Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 179 – Rombongan 2


__ADS_3

Setelah mengetahui berita dari si pemilik warung tadi, tanpa membuang waktu lagi Sung Han lekas menuju ke gerbang barat dan pergi ke arah sana. Dia ingin mendatangi desa tetangga yang berada di barat itu untuk dimintai keterangan mengenai pendekar tangan satu berjubah putih. Harinya sudah yakin benar jika sosok pasti tak lain tak bukan adalah Kay Su Tek adanya.


Setelah keluar dari desa, dia berjalan lambat-lambat makin menjauh. Namun ketika sudah tiba jauh, segera dikerahkannya ilmu meringankan tubuh yang telah mendapatkan kemajuan pesat setelah dia menguasai hawa sakti. Kecepatan larinya bahkan lebih cepat dari seekor kijang. Larinya seperti terbang saja.


Di belakang sana, seorang berpakaian hitam-hitam terus mengikuti sambil menjaga jarak. Luar biasa sekali agaknya si pengintai ini, dengan kepandaiannya dia dapat mengikuti Sung Han dari jarak aman namun tak pernah sampai tertinggal.


Siapakah dia ini? Dia merupakan seorang kakek-kakek yang usianya sudah cukup tua. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya selalu nampak muram. Namun karena hal inilah maka wajah tua itu terkesan amat angkernya.


Gerakannya luar biasa gesit sekali, terbukti dari caranya berlari dia mampu menyamai kecepatan Sung Han. Memang dia ini merupakan pendekar kawakan yang terkenal akibat ilmu meringankan tubuhnya. Bahkan dia ini merupakan salah satu orang dari para pendekar yang sudah lama menyembunyikan diri, dia adalah pendekar sejati.


Julukannya adalah Burung Walet Hitam. Seperti yang sudah diketahui, dia melaksanakan tugas dari topeng emas untuk mengundang Kay Su Tek berkunjung ke markas Serigala Tengah Malam. Akhirnya Kay Su Tek yang tak mau membikin masalah di tengah situasi kacau balau ini menerimanya dan datanglah dia ke sana.


Setelah rombongan gabungan Kay Su Tek bersama topeng emas berangkat, pangeran itu menyebar mata-mata di setiap penjuru untuk mengintai jika ada sesuatu. Dan Burung Walet Hitam ini adalah salah satunya.


Rombongan baru melewati desa ini kemarin, tentu saja mereka belum pergi jauh. Maka dari itulah si tua ini ada di sini saat ini dan merasa tertarik dengan Sung Han, seorang pemberonrak terkenal yang baru muncul akhir-akhir ini.


Karena merasa penasaran dan tertarik, apalagi ketika dia mengintai dan ikut mencuri dengar bahwasannya pemuda ini sedang menyelidiki rombongannya, maka kakek ini memutuskan untuk mengikuti.


Akhirnya, setelah beberapa jam melakukan perjalanan cepat sekali, sampailah Sung Han di desa lainnya. Sebuah desa yang lebih besar dari sebelumnya, namun agaknya sedikit lebih miskin.


Sung Han segera masuk melalui pintu gerbang timur dan dia mulai mencari ingormasi.


Dari keadaan orang-orang yang ada di sana saja, sudah nampak baru saja ada ketegangan. Entah apa itu namun Sung Han dapat merasa keresahan para warga.


Wajah mereka nampak tegang dan kaku, juga sedikit pucat. Tak nampak anak-anak bermain di luar rumah, sedangkan jika mengintip dari balik jendela, akan nampaklah ibu-ibu yang duduk di kursi tamu dengan wajah gelisah.


Sung Han melihat ada beberapa orang yang duduk-duduk di tepi jalan sambil menikmati arak. Merasa tertarik dengan keadaan orang-orang itu yang merasa sama sekali tak terganggu, Sung Han menghampiri.


"Sahabat-sahabat sekalian, bolehkah aku yang muda bertanya akan suatu hal?" tanya Sung Han begitu sudah tiba dekat dan setelah menjura hormat.

__ADS_1


Tiga orang itu mungkin sudah tiga puluhan tahun usianya. Dari pakaian mereka Sung Han dapat melihat bahwa mereka berasal dari dunia persilatan. Tiga orang itu bangkit berdiri dan balas menjura, lalu yang brewok bermuka putih berkata ramah sambil menyunggingkan senyum.


"Marilah duduk sobat kecil, mari...mari, kita minum arak wangi ini."


Sung Han duduk di atas salah satu batu datar yang ada di sana. Memang tiga orang itu tadinya hanya duduk seenaknya mendeprok di atas tanah. Ciri-ciri kaum pendekar, tak pedulikan tempat, asal bisa digunakan untuk beristirahat dan melepas lelah.


"Sobat kecil hendak ke manakah?" tanya seorang lain yang matanya seperti putih semua. Namun sejatinya titik hitam itu kecil sekali.


"Aku hendak mencari seseorang." jawab Sung Han singkat. Tak ingin terlalu banyak bicara akan tujuan sebenarnya. Dia menerima cawan arak yang disodorkan, mengucapkan terima kasih dan meminumnya habis.


