
Sung Han mengeruk tanah sampai sedalam betis, menumpuknya dengan kayu-kayu kering lalu mulai membakarnya dengan gesekan batu lancip. Api tercipta, asap mengepul dan itu cukup untuk menghangatkan badan.
Sung Hwa baru saja kembali dari sungai untuk mengambil air sekaligus ikan-ikan segar. Ia segera membersihkan ikan itu dan menusuknya dengan tangkai tipis, meletakkannya di atas kobaran api. Lalu menunggu matang.
"Sudah berapa lama kita menyembunyikan diri?" tanya Sung Han.
"Setengah tahun, kurasa."
"Aku sudah tahu."
"Kenapa tanya?"
"Supaya kita bicara." Sung Ban memasukman satu ranting kering ke dalam kubangan itu. "Sungguh, Sung Hwa, aku rasanya ingin mengundurkan diri saja dari dunia persilatan. Lelah rasanya."
Sung Hwa menghela napas. "Berhentilah mengeluh, kau bukan seseorang yang membiarkan orang lain menderita. Perang masih berlanjut, hanya saja selama ini tidak terlalu tampak."
Gadis itu membalik-balikkan ikan bakarnya, mencoba mencari kesibukan di tengah keheningan ini. Dia merasa canggung dengan Sung Han yang makin hari menjadi lebih pendiam dari hari sebelumnya. Juga wajahnya menunjukkan tekanan yang membuat dia tak kuasa menahan iba.
Sering kali Sung Hwa merutuki kebodohan sendiri. Betapa dia dahulu mencari-cari Sung Han untuk membunuhnya, menuduhnya sebagai sumber kesengsaraan hidupnya, tanpa tahu penderitaan pemuda itu. Bahkan setelah dipikir-pikir, bukankah tindakan Sung Han dan dia sejalan? Dia tak pernah menginginkan Hati Iblis untuk bangkit, dan Sung Han mengakhirinya. Bukankah sepadan? Tolol dia kalau dahulu berpikur bahwa orang-orang Hati Iblis bisa disadarkan dan menjadi orang benar jika dibebaskan begitu saja.
Bahkan dia merasa ngeri untuk membayangkan perasaan Sung Han ketika harus menggorok leher sahabatnya sendiri. Mungkin itulah yang menjadi penyebab berubahnya sifat pemuda itu.
Kadang ia tersenyum-senyum sendiri mengingat Sung Han berhasil mencopet rotinya dari balik saku baju di pinggir sungai dahulu itu. Ketika dengan bodohnya Sung Han meracau tak jelas. Lalu ketika di Perguruan Awan, saat Sung Hwa melabaraknya, pemuda itu nampak terkejut dan girang mengetahui dirinya sebagai gadis pemberi roti.
Tapi saat ini, mata kuning seteduh bulan purnama itu seolah kehilangan cahayanya. Tatapannya lebih sering seperti orang linglung dan menerawang entah apa itu.
"Sung Hwa, kita sekali lagi harus turun gunung, entah kapan itu tapi pasti akan terjadi," ujar Sung Han tiba-tiba.
"Aku tahu," jawab Sung Hwa. Dia menyerahkan satu ikan panggang, namun tak lekas diterima oleh Sung Han. Pemuda itu masih termenung.
"Setelah itu, setelah semua perang ini selesai, aku ingin melaksanakan perintah guru."
Sung Hwa memandang bingung. "Perintah guru? Apa itu?"
"Menjaga Goa Emas." Satu ucapan yang berhasil mengejutkan Sung Hwa.
"Ah ...." Sung Hwa kehabisan kata-kata. Dia pun tahu seberapa keramatnya tempat itu.
Sedetik kemudian, Sung Han menoleh dan memandangnya dengan tatapan aneh. Pandangannya masih kosong namun seolah menyinarkan sedikit harapan. Entah apa itu.
__ADS_1
Hingga Sung Hwa harus menjejalkan ikan panggangnya ketika tanpa peringatan atau diminta, pemuda itu berkata.
"Sung Hwa, saat itu terjadi , temani aku sebagai istri ya?"
...****************...
Sung Hwa berlari-larian mendaki lereng gunung itu. Pakaian desa yang nampak kusut itu berkibaran saking cepat gerakannya. Keranjang di tangan kiri, yang berisi kebutuhan pangan untuk esok sudah tak utuh lagi. Ada beberapa yang jatuh.
Sung Han mengerutkan kening melihat keadaan Sung Hwa yang seperti itu. "Dikejar setan?"
"Sung Han, berita besar," katanya, sama sekali tidak nampak terengah-engah.
"Apa? Istri kepala dusun terjungkal lagi ke sawah? Kali ini kepalanya tak sengaja tertusuk taring ular?"
"Bukan!" sergah Sung Hwa. "Ini mengenai kekaisaran."
