Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 211 – Sahabat Kami


__ADS_3

"Aku ke barat kau ke timur," bisik Sung Han sesaat sebelum penyerangan datang. "Kita bertemu di desa Alang-Alang. Dari selatan sebelah sini."


Sung Hwa hanya mengangguk karena ridak ada kesempatan untuk menjawab lagi. Musuh pertama sudah menerjangnya dengan buas, meninju leher dan kepalanya.


Sedangkan di sisi Sung Han, tiga orang sudah bergerak menerjangnya dengan serangan-serangan maut.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Sung Han dan Sung Hwa mencabut pedang gerhana dan mengamuk. Beberapa pengeroyok baris pertama langsung tumbang tanpa ada yang selamat. Namun orang-orang itu terus mendesak maju tanpa keraguan sungguhpun rasa jeri mulai merayapi tubuh mereka.


"Hyaaatt!!"


Satu tebasan, tiga pedang terpelanting entah ke mana. Sung Han melanjutkan serangan berupa tebasan ke arah sebaliknya, tiga orang tumbang dengan luka lebar di dada mereka.


Pengeroyok Rajawali Merah itu dibuat pusing tujuh keliling. Tubuh gadis muda yang berkelebat ke sana-sini itu amat membingungkan. Kadang-kadang melayang ke udara, kadang menyerang dari bawah. Tak jarang melakukan gerakan memutar yang entah dengan cara bagaimana, kedua kaki dan pedang sudah mengirim serangan dengan hampir berbareng.


Orang-orang itu sebenarnya mulai merasa jeri. Hanya karena tamak dan nekat saja sehingga mereka memaksa diri untuk terus maju.


Di sisi lain, Sung Han dan Sung Hwa maklum jika mereka terus memaksa melawan, akhirnya akan roboh juga. Maka dari itulah sambil menyerang, mereka mencoba mencari jalan keluar sebisa mungkin. Sung Han ke barat dan Sung Hwa ke timur.


...****************...


Di puncak sana, setelah semua orang pergi, tiga orang pertapa itu masih setia duduk di tempatnya masing-masing. Duduk bersila dalam diam sampai cukup lama. Bahkan sampai dua hari mereka duduk di sana bermeditasi tanpa memedulikan keadaan sekitar.


Salah satu kakek membuka matanya. "Hm..." dia bergumam.


Dua kakek lainnya membuka matanya.


Memang tiga orang kakek ini cukup aneh. Sudah dua hari lamanya mereka tak berpindah tempat duduk sejak berakhirnya pertarungan Pedang Gerhana. Dan baru sekarang inilah mata mereka nampak terbuka.


Namun walau sudah terbuka, sampai dua jam kemudian baru ada yang mengeluarkan suara.


"Apa kemarin lalu aku tidak salah lihat?" ucap salah satu dari mereka. Yang tubuhnya paling besar dan tinggi. "Itu Tok Ciauw bukan?"


"Kau pikir kami buta?" jawab kakek di samping kirinya yang matanya putih semua. "Itu Tok Ciauw, kami mengenalnya. Siapa yang dapat melupakan orang itu?"

__ADS_1


Kakek yang berada paling kanan, yang paling pendek dan botak menyahut. "Iya, itu Tok Ciauw. Tidak salah lagi."


Lalu kakek yang pertama kali buka suara, yang berada di tengah berkata. "Jadi dia yang terpilih," ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Itu artinya–"


"Belum tentu," potong kakek pendek botak. "Dia mewariskan ilmunya kepada Sung Han bukan karena sudah mati."


"Tapi mempersiapkan untuk mati."


Si botak tak bisa menemukan jawaban tepat untuk menyangkal ungkapan itu.


Yang sebelah kiri mengungkapkan pendapatnya. "Intinya pemuda itu termasuk orang yang beruntung. Tenaga inti buminya bukan kepalang dahsyatnya, hebat."


Dua kakek lainnya mengangguk.


Setelah itu kembali keheningan yang menyelimuti mereka. Memang watak tiga orang itu aneh-aneh, atau tidak aneh menurut mereka sendiri yang di mana tindakan normal bagi mereka itu sudah terlampau aneh bagi lain orang.


