Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 86 – Kedatangan Sung Han


__ADS_3

Sejak hari di mana Sung Han dikeroyok oleh banyak orang bertopeng itu, pemuda ini terus melacak keberadaan mereka. Tak bisa dipungkiri kelompok bertopeng itu lihai dan licin sekali.


Setiap perjalanan, saat melewati kota atau desa, Sung Han selalu bertanya-tanya pada orang sekitar untuk mendapat keterangan. Dan hal itu sedikit mengecewakan Sung Han karena sedetail-detailnya keterangan, beginilah yang paling detail dari semuanya.


"Aku tak pernah lihat mereka, hanya saja beberapa waktu lalu aku melihat ada seorang bermantel hitam dan bertopeng sedang istirahat di sungai."


Tentu saja Sung Han menjadi tertarik, maka dia lanjut bertanya, "Lalu dia pergi ke mana paman?"


"Mana kutahu? Tidak kuikuti. Kukira dia hanya orang-orang rimba persilatan yang suka berpenampilan aneh."


Sung Han kembali bertanya, "Di mana sungai itu paman?"


"Ke arah sana, di tengah hutan, tak terlalu jauh dari sini."


Maka setelah menghaturkan terima kasih, Sung Han lekas pergi ke hutan yang tadi ditunjuk oleh paman tersebut. Dia melakukan perjalanan cepat, mengerahkan seluruh kepandaian meringankan tubuh agar bisa cepat sampai sana.


Namun betapa kecewa dan penasaran hatinya karena berpikir akan menemukan jejak di sungai itu, tapi nihil, sama sekali tidak ada sesuatu. Akhirnya Sung Han memutuskan untuk beristirahat sejenak di sana dan lanjutkan perjalanan mengikuti arus sungai.


Dalam keadaan seeperti ini, dia termenung memikirkan pedang pusaka di tangan Kay Su Tek waktu itu. Tak salah lagi, walaupun baru pertama kali dilihat, tapi bentuknya sama persis dengan Pedang Gerhana Matahari. Hanya ukiran di bilah pedang saja yang warnanya beda, juga sarung pedang yang sedikit lain bentuknya.


Tanpa sadar dia teringat akan kutukan pedang itu. Yang katanya jika pemiliknya sama lelaki atau sama perempuan, maka tak ada pilihan lain bagi keduanya selain saling bunuh.


Sung Han menggeleng-geleng cepat mengusir pikiran tersebut. Ia lebih menguatkan hatinya untuk lebih fokus ke tugasnya kali ini, yaitu mencari gerombolan pria bertopeng.


Selang beberapa hari, betapa girang hatinya ketika tiba di satu desa dan bertanya, dia mendapat keterangan yang cukup bagus.


"Yang kau maksudkan para perampok dan pencuri gadis itu?" seorang wanita empat puluhan tahun berkata, wajahnya nampak kesal dan sengit.


"B-benar bibi!" jawab Sung Han sekenanya.


Orang ini membanting barang dagangannya penuh emosi, lalu menjawab, "Setan-setan biadap itu, mereka pergi ke barat!! Setelah selesai mengobrak-abrik desa ini, mereka pergi membawa sebagian harta kami!!"


Lalu dia melanjutkan sambil bersungut-sungut, "Katanya gerombolan mereka bernama Serigala Tengah Malam!"

__ADS_1


"Ah, terima kasih bibi!" Sung Han menjura hormat dan saat itu juga dia pergi meninggalkan desa menuju barat. Hatinya tak tenang karena Serigala Tengah Malam itu pasti akan mencari mangsa lagi di lain dusun.


Pada malam harinya ketika dia ingin istirahat di satu hutan, matanya melihat cahaya terang jauh di sana. Begitu diperhatikan kiranya cahaya itu berasal dari sebuah dusun yang dikelilingi oleh lahan-lahan sawah luas.


Sung Han yang ingat akan ucapan bibi itu segera bangkit dan menuju ke sana. Dalam benaknya, dia berpikir bisa jadi ini adalah Serigala Tengah Malam. Mengingat nama dan keadaan saat ini yang memang tengah malam.


Selang beberapa waktu akhirnya dia tiba di desa itu dan betapa kaget ia mengetahui keributan di sana. Para penduduk desa dosandera oleh orang-orang bertopeng yang sudah Sung Han kenal.


Dia melompat ke atas atap rumah dan mengintai. Kemudian betapa terkejut hatinya mengetahui tiga pendekar yang sudah dikenalnya.


Pertama adalah kakek cebol aneh yang kala itu ditanya oleh Sung Han di mana tempat Ki Yuan. Kakek ini adalah sosok yang dahulu itu keluar dari rumah terbalik. Ada pun seorang pemuda yang berdiri di belakang si kakek, memerhatikan setiap gerak-gerik kakek itu yang sedang bertarung sengit, dia juga mengenalnya. Itu tak lain adalah seorang pemuda yang ia tahu bernama Nie Chi.


