Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 125 – Kambing Hitam Lagi?


__ADS_3

Sudah beberapa jam lamanya Sung Han melarikan putri Chang Song Zhu mengarah jurusan barat, menuju ke kota raja. Tapi yang menggelisahkan hati pemuda ini adalah, sejak tadi putri itu sama sekali tidak bangun.


Hal ini membuat dia merasa heran sekali. Diingatnya dengan jelas ketika tadi dia menotoknya pingsan, seharusnya dia akan siuman selama beberapa menit. Tapi ini sudah lebih dari lima jam!!


Sung Han mencoba mengacuhkan itu dan fokus akan tujuannya. Dia menatap di kejauhan yang tertuju ke arah kota raja. Sebentar lagi akan sampai di sana, kurang lebih beberapa jam.


Pemuda ini lantas berjalan ke tepi danau kecil di tengah hutan itu, ia mengatupkan kedua tangan dan mengambil air itu. Hal ini dilakukannya sampai beberapa kali. Dia juga meminumkan beberapa teguk air untuk putri Chang Song Zhu yang belum juga sadar.


Setelah istirahat selama beberapa saat, dia kembali menggendong putri Chang Song Zhu dan melanjutkan perjalanan. Jarak antara markas Serigala Tengah Malan dan tempat ini cukup jauh, sehingga dia berlari tidak secepat tadi sungguh pun masih amat cepat.


Kurang lebih tiga jam kemudian, saat hari sudah melewati tengah hari, sampailah ia di hutan yang memiliki pohon jarang. Tanahnya diisi dengan banyak sekali batu-batu hitam bertonjolan besar kecil. Walaupun berpohon jarang, namun suasana di sini sejuk sekali karena cahaya matahari tertutup oleh batu-batu tinggi atau pohon raksasa yang daun atasnya bentuknya seperti payung.


Sampai di sini, Sung Han sedikit memperlambat langkah, dia berjalan santai hanya sekedar untuk menikmati pemandangan alam. Sejak tadi, putri itu masih belum sadar!


Tiba-tiba, terdengar suara lengking nyaring di kejauhan. Makin lama didengar makin keraslah suara itu. Sung Han cepat menghentikan langkah dan memasang sikap waspada, siapapun adanya sosok yang mengeluarkan lengking itu, pastilah bukan orang sembarangan.


Suara gema dari lengkingan itu belum menghilang ketika dari balik batu besar yang berjarak sepuluh tombak di sebelah kanan Sung Han, muncul bayangan beberapa orang yang melompati batu itu dengan ringannya.


Disusul suara lengkingan lain, walau tak senyaring tadi, yang berasal dari arah kiri. Disusul munculnya tujuh orang dari semak belukar.


Sung Han memandang dua rombongan ini dengan tajam. Jika ditotal, mereka berjumlah dua puluh orang. Sung Han sudah mengenal beberapa orang dari rombongan itu dan dia merasa senang sekali, tapi melihat sikap mereka yang angker, senyum Sung Han pudar dan berkatalah ia.


"Hem...sepertinya ini bukan hal baik."


"Tak usah banyak omong!!" kata orang dari balik batu di depan, lalu secepat kilat bayangan dua orang melesat menerjang Sung Han. Pemuda ini kaget sekali ketika mengenal dua orang itu pula.


"Aku tak berniat buruk, dengarlah!!" bentak Sung Han mengguntur sambil menginjakkan kakinya ke bumi. Serasa datang gempa, tubuh mereka semua limbung dan memandang Sung Han dengan penuh rasa tak percaya. Pemuda itu berkata lagi, "Katakan dulu apa maksud kalian menyergapku seperti ini!?"


...****************...


Nie Chi bersama rombongan Naga Hitam dan Rajawali Putih melakukan perondaan di sekitar kota Sutra Putih tepat sehari setelah dikabarkan putri Chang Song Zhu menghilang. Namun sampai beberapa hari kemudian, mereka sama sekali tidak menemukan sosok itu.


Akhirnya, mereka memutuskan untuk melakukan pengecekan ke daerah sekitaran kota Sutra Putih. Di desa-desa sekitar kota itu.

__ADS_1


Mereka selalu melakukan perjalanan bersama, ini adalah usul Sie Kang yang paling senior di rombongan itu. Menurutnya, amat tidak baik untuk mereka berpencar berdasarkan kelompok sendiri. Karena semenjak hancurnya Hati Iblis hampir tiga tahun lalu, nama Rajawali Putih dan Naga Hitam mulai naik daun. Berbahaya sekali jika ada para pemberontak atau penculik yang menargetkan mereka.


Namun ketika sampai di desa kecil yang terdapat di utara kota Sutra Putih, mereka dikejutkan dengan kedatangan dua orang berkuda dari kejauhan. Semua orang dari rombongan itu mengenal dua orang ini sebagai pimpinan pasukan penjemput putri Chang Song Zhu.


Mereka mengenakan pakaian jenderal seperti kebanyak jenderal. Hanya bedanya, jika kebanyakan jenderal memakai zirah besi yang hampir menutupi seluruh tubuh, dua orang itu memakai zirah besi di beberapa bagian saja. Mungkin agar tidak menghambat pergerakan.


Wajah mereka ditutupi sebuah topeng perak. Satu orang memakai topeng perak dengan hiasan bintik hitam di dahi, sedang seorang lagi berbintik merah di tempat yang sama.


