Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 22 – Senyum untuk Sung Han


__ADS_3

Siasat yang dipergunakan Hati Iblis memang cukup berani dan boleh dibilang hebat. Siasatnya memang benar seperti yang dibicarakan oleh Sung Han dan Giok Shi pagi itu.


Jin Yu mengutus orang-orangnya untuk mengacau di desa-desa sekitaran markas Naga Hitam untuk menarik keluar Giok Shi. Tapi sepertinya harus butuh usaha lebih keras karena yang muncul malah tiga murid utamanya.


Namun betapa girang Jin Yu ketika ada satu orang yang berhasil lolos dari kejadian di hutan itu. Dia mengatakan kalau ada seorang pemuda bekas kacung Rajawali Putih yang memegang Pedang Gerhana Matahari. Tapi sayang tak lama setelah mengatakan itu, dia menjadi gila dan berteriak-teriak histeris. Tak ada pilihan lain bagi Jin Yu selain membunuhnya.


Dengan datangnya kabar ini, dia kembali menyusun rencana untuk mencari pemuda ini. Tapi kembali ada berita baru sebelum rencana selesai dibuat. Saat tiba-tiba ada anggotanya yang menyamar sebagai murid Naga Hitam datang untuk melapor.


"Maaf saya meninggalkan markas Naga Hitam tuan. Tapi sungguh saya tidak berani, saya mendengar kabar kalau si pembantai di hutan itu hendak dibawa pulang ke markas Naga Hitam." kata seorang pria yang bukan lain adalah sosok murid yang lima tahun lalu melapor akan ditemukannya murid Giok Shi.


Jin Yu sebenarnya marah karena mata-matanya berani meninggalkan tugas. Tapi marahnya segera ditindih dengan rasa girang. Dengan hadirnya si pemuda di markas Naga Hitam, maka dia hanya butuh satu siasat untuk menaklukkan Giok Shi dan pemuda itu sekaligus.


Maka dia memerintahkan anak buahnya untuk mengacau hanya di desa-desa sebelah timur markas Naga Hitam. Kemudian dia membuat siasat lain yang lebih "jitu" dan "manjur".


Siasat ini adalah untuk meringkus Pedang Gerhana Bulan. Karena menurut Jin Yu, jika pedang itu berhasil terampas, Naga Hitam tak akan tinggal diam. Sisanya, hanya rebut paksa kitab Giok Shi melalui jalur perang kalau perlu.


Tapi Jin Yu sudah diperingatkan oleh putrinya dan Ki Yuan, kakek bijaksana dari Hati Iblis. Mereka berkata bahwasannya jika sampai rencana ini gagal, maka yang diterima hanyalah gagal total, tidak ada gagal sedikit.


Karena boleh jadi, berita akan menyebar dan tak menutup kemungkinan sampai ke telinga Sie Kang yang cepat mengambil tindakan. Jika seperti itu, Hati Iblis akan keok untuk menghadapi dua perkumpulan sekaligus.


Akan tetapi Jin Yu tetap nekat untuk melanjutkan rencana. Maka dua orang ini hanya mengikut dengan hati gusar.


Rencana itu adalah....


...****************...


"Kau ini....sudah tahu sakit kenapa memaksakan diri. Aku ada di sini, tak bisakah timpakan pekerjaan rumah padaku hanya untuk sekedar balas budi?"


Sung Han dengan telaten memeras handuk kecil di tangannya sebelum kemudian ia tempelkan ke dahi Yu Ceng yang wajahnya nampak merah padam akibat demam.


"Laki-laki soal urusan rumah ceroboh sekali..." gumamnya perlahan. "Kalau kau niat menolong, kemana saja dari tadi?" lanjutnya.


"Di sana." ucapnya menunjuk ke langit-langit, "Aku ada di puncak pohon untuk melihat pemandangan."


"Orang persilatan memang aneh!"


"Aneh lagi orang yang tak bisa silat sedangkan dia sudah lama tinggal di pemukiman ahli silat." jawab Sung Han tersenyum.


"Cih!"


Sudah sekitar tiga minggu lamanya Sung Han tinggal di sini. Sehari-harinya kalau tidak pergi ke sungai, memancing, jalan-jalan, menemani Yu Ping bermain, meditasi di bawah air terjun, mengusili ayam hutan yang sedang berkokok, membentak sepasang rusa yang kawin tak tahu tempat atau menusuk-nusuk hidung kucing hutan yang lagi tidur, maka dia merawat gadis dua puluh tahun ini yang tiba-tiba ambruk.


Memang tubuh Yu Ceng itu lemah, entah apa penyebabnya tak ada yang tahu. Menurut Giok Shi, itu adalah faktor keturunan.


Selama tiga minggu ini, Sung Han juga jadi lebih akrab kepada Yu Ceng apalagi Yu Ping. Agaknya dua orang itu sudah melupakan perbuatannya membantai anggota Naga Hitam di hutan dan menganggap hal itu memang ganjaran atas dosa mereka lima tahun lalu.

__ADS_1


Tapi walau pun begitu, ada satu hal yang kadang membuat Sung Han sedikit tak nyaman. Itu adalah, selama ini Yu Ceng belum pernah sekali pun tersenyum padanya!


Terdengar suara berisik di tangga pohon yang menuju ke rumah ini. Tahulah mereka siapa yang datang begitu pintu terbuka kasar dan mendengar suara nafas gadis yang ngos-ngosan.


"Ada apa? Dikejar setan dari pintu neraka yang mana? Beritahu aku, biar kuberi hajaran." ujar Sung Han menyambut Yu Ping yang berdiri di ambang pintu dengan dada kembang kempis.


"Dua kakakku yang baik, bolehkah aku minta sesuatu?"