Kemudian satu orang gadis berjubah putih, bercadar dan bersenjatakan dua kipas, yang bertempur melawan kakek bertopeng dengan hebatnya. Jelas ia ingat siapa itu. Dia adalah Yang Ruan!


Melihat gadis itu tak mampu mendesak lawan, setelah berpikir sejenak akhirnya Sung Han ambil tindakan.


Dengan gerakan ringan dia meloncat tinggi bagai burung walet. Kemudian menukik turun dibarengi oleh teriakan nyaring yang berasal dari tenggorokannya.


Ia memekik dan menghindar ke kanan. Sekaligus menghindarkan diri dari serangan Yang Ruan.


Melihat ada orang datang, gadis itu cepat-cepat menghentikan serangan dan mundur.


"Ah, Sung Han!" kata orang ini tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, "Syukurlah kau selamat!"


Sung Han hanya mengangguk singkat saja, tak ada waktu untuk sekedar bertegur sapa setelah sekian lama tak saling jumpa. Karena pada saat itu lawan sudah menerjang, kali ini disertai gerengan seperti harimau marah dia menubruk Sung Han.


"Hiaaatt!!"


Pekik nyaring terdengar, dan Sung Han melongo dibuatnya. Dia persona, sampai lupa daratan bahkan lawannya sendiri yang kini sedang menubruknya. Jantungnya serasa berhenti beberapa saat.


Tepat ketika pekikan itu terdengar, dari belakang Sung Han, Yang Ruan sudah melompat tinggi. Kedua tangan dipentangkan lebar dan kaki lurus. Karena jubahnya yang lebar, seolah gadis ini berubah menjadi sosok elang putih di bawah sinar bulan.


Yang mengagumkan lagi dan membuat semua orang berseru adalah, ketika Yang Ruan mengibaskan dua lengan ke depan. Dari kipas dan lengan jubahnya, menyambar angin badai yang hebat sejakali. Bahkan suaranya pun benar-benar terdengar seperti angin badai.

__ADS_1


Warga desa yang merupakan orang biasa tak kuasa menahan itu dan terpental. Tapi tidak dengan Sung Han!! Dia makin terpesona.


"Uhhhh!!" kakek itu mengeluh dan terjajar sejauh tiga tombak.


Tak berhenti sampai di sana, yang lebih mengagumkan lagi adalah ketika kedua tangan gadis itu digerak-gerakkan bagai seekor burung terbang, dia benar-benar terbang dan melayang di udara!!


Yang Ruan terbang ke arah lawan dan begitu dekat kakinya bergerak dengan kecepatan kilat. Kaki kanan menendang kepala sedang kaki kiri mengarah leher. Dua serangan berturut-turut yang lihai dan berbahaya sekali.


"Uaahhh!!" si kakek terkejut dan buru-buru mengelak serta menangkis. Namun saking cepatnya gerakan Yang Ruan, maka tulang pundak kiri dan rusuk kirinya patah!


"Akkhh!!" kakek itu memekik, lalu terhuyung sebelum roboh kesakitan.


"Wahhh....!!" tanpa sadar Sung Han berseru. Bagaimana tidak, hanya dengan bantuannya yang sesaat itu saja, Yang Ruan sudah dapat melihat kesempatan dan menyerang sehebat itu.


Bahkan para pengepung yang tadi sibuk menyandera warga desa, kini tak bergerak beberapa saat mengagumi gadis itu.


Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari satu sisi, "Huahahahahaha!!!"


Kiranya itu adalah kakek cebol yang masih menghadapi kakek topeng rambut panjang. Agaknya kakek ini berniat mempermainkan musuhnya.


"Bukan nama kosong!! Memang benar-benar Ratu Elang!! Cantik seperti ratu, lincah gesit seperti elang!! Bagus...bagus, pendekar muda jaman sekarang tidak mengecewakan!"


Sung Han kaget sekali mendengar nama julukan itu, kiranya Yang Ruan yang itu telah mendapat julukan sebagai Ratu Elang! Bukan main.


Tapi pada saat itu sudah datang seorang lawan yang berniat merobohkan Sung Han. Pemuda itu cepat berbalik dan menghantam wajahnya, orang itu roboh seketika.


Saat itu terdengar suara kakek lawan si cebol yang berteriak nyaring, "Itu dia!! Tak salah lagi, pastilah dia orangnya!! Cepat panggil bantuan!!"


Seketika semua orang yang tadi menyandera warga desa, mengalihkan perhatian dan lekas mengeroyok Sung Han. Pemuda ini sebisanya menghalau hujan senjata itu, tapi demi menjaga identitas yang agaknya sudah diketahui, juga karena kekuatannya melemah, sedikit banyak menjadi repot juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2