Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 91 – Formasi Serigala Tengah Malam


__ADS_3

"Sial, kita kehilangan dia!"


Kakek cebol itu mengumpat ini dan itu begitu mengetahui satu fakta bahwa mereka telah tertinggal jauh oleh si kereta kuda. Nie Chi yang berada di sebelahnya tak bisa berbuat apa-apa kecuali memandang ke kanan kiri dengan tatapan bingung.


Selepas keluar dari daerah berbahaya berupa jalanan menurun terjal di sebelah tebing, kiranya saat itu jalan selanjutnya berupa jalan setapak kecil. Sungguhpun begitu sangat rapih dan halus. Memudahkan lelaki tua kusir kereta itu untuk melakukan perjalanan cepat.


Sampai di sini, sepasang guru dan murid itu masih bisa mengikuti dengan baik. Hingga sampai ke sebuah pertigaan, dan kusir itu mengambil jalan kanan. Kemudian baru beberapa puluh meter ada sebuah jalan pertigaan lain. Kusir itu kembali memilih ke kanan.


Pada perempatan berikutnya, ia membelok ke jalan paling kiri. Lalu ketika ada sebuah simpang lima, dia mengambil jalan serong kanan yang berupa padang rumput luas. Sampai di sini dua orang itu masih dapat mengikuti dengan jelas.


Tapi celaka bagi mereka bahwa di dalam rumpun alang-alamg itu terdapat banyak sekali ular dan berbagai macam hewan beracun seperti kalajengking, kelabang, ratusan kecoa dan lain sebagainya.


Maka repotlah dua orang ini berloncatan dan sesekali mengirim pukulan tenaga dalam. Kusir itu dapat selamat karena selain melakukan perjalanan cepat, juga hentakan kaki kuda dan suara gaduh yang ditimbulkan roda kereta cukup membuat hewan-hewan ini berbalik arah ketakutan. Tapi begitu melihat dua orang biasa, mereka menjadi beringas.


Dan demikianlah, sekeluarnya dari padang rumput alang-alang, mereka mencapai persimpangan lain. Berupa simpang empat.


"Menurut guru, kita harus ambil jalan mana?" Nie Chi bertanya.


"Gurumu mana tahu!?" bentak kakek itu bersungut-sungut sambil membanting kakinya. "Keempat-empatnya kelihatan sama semua, mana bisa aku menebak ke mana arah perginya orang itu?"


"Hah...." Nie Chi menghela napas lelah. Sudah sejauh ini, mana mungkin mereka kembali lagi. Tapi sejatinya Nie Chi amat penasaran dengan gurunya itu, dia lekas bertanya.


"Guru, mengapa tiba-tiba guru mengajakku untuk mengejarnya? Bukankah awalnya guru tidak mau?"


Kakek ini mendengus dan bersedekap dada, "Hmph, aku melihat sesuatu mencurigakan tadi. Sekarang ini kita melakukan pengejaran hanya karena aku penasaran." katanya. Selang beberapa saat, dia kembali berkata sambil mengambil jurusan acak, "Sudahlah, lupakan. Ayo lanjutkan perjalanan."


Namun ketika Nie Chi hendak mengekor, telinganya mendengar suara bentakan dari kejauhan sana. Gurunya tidak tuli, ia bahkan bisa mendengar lebih jelas.


"Kutarik kata-kataku, ayo ke sana lebih dulu!"


Maka bergegas guru dan murid ini berlari-larian menuju jalan yang paling kanan. Mereka mengerahkan ilmu lari cepatnya sehingga sebentar saja sudah tiba di tempat asal suara tadi.


Mendadak dua orang ini berhenti dan bertiarap untuk menyembunyikan diri di balik semak belukar. Mata mereka melotot dan napasnya sedikit memburu saking tegangnya.

__ADS_1


Kiranya di depan sana ada beberapa orang yang berkelebat cepat sekali. Andai saja dua orang ini tidak lekas tiarap, maka akan ketahuan.


Salah datu dari mereka berseru, "Dia ini orang Rajawali Putih! Tokoh tua."


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Jangan banyak tanya!! Kau sudah gagal memimpin rombonganmu dan sekarang hanya menyisakan tiga orang beserta engkau! Ikut aku, aku sudah menerima surat dari senior melalui burung pengantar pesan. Katanya orang itu sedang menuju utara dan saat ini senior sedang melakukan pengejaran." seorang pria bertopeng dan satu-satunya pemakai topeng dari empat belas orang itu berkata.


"Ayo ikuti!" gurunya lekas berdiri dan membayangi empat belas orang itu.


Mereka mengikuti terus sampai senja bahkan malam hari. Dua orang ini tak berani berhenti hanya sekedar untuk membuat obor. Selain takut kalau sampai ketahuan, mereka juga tak ingin ketinggalan jauh.


Empat belas orang itu sungguh luar biasa, kiranya mata mereka sudah sama baiknya dengan mata kucing! Mampu melihat dalam kegelapan.


Dalam cuaca remang-remang yang hanya diterangi oleh cahaya purnama itu, mereka terus bergerak cepat.


