Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 153 – Terjebak


__ADS_3

Keduanya sama-sama terkejut oleh kenyataan ini, maka bergegas mereka saling mendekat dan menanyakan hal yang sama.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Keduanya terperanjat ketika mendengar pertanyaan dari lawan bicara. Lantas mereka terdiam cukup lama dalam keadaan berdiri dan saling pandang, bahkan senjata mereka masih tergenggam erat di tangan masing-masing.


Setelah sekian lama hanya ada keheningan, Nie Chi bertanya yang di mana pertanyaan ini sebenarnya hendak ditanyakan oleh Khuang Peng.


"Sebenarnya apa yang terjadi, apakah ini kebetulan?"


Khuang Peng menjawab ragu, "Aku tidak tahu, tapi kupikir memang ada orang yang sengaja menjebak kita?"


Melihat ada keanehan yang dialami mereka berdua, maka Nie Chi mengajak Khuang Peng untuk bicara sambil duduk. Dia memilih duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar, sedangkan Khuang Peng duduk di depannya beralaskan batu datar.


"Begini saja, lebih baik kita saling bertukar informasi untuk mengetahui keadaannya agar lebih jelas. Akan kujelaskan pengalamanku lebih dulu ketika mencari jejak di desa itu." Nie Chi buka suara yang diangguki oleh Khuang Peng.


Mulailah pemuda ini bercerita tentang petualangannya yang mencari informasi seorang diri. Mulai dari berangkat sampai ketika dia tiba di desa ini. Kemudian betapa dia makan di warung pinggir jalan dan bercakap-cakap dengan pemilik rumah makan. Lalu ketika di sawah, ditegur oleh seorang kakek tua, kemudian ditegur lagi oleh kakek dan nenek, dan untuk ketiga kalinya ditegur oleh seorang pemuda.


"Aneh betul, mengapa mereka seperti melarang kita mendatangi tempat ini?" heran Khuang Peng.


"Karena itulah, rasa penasaranku makin tinggi dan aku nekat berkunjung ke bukit menyeramkan ini." tiba-tiba dia teringat akan kata kakek yang duduk di bawah pohon tadi, yang berkata tentang adanya siluman, "Hih....apa mungkin di sini memang ada siluman yang membunuhi orang-orang itu?"


"Hushh! Mana ada yang seperti itu!" Khuang Peng menyangkal keras, "Kalau pun ada, ini masih siang dan menurut cerita-cerita yang pernah kubaca, segala macam setan siluman munculnya di waktu malam."


"Tapi di sini gelap..."


"Kau ini, apa fungsinya menjadi pewaris pusaka kuno itu jika hanya seorang penakut?!" cela Khuang Peng dan memandang pemuda di hadapannya ini dengan datar. Dia berkata lagi, "Sudahlah, lebih baik kau dengar ceritaku. Siapa tahu kita dapat petunjuk."


Khuang Peng mulai dengan ceritanya. Cerita itu dimulai sejak rombongan mereka saling berpisah dan menempuh perjalanan sendiri-sendiri secara menyebar. Saat itu, Khuang Peng tidak pergi bersama rombongan Rajawali Putih lainnya, dia sendirian saja.

__ADS_1


Ketika dia tiba di satu kota, keadaan di sana sedang ricuh dengan obrolan orang-orang yang mengatakan tentang ancaman Serigala Tengah Malam. Tentu saja Khuang Peng tidak menjadi terkejut karena memang perkumpulan itu sering kali berulah membuat onar.


Namun yang membuat ia sedikit heran adalah, ketika dia tiba di rumah penginapan, dia memanggil salah seorang pelayan dan bertanya-tanya.


Pelayan itu sudah tua, ada lima puluh tahun uasianya. Ketika dia dipanggil menuju ke kamarnya, wajahnya ramah dan berseri. Segera lelaki ini menjura dan berkata hormat.


"Ada keperluan apakah tuan muda memanggil saya?"


"Aku hendak tanya-tanya, mengenai topik panas di kota ini. Apakah memang akhir-akhir ini Serigala Tengah Malam sering kali muncul?"


Orang itu nampak sedikit kaget, namun masih tersenyum dan mulai menjelaskan. Intinya selama ini, yang sering berulah itu bukanlah Serigala Tengah Malam, melainkan para pendekar dunia persilatan.


