
Sekarang bisa dibilang telah resmi bahwa pasukan pendekar terbentuk. Tidak seperti sebelumnya yang walaupun tidak tampak, tetapi masih berbau persaingan ketat, ingin pasukan sendiri yang terkuat.
Benar usul Sung Han, setelah dipilihnya seorang pemimpin, walau ada yang mereasa kurang puas, namun karena keempat pimpinan telah setuju, maka mereka tak berani membantah.
Sung Han memang telah memenangkan pertarungan sengit itu. Dia menjadi pemimpin di antara Raja Dunia Silat. Pemimpin tunggal yang memutuskan segala hal tentang pasukan pendekar sebelum melaporkannya kepada tuan putri.
Selang satu minggu, segera saja pasukan pendekar ini mendapatkan tugas. Mereka diminta untuk bergabung dengan pasukan kota raja yang berdiam di salah satu hutan dekat dusun. Menurut pelaporan, di tempat itu dijadikan sebagai tempat persembunyian pasukan Jeiji. Namun ternyata jumlahnya banyak sekali, lebih banyak dari yang dibayangkan. Maka dari itulah tuan putri mengutus pasukan pendekar ini sekaligus "mencoba" mereka.
Pertemuan antar pemimpin pasukan dilakukan, tentu saja di pekarangan rumah Sung Han karena mereka tidak melihat tempat baik selain pekarangan tersebut.
Pembicaraan panjang dan panas terjadilah. Mereka saling mengemukakan pendapat dan tak jarang ada percekcokan. Strategi dan siasat diajukan, menerka-nerka apa teknik pamungkas yang bisa digunakan untuk menyapu pasukan Jeiji di hutan tersebut.
Akhirnya, setelah berhasil mencapai satu kesimpulan, mereka melapor pada tuan putri dan disetujui. Lantas kelimanya memimpin pasukan, berangkat menuju ke hutan yang dimaksud.
Perjalanan membutuhkan waktu berhari-hari. Mereka melalui jalan memutar karena membawa pasukan serta gerobak makanan. Jika melalui jalur cepat, di mana jalur itu memotong hutan dan lewat jurang atau sungai, akan menyukarkan pemindahan gerobak ransum.
Dari jauh sudah terlihat tenda-tenda milik kekaisaran. Begitu pasukan ini tiba, sambutan mereka adalah dingin. Entah kenapa itu.
Tentu saja alasan paling masuk akal adalah Sung Han dan Sung Hwa yang sebagai mantan pemberontak. Sungguhpun mereka kagum dengan Raja Dunia Silat generasi dua ini, akan tetapi banyak yang menaruh hati tak suka pada mereka. Dianggapnya terlalu sombong sampai berani memimpin pasukan sendiri.
"Apa ini? Apakah paduka putri hanya mengirimkan kalian sebagai bala bantuan?" Namanya jenderal Khu, dia adalah pimpinan pasukan kekaisaran yang menjaga hutan ini. Membuat pembatas agar orang-orang Jeiji tak mampu keluar.
"Benar," jawab Sung Han sejujurnya. "Ada masalah?"
Jenderal Khu sudah membuka mulut, namun tertutup lagi seolah tidak yakin dengan apa yang akan ia utarakan. Dia lalu menyuruh kelimanya duduk dan dijamu dengan daging dan minuman. Bagaimanapun juga, dia masih merasa sungkan dengan yang namanya pendekar.
__ADS_1
"Jadi, mengapa paduka hanya mengirimkan kalian berlima? Tuan-tuan pendekar?" tanya jenderal Khu langsung ke intinya.
"Paduka putri ingin mencoba kami sebagai pasukan baru. Ini adalah tugas pertama."
Terdengar decakan lidah dari seorang perwira tepat setelah mendengar jawaban Sung Han barusan. Bocah kemarin sore, bisa apa? Pikirnya.
"Lebih baik langsung jelaskan apa saja informasi penting di daerah sini. Jumlah musuh, medan pertempuran, atau apa pun yang berguna untuk kami," Sung Hwa angkat bicara sebelum terjadi adu mulut di antara dua pihak. Dia sudah dapat merasakan situasi yang memanas.
Jenderal Khu mengayunkan tangan. Salah satu perwira berdiri dan mengambil peta di ruang dalam. Beberapa saat kemudian dia kembali lalu menggelar peta itu di meja besar.
