Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 168 – Kau Bukanlah Orang Baik


__ADS_3

"Sung Han, sebenarnya dia ini siapa?"


Sung Han menoleh dan tersenyum, "Entahlah, aku pun tak paham benar. Dia cukup aneh."


Keduanya memandang ke arah Sung Hwa yang sejak tadi menoleh ke kanan-kiri di pertigaan gang kecil itu. Jarak antara mereka dan Sung Hwa terpisah cukup jauh, namun mereka tidak tahu jika sejatinya Sung Hwa dapat mendengar percakapan keduanya.


Dia tak mau ambil peduli, prioritas utamanya adalah membawa Sung Han dan Yang Ruan keluar lebih dulu dari tempat ini. Setelahnya pikir nanti.


Sejak tadi di pertigaan ini, selalu ramai banyak orang gilir mudik dengan gaduhnya. Anggota-anggota Serigala Tengah Malam berlarian tak menentu untuk mencari keberadaan mereka bertiga. Jika ketiganya keluar, boleh jadi mereka akan langsung ketahuan dan itu amatlah merugikan.


Bisa saja mereka menggunakan kepandaian meringankan tubuh untuk menyelinap pergi dari sini. Namun agaknya itu tidak akan mudah karena begitu keluar dari tempat ini pasti akan langsung ketahuan.


Yang paling merugikan adalah adanya Naga Bertanduk di sana. Pendekar tua ini agaknya sudah tahu akan siasat topeng emas yang asli sehingga dia tak menghiraukan keadaan di luar benteng. Entah mau mati atau selamat, tetap saja yang akan mati adalah ketua palsu. Dia tak peduli.


Jurstru saat ini dia sedang berlari-larian ke sekeliling benteng untuk mencari tiga orang muda itu. Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Sung Hwa.


"Hei."


Hampir Sung Hwa menjerit saking kagetnya ketika ada sebuah telapak tangan mendarat di pundaknya. Kiranya itu adalah Sung Han yang sudah berdiri di sana sambil tersenyum.


"Apa?!!" bentaknya dengan jengkel.


"Kenapa kau tidak berpikiran luas? Apakah kau kesulitan mencari jalan keluar?" tanya Sung Han santai. Matanya yang kuning teduh itu bersinar-sinar penyh semangat.


"Memangnya kau kemudahan?"


"Wah....wah...engkau galak benar nona. Karena sudah membantuku dua kali, biarlah saat ini aku bayar satu dulu." jawabnya sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. "Aku bisa membawa kita bertiga keluar dengan selamat tanpa kurang satu pun."


"Bagaimana caranya?" dua gadis yang sama-sama cantik menawan itu berkata bersamaan dengan ekspresi tertarik sekali.


"Hahaha, begini caranya..." Sung Han lalu menghampiri sebuah tong kayu di pinggir tembok. Sekali menggerakkan tangan rusaklah tong itu berubah menjadi beberapa kepingan. Ia ambil satu kepingan dan menggeseknya pada tembok.


"Sreeek...wusss!"


Dari gesekan cepat itu, terciptalah bara api yang cukup terang. Masih sambil senyum-senyum, dia berkata pada dua orang itu, "Tolong hancurkan tong-tong dan guci-guci tanah itu. Kumpulkan ke mari."


Karena saking bingung dan tegangnya, juga keinginan untuk dapat segera bebas. Keduanya tanpa banyak cakap menurut saja untuk mengumpulkan barang-barang itu. Setelahnya Sung Han melemparkan obor tadi ke tumpukan barang-barang itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!" bentak Sung Hwa. Yang Ruan memandang panik dan dengan jubahnya memukul-mukul api itu.


"Sekarang....hyaaahh!"


Pekik Sung Han menjebol tembok bangunan di sebelah kiri. Seketika terdengarlah suara berdentum nyaring disusul sorak-sorai para anggota di dalam markas.


Wajah dua orang gadis itu memucat seketika, memandang kepada Sung Han penuh tuntutan.


"Tenang, dengan begini kita bisa pergi aman." katanya dan melompat tinggi ke atas sebuah genteng. Dua orang itu mengikuti.


Benar saja, kiranya para anggota itu telah berdatangan ke tempat ini. Sung Han kembali menjebol atap rumah itu dan pergi ke lain jurusan. Setelahnya menghancurkan pintu, lalu di bangunan lain yang sedikit berjauhan, dia merusak tembok depan. Terus seperti itu sampai seluruh anggota Serigala Tengah Malam kocar-kacir. Semua tindakan ini diikuti oleh Yang Ruan dan Sung Han.


"Para penyusup menyerbu!"


