Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 145 – Pesan Guru


__ADS_3

"Deeessss!!!"


Sung Han terpental sampai beberapa langkah jauhnya. Ia terkejut ketika mendapati tenaga lawan yang demikian tangguh itu. Matanya terbelalak penuh rasa penasaran ketika dia memandang Naga Bertanduk yang berdiri dengan sikap jumawa disertai senyum remeh.


Setelah menghapus darah di sudut bibir, dia membentak, "Nona Han, apa maksudnya ini!!?"


Namun bukan jawaban yang di dapat, melainkan satu buah pukulan keras yang kembali dilayangkan Naga Bertanduk itu.


"Happp!!"


Sung Han berkelit dengan miringkan tubuh disusul loncatan ke samping. Dia masih fokus ke arah Han Fu Ji yang masih menangisi tubuh ibunya yang pingsan.


Diam-diam dia berpikir, tak mungkin seorang Han Fu Ji yang merupakan calon dayang istana itu akan bertindak tanpa perhitungan. Juga karena tinggal bersama selama beberapa hari ini, dia sadar jika gadis ini lebih pintar dari gadis kebanyakan yang seumuran.


Setelah berpikir beberapa saat yang hanya hitungan detik itu, Sung Han agaknya dapat menyimpulkan permasalahannya.


Kemarin itu, Rajawali Merah berkata jika di desa ini ada seorang lihai yang mengancamnya, dan warga desa disuruh menyerahkan orang itu agar desa tak diganggu. Kini melihat sikap Han Fu Ji, juga para prajurit desa yang hanya bergeming melihat dia diserang, maka maklumlah jika mereka itu telah menumbalkan dia.


Bagaimanapun, agaknya nonya Han itu jauh lebih penting bagi mereka. Dan memang benar demikianlah.


"Plak-plak-desss!!"


Dua kali Sung Han menangkis serangan Naga Bertanduk, namun dalam serangan ketiga, dadanya berhasil kena pukul kepalan tangan tua itu. Akibatnya kembali dia muntah darah dan terjajar beberapa langkah.


"Sung Han, kubantu engkau!" Yang Ruan memekik dan tubuhnya melambung tinggi. Pada saat itu, terdengar aba-aba dari Rajawali Merah dan menyerbulah mereka.


Dibantu oleh Ma Kiu, Han Fu Ji membawa Han Lan menjauh dari medan tempur. Sedangkan para prajurit melindungi mereka bertiga itu dari segala macam serangan nyasar.


Kacaulah keadaan di sana, dua orang melawan kepungan banyak orang itu, walaupun keduanya cukup lihai namun repot juga.


Rajawali Merah melawan Ratu Elang itu merupakan pertarungan yang amat seru. Rajawali Merah memakai pedangnya sedangkan Yang Ruan bertangan kosong. Tubuhnya mencelat ke sana-sini mengirimkan serangan maut, namun karena kepungan itu maka pergerakannya menjadi sedikit terhambat. Sungguhpun jika satu lawan satu, sangat diragukan apabila Ratu Elang tak bisa mengalahkan lawannya.


Keadaan Sung Han lah yang cukup mengkhawatirkan. Dia telah sedikit menguasai hawa sakti, sehingga dapat dibilang jika saat ini dia merupakan seorang pendekar sejati. Akan tetapi Naga Bertanduk merupakan seorang tokoh kosen yang sudah lama mengasingkan diri, baru sekali ini turun gunung. Maka jelas kekuatan mereka terpaut jauh.


Apalagi dengan pengeroyokan banyak orang itu, Sung Han menjadi amat kerepotan.


Ketika mencapai jurus ke enam puluh, Naga Bertanduk menggerakkan dua tangannya hendak menghantam dada Sung Han dengan telapak tangan. Maka dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Sung Han memapaki dua telapak tangan itu.

__ADS_1


"Bllaarrr!!"


Nampak kilat-kilat menyambar ketika dua pasang lengan bertemu dengan hebatnya. Dua macam tenaga raksasa saling terjang dan membuat angin ribut di sekeliling mereka. Batu, kerikil, pasir dan daun-daun kering berterbangan tak tentu arah. Membuat para prajurit desa semakin bergerak mundur menjauhi pertarungan.


Akan tetapi sialnya, ketika dua lengannya masih bertaut dengan sepasang lengan Naga Bertanduk, dari belakang datang dua orang berpedang yang menyabetkan pedangnya. Dalam keadaan seperti ini, jika dia bergerak maka tenaga Naga Bertanduk akan mengenainya telak. Namun jika terus diam maka pedang itulah yang akan melukainya.


Sung Han tak punya pilihan, bagaimanapun kekuatan Naga Bertanduk jauh lebih berbahaya, sehingga dia menerima dua bacokan itu hanya dengan melindungi bagian belakang tubuhnya dengan tenaga dalam.