Sung Han dan Yu Ceng mengerutkan kening. Melihat ini Yu Ping melanjutkan sambil menyunggingkan senyum lebar, wajahnya berseri, "Di desa sebelah barat dekat sini, akan ada pertunjukan silat dua hari lagi. Aku ingin menonton!"


Memang gadis bernama Yu Ping ini unik sekali. Semenjak kecil menurut penuturan kakaknya atau bahkan dia sendiri, tak pernah sekali pun dia belajar silat. Selama di sini, dia hanya membantu kakaknya memasak untuk para murid baru.


Tapi walau pun begitu, Yu Ping ini gemar sekali dengan hal-hal berbau silat. Melihat orang main silat, dia tentu menjadi girang sekali. Maka pemuda dan pemudi itu tidak heran dengan keinginan Yu Ping yang ingin menonton pertunjukan silat di desa.


Sung Han tersenyum tipis, "Siapa yang akan menemanimu ke sana?"


"Kalian berdua! Ayo pergi bersama!"


Sung Han menoleh menghadap Yu Ceng yang masih rebah dan hanya kepalanya yang menghadap Yu Ping. "Jika begitu, siapa yang akan memasakkan makanan? Hah...kau tahu kan orang-orang di sini kalau masak bubur rasanya seperti makan lumpur, sekalinya membuat sup kuah di lidah seperti mengulum air laut."


Sung Han kembali menghadap Yu Ping, "Nah, kau dengar pendapat kakakmu. Tetap di rumah dan rawat orang penyakitan ini."


Selesai berucap, pinggulnya kena cubit seseorang.


Yu Ceng tersenyum, dia melanjutkan, "Siapa bilang tidak memperbolehkanmu? Kakakmu ini aku atau dia?" setelah melempar tatapan sinis ke arah pemuda itu, dia berkata lagi, "Pergilah. Sung Han, kau temani dia."


"Hah?" pemuda ini terhenyak kaget, "Apa-apaan dengan nada menyuruh itu?"


"Suruhan dari tuan rumah. Tak puas? Angkat kaki dari sini!"


Sesaat sebelum perdebatan panas yang terjadi setiap harinya, Yu Ping sudah menyosor kakaknya dan menciumi wajah pucat namun cantik itu.


"Hahaha...terima kasih kak!! Aku akan belikan beberapa oleh-oleh, kau tunggulah di sini."


Sung Han yang tadinya hendak membantah, hatinya merasa terharu menyaksikan kerukunan dua kakak beradik itu. Dia hanya menghela nafas dan tersenyum simpul. Jika sudah begini, mana mampu ia menolak? Apalagi melihat wajah Yu Ping, seolah dia sedang melihat Tang Qian, sosok yang sangat disayangnya!


"Hah....tak ada pilihan lain." gumamnya, namun walau pun begitu, Sung Han juga nampak senang.


"Kapan pertunjukan silat itu diadakan? Siang atau malam?" Yu Ceng bertanya.


"Sore hari. Tepat sebelum matahari terbenam."


Yu Ceng mengangguk, "Bukankah lusa itu waktu untuk membeli bahan persediaan? Kalau begitu sekalian beli bahan, kau menontonlah pertunjukan itu."


Yu Ping nampak bingung, "Heh...aku bisa membeli bahan saat pagi harinya."

__ADS_1


"Tak mengapa, biarlah sesekali orang-orang itu makan tanah dan kakakmu ini beristirahat. Hihihi...."


Yu Ping pun juga tertawa geli akan ide kakaknya. Yang dimaksud orang-orang makan tanah itu tentu para murid baru yang tak dapat jatah sarapan.


Yu Ceng menoleh menghadap Sung Han. Namun tatapan yang tadinya lembut dan wajah cantik dengan senyum itu sudah berubah menjadi wajah bengis yang sinis.


"Jangan kau curi adikku, jaga dia!!"


"Baik....nona tuan rumah." jawab Sung Han sekenanya.


...****************...


Setelah menuruni tangga dengan tak sabar dan menarik paksa tangan Sung Han, mereka mendengar seruan Yu Ceng.


"Kalian hati-hatilah."


Yu Ping menoleh dan mengacungkan jempolanya, lalu kembali menarik tangan Sung Han dengan buru-buru.


Tapi pada saat itu, kembali Sung Han mendengar seruan yang memaksanya untuk menoleh ke sumber suara.


"Sung Han."


Sung Han menghentikan langkah, begitu pula Yu Ping yang ikut berhenti.


"Tolong jaga adikku...."


Sung Han melotot, terbelalak, kaget dan heran. Wajah itu, wajah pucat itu, mata yang cantik itu, yang selalu menatapnya penuh sinis dan emosi, kali ini sungguh jauh berbeda.


Tatapan sendu dan tarikan bibirnya yang sedikit pucat, membentuk seutas senyum manis yang tak pernah dilihat oleh Sung Han sebelumnya. Senyuman tulus yang berasal dari hati, yang ditujukan padanya!!


"Terima kasih atas bantuanmu selama ini." lanjut Yu Ceng seraya melambaikan tangan yang dibalas lambaian oleh Yu Ping.


Terbesit satu pikiran entah apa itu di hati Sung Han, namun pemuda ini menghiraukannya dan balas melambaikan tangan seraya berteriak.


"Hahaha...kau ini bicara apa nona tuan rumah? Seperti hendak berpisah dan pergi jauh saja."


"Panggil aku Yu Ceng, setidaknya satu kali!"


"Hahaha...baiklah Yu Ceng, aku pergi dulu. Percayalah, aku akan menjaga adik kecilmu yang manis ini."


Yu Ceng hanya tersenyum....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2