Sung Han terlihat tertarik. Ia menghentikan gerakan tangannya yang mengukir sebatang kayu, yang rencananya akan ia jadikan mainan ketika sedang sendiri. Memerhatikan Sung Hwa penuh selidik.
"Oh, apa itu?"
"Kaisar meninggal."
Pisau kecil di tangannya itu jatuh, mulutnya melongo. Matanya mengerjap-ngerjap sehingga untuk beberapa saat, Sung Han terlihat mirip seperti seorang bocah yang baru melihat induknya.
"Kaisar meninggal! Kaisar Chang Song Bian meninggal!"
Sekali ini Sung Han membanting tongkat mainannya sampai patah. Satu benda yang sudah ia kerjakan selama seminggu, membentuk pahatan indah berupa burung hong dan naga. Yang sejatinya merupakan ilmu baru bagi Sung Han karena selama beberapa bulan dia harus berlatih di bawah bimbingan Sung Hwa. Namun sekarang tongkat itu dibantingnya seolah bukan merupakan barang berharga.
"Keparat! Sepertinya kita memang harus segera pergi!" Sung Han menatap bahan-bahan masakan yang berada dalam keranjang. "Bungkus itu, dan bawa sebagai bekal."
"Kupikir kau akan membantingnya sekalian?"
"Masakanmu masih lebih mengenyangkan dari pada daging tawar. Ayo bersiap."
Sung Hwa terdiam. Sedikit girang juga dipuji masakannya mengenyangkan.
Mereka segera berkemas, melepas pakaian samaran berupa pakaian petani yang selama ini mereka pakai. Berganti dengan pakaian andalan masing-masing.
Sung Han dengan jubah biru dibalut mantel hitam. Juga kain hitam penutup setengah wajah bawahnya dan caping lebar berenda penutup setengah wajah atasnya. Satu set pakaian yang membuatnya dijuluki Setan Tanpa Wajah.
__ADS_1
Sedangkan Sung Hwa, dengan jubah serta mantel lebar warna merah. Khas seorang pendekar wanita Rajawali Merah.
Setelah mengobrak-abrik isi goa tempat mereka tinggal, agar tidak meninggalkan jejak. Serta membuat bagian luar goa menjadi senatural mungkin seolah tak pernah ada penghuni sebelumnya, mereka berangkat menuju kota raja.
"Apakah mungkin pangeran sialan itu berulah lagi?" tanya Sung Han di tengah-tengah perjalanan.
"Mungkin. Tak ada akses bagi Jeiji untuk memasuki ke wilayah utara ini. Kecuali para ronin dan samurai yang sudah berada di sini dan terperangkap. Tak bisa kembali ke selatan atau negeri mereka."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Intinya, tak mungkin langsung membunuhnya secara berterang," balas Sung Hwa. "Kalau aku jadi musuh kaisar, aku akan mengirimkan hadiah berupa barang hidup yang bisa membunuhnya."
Sung Han tertarik. "Oh, apa itu?"
Sung Hwa menyeringai. "Wanita."
"Maksudmu?"
"Seperti ini."
Secepat kilat, bahkan sebelum ucapannya selesai, Sung Hwa sudah memeluk Sung Han dan hampir menciumnya. Namun Sung Han meneguk ludah karena dia sadar jika tengkuknya sedang ditodong sebilah pisau.
"Oh, tidak seperti biasanya," gumam Sung Hwa. Wajahnya nampak sedikit keterkejutan, namun jelas raut wajah itu dibuat-buat. Sung Hwa sudah menduga akan hal ini. "Kau sudah memercayaiku dan itu membuat perhatianmu lengah. Kau tak akan pernah berpikir bahwa orang yang kau percayai akan menikammu. Begitulah agaknya, rencana yang paling mudah namun amat mematikan."
Sung Hwa memasukkan pisaunya kembali. Dan Sung Han menghela napas lega.
"Tapi jangan kau berpikir untuk menghadiahkanku kepada pangeran itu hanya untuk membunuhnya," tegas Sung Hwa sebelum Sung Han sempat berkata.
"Aku tak berpikir seperti itu." Lebih tepatnya, dia memang hendak mengusulkan hal itu.
"Lalu apa yang kau pikirkan?"
"Pendekar kuno, strategi dan siasat seperti bocah bermain. Tunjuk sana-sini, tuduh sana-sini, berkelahi, lalu kita yang tertawa di akhir."
Sung Hwa kebingungan. Ia berpikir Sung Han telah melantur. Apa hubungannya pendekar kuno, strategi, bocah bermain dan tertawa di akhir?
"Maksudmu?" Dengan tampang bodoh Sung Hwa bertanya.
"Lin Tian," jawab Sung Han. Wajahnya menyiratkan sinar kekaguman yang tak mampu disembunyikan. "Siasat yang digunakannya untuk mengacaukan Hati Iblis dan Pedang Hitam seorang diri."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG