
Ketua Rajawali Putih beserta seluruh anggotanya sudah mempunyai keputusan bulat yang tak bisa dirubah-rubah lagi. Bahwasannya kitab beserta pusaka Pedang Darah itu akan diberikan kepada anggota muda terpandai. Dan itu tak lain adalah Khuang Peng.
Pemuda tampan ini menghampiri ruangan gurunya untuk menghadap. Begitu sampai ternyata di sana sudah ada Sie Kang bersama Wan Jin. Kedatangannya ini disambut dengan senyum ramah Sie Kang seperti biasa.
"Duduklah..." kata Sie Kang mempersilahkan.
Setelah memberi hormat kepada dua orang itu, Khuang Peng lekas menghampiri salah satu kursi dan duduk di sana.
Terdengar Sie Kang berkata, "Kau pasti sudah tahu. Semenjak dahulu sejak kita menemukan tongkat besi itu, maka akan diserahkan padamu. Tapi karena tidak cocok, kau menolak."
"Kali ini sudah dapat yang cocok, berupa ilmu pedang yang tiada duanya." kata Wan Jin menimpali, "Kau seharusnya merasa senang. Ini warisan dari pendekar legenda yang hanya ada dalam kisah dongeng, ada apa dengan raut wajahmu itu?"
Memang wajah Khuang Peng sama sekali tidak menunjukkan kesenangan. Terlihat murung dengan kening berkerut dalam. Dari tadi dia hanya menunduk dan mendengarkan. Ditegur oleh Wan Jin seperti itu, barulah dia mengangkat muka dan berkata.
"Saya merasa tidak tenang." katanya kepada dua orang itu. Kemudian menoleh ke arah Sie Kang lalu melanjutkan, "Apakah pantas saya mendapatkan ini? Saya hanya seorang bocah kemarin sore. Dengan pengorbanan saudara-saudara kita, maka bisa mendapatkan kitab itu. Tapi apakah pantas semua itu jika diberikan kepada saya?"
Sie Kang mengangguk-angguk paham, sedangkan Wan Jin hanya mendengarkan sambil terus menghisap cangklongnya.
"Pikiranmu itu salah!" ucap Sie Kang halus, tapi juga tegas. Jelas ini membuat Khuang Peng bingung sekali.
"Semua ini kami lakukan untukmu, jika kau berkata demikian, maka engkaulah yang tidak berbakti kepada kami." lanjutnya lagi dan menambah kekagetan di hati Khuang Peng.
Dengan mata masih terbelalak, dia bertanya, "Apa maksudnya guru? Apakah kelebihan saya yang muda ini?"
"Kau yang paling lihai di antara semuanya, bahkan di antara kami sendiri." kata Wan Jin seolah tak peduli. Tapi sejatinya dia memerhatikan sejak tadi.
"Mana mungkin!? Paman dan guru adalah dua orang terkuat di Rajawali Putih."
"Khuang Peng." gurunya menegur halus, "Ketahuilah, aku dan Wan Jin, bahkan Kakek Pendek Maha Sakti itu, saat seumuran denganmu kami tidaklah sekuat engkau. Belum ada satu pun orang di dunia ini yang mengetahui kekuatan sejatimu kecuali hanya anggota kita."
Sie Kang menghela napas melihat perubahan ekspresi pada muridnya itu. Dia lanjut berkata dan ini benar-benar membuat Khuang Peng hampir pingsan.
"Maaf kami rahasiakan, tapi engkaulah yang kelak akan menjadi penerus Rajawali Putih."
...****************...
__ADS_1
Di salah satu gunung Pegunungan Tembok Surga, seorang pemuda berjubah putih dan berlengan satu sedang berjalan perlahan mendaki ke puncak. Di punggungnya terdapat sebatang pedang dengan ukiran-ukiran indah.
Walaupun berjalan, tapi jelas dia bukan orang biasa. Buktinya hanya berjalan saja namun dia sama sekali tidak pernah terpeleset atau tersandung lalu tersungkur. Padahal jalan menuju puncak merupakan sekumpulan batu-batu lumut yang licin sekali. Dia berjalan seolah tidak terganggu sama sekali, membuktikan seberapa tinggi kepandaian orang ini.
Melihat dari ciri-cirinya, mudah saja mengenali siapa orang ini. Dia tak lain adalah Kay Su Tek, mantan tuan muda Perguruan Awan yang saat ini sudah lenyap dibumi hanguskan pasukan gabungan pemerintah dan lain partai.
Mata Kay Su Tek berkilat-kilat tajam disepanjang perjalanan. Tangannya selalu terkepal erat.
Hal ini bukan tanpa alasan. Itu adalah karena semua nasib yang dialaminya. Kehancuran perguruan, kehilangan tangan, kehilangan orang tua dan saudara, bahkan gagal nikah!
Semua ini sudah cukup untuk menghimpit batinnya dan membuat ia menjadi sedingin es. Bahkan dia sudah mulai melupakan soal permintaan maaf kepada Yang Ruan karena tak datang menjemput.
Satu yang memenuhi pikiran dan hatinya. Itu adalah balas dendam!