Namun dua bacokan itu bukan bacokan biasa, melainkan bacokan yang digerakkan oleh ahli-ahli silat. Maka dengan telak, dua serangan itu dapat bersarang di punggung Sung Han.


"Crookkk-crookk!!"


"Sung Han....!!" Yang Ruan memekik penuh rasa ngeri ketika dia melihat kejadian itu. Namun karena ini, dia menjadi lengah dan pundaknya berhasil kena bacok pula dengan serangan Rajawali Merah.


"Crookkk!!"


Pundak itu mengucurkan darah banyak, dan robohlah gadis ini.


Setelah memakan banyak korban, akhirnya mereka berhasil juga menundukkan dua orang muda yang lihai bukan main itu.


...****************...


Rombongan ini terpaksa berhenti ketika mendengar lengkingan seorang gadis di belakang sana. Secara refleks semuanya menoleh, tak terkecuali dengan dua tawanan itu.


Hanya bedanya, yang lelaki menoleh dengan senyum tipis. Sedangkan yang gadis menoleh dengan mata tajam mendelik penuh kemarahan.


"Nona Han!" Ma Kiu berteriak karena khawatir akan nonanya. Namun gadis ini tak peduli dan terus melangkah maju mendekati Sung Han yang sudah terbelenggu itu.


"Ada apa?" tanya Sung Han lembut.


Mendengar ini, makin sakitlah hati Han Fu Ji. Tanpa sadar, dia mulai terisak dan meneteslah air matanya. Dia menubruk Sung Han, memeluki kakinya dan menenggelamkan wajahnya pada punggung kaki Sung Han.


"Maaf....maaf.....maafkan aku....."


"Bocah setan!! Kau masih bisa bicara soal maaf!? Kubunuh kau!!" bentak Yang Ruan yang merasa geram sekali. Kalau saja tidak dibelenggu dan dipegang beberapa orang, sudah pasti kakinya akan menendang untuk menghancurkan kepala gadis itu. Dia merasa amat bencinya kepada nona Han yang sudah mencelakakan Sung Han itu.


"Setelah kau jadikan tumbal, sekarang kau hendak minta maaf!? Perempuan rendah tak tahu malu!!!" bentaknya lagi.

__ADS_1


"Yang Ruan!" tegur Sung Han dengan suara lemas. Namun tetap tegas.


Sung Han kembali memandang Han Fu Ji, lalu memandang ibunya yang sudah bangun. Dia berkata lagi, "Nona Han, mengapa tak kau katakan terus terang dari awal. Jika demikian, aku pasti akan menyerahkan diri."


"Tapi....aku...aku takut..."


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Lagipula...." dia kemudian menatap Naga Bertanduk yang berdiri di depan sana, memandang tak acuh dengan kejadian ini, "Aku tak akan dibunuh mereka."


Mendengar ini, Naga Bertanduk menyeringai, "Ah....kau cukup pintar."


"Sudahlah, kami pergi dulu. Jaga ibumu." setelah itu dia melepaskan pelukan Han Fu Ji sedikit paksa dan pergi dari sana bersama Yang Ruan yang juga tertawan.


Han Fu Ji bangkit, air mata masih menetes di matanya. "Kenapa kau melakukan ini? Apa kau tak merasa benci padaku!?"


Sung Han berhenti, namun tak menoleh.


"Kau lemah terhadap wanita!?" Han Fu Ji berteriak lagi. Kali ini Sung Han tersenyum.


"Aku bertindak benar!!" katanya tegas, "Sesuai pesan guruku." setelahnya dia kembali berjalan tanpa mampu menoleh lagi.


Sedangkan di belakang sana, sampai lama kemudian Han Fu Ji masih tak dapat bangkit berdiri saking menyesalnya. Menyesal pada diri sendiri, menyesal pada kelemahannya sendiri.


"Aku akan mengingat kalian!!!" teriaknga setelah rombongan itu tiba jauh.


Kemudian terdengar balasan, "Aku juga akan mengingatmu. Setelah bebas dari mereka ini, kubunuh engkau!!" bentak suara wanita dengan galak.


Mendengar balasan Yang Ruan itu, Sung Han menghardik, "Yang Ruan, apa yang kau katakan?"


"Mengapa? Mereka mengkhianati kita!!" Yang Ruan berkata penasaran, "Kau memaafkannya begitu saja? Demikian naifnya engkau!!?"


Dengan kening berkerut Sung Han menjawab, "Aku bukannya naif. Memang aku masih naif tapi tidak senaif itu." kemudian dia melanjutkan, "Aku hanya menuruti pesan guru."


"Pesan apa!?" Yang Ruan masih merasa tak terima.


"Jadilah orang baik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2