
Jelas terlihat raut keterkejutan dan khawatir di wajah-wajah puluhan orang prajurit pangeran itu. Semua kenal siapa adanya Kakek Pendek Maha Sakti dan Rajawali Si Raja Langit. Dua orang ini bukan lain adalah tokoh-tokoh kawakan jaman dahulu yang sempat menggegerkan seluruh rimba persilatan.
Seakan tak memedulikan rombongan pemerintah itu, mata si kakek cebol berbinar-binar melihat tongkat besi hitam di tangan Sie Kang. Begitu pula Sie Kang yang menyadari akan hal itu bertanya.
"Sobat lama, engkau tahu apa ini?"
"Buahahaha!!" tawa si cebol menggelegar, "Umurku sudah banyak namun mataku tak cukup rabun untuk melihat benda itu. Sahabat seperjuangan, marilah kita bicarakan hal ini nanti, kau pasti tertarik."
Sie Kang mengerutkan kening dan tersenyum. Memang sejak muda dahulu dia bersahabat dengan si cebol ini, wataknya kadang aneh-aneh. Namun yang pasti dia sangat ugal-ugalan dan ucapannya tak pernah kenal sungkan.
"Kita lihat nanti." jawab Sie Kang halus, sungguh kebalikan dari lawan bicaranya.
Selepas pembicaraan antara dua orang sahabat lama yang saling jumpa itu berhenti, keadaan menjadi tegang. Udara yang awalnya sejuk kini seakan menjadi tambah panas dan berat. Semua orang tegang.
Siapa tidak tahu bahwasannya keadaan ini amat berbahayanya. Sekali satu pihak turun tangan, maka akan berekor pada peperangan. Dan itu bisa-bisa melibatkan seluruh tokoh dunia silat. Mengingat nama dua orang yang cukup tersohor itu, akan menjadi ancaman apabila pangeran Chang Song Ci menentang mereka.
Apalagi ada kabar selentingan yang beredar, bahwa dua orang itu merupakan sosok yang biasa disebut sebagai pendekar sejati. Entah benar atau tidak belum ada yang bisa membuktikan.
Akan tetapi jika benar mereka adalah pendekar sejati, yang selalu menjadi idola seluruh tokoh rimba persilatan, apalagi dua orang itu punya nama besar. Maka tak akan mustahil jika salah satunya diganggu, semua tokoh-tokoh silat akan turun tangan. Saat itu terjadi, dengan kekuatannya sendiri, bahkan bantuan kaisar, ia masih ragu untuk menang. Kalaupun menang, bisa jadi seluruh kekaisaran ini akan ambruk.
Beruntung pangeran ini cukup cerdik, dengan tenang dia menghela napas dan menggeleng perlahan. Lantas melangkah maju beberapa langkah disusul dengan menjura dalam.
"Ah...ini hanya salah paham...harap tuan berdua sudi mendengarkan."
"Cuih!!" Wan Jin meludah dan mendarat di tanah tepat di depan sepatu mewah pangeran. Mulutnya tersenyum miring, nampak meremehkan, "Kiranya nyalinya hanya setipis kertas."
"Wan Jin!" tegur Sie Kang halus, namun juga tegas.
Lelaki bercaping itu mendengus singkat bersamaan dengan mengepulnya asap tebal dari mulutnya. Ia berulah lagi, mengarahkan asap itu ke wajah pangeran.
"Wan Jin!!" tegur Sie Kang lagi, kali ini lebih keras. Cepat-cepat ia menarik Wan Jin ke belakang dan dia sendiri yang menghadapi pangeran itu. Setelah menjura baru terdengar kakek yang halus sikapnya ini berkata.
"Jika sahabat-sahabatku tak sudi mendengarkan, biarlah hanya dengan kedua telinga lapuk ini saya akan memerhatikan ucapan Yang mulia."
__ADS_1
Seharusnya dalam keadaan biasa pangeran itu merasa amat girang karena mendapat perlakuan yang demikian menghormat. Namun kali ini dia meneguk ludah, melihat tatapan tua itu, entah mengapa seolah seluruh tubuhnya menjadi berat.
"Ekhm..." dia berdeham untuk menentramkan suasana hatinya. "Kami hanya hendak menolong..." katanya.
"Mereka tadi dikepung oleh Serigala Tengah Malam karena benda....huh?"
Pangeran itu terbelalak dan mukanya pucat. Masih diingat betul olehnya jika tadi kitab rampasannya itu berada di tangan, lalu ia masukkan saku saat dua orang tua ini datang. Namun tadi ketika merogoh, benda itu sudah raib!!
"Yang mulia!" bisik salah seorang tentaranya dari belakang sana. Saat dia menoleh, pangeran itu melihat bahwa tentara yang berbisik tadi menunjuk ke satu arah. Cepat-cepat ia memandang pula dan mukanya makin pucat.
"Hm...hm...kita harus bicarakan ini pula..." si cebol itu berkata acuh tak acuh sambil melihat satu buku kecil. Buku itu tak lain adalah kitab rampasan tadi!!
"Sialan!! Pantas saja kakek peyot ini bisa tenang, kiranya barang mereka sudah diamankan!!" batin pangeran itu tak senang.
