"
Dibarengi pekik dahsyat menggetarkan jantung, Sung Han menghentakkan tangan ke kanan dan kiri. Dua orang itu berteriak kaget dan terpental belasan langkah.
Tak sampai di sana, Sung Han melompat ke kanan di mana topeng bintik hitam masih melayang di udara. Secepat kilat ia melambung untuk kemudian menukik turun dengan dua kaki mengarah dada.
"Deeesss!!"
Sung Han tidak bisa merasa tidak kagum akan kepandaian si bintik merah yang tiba-tiba sudah ada di sana menangkis kakinya. Namun orang itu kembali terpental beberapa langkah sambil mengaduh-aduh.
Sung Han lanjut menyerang, dia tetap fokus pada bintik hitam yang memang lebih dekat.
__ADS_1
Tapi harus diakui dua orang itu sama-sama pandai dan tangguh. Jelas terlihat si topeng bintik merah jauh lebih kuat dari bintik hitam, namun si bintik hitam pun sama sekali tidak jadi beban.
Karena saat didesak satu lawan satu oleh Sung Han pun, dia dengan gigih dapat mempertahankan diri padahal sebentar lagi dagunya sudah kena potong sabetan tangan Sung Han.
"Heaaaahhh!!"
Sung Han langsung menunduk ketika ada serangan dari arah kanan. Kiranya sebuah tendangan keras si bintik merah yang sudah bangkit. Sambil menunduk, Sung Han melakukan gerakan balasan berupa tendangan kaki kanan yang tepat mengarah pusar.
Namun terpaksa ia bergulingan ke lain sisi saat si bintik hitam menendang dengan sasaran ubun-ubun kepala.
Dalam jurus tepat ke seratus ini, keduanya sama-sama mengambil jarak dan mengatur napas.
"Kekuatanku menurun, jelas ini menurun beberapa tingkat. Walaupun tidak terdesak, tapi dari tadi mereka belum dapat kurobohkan." batinnya makin bingung dan gusar, "Ada apa ini sebenarnya?"
Sung Han melirik dua orang itu, yang sudah saling menempelkan dua telapak tangan masing-masing, agaknya mereka menyatukan kekuatan.
Lalu si topeng bintik merah mengangkat tangan kanan sedang bintik hitam mengangkat tangan kiri. Telapak tangan keduanya yang lain saling bertemu.
"Bersiaplah..." kata bintik merah memberi peringatan.
Sedetik kemudian, keduanya berteriak nyaring disusul sambaran angin panas yang sungguh mengerikan. Seolah sang surya sendiri yang sedang menerjang.
Sung Han kaget sekali melihat keadaan ini. Buru-buru ia rendahkan kuda-kuda dan menghentakkan tangan ke depan. Mengerahkan hawa panas hasil meditasinya di bawah sinar matahari itu untuk mendesak tenaga lawan. Ilmu Tangan Panas Inti Matahari.
"Desss!!"
Terdengar suara ledakan dahsyat. Hawa panas itu beradu, dua hawa luar biasa kuat yang bahkan mampu mengubah keadaan suhu sekitar. Keduanya terus berdiri kokoh dalam kuda-kuda sempurna tanpa bergerak seperti arca. Karena dalam keadaan mengadu tenaga dalam seperti ini, salah sedikit saja nyawa teruhannya.
"Mereka kuat...." batin Sung Han, "Atau aku kah yang melemah?"
Kurang lebih seperempat jam mereka beradu tenaga dalam seperti itu. Bulir-bulir keringat menetes di tubuh ketiganya, namun belum ada yang sudi mengalah.
Sampai keduanya sama-sama terlempar ketika terdengar lengkingan nyaring yang terdengar seperti petir di siang bolong.
Jelas ini mengacaukan konsentrasi dan serangan mereka. Akibatnya ketiganya sama-sama terpental dengan dada terasa remuk redam.
Belum juga hilang gema suara lengkingan itu, di sana sudah berdiri tiga orang. Satu wanita dan dua pria.
Yang paling mencolok adalah si wanita yang memandang sekeliling dengan muka pucat.
"Apa yang terjadi di sini!!!" teriaknya penuh amarah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG