
Desa itu tidak besar, tapi belum cukup untuk bisa dikatakan sebagai desa kecil. Sebuah desa sederhana yang cukup bersih dan nyaman dipandang. Baik orang-orangnya maupun rumah-rumah yang tertata rapi.
Ketika keduanya berjalan-jalan seraya melihat sekeliling, mereka sedikit terkejut menyaksikan bahwa hampir setiap pemuda, selalu memiliki badan kekar dan tubuh terlatih. Ada beberapa pemuda yang berlatih di halaman depan rumah.
Juga untuk para wanitanya, tak ada yang tidak cantik. Kulit mereka semua putih bersih terawat, tiada cacat setitik pun juga. Bahkan seorang nenek-nenek lima puluhan tahun itu, yang kerjaannya menjemur singkong tipis, kelihatan lebih cantik dari nenek-nenek kebanyakan. Tubuhnya masih langsing seperti anak muda, hanya saja wajahnya yang sudah keriputan.
Memandang ke kanan, mereka melihat sebuah tempat yang agaknya dijadikan sebagai sekolah beladiri. Terlihat di aula luas itu, anak-anak membentak keras penuh semangat ketika melakukan pukulan serta tendangan.
"Kenapa desa ini makmur sekali. Baik keadaan alam maupun para penduduknya?" si pemuda bertanya heran.
Gadis bercadar di sebelahnya itu menjawab, "Setahuku, desa ini merupakan desa yang selalu mengirim prajurit muda dan dayang-dayang istana setiap tahunnya. Wajar jika si pemuda memiliki tubuh tegap dan si wanita cantik manis." diam-diam dia melirik ke pemuda sebelahnya.
Kebetulan, saat itu pemuda ini sedang memandang ke arah seorang dara cantik yang sedang menjemur pakaian. Kebetulan sekali, saat itu si gadis sedang menunduk untuk mengambil baju dari ember, sehingga nampak jelaslah pinggulnya.
"Aduhh!!" pekik si pemuda, "Ada apa denganmu?"
"Sung Han! Matamu telah menodai gadis itu!" bentak si gadis bercadar yang bukan lain adalah Yang Ruan. Mukanya sudah merah.
Sung Han memasang tampang bingung. Ia kembali menolehkan kepalanya ke tempat asal, dan baru sadarlah saat ini jika di sana ada seorang gadis cantik seumuran yang sedang menjemur baju. Melihat posisi itu, tanpa sadar Sung Han meneguk ludah.
Ketika merasa geraman yang datang dari sebelahnya, buru-buru pemuda ini berkata, "Harap jangan salah paham, aku melihat itu." katanya sambil menunjuk ke salah satu pohon depan rumah gadis penjemur baju.
Yang Ruan melihat ada sebuah tanda di sana. Dia memicingkan mata dan mengajak Sung Han mendekat. Kiranya itu adalah gambar seekor burung rajawali. Daripada disebut gambar, itu adalah sebuah ukiran rajawali yang diwarnai dengan warna merah.
Melihat kebingungan keduanya, gadis itu sadar dan berkata, "Kalian berdua, ada apakah? Ingin membeli pohonku itu? Hihi...puluhan keping emas pun tak akan kulepas."
Mendengar suara gembira dan jenaka ini, sontak keduanya menoleh. Sung Han bertanya, wajahnya penasaran, "Nona yang can...ugh."
Yang Ruan sudah lebih dulu mletakkan jari telunjuk ke lambungnya. Tentu sekali tekan akan tembus.
"Maksudku, nona yang baik, apa maksud dari ukiran ini? Apakah di desa ada sastrawan ahli pahat atau ada seniman ahli membuat patung?"
Gadis itu miringkan kepala heran. Sedetik kemudian dia tersenyum, "Kalian pasti orang baru, wajah kalian asing. Melihat pakaian yang sederhana itu, kalian kaum pendekar kan?"
Otomatis keduanya mengangguk pelan.
Gadis itu tersenyum makin manis, "Mengejutkan bila kaum pendekar tak paham apakah artinya itu. Dia ini Rajawali Merah, wanita penebar teror di desa-desa sekitaran sini."
__ADS_1
Baik Sung Han maupun Yang Ruan merasa seperti ada petir menyambar di siang bolong. Badan mereka menjadi kaku-kaku.
Rajawali Merah, tentu keduanya sudah tahu siapa adanya dia. Menurut kabar yang beredar, Rajawali Merah adalah seorang gadis yang menjadi kaki tangan pemberontak. Dan melihat lambang serta penjelasan gadis itu, kiranya Rajawali Merah berada tepat di depan hidung mereka!
"Mengapa kau tenang-tenang saja!" bentak Yang Ruan yang merasa khawatir sekali.
"Untuk apa takut? Bukankah desa ini memiliki banyak pemuda gagah perkasa? Sudah sejak tiga hari lalu tanda itu ada di sini, dan menurut kabar yang beredar, tanda itu menunjukkan bahwa Rajawali Merah akan datang ke sini untuk menaklukkan desa ini."
"Hmm...seperti kejadian waktu itu." batin Sung Han teringat akan kejadian ketika dia dijadikan kambing hitam di desa yang terancam Serigala Tengah Malam itu. Sebuah desa yang mengalami penculikan gadis-gadis.