Setelah kehancuran Perguruan Awan, diam-diam dia mendendam kepada pemerintah. Bukan hanya kepada pangeran Chang Song Ci, melainkan kepada seluruh pemerintahan! Kaisar, para pangeran, selir, putri Chang Song Zhu yang bahkan belum pernah dilihat wajahnya. Dia menganggap semua orang atas itu salah dan harus dibasmi!!
Pikiran ini membawa langkah kakinya ke mari untuk memperdalam ilmu-ilmunya yang didapat di goa aneh itu.
Begitu sampai puncak, dia mengangguk puas mengetahui tempat ini yang amat cocok untuk berlatih. Dia berjalan ke bawah pohon besar dan meletakkan buntalan yang berisi tiga kitab pusakanya dan bekal makanan.
Pertama kali yang ia hendak latih adalah Auman Harimau, yaitu di bagian menghimpun tenaga dalam.
Ada satu hal yang belum bisa dipelajari sama sekali oleh Kay Su Tek. Yaitu soal hawa sakti.
"Hawa sakti ya....ini sih masih terlalu sulit untukku. Apalagi untuk hawa sakti tenaga bumi, mana mungkin aku bisa melakukannya?" gumamanya bingung.
Akan tetapi seketika teringat akan ayah bundanya, saudara-saudara seperguruan dan...Yang Ruan!
Semua kepahitan hidupnya itu bersumber pada pemerintah! Andai saja pemerintah tak datang dan menghancurkan perguruannya, mungkin saat itu dia sudah datang ke Perguruan Putri Elang, meminta maaf kepada Yang Ruan, melamarnya dan hidup penuh cinta kasih sebagai suami istri.
Tapi karena biang keladi itu, berupa pemerintah, semua itu tak ada yang terwujud!
Matanya mencorong dan api dendam nampak berkobar jauh di dalam sana, "Aku harus bisa...harus!!"
Lantas dia membaca bagian itu berulang-ulang sampai hafal. Lalu dipraktekkannya dan masih saja selalu mengalami kegagalan, namun dia sama sekali pantang menyerah dan terus memaksakan diri untuk berlatih.
__ADS_1
...****************...
Betapa sedihnya Sung Han saat mengetahui alasan sebenarnya dari Yang Ruan yang mencuri kitab pusaka Naga Hitam. Dia benar-benar tak menyangka jika gadis itu akan jatuh cinta kepada Kay Su Tek, tapi malah gagal dan berakhir seperti sekarang.
"Dia pasti malu punya istri yang tak sebanding dengannya!!" demikian dia berkata pada saat itu sambil menangis hebat.
"Itu hanya pikiranmu saja, mana mungkin Kay Su Tek seperti itu? Buktinya di goa dia sudah mengatakannya kan?"
"Tidak mungkin!" jerit Yang Ruan, "Pasti waktu itu dia merasa sungkan padaku sehingga tak berkata sejujurnya!"
"Beberapa bulan lalu, Perguruan Awan dihancurkan pasukan pemerintah bersama Hati Iblis. Aku ragu kau tak tahu kabar itu?"
Yang Ruan mengelap air matanya dengan cadar miliknya, lantas menjawab, "Aku tahu. Awalnya memang tidak tahu tapi setelah beberapa waktu melakukan pengembaraan aku jadi tahu. Tapi seharusnya dia datang ke tempat perguruanku dan mencariku."
"Memangnya kau sudah kembali ke perguruanmu? Kau bilang kau menyembunyikan diri selama setengah tahun."
Kali ini Yang Ruan terdiam.
"Bagaimana kau bisa tahu dia mencarimu di sana atau tidak? Bisa saja Kay Su Tek datang namun kau tak ada di sana? Sekarang kembalilah dan tanyakan pada saudari-saudarimu di sana." usul Sung Han.
Yang Ruan yang masih sedih sekali itu hanya mengangguk saja. Kemudian pergi dari sana menuruti perkataan Sung Han untuk kembali ke Perguruan Putri Elang dan menanyakan kalau-kalau Kay Su Tek datang mencari.
Demikianlah, sejak saat itu Sung Han berpisah dengan Yang Ruan dan dia melakukan pengembaraan sendiri entah ke mana.
Satu hal yang membuatnya bingung adalah, penurunan kekuatannya. Dia sekarang hendak mencari tempat sepi dan terasing untuk mencari tahu akan diri sendiri lalu meningkatkan kekuatannya.
Maka sampailah ia di sebuah hutan lebat yang cukup besar. Berjalan lebih jauh lagi ke dalam, maka orang akan melihat satu gubuk kecil tak terurus yang disebelahnya ada tebing menjulang tinggi. Di samping gubuk itu ada semacam kandang namun sudah amat kotor dan tak terawat. Sedang di samping rumah di sisi lainnya ada sepetak tanah kosong dengan rumput-rumput tinggi yang menghias. Satu batu kecil berada di tengah sepetak tanah kosong itu, jika diperhatikan itu adalah batu nisan karena di sana terukir satu nama.
Sung Han memandang semua itu dengan tatapan sendu. Dadanya bergetar mengingat kenangan di masa lalu. Dia bergumam lirih.
"Guru...aku pulang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1