
Seperti yang sudah direncanakan tadi malam, keputusan jenderal Suga sudah bulat untuk segera menyerbu Goa Emas. Bahkan peringatan pimpinan ronin pun tak dihiraukannya. Dia akan merasa amat malu dengan pangeran jika seandainya mereka kembali dengan alasan musuh terlalu kuat. Itu sama saja menyerah sebelum berperang. Lebih baik mati sekalian dalam medan tempur.
Jenderal Suga melakukan ini bukan hanya untuk perwujudan kesetiannya kepada pangeran Daijin Nakagi. Sama sekali bukan! Dia melakukan ini adalah untuk mencari simpati dari pangeran itu. Juga jika dia dapat menduduki Goa Emas, dia pastinya dapat mengambil emas di sana untuk diri sendiri. Beberapa emas jika masuk ke kantongnya, pasti tidak akan kelihatan. Karena itulah dia terus bersikeras. Bahkan ketika pada keesokan harinya kembali Tenko mengingatkannya.
“Kau pulang ke pangkuan istrimu saja sana jika hanya menghadapi gerombolan pendekar itu sudah mengkirik. Ingat, ini pertempuran yang menyangkut banyak orang. Ilmu perang lebih unggul, sedangkan mereka hanya pandai dalam pertempuran satu lawan satu,” jenderal Suga menghentikan katanya sejenak, “Kami sudah melewati banyak pertempuran, maka dapat kaubayangkan betapa akan kacaunya mereka jika harus disuruh bertarung secara kelompok.”
Tenko mengerutkan kening, “Kami para ronin lebih lihai dalam pertempuran satu lawan satu. Sudah lama kami tidak terjun ke medan perang.”
“Kalau begitu bagus sekali. Kalian para ronin menyerang dari titik buta secara tiba-tiba. Atau kalian bertanding satu lawan satu dengan pendekar kuat mereka.” Jenderal itu kemudian melanjutkan kegiatannya memakai zirah perangnya. Setelah menyelipkan pedang katana di pinggang, melihat Tenko belum pergi, dia berkata lagi, “Sudahlah, buat anak saja dengan istrimu sana!”
Tenko berjebi, menahan kesal dan penghinaan ini lalu pergi ke luar. Tindakan ini hanya disikapi dengan kekehan ringan jenderal Suga. Lelaki pendek ini kemudian pergi ke luar dan menghadapi barisan pasukan yang sudah disiapkan. Panji-panji perang berkibar dengan gagahnya, dan dia berdiri di tempat yang sedikit lebih tinggi.
“Tunjukan pada Chang bahwa kemenangan mereka beberapa abad lalu tak lebih hanya kebetulan belaka.”
“Yaaaa…..”
****************
Sung Han duduk santai di ujung sana, bersandarkan pohon yang cukup besar. Sikapnya acuh sekali dengan keadaan sekitar yang sibuk mempersiapkan ini dan itu.
Dari kejauhan, diam-diam topeng emas memandangnya dengan sengit. Sejak awal dia memang tidak berharap dengan bocah ini, namun dia juga tak pernah berpikir jika Sung Han akan semenyebalkan itu. Dia kembali mengatur anak buahnya yang nantinya harus berada di tempat tertentu, kemudian dia juga memperkuat berbagai macam jebakan di jalan menuju pantai itu.
“Kekaisaran Jeiji tidak akan mengambil jalan memutar,” seru Sung Han tiba-tiba ketika topeng emas menyuruh anak buahnya menjaga di sisi hutan. Di mana jalan yang mereka lalui ketika menuju kemari, “mereka tak akan mengambil jalan memutar,” ulang Sung Han sekali lagi.
Topeng emas memandangnya sengit, “Bagaimana kau bisa begitu yakin bocah?”
“Lihat saja nanti. Mungkin mereka sudah memperhitungkan jika mengambil jalan memutar, sudah pasti kalah,” ujarnya sambil memandang ke arah mana rombongan ini datang waktu itu. Melalui jalur hutan lebat dan jalan menanjak, “kau juga berpikir demikan kan? Di medan yang seperti itu, kurasa akan sangat menyulitkan mereka yang berzirah besi. Jelas mereka akan hancur di sana.”
__ADS_1
Kali ini topeng emas menghadap kepada Sung Han sepenuhnya setelah memutar tubuh. “Kau maksudkan jika melalui jalan yang penuh jebakan ini, maka mereka belum tentu kalah?”
Sung Han pura-pura menguap, “Entah, bisa saja justru pasukanmu yang terkena jebakannya sendiri.” Setelah itu Sung Han mengambil sikap acuh dan meramkan mata.