Setibanya mereka di hadapan rombongan ini, cepat Sie Kang maju dan menjura, "Ada apakah tuan-tuan menyusul kami ke mari?"


Tanpa turun dari kuda, agaknya tergesa-gesa, si topeng bintik merah menjawab dengan nada cepat-cepat, "Putri sudah ditemukan, saat ini dia berada di timur sedang dibawa oleh pencuri!"


"Apa!?"


"Kau yang benar!?"


Ributlah keadaan dua puluh orang itu. Khuang Peng yang saat itu ikut pula dalam pencarian maju setindak lalu bertanya, "Siapa yang mengetahui hal ini?"


"Kami sendiri."


Kedua orang bertopeng itu mengangguk mantap, tak ada keraguan dalam gerak-gerik mereka.


Dua puluh orang gabungan Naga Hitam dan Rajawali Putih itu saling pandang. Mereka secara serempak menggantungkan keputusan kepada Sie Kang, sosok tertua dan berpengalaman di sini.


Kakek itu berpikir sejenak dan mengambil keputusan, "Antar kami ke sana."


Demikiamlah, singkat cerita mengapa Sung Han bisa dihadang oleh rombongan Naga Hitam dan Rajawali Putih yang telah menjadi pendukung-pendukung pemerintah. Dan dua orang yang tadi menyerang Sung Han dari depan tak lain adalah dua jenderal bertopeng itu sendiri.


Pemuda ini menatap sekeliling. Di sebelah kanan ada barisan Naga Hitam. Dia menatap Gu Ren, Pat Kue dan Nie Chi yang sudah dikenalnya sejak dulu. Di sebelah kiri, terdapat rombongan pasukan Rajawali Putih yang berjumlah tujuh orang. Di antara mereka, Sung Han sudah mengenal Sie Kang dan Wan Jin. Ketika kecil dahulu, mereka inilah yang merawat dia.


Lalu yang terakhir, Sung Han mengarahkan pandangannya ke arah dua jenderal bertopeng itu. Jelas tatapannya penuh hawa membunuh.


"Sung Han....kau kah itu?" tanya Sie Kang pelan. Ada nada keharuan di dalam ucapannya.

__ADS_1


Pemuda ini kaget ketika mendengar suara ini. Ternyata Sie Kang itu memiliki ingatan dan pandangan yang tajam. Tentu saja ucapan ini mengejutkan Wan Jin yang menjadi gosok-gosok mata seolah tak percaya.


"Benarkah itu?" katanya tak percaya.


"Ya, aku lah Sung Han. Lama tidak berjumpa, kakek Sie dan paman Wan." Sung Han menunduk hormat ke arah mereka berdua.


Pat Kue, pria gendut yang menjadi tangan kanan ketua Naga Hitam itu memandang dengan napas memburu. Ia menunjuk Sung Han dengan tangan kanannya.


"Bocah Sung Han, inikah kelakuanmu? Apakah kau sudah menjadi kaki tangan pemberontak yang hina!?"


Ucapan keras ini berhasil membuat darah Sung Han mendidih, cepat dia berbalik dan membentak pula. Sebuah ucapan yang menghujam dada rombongan Naga Hitam.


"Diam kalian mantan perampok!! Tak ingatkah dahulu kala kalian pernah diselewengkan oleh orang!?" yang dia maksud adalah ketika dahulu waktu kecil, Hati Iblis berhasil mengadu domba mereka.


Pat Kue tentu saja menjadi geram bukan main. Ingin dia membentak lagi tapi tindakannya sudah dihentikan oleh Gu Ren yang lekas berkata, "Sung Han, jelaskan." katanya menahan marah di dadanya.


"Untuk apa segala macam penjelasan!! Orang ini pantas mati tujuh kali! Dia berani menculik putri. Hei kau, cepat turunkan tuan putrii!!" bentak topeng bintik merah tiba-tiba.


"Kita masih ada urusan! Jangan berlagak hanya karena kau punya banyak orang!!" balas Sung Han membentak. Bentakan ini demikian nyaringnya sampai membuat telinga mereka serasa seperti ditusuk-tusuk.


Saat itu, tiba-tiba putri yang berada di gendongan Sung Han bergerak dan merintih. Cepat Sung Han menurunkannya ke tanah. Dia lega sekali karena putri ini mungkin bisa menjelaskan situasinya.


Ketika kedua mata putri itu terbuka, Sung Han cepat-cepat berkata, "Putri Chang Song Zhu, harap jelaskan sejelas-jelasnya kepada orang-orang ini. Apa yang telah dilakukan Serigala Tengah Malam padamu."


Putri itu mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Ketika semua orang dengan tegang menunggu jawabannya, wanita ini malah berteriak.


"Aaaahhh....siapa kau!?" teriakan ini dibarengi dengan tamparan keras yang mendarat di pipi Sung Han.


Kesempatan ini tak disia-siakan, topeng bintik merah yang memang sudah berniat mencelakakan Sung Han langsung berseru.


"Tak ada waktu untuk membohong lagi bocah, bahkan putri tak mengenalmu!! Hajar saja dia!!"


Maka sibuklah Sung Han. Menghadapi pengeroyokan sebanyak apapun itu dia tak akan jeri. Yang membuat repot adalah, adanya orang-orang yang dikenalnya itu. Bagaimana mungkin dia dapat mencelakakan mereka?

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2