Satu seruan ini sudah merupakan tanda bagi ketiga pemuda itu bahwa rencana Sung Han berhasil baik. Memang dengan terdengarnya banyak ledakan di berbagai tempat, seolah marka ini telah kemasukan penyusup yang tak berjumlah satu. Makin ribut dan kacaulah keadaan.


Sung Han, Yang Ruan dan Sung Hwa memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri dari sebelah barat. Terus berlari jauh menuju hutan lebat yang besar.


...****************...


"Sung Han, berhenti!!"


Sung Han menolehkan kepalanya, memandang kepada gadis yang cantiknya bukan main itu. Entah dibandingkan dengan Yang Ruan akan menang siapa, namun kecantikan orang ini sungguh mambokkan.


"Ada apa?" tanyanya sedikit terburu-buru."


"Aku ada pesan untukmu, kau harus mendengarnya!" jawab Sung Hwa tegas. Dia memandang ke arah tadi mereka datang dan bergegas berkata lagi, "Aku tahu ada tempat yang cukup tersembunyi dekat sini. Mari ikut denganku."


Tanpa menunggu jawaban lagi, dia lalu beranjak pergi dari sana menuju selatan. Setelah perjalanan seperempat jam kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah tanah lapang yang cukup tersembunyi karena terlindung oleh pohon dan semak belukar tinggi.


Sung Hwa berhenti di sana, kemudian secepat kilat dia berbalik dan menatap tajam ke arah Sung Han.


Sekali lagi Sung Han bertanya, "Ada apakah nona?"


"Aku ada pesan untukmu." sekali lagi Sung Hwa menjawab. Dia menarik napas beberapa kali sebelum melanjutkan, "Ini dari nona Han. Han Fu Ji. Dia menitipkan pesan ini padamu. Dan lihat ini, jika kau tak percaya." katanya seraya menarik lengan jubah dan memperlihatkan gelang emas dengan batu mulia berwarna bening itu.


"Itu gelang nona Han..." gumam Sung Han dan Yang Ruan bersamaan.

__ADS_1


"Benar, kau sudah mengenalnya..." jawabnya sambil menutupkan kembali lengan jubahnya, "Sung Han, dia berkata ini padaku."


"Apa itu?"


Sung Hwa menarik napas panjang, dia melanjutkan, "Aku akan mencritakan semuanya."


Berceritalah Sung Hwa, soal malapetaka yang menimpa diri Han Fu Ji. Betapa ibunya, Han Lan dan dirinya dibawa tiga pendekar yang mengaku bernama Sung Han, Ratu Elang dan Rajawali Merah. Kemudian tiga orang ini menghabisi rombongannya dan membawanya.


Lalu ketika mereka berdua diperkosa di sepanjang perjalanan. Betapa ibunya bunuh diri meninggalkannya dan akhirnya bertemu dengan Sung Hwa yang menyelamatkannya.


"Benarkah semua itu....?" kata Sung Han gemetar dengan mukanya yang pucat pias. Sedangkan Yang Ruan berdiri dengan membekap mulutnya sendiri. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak bohong, lalu dia menitipkan permintaan maafnya kepadaku. Dia sangat menyesal telah menjual dirimu kepada mereka hanya untuk menyelamatkan ibunya."


"Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu. Dan aku sama sekali tidak memaafkannya karena sejak awal aku tak pernah menyalahkannya." Sung Han berkata dengan gamang. Seolah setengah sadar setengah tidak. Batinnya sedikit terguncang mendengar kabar ini.


Sung Hwa melanjutkan, "Dia juga berkata seperti ini..." lalu dia menarik napas panjang sebelum berkata, "Kau orang baik..."


Mata Sung Han melebar, seluruh tubuhnya gemetaran. Keringat dingin mulai menetes dan jantungnya berdegup kencang. Tanpa terasa, matanya memanas. Mengapa dia menjadi demikian cengeng?


"Ah...begitukah....?" suaranya gemetar.


Tapi, tiba-tiba.


"Siingg....syuutt!!"


"Aihh...Sung Han!!" Yang Ruan berteriak kaget.


Tiba-tiba ada kilat keperakan menyambar ganas ke arah Sung Han. Kiranya itu adalah pedang Sung Hwa yang sudah tercabut dari tempatnya. Pedang itu meluncur cepat mengarah dada Sung Han yang masih terbengong seperti orang tak sadar.


"Bagiku kau adalah sejahat-jahatnya orang!!! Kau bukanlah orang baik!!" bentak Sung Hwa penuh kemarahan. Pedangnya tepat tertuju pada tubuh pemuda itu.


"Craaapp!!"


"Sung Haaann!!" gadis bercadar itu makin histeris.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2