Topeng emas jelas tidak paham dengan ucapan itu. Juga Kay Su Tek dan Tok Ciauw yang ikut mendengarkan pula. Bahkan mereka akan tertawa jika mengetahui bahwa sebenarnya Sung Han juga tidak paham. Dia berkata demikia agar dikira dirinya patut berada di sana.
Setelah melakukan berbagai macam persiapan, akhirnya nampaklah panji-panji perang kekaisaran Jeiji di pantai sana. Pasukan mereka mungkin tiga ratusan, sedikit lebih banyak dari pasukan pendekar, namun tak ada satu pun dari mereka yang merasa gentar.
“Bergerak ke posisi. Siap siaga!” Chang Song Ci memberi perintah yang segera diturti anak buahnya.
Mereka melompat turun ke jalan curam yang sudah kacau dengan batu-batu hitam itu, lalu bersembunyi di balik batu-batu besar untuk menunggu datangnya pasukan lawan dan mengaktifkan jebakan. Ada pula yang mengubur diri dengan batu yang nantinya akan melakukan serangan kejut dari bawah.
Sedangkan untuk pasukan Kay Su Tek, mereka menunggu di pinggir jalan curam itu, terlindung oleh pohon-pohon hutan. Tugas mereka sama, melakukan serangan kejutan.
Sedangkan Sung Han, dia bersikap tak acuh dan menunggu di depan goa bersama Tok Ciauw. Agaknya Tok Ciauw pun tidak keberatan.
Selang beberapa saat kemudian, terdengar bunyi-bunyi terompet lagi namun dengan nada dan tempo yang berbeda. Pasukan itu kembali bergerak dan kini lebih cepat. Terdengar terompet lagi dan gerakan mereka menjadi lebih cepat, bahkan kini setengah berlari.
Akan tetapi tepat ketika hendak menyentuh barisan jebakan terdepan, pasukan itu kembali berhenti setelah terdengar suara terompet. Keadaan menjadi hening setelahnya, hening yang mencekam dan mendatangkan suasana ketegangan hebat. Baik di pihak pendekar maupun di pihak kekaisaran Jeiji.
Mereka semua sadar jika musuh sudah berada tepat di depan mata. Bahkan
barisan pertama kekaisaran Jeiji sudah melihat beberapa pendekar yang telah
siap di balik batu besar. Namun mereka pura-pura tidak tahu.
“Ada apa ini?” gumam Sung Han keheranan yang melihat dari atas sana.
__ADS_1
Angin yang berhembus pagi itu menambah hening suasana. Semua orang meneguk ludah susah payah.
Hampir semua orang dari pihak pendekar terkejut dan menjerit ketika tiba-tiba saja terdengar suara terompet dari kekaisaran Jeiji yang amat nyaringnya. Mereka segera mencabut senjata dan bersiap-siap. Akan tetapi para pendekar itu telah tertipu, kiranya suara terompet ini bukanlah komando untuk bergerak, pasukan itu masih berhenti di tempat.
Namun terlihat kelebatan hitam yang bergerak cepat sekali dari tengah barisan. Semua orang terbelalak ketika beberapa orang pakaian hitam itu melompat ke atas dan melemparkan bola-bola hitam.
“Pasukan ninja? Hm… mereka sudah mempersiapkannya dengan baik,” komentar Sung Han yang masih enggan turun tangan.
“Blar… blar… blar…!”
Kiranya bola-bola hitam itu semcam senjata rahasia yang dapat meledak. Begitu mengenai tanah, benda itu meledak dan mengeluarkan asap tebal. Saat itu pula, terdengar suara terompet yang paling keras, disusul teriakan-teriakan pembakar semangat dari pasukan Jeiji yang sudah menyerbu.
“Ahhhhhh…” teriakan pertama ini asalnya dari pendekar Chang yang berdiri paling dekat dengan barisan lawan. Karena bingung dengan asap itu, dia tak sadar akan bilah pedang yang sudah menggorok lehernya.
“Jebakan, jebakannya…!” seru orang-orang itu.
Akan tetapi karena asap yang begitu tebal, mereka menjadi kehilangan arah dan kebingungan. Akibatnya, pasukan Jeiji yang sudah membobol masuk barisan pasukan pendam terdepan itu dapat dengan mudah membantai mereka.
Sedangkan pasukan-pasukan pendekar itu bukannya mengaktifkan jebakan, namun malah terjebak sendiri oleh siasat lawan.
“Pasukan pertama hancur, hahaha…”
Semua orang dapat mendengar ini dan semua orang terkejut. Bahkan para pendekar itu berseru-seru marah ketika mengetahui siapa yang mengeluarkan ucapan penuh ejekan ini. Dia bukan lain adalah Sung Han yang menertawakan rencana pangeran itu.
“Huahahaha… hahahaha…” tawa itu terus berlanjut namun perang di bawah sama sekali tidak berhenti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG