
Sung Han membuka matanya perlahan, yang pertama dilihatnya adalah warna hitam pekat. Kegelapan. Tanpa adanya cahaya.
Sung Han melebarkan matanya penuh rasa panik, ia gelagapan dan cepat-cepat meraba matanya sendiri. Dalam hati berpikir jika dirinya telah buta total sehingga tak mampu melihat kecuali warna hitam.
"Cring..."
Ketika dia hendak meraba matanya sendiri, tangan itu tak mau digerakkan. Lebih tepatnya tertahan oleh sesuatu. Suara nyaring itu terdengar hampir bersamaan dengan gerakan kepala Sung Han yang cepat menoleh karena kaget. Samar-samar ia dapat melihat kilau keperakan dari belenggu tangannya itu.
"Ah...aku tidak buta." setidaknya kali ini bisa bernapas lega.
Ternyata ruangan ini lah yang terlampau gelap. Melihat dari bentuknya yang sama sekali tidak besar, hanya disusun dengan batu, baik di lantai, dinding, maupun atap. Sung Han meraba-raba sekeliling dengan kakinya, dan hanya ada rasa dingin yang dirasakannya.
"Sepertinya ini penjara." ucapnya. Hanya perlahan saja namun saking sempitnya ruangan ini, suaranya memantul ke sana-sini sehingga terdengar lebih keras.
Ketika menoleh ke belakang, dia melihat sebuah lubang persegi sebesar kepala manusia, dengan jeruji-jeruji batu di tengahnya. Ternyata itu adalah sebuah ventilasi untuk tahanan bernapas. Malam ini mendung, sehingga bulan sama sekali tak tampak.
"Di mana ini? Ke mana mereka membawa aku?"
Kembali Sung Han memandang sekeliling, tapi hanya kegelapan yang ada. Jika tubuhnya dipaksa bergerak, seluruh otot sendi seakan menjerit kesakitan, membuat ia merintih lirih.
Sadar tak ada sesuatu pun yang bisa dilakukan, maka Sung Han memilih untuk tidur.
Serasa seperti baru menutupkan kelopak matanya, dia terpaksa bangun lagi karena tengkuknya merasa hangat. Begitu terbangun, ternyata cahaya matahari sudah bersinar terang dan membuat tengkuknya panas. Saat inilah baru terlihat jelas bagaimana struktur ruangan ini.
Ruangan itu berbentuk persegi, mungkin berukuran dua kali tinggi orang dewasa. Di depan sana ada pintu besi yang pada bagian atasnya terdapat lubang persegi kecil. Mungkin berfungsi bagi para penjaga untuk mengecek tawanan apakah masih di dalam atau tidak.
Sedangkan pada bagain bawah pintu besi, terdapat lubang