Ketiganya duduk bersila, tidak bersemedi, hanya duduk saja diam memandangi apa yang bisa dipandang. Kadang suara bersin atau batuk atau menguap memecah keheningan sesaat. Entah tindakan itu murni alami karena panggilan alam atau disengaja untuk sekadar memastikan mereka memang manusia.


Kedua kakek itu, melihat dari ekspresinya, jelas nampak ragu. Lalu kakek yang bermata putih menjawab. "Kepandaiannya setinggi langit."


"Namun pengeroyoknya bukan para kroco," kakek sebelah kanan menimpali. Kakek pendek botak. "Tak mungkin dia menang sendirian."


"Bagaimana baiknya? Memandang muka si kakek peti itu yang menjadi majikan Goa Emas, senagai tokoh-tokoh tua, apakah kita akan mendiamkan saja dia mati?"


"Hem..." kakek botak itu nampak berpikir. "Aku ada rencana."


"Apa?" kakek mata putih menyahut tak sabar.


"Bagaimana kalau kita awasi dia. Selama masih berada dalam wilayah pegunungan ini, kita sebagai majikan tak boleh membiarkannya mati."


"Bagus, aku setuju," kakek yang di tengah menanggapi. "Selama masih di pegunungan ini."


"Selama masih di pegunungan ini." ulang kakek mata putih.

__ADS_1


Seakan tiga pertapa ini dapat berkomunikasi melalui telepati, tanpa berkata apapun tubuh mereka tahu-tahu sudah lenyap dari sana. Meninggalkan jejak berupa beberapa daun kering yang berpindah dari tempatnya. Selebihnya, seolah mereka tidak ada di sana sejak awal.


Dengan kecepatan yang di luar jangkauan nalar manusia, tiga orang pertapa itu mengarungi hutan bagaikan orang terbang saja. Tahu-tahu sudah tiba di tempat pengeroyokan Sung Han dan Sung Hwa. Yang di mana keadaan di sana amat mengerikannya, banyak tubuh manusia malang melintang tak karuan.


Tepat beberapa puluh tombak sebelum tiga kakek pertapa itu datang, Sung Han dan Sung Hwa ternyata sudah mendapat jalan keluar dan buru-buru mereka melarikan diri sesuai rencana awal.


Belasan orang yang tersisa itu bergerak hendak mengejar. Namun seruan penuh wibawa dari kakek mata putih berhasil mengurungkan niat mereka semua.


"Hentikan pertarungan," demikian suara itu menggema dan pengaruhnya amat luar biasa. Siapa pun dari mereka yang mendengar, seakan ada sebuah tangan tak kasat mata yang meremas jantung mereka beberapa saat. Seketika niat awal mereka untuk mengejar lenyap.


Tiga kakek pertapa itu telah berdiri di tiga tempat berbeda membentuk formasi segitiga yang mengurung belasan orang itu. Menahan mereka agar tidak melarikan diri lebih jauh lagi.


"Ada apa ini? Apakah para manusia setengah dewa macam kalian hendak mencampuri urusan orang lain?"' bentak salah satu orang. Entah memang jumawa atau nekat atau tak kenal tingginya gunung dalamnya laut.


Salah satu dari tiga pertapa, si tinggi besar, menggeleng dan tersenyum. "Apakah kau kenal siapa si pemuda itu?"


"Dia Sung Han, satu di antara tiga pemberontak terkenal. Dan yang satunya lagi Rajawali Merah. Dua pemberontak kenamaan muncul di depan mata dan kalian menghalangi kami untuk membunuhnya. Bukankah ini pemberontakan?" orang tadi berkata semakin angkuh. Sedangkan yang lain wajahnya memucat dan mengutuk orang itu dalam hati. Tak kenal sopan santun!


"Si pemuda itu murid Tok Ciauw, dan dialah yang mewarisi gelar Tok Ciauw berikutnya."


"Tak peduli siapa Tok Ciauw atau apapun, yang jelas–"


"Kalian tak pernah dengar soal penunggu Goa Emas dari utara?" si botak pendek menyahut.


Semua orang terkejut. "Apa maksud anda?" salah seorang yang lebih beradab menjawab.


"Dia murid orang itu, murid penunggu Goa Emas, murid Tok Ciauw. Dan selamanya, baik Goa Emas atau Tok Ciauw adalah sahabat kami!" tegas gundul pendek.


Yang mata putih menambahkan. "Tak ada yang boleh menyentuh Tok Ciauw di wilayah kami!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2