Yang Ruan bertanya lagi, "Adik kecil, mengapa kau bisa yakin desa ini akan selamat dari pemberontak satu itu? Asal kau tahu, menurut orang-orang yang pernah bertemu, dia memiliki kepandaian hebat."
Gadis itu tersenyum makin lebar. Dia meletakkan pakaian yang sudah dipegangnya ke dalam ember lagi, lalu mendekati keduanya. Ketika tiba di depan Sung Han, dia mengangkat batu yang cukup besar. Amat kepayahan dia mengangkat batu itu. Tentu hal ini mengherankan dua orang muda mudi itu.
Sung Han makin heran ketika si gadis menghantamkan batu itu ke wajahnya. Tentu saja batu semacam itu mana mampu melukai wajah Sung Han yang memiliki kepandaian cukup tinggi itu? Maka hancurlah si batu tepat ketika menghantam wajah si pemuda.
Sung Han yang dihantam, namun Yang Ruan yang tak terima. Dia marah dengan membentak, "Apa yang kau lakukan!!?"
"Haha, kiranya kalian suami istri adalah seorang pendekar. Makin tenanglah hati kami dengan adanya kalian. Hei setelah tahu akan masalah desa kami, kalian tak akan pergi begitu saja kan. Tenang, setelah selesai aku akan meminjamkan rumahku ini selama beberapa malam." katanya seraya tersenyum jahil.
"Kau sangat pengertian nona baik. Aku harus berterima kasih." ucap Sung Han dengan wajah meyakinkan. Setelahnya dia menggandeng Yang Ruan yang tak mampu berbuat apa-apa untuk dibawa ke lain tempat.
Di kejauhan, Yang Ruan merenggut tangannya kasar, "Kenapa kau setuju-setuju saja disebut suami sitri?"
"Aku tak keberatan kalau nantinya jadi kenyataan, hehe...."
Namun Sung Han merasa menyesal sekali telah menggodanya seperti itu. Yang Ruan menunduk dan membuang muka. "Ah...maafkan aku." ucap Sung Han ketika tahu gadis itu pasti teringat lagi akan Kay Su Tek.
Dia mencoba mengalihkan pembicaraan, "Tak apalah kita menjadi suami istri di sini, hanya main sandiwara. Agar kita bisa selalu bersama. Aku khawatir Rajawali Merah itu memang benar-benar lihai."
Yang Ruan hanya mengangguk.
...****************...
Malam hari itu, nampak bayangan merah berkelebat cepat sekali. Seorang bertubuh ramping menggairahkan, wajahnya tertutup topeng hitam dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Gerakannya yang cepat sekali itu tentu saja mengejutkan para penjaga desa. Cepat mereka membunyikan tanda bahaya.
__ADS_1
Ributlah keadaan di seluruh desa itu, dan mereka cepat-cepat keluar dengan senjata di tangan. Ketika bayangan merah itu tiba di salah satu genteng rumah, dia berhenti dan memandang ke bawah dengan tatapan meremehkan. Sedangkan rumah itu sudah dikurung oleh puluhan warga desa yang siap dengan senjata di tangan.
"Turun kau, Rajawali Merah!!"
Terdengar suaranya yang kecil nyaring namun menggetarkan hati, "Aku ke sini bukan untuk mencari ribut dan perkara, setidaknya untuk saat ini. Aku hanya ingin mengatakan, di sini, saat ini, sedang ada seorang lihai yang akan mengancam diriku. Kukatakan pada kalian, bawalah orang itu ke depan hidungku, dengan begitu aku tak jadi mengganggu desa kalian."
"Mana sudi!!" teriak salah seorang warga yang segera disambut seruan setuju dari orang-orang sekitar.
"Untuk apa kami meladeni omonganmu!??"
"Hahaha, kiranya kau yang sombong masih bisa takut dengan orang lain. Huahahaha, sombongmu tak pakai modal ya!?"
Mendengar cemoohan dan cacian dari seluruh warga desa, dia tersenyum sinis di balik topengnya. Lantas dia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, dan melemparkan benda itu ke bawah.
Seketika, semua orang terdiam memandang benda itu.
"Itu hanya peringatan, dan terbukalah mata kalian sekarang. Dia itu, aku yang mengambilnya. Ehh...maksudku meminjam. Bawa seorang lihai itu padaku, dan dia akan kukembalikan dalam keadaan selamat." katanya lagi sebelum pergi.
Namun, masih tak ada sahutan dari seluruh warga desa. Hal ini jelas mengherankan hati dua orang pemuda dan pemudi yang sejak tadi terus memperhatikan dari jauh.
"Benda apa itu?"
"Entah."
"Ingin lihat!?"
"Pemuda tolol, kemungkinan engkaulah yang disebut seorang lihai tadi!!"
Dia terbelalak, namun tersenyum geli dan berujar, "Wah....betapa senang aku dipuji lihai oleh seorang ratu."
Wanita yang disebut ratu itu membuka cadarnya dan mencondongkan kepalanya ke depan. Dikira hendak mencium, namun ternyata setelah "ciuman" itu, bibir si pemuda sudah bengkak karena tertancap sebatang jarum.
"Maaf, Yang mulia ratu...." kata si pemuda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1