"Apakah ada kaitannya dengan sesuatu yang hendak kau tanyakan?" tanya si brewok.


Sung Han meletakkan cawan arak itu, "Benar. Aku mendengar kemarin rombongan besar yang membawa sebuah bendera bertuliskan Dunia Hitam telah lewat sini?"


Tiga orang itu saling pandang, lalu yang rambutnya gundul dan bertubuh pendek, yang sejak tadi belum bicata menjawab, "Benar. Ada apakah memangnya?"


"Ke mana tujuan mereka?" tanya Sung Han dengan jantung berdebar.


"Goa Emas? Goa siluman itu? Tempat bersarangnya demit dan segala macam makhluk halus?" Sung Han bicara spontan dengan kaget.


Si brewok tertawa dan dua orang lain tersenyum, "Buahahaha, kenapa kau kelihatan mengkirik begitu? Bukankah sebagai pendekar kita tahu belaka pastinya yang mengaku dedemit itu adalah makhluk sebangsa kita? Manusia biasa yang punya kesaktian dan dengan angkuhnya mengakui diri sendiri sebagai penjaga goa itu.",


Sung Han tahu itu dan bukan itu masalahnya. Dia memikirkan mengapa rombongan besar itu hendak menantang penghuni Goa Emas yang katanya memiliki kesaktian tidak lumrah manusia? Apakah mereka hendak mengambil emas-emas itu? Jika demikian, mana mungkin pangeran dan Kay Su Tek sebodoh itu sampai mementingkan harta benda daripada memerhatikan keadaan yang demikian gawat.


"Mereka memang golongan hitam dan angkuh sekaligus serakah, tapi jangan kau kira mereka ke sana hanya untuk menggali lubang emas." kata si mata putih yang agaknya dapat menjenguk isi hati Sung Han.


Sung Han menoleh, "Apa maksudmu?"


"Oh, jadi kau belum tahu? Wah, pasti tinggalmu di kota-kota besar ya? Yang banyak wanita cantiknya sampai kau lupa dengan keadaan luar. Pasti kau terlalu lama bermain dengan wanita sehingga ketajaman telingamu mengendur. Hem....sobat kecil, pendekar seperti kita tak boleh lengah sedikit pun juga!" kata si brewok dengan nada menasehati.

__ADS_1


"Lagipula itu berita baru dan masih hangat. Datang dari pesisir. Wajar jika sobat ini belum tahu. Kau jangan berlagak!" tegur si gundul cebol. Dan si brewok hanya cengar-cengir.


Sung Han tak memedulikan itu dan sejak tadi dia memandang kepada si mata putih penuh penasaran dan rasa tak sabar. Sorang itu sadar lalu segera menjelaskan.


"Kekaisaran Jeiji telah menguasai pantai timur daratan selatan. Karena itulah di sana tak ada penjagaan dari pihak kekaisaran. Maka dari itu mereka dapat dengan bebas berkeliaran di pantai timur daratan selatan." orang ini berhenti sejenak untuk mengambil napas. Lalu ucapan selanjutnya dilakukan dengan nada lebih serius, "Mereka dapat melakukan pelayaran dari selatan ke utara sini melalui pantai timur. Dan baru beberapa hari lalu, orang-orang timur sana melihat armada kekaisaran Jeiji sedang bergerak menuju ke utara. Orang-orang menduga, pastilah yang diincar adalah Goa Emas itu."


"Apa?!" Sung Han terkejut, "Lalu siapa yang membocorkan berita tentang Goa Emas hingga bisa sampai ke telinga kekaisaran Jeiji?"


"Para ronin. Samurai tak bertuan itu mungkin saja banyak yang menyamar sebagai pendekar persilatan. Lalu mereka pergi ke utara sini untuk menyelidik dan menemukan keberadaan goa itu." kata si gundul.


Sung Han mencoba menyangkal, "Itu hampir tidak mungkin! Para samurai menjunjung tinggi kehormatan dalam keadaan bagaimana pun juga! Mereka tak mau lepas pedang yang dianggap seperti jiwanya sendiri."


Tiga orang itu saling diam. Mereka memandang Sung Han penuh perhatian.


Si brewok terdengar berkata, lebih serius daripada sebelumnya, "Ucapanmu tidak salah. Tapi agaknya kau lupa jika para ronin itu hanyalah bekas samurai. Mereka bisa saja memegang teguh kehormatan, namun ada pula yang sudah tak peduli lagi."


Wajah Sung Han memucat, jika benar demikian lantas tempat mana lagi yang aman?


"Dan rombongan itu sepertinya hendak menggempur armada kekaisaran Jeiji di sana."


"Apakah karena rombongan itu maka desa ini menjadi demikian hening dan tegang?" ucap Sung Han sambil memandang sekeliling yang nampak lebih sepi.


"Benarlah. Apalagi kemarin ada beberapa orang angkuh yang tak kenal tingginya langit dalamnya lautan. Mereka menantang rombongan itu, dan oleh si buntung itu mereka dihajar habis."


"Si buntung?"


"Ya benar, dia ini ketua golongan hitam yang baru." si brewok menjawab, "Yang satu ini pastinya kau sudah tahu bukan?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2