Sedang dua orang tua dan muda itu harus menelan kenyataan pahit ketika mereka tiba di salah satu anak bukit, empat belas orang ini membelok ke kanan. Namun ada satu orang yang tanpa sengaja menyerempet dahan pohon di sebelah kiri, membuat dahan itu sedikit bergoyang. Celakanya, dua orang guru dan murid itu mengira bahwa orang-orang yang sedang dikejar sedang menuju ke arah kiri karena goyangan dahan pohon itu. Maka tanpa ragu keduanya membelok kiri.


Demikianlah, singkat cerita dua orang itu yang terdampar di salah satu desa dan membantu Yang Ruan menghadapi serbuan Serigala Tengah Malam.


...****************...


Setelah melalui perjalanan tanpa henti, akhirnya si kusir kuda sampai di tempat pertemuan. Yaitu di sebuah tanah lapang luas di tengah hutan itu.


Dan seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, betapa Khuang Peng bersama Wan Jin dikepung oleh puluhan orang berjubah hitam.


Begitu Khuang Peng memandang lebih teliti, terkejutlah ia dan berkata kepada Wan Jin, "Paman, mereka dari Serigala Tengah Malam!"


Wan Jin kaget mendengar ini. Bagaimana pun juga, nama Serigala Tengah Malam sudah cukup tersohor sebagai golongan perampok kejam. Dengan keberadaan para anggota bertopeng yang jumlahnya banyak sekali, membuat para pendekar kosen pun cukup repot menangani perkumpulan satu ini.


Bahkan ada kabar beredar bahwa semua perampok dan penjahat di wilayah utara ini, mereka adalah kaki tangan ketua Serigala Tengah Malam.


Saat ini, rombongan lima puluhan orang itu semuanya terdiri dari orang-orang bertopeng. Maka tahulah Wan Jin bahwa saat ini sedang dikepung oleh anggota inti dari perkumpulan itu.

__ADS_1


"Serahkan kitab itu dan kami akan menyudahi semua urusan ini!" teriak pimpinan mereka. Bertubuh tinggi besar dengan sepasang golok tergantung di pinggang.


"Hah, bilang apa kau? Kalian meremehkan Rajawali Putih?" bentak Wan Jin.


Khuang Peng sudah meloncat turun dengan pedang di tangan. Sikapnya yang tanpa menunjukkan tanda-tanda ketakutan itu nampak gagah sekali.


"Kiranya Rajawali Putih sudah tak sabar untuk dipunahkan. Bagus!! Serbu!!" seru orang itu.


Dua puluhan orang ini telah bersiap, namun betapa mendongkol mereka saat lima puluhan orang itu berbalik dan pergi. Mereka mengumpat kesal. Namun Wan Jin yang lebih awas daripada lainnya segera berseru memberi perintah.


"Mendekat ke sini, lindungi paman tua!! Jangan sampai benda itu jatuh ke tangan musuh!"


Tak ada yang berani membantah. Lekas dua puluhan orang itu mengurung kereta kuda dan membentuk formasi pertahanan yang nampak kuat. Wan Jin yang masih berdiri di atas kuda terus mengawasi.


Tiba-tiba, dari arah atas meluncur dua orang berpedang yang menargetkan si paman tua. Dua orang hendak meloncat namun Wan Jin sudah lebih dulu berseru.


"Hadapi yang di bawah sana, biar kuhadapi yang ini!"


Setelah itu, dengan kecepatan yang tak terlihat, cangklongnya digerakkan menusuk dua kali ke arah lawan. Akibatnya menyambar angin halus berasap yang segera menyapu dua orang itu.


"Aaghh-uaagh!"


Terdengar pekik-pekik kematian saat dua orang itu berkelojotan di udara dan mati kaku begitu menghantam tanah. Inilah mengapa dia sampai mendapat julukan Si Asap Guntur.


Bersamaan dengan munculnya dua orang itu, berturut-turut sepuluh orang dari dalam hutan melesat cepat menyerbu. Disusul oleh belasan orang lain yang siap mengirim serangan kejutan dari belakang kawan-kawannya.


"Bangsat!" umpat Wan Jin melihat formasi lawan yang demikian tangguh dan tangkas. Sulit mencari celah, selain bisa digunakan menyerang, juga mampu bertahan.


"Jangan sampai mereka menyentuh paman tua!" seru Wan Jin dan dia melompat turun. Bersama saudara-saudara lainnya, ia mengamuk hebat dengan cangklong dan tamparan-tamparan tangan kiri. Kadang juga topi capingnya ia lempar atau kibaskan untuk mendesak serbuan ketat itu.


Tapi nyatanya formasi itu demikian aneh namun juga amat kuat. Jika baris pertama mendapat serangan, dia cepat menghindar dengan lompatan tinggi ke belakang. Disusul kawan dari baris kedua yang mengirim serangan. Terus berulangan seperti itu sehingga sulit bagi Pihak Rajawali Putih untuk mengambil nyawa lawan-lawannya. Sehingga sampai berpuluh-puluh jurus kemudian, dua kelompok itu sama kuat dan baru memakan enam korban jiwa di pihak masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2