"Kita berada di sini," tunjuk jenderal Khu ke satu tempat di lereng gunung. Di sebelah utara sebuah sungai. "Dan tempat persembunyian mereka ada di sini," katanya lagi sambil menunjuk satu tempat di balik bukit kecil. Tepat di depan tempat mereka ini.
"Mereka tak bisa lari ke mana-mana karena jalan keluar hanya dari sini. Di sebelah barat mereka, ada sungai besar sekali yang akan membutuhkan waktu jika harus menyeberang. Pasukan kita akan lebih dulu memberi informasi dan kita bisa menyerang saat itu juga," ia menunjuk aliran sungai besar di sebelah barat bukit. "Lalu di utara dan timur ada jurang yang mustahil dituruni sepasukan. Bahkan para pendekar seperti kalian pun cukup kesulitan karenanya."
"Kenapa kalian tak lekas menyerang? Malah meminta bantuan paduka putri?" heran Khuang Peng.
Jenderal Khu saling pandang dengan dua perwira lainnya. Lalu jenderal itu menjawab ragu. "Ada satu ronin hebat yang cerdik sekali. Setiap kali kita menyerang, mereka menghujani kita dengan tembakan panah. Kalau kita balas memanah, mereka diuntungkan dengan satu-satunya keuntungan. Ada banyak batu-batu raksasa di sana yang bisa dijadikan tempat berlindung."
"Apakah Kushinage Tenko, si ronin itu?" Gu Ren bertanya. Dia sudah mendengar kehebatan ronin itu di pertempuran Goa Emas.
"Tak mungkin," potong Sung Han cepat. "Semua orang Jeiji di Goa Emas seharusnya tidak ada yang lolos. Kalau tidak mati tentu tertangkap. Kalaupun ada yang lolos, pasti hanya kroco-kroco saja."
"Lalu siapa?" Nie Chi bertanya.
"Mana kutahu?"
__ADS_1
Merek kembali memandangi peta. Memang di atas bukit itu ada banyak formasi batu-batu besar. Terlihat di peta yang menunjukkan itu semua.
Satu-satunya cara adalah, adu ketahanan. Siapa yang lebih dulu kehabisan makanan, dialah yang kalah. Sung Han memikirkan ini dan dia segera mengatakannya.
"Bagaimana kalau saling menunggu? Siapa yang akan kehabisan makanan lebih dulu, maka sudah pasti dia yang kalah."
Jenderal Khu menggeleng. "Akan lama dan sulit. Perjalanan menuju bukit itu sukar sekali, dan itu bisa dimanfaatkan orang-orang Jeiji untuk berburu di sekitar bukit. Di sana ada telaga, habitat burung, dan rusa serta harimau. Intinya makmur sekali. Akan cukup menghidupi pasukan itu setidaknya dua tiga bulan kalau mereka tidak rakus."
Sung Han dan yang lain terkejut juga mendengar itu. Sesubur itukah?
Mereka tenggelam dalam keheningan, saling memeras otak untuk memikirkan jalan keluar terbaik dari masalah ini. Lebih tepatnya hanya mereka berlima yang memikirkan cara karena tiga tentara berpangkat itu sudah angkat tangan.
Namun salah satu perwira, yang duduk di sebelah kanan jenderal Khu, mencibir. "Kami sudah sering melewati banyak pertempuran dan sekali ini tidak menemukan solusi kecuali menyerang dengan nekat. Tapi hal itu bukanlah pilihan."
Secara tidak labgsung, dia berkata bahwa mereka yang sudah berpengalaman saja tak dapat mencari jalan keluar, apa lagi para pendekar itu yang lebih berfokus pada pertarungan perorangan?
"Strategi gerilya adalah yang terbaik. Mengapa kalian para tentara berpengalaman tidak terpikirkan hal itu?" Sung Han berkata dan diangguki oleh Gu Ren. Orang kedua di Raja Dunia Silat generasi dua.
"Hanya orang-orang pengecut yang menggunakan cara seperti itu," balas perwira tadi.
"Lebih pengecut lagi yang punya pasukan besar tapi tak berani bertindak. Menjadikan bala bantuan sebagai umpan," Sung Han menjawab. Dia memandangi empat Raja lain dan berkata seolah yakin usulnya ini akan diterima. "Kalian, bersiaplah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1