"Kami tahu..." Sie Kang berkata, "Kalau begitu, karena aku dan sahabatku sudah datang, maka benda itu sudah cukup aman. Sekarang Yang mulia boleh pergi."
Satu kalimat pengusiran yang terang-terangan! Dan hebatnya pangeran itu tak membantah, justru bernapas lega.
Setelah pasukan itu pergi jauh, barulah Wan Jin buka suara, "Kakak tua, kenapa kau lepas!? Jelas dia sudah bisa menebak kitab itu dari awal, karena itulah mereka mengejar kami!" nadanya jelas penuh tuntutan dan tak puas. Asap mengepul-ngepul dari mulutnya setiap kali bicara.
Dia melanjutkan, "Dia pemberontak. Kalau pun tidak, pasti punya maksud tidak baik karena berani mencampuri urusan dunia persilatan!!"
Sie Kang memandang disertai senyum lembut. Perkataanya sangat halus dan benar-benar menyejukkan hati mereka semua yang tadinya sudah panas oleh emosi.
"Pikirkanlah, jika kita menghabisi mereka di sini, maka kitalah pemberontaknya." lantas dia tertawa lepas seolah sudah lupa akan kejadian tadi. Sie Kang melanjutkan perkataannya setelah itu, "Belum ada bukti dia itu pemberontak, sehingga kalau kita mengganggu maka kaisar pun tanpa punya pilihan harus membela dia. Saat itu, tamatlah kita."
"Memang pandai!! Tak seperti kelompoknya yang kebanyakan anak goblok!" celetuk seseorang yang berhasil membuat darah mereka mendidih. Tapi tak ada yang berani main gila dengan kakek satu itu.
Sie Kang menoleh, masih dengan senyumnya, "Nah sobat, terima kasih atas bantuanmu. Sekarang bisakah kau kembalikan itu pada kami?"
"Nah ini dia!!" seru si cebol itu setelah mendengar ucapan Sie Kang. Tanpa dapat dicegah lagi mereka semua terkejut dengan kelakuan kakek itu yang tiba-tiba melompat berdiri.
Dia terkekeh-kekeh. Bahkan Nie Chi yang sejak tadi diam pun merasa heran bukan main.
__ADS_1
"Heheheh...memang kita ini sahabat sejati, agaknya sekarang ini pun kita berdua kembali akan berbagi untung. Hahaha!!!!"
Sie Kang mengerutkan kening, namun senyumnya tak pernah pudar. "Apakah maksudmu?"
"Tukar!" seru si cebol itu keras, "Kita melakukan transaksi saling tukar, maka keuntungan yang di dapat akan melimpah ruah!"
Semua orang terkejut, bahkan Nie Chi sampai mengeluarkan seruan tertahan. Khuang Peng dan Wan Jin sudah menggereng menehan emosi. Sedangkan Sie Kang yang berpengalaman itu malah makin heran.
"Guru, apa yang kau lakukan?" tegur Nie Chi akan tindakan gila gurunya.
"Heheh..." si cebol itu terkekeh dan tangannya bergerak cepat. Tahu-tahu di tangannya itu sudah tergenggam satu pedang pendek yang panjang bilahnya kira-kira sepanjang siku sampai ke ujung jari. Nie Chi pun kaget sekali kalau gurunya selama ini membawa pedang.
Sedang semua orang Rajawali Putih, memandang terbelalak dengan mulut melongo. Sie Kang pun kali ini menunjukkan perubahan ekspresi, matanya terbelalak lebar.
"Itu...."
"Satu pasang senjata dan kitab, warisan Topeng Merah. Kitab dan senjata Pedang Darah, akan kuberikan pada Rajawali Putih jika saja kalian sudi menyerahkan tongkat hitam itu. Tongkat pusaka warisan Topeng Kuning!"
Tak ada yang mampu mengeluarkan sepatah kata pun mendengar hal ini. Mereka terlalu kaget untuk mencerna suasana. Namun tak dapat dipungkiri bahwa mereka senang mendengar itu. Setelah mendapat kitab Topeng Merah yang di bawa si kusir, kali ini tanpa perlu repot-repot senjata pasangannya sudah datang sendiri.
Mereka semua menoleh melihat Sie Kang untuk menunggu keputusan.
Kakek tua itu termenung sejenak, lalu tertawa. Tanpa ragu lagi ia lemparkan tongkat besi hitamnya. Berbareng dengan itu si cebol juga melempar dua benda itu.
"Kau memang sahabatku. Hahaha, terima kasih. Melihat kelakuanmu, sepertinya kau sama sekali tidak menderita rugi." Sie Kang tertawa sambil mengamati dua benda itu. Dan itu memang asli.
"Hahaha...memang kau pandai menjenguk isi hati orang. Sudah kubilang, tak ada yang rugi, kau sudah paham itu. Baiklah, aku mau pulang. Nie Chi, ayo kembali ke rumah!" tanpa menunggu lagi si cebol itu sudah melesat cepat dan lenyap dari sana diikuti oleh Nie Chi yang masih menyempatkan diri untuk menjura memberi hormat kepada Sie Kang.
Sedang ketua Rajawali Putih itu hanya mampu menggeleng-geleng sambil tersenyum tipis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1