Mereka mencari-cari adanya Serigala Tengah Malam itu dan pertanyaan yang ditanyakan oleh Khuang Peng bukanlah baru sekali ini terdengar di telinganya. Banyak sudah para pendekar hilir mudik di kota ini yang mencari informasi mengenai hal tersebut.


Pelayan itu bilang jika sering kali para pendekar yang telah singgah di kota ini, mereka akan menuju bukit kecil yang letaknya sebelah barat daya dari kota tersebut.


Karena tertarik, maka pergilah Khuang Peng ke bukit ini untuk menyelidik. Namun setibanya di sana dia dikejutkan dengan mayat-mayat yang tergantung di pohon-pohon dalam keadaan mengenaskan. Darahnya sudah mendidih ketika melihat mayat-mayat itu berasal dari golongan persilatan kaum putih. Nampak dari baju mereka yang tak jarang menunjukkan identitas dari partai mereka.


"Setelah melihat adanya orang hidup di sini sendirian saja, kukira kau lah yang menjadi penjaga bukit ini dan melakukan semua tindakan keji itu. Tak disangkanya ternyata itu adalah dirimu." ucapan ini sekaligus menutup cerita Khuang Peng itu.


Nie Chi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mencoba berpikir dan mencari suatu hal yang bisa dijadikan titik terang untuk masalah ini.


Khuang Peng pun berpikir keras, memutar otaknya untuk mencari kejanggalan dalam kejadian ini. Dia sadar antara pengalamannya dan pengalaman Nie Chi pasti ada sebuah kejanggalan, namun dia tak paham apa itu.


Selagi keduanya terbenam dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba mereka terkesiap ketika mendengar lengkingan saling susul menyusul dari kejauhan. Serentak Nie Chi dan Khuang Peng bangkit dengan senjata di tangan.


"Hati-hatilah, mungkin ini perangkapnya!"


Nie Chi mengangguk mengiyakan ucapan Khuang Peng. Keduanya lalu berdiri saling beradu punggung, dengan begini keadaan mereka lebih kuat jika harus menghadapi pengeroyokan orang.

__ADS_1


Setelah lengkingan-lengkingan itu berhenti terdengar, dari keempat penjuru nampak bayangan orang yang bergerak cepat sekali. Sedetik kemudian, tahu-tahu mereka telah dikurung oleh empat orang.


Baik Nie Chi dan Khuang Peng terkejut sekali melihat siapa adanya mereka itu.


Nie Chi melihat ada seorang pria paruh baya yang berdiri di hadapannya, berpakaian seorang pelayan. Kemudian tak jauh di sebelah kanannya, nampak seorang kakek yang sikapnya selalu kelihatan marah. Di sebelah kiri seorang berpakaian pelayan itu, berdiri nenek tua yang berkebalikan dengan si kakek sebelah kanan. Nenek ini nampak lebih sabar dengan senyum selalu menghias bibir.


"Kalian...orang-orang desa!" kata Nie Chi kaget sekali begitu mengenali mereka. Karena mereka itu tak lain adalah si pemilik rumah makan, lalu kakek dan nenek yang istirahat di bawah sebatang pohon pinggir jalan.


Khuang Peng pun juga terkejut sekali mengetahui sosok yang berdiri di hadapannya. Dia merupakan seorang paruh baya yang mengenakan pakaian pelayan pula. Mulutnya berseru, "Ah, kau pelayan di penginapan itu!"


Sekarang tahulah mereka, jelas bahwa keduanya telah dijebak oleh orang-orang yang ditanyai mengenai informasi Serigala Tengah Malam.


"Apa mau kalian!?" bentak Nie Chi garang.


"Hm...Pendekar Tongkat Besi dan Pendekar Pedang Darah, akhirnya kalian datang. Beruntung kalian yang datang sehingga kami tak akan main bunuh." kata pemilik rumah makan yang didatangi Nie Chi.


"Apa maksudmu? Apakah kalian memandang remeh?"


"Bukan begitu." nenek itu menyahut, "Senjata kalian merupakan warisan yang tak ternilai harganya."


Keduanya makin waspada, karena kini jelaslah bahwa identitas telah terungkap.


"Saudara Nie Chi, jangan jauh-jauh dariku agar pertahanan kita lebih kuat!" kata Khuang Peng yang maklum pastilah empat orang ini berilmu tinggi, mengingat suara lengkingan-lengkingan tadi.


"Baik!" kata Nie Chi menjawab sambil melintangkan tongkat di depan dada. Ia sudah memasang kuda-kuda siap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2