Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 101 – Kerajaan Manusia Gunung


__ADS_3

Sung Hwa berkemas, mengambil barang bawaannya di buntalan dan pergi keluar kamar. Ketika dia tiba di pintu rumah kepala desa, di sana sudah berdiri Mi Cang, Yu Nan Sia dan Chunglai.


Ketiganya menampakkan ekspresi yang berbeda-beda.


Yu Nan Sia, seorang pemuda tampan yang seumuran dengan dia, berdiri dengan wajah berseri-seri seolah tak sabar hendak berangkat. Senyum lebar selalu menghiasi bibirnya.


Chunglai, pria yang mungkin baru berumur tiga puluhan tahun itu, wajah yang cukup tampan dengan ciri khas tersendiri, jenggot dan kumis tipis, berdiri dengan wajah lega. Tapi juga menunjukkan kepuasan dan kesenangan, sungguhpun tak separah Yu Nan Sia.


Yang paling mencolok adalah Mi Cang. Pemuda yang mungkin dua tiga tahun lebih tua darinya itu sama sekali tidak memandang padanya ketika dia keluar. Ia memandang ke arah lain. Namun keningnya berkerut dalam dan cemberut. Seperti gadis yang merajuk.


"Ayo berangkat." kata Sung Hwa singkat.


Menuruni anak tangga, mereka sudah disambut oleh kepala desa bersama istri dan beberapa pelayan. Tiga ekor kuda paling baik disediakan untuk Sung Hwa, Mi Cang dan Yu Nan Sia. Sedangkan Changlai naik kudanya sendiri.


"Selamat atas kesembuhan nona." kata kepala desa dan membungkuk hormat diikuti istri dan para pelayan. Karena mereka mengira bahwa Sung Hwa ini adalah nona suku orang-orang gunung yang terkenal di sekitaran sana.


Sung Hwa hanya mengangguk sebagai tanggapan. Dengan ringan ia melompat naik ke atas punggung kudanya. Sikapnya gagah sekali.


"Chunglai, tolong pimpin jalan."


"Dengan senang hati nona." pria itu tersenyum lalu menunduk. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke belakang dan berkata kepada kepala desa dan orang-orang di sana.


"Terima kasih kepada kalian semua!! Aku berhasil bertemu kembali dengan nonaku atas bantuan kalian. Terima kasih!" dia membungkuk dalam sekali untuk memberi penghormatan, wajahnya berseri. Lantas dia naik ke punggung kuda lalu menjalankan kudanya.


Keempat orang itu pergi meninggalkan desa diiringi sorak sorai para penduduk yang merasa senang sekaligus bangga telah bertemu dengan "nona" orang gunung, walaupun dalam keadaan lupa ingatan.


Selepas keluarnya dari desa, mereka mempercepat laju kuda untuk memangkas waktu.


...****************...


"Nona..." panggil Mi Cang saat mereka sedang istirahat di hutan. Kebetulan letak Sung Hwa sedikit terpisah dari dua orang lainnya.


"Ada apa?"


"Apakah anda yakin? Ini berbahaya sekali." tegur Mi Cang yang merasa tidak senang atas keputusan nonanya itu.


Sung Hwa memandang ke kejauhan, dia termenung. "Entahlah....aku tidak tahu...." katanya bergumam.

__ADS_1


"Tapi, selain jalan ini, aku bisa apa? Benar apa yang diomongkan juniormu itu, mungkin aku bisa dapat kekuatan." katanya lagi.


"Tapi nona, anda sendiri yang berkata pada kami untuk melupakan pemerintah, seolah anda ingin agar kami terbebas dari dendam. Tapi sekarang apa? Anda sendiri yang telah termakan api dendam!!" Mi Cang sedikit membentak. Seolah menampar wajah Sung Hwa.


Gadis itu menggigit bibir dan menundukkan muka dalam-dalam. Ia mengangkat kedua lutut untuk menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangan.


"Mi Cang, pergilah dan jangan membuat pikiranku semakin gelap. Aku lelah..."


Mi Cang menghela napas berat, wajahnya makin tak enak dipandang. Dengan gusar dia melangkah pergi, namun menyempatkan diri untuk berbalik dan berkata lagi.


"Saya akan terus mengikuti nona, ke mana pun itu. Tapi sekali ini keputusan anda membuat saya sedikit kecewa."


Sung Hwa hanya diam.


...****************...


"Lihat siapa yang datang!"


"Ini sungguhan?"


"Bukan mimpi!?"


Begitu tiba di sana, orang-orang segera memusatkan pandangan kepada Sung Hwa. Seorang gadis cantik jelita yang anggun dan bersikap gagah sekali.


Orang-orang itu pakaiannya amat sederhana, terbuat dari kulit atau bulu hewan. Dan baru kali inilah terlihat kalau pakaian Chunglai adalah yang paling mewah.


Chunglai duduk dengan dada membusung dan digagah-gagahkan. Dia merasa amat bangga dan berjasa sekali telah membawa pulang nona mereka yang hilang selama tiga tahun.


Ada satu anak kecil yang menghadang kuda mereka dan bertanya, "Paman, siapakah kakak cantik itu? aku tidak pernah lihat."


Dari jauh, datang seorang wanita muda yang cantik, agaknya ibu si anak itu. Dia menarik anaknya ke pinggir dan berkata kepada Chunglai, "Maafkan, dia masih kecil..."


"Tak apa." kata Chunglai, lalu melanjutkan, "Dialah nona kita. Nona yang telah hilang beberapa tahun. Nona Songli!"


Setelah ucapan ini, para penduduk yang tadi masih terlalu kaget dan kagum atas kembalinya nona mereka, segera berlutut dan berkata serempak.


"Selamat datang kembali nona Songli!!"

__ADS_1


Sung Hwa yang mendapat sambutan demikian meriah dari semua orang itu menjadi kikuk juga. Ia hanya melambaikan tangan sebagai tanggapan. Bersikap seolah-olah dia memang orang penting di sini.


Si anak tadi memandang kagum dan mengeluarkan sebuah gambar dari balik bajunya, "Dari kecil aku ingin jadi secantik dia. Ternyata orangnya nyata!"


Kiranya itu adalah gambar nona Songli yang mirip sekali dengan Sung Hwa. Terlalu mirip seolah-olah memang orang yang sama. Di dalam gambar, nona Songli mengenakan mantel dari bulu beruang putih. Kepalanya ditutup topi yang pada bagian dahi terdapat tiga batang bulu merak. Di sepanjang topi itu, terajut dengan rapi sebuah ukiran-ukiran indah. Mirip seperti ukiran burung dan naga. Pada kedua telinga, nampak anting-anting yang agaknya terbuat dari batu mulia, karena pada gambar itu terdapat semacam warna-warna berkilauan pada anting-anting tersebut.


"Cantik sekali......" batin Sung Hwa. Tak sadar kalau sekarang itu boleh dibilang dia sedang mengagumi wajahnya sendiri.


Saat itu, Chunglai sudah berjalan lagi. Sung Hwa, Mi Cang dan Yu Nan Sia mengikut saja, membiarkan seruan anak gadis tadi yang sangat ingin membonceng di kuda Sung Hwa tapi ditahan oleh ibunya.


Kiranya perjalanan mereka masih cukup jauh. Dan di sepanjang jalan, mereka mendapat sambutan meriah sekali. Sung Hwa hanya membalas itu dengan lambaian tangan.


Ketika mereka tiba di satu komplek bangunan yang bentuknya berbeda dari bangunan-bangunan sebelumnya, keadaan menjadi tegang.


Prajurit manusia-manusia gunung yang menjaga di gerbang terdepan itu berdiri seperti patung. Diam tak bergerak dengan tombak panjang di tangan kanan. Saat Chunglai lewat setelah meminta ijin untuk bertemu raja, orang-orang ini sama sekali tidak menengok padanya.


"Apakah orang-orang sini tidak mengenal nona Songli?" Yu Nan Sia berkelakar sampai terkikik


"Mereka memang seperti itu. Siapa pun yang datang, bahkan raja sendiri, mereka tak akan memberi hormat." sahut Chunglai yang mendengar kelakar Yu Nan Sia itu.


"Eh, kenapa begitu?" Mi Cang bertanya.


"Itu tugas dan perintah langsung dari raja. Mereka memang sudah seperti mayat hidup, aku pun sedikit tak suka kepada orang-orang ini. Jumlahnya di seluruh kerajaan manusia gunung tak sampai seribu, tapi orang-orang itu adalah yang paling kuat. Hanya mau bergerak kalau saja raja yang menurunkan titah."


Sung Hwa cukup kaget juga mendengar ini. Bahkan seorang yang tadi bertanya kepada Chunglai, gaya bicaranya cukup kaku. Seolah seorang yang saking lamanya diam, sampai lupa cara bicara.


Komplek bangunan itu terdiri dari bangunan-bangunan yang cukup mewah. Masih sama seperti sebelumnya, berupa kubah-kubah batu. Namun kubah-kubah itu sekarang dibentuk saling tumpuk dan bentuknya cukup beragam. Ada yang setengah kubah, seperempat kubah, bahkan lingkaran bola sempurna.


Ditumpuk-tumpuk membentuk satu bangunan aneh tapi juga terlihat mewah jika dibanding bangunan-bangunan sebelumnya.


Saat tiba di bangunan paling besar yang disebut Chunglai sebagai istana, Sung Hwa lebih bingung lagi. Istana itu megah sekali, sungguhpun sederhana. Namun bentuknya seperti rumah manusia pada umumnya, hanya ukurannya yang besar sekali. Bukan berbentuk kubah-kubah.


Sampai di pagar istana, ada dua orang "patung" yang menjaga dan melirik sekilas. Mengenali Chunglai, mereka hanya diam saja menbiarkan rombongan ini masuk.


"Sekarang kita menghadap raja." kata Chunglai yang membuat Yu Nan Sia dan Mi Cang, juga "nona Songli" itu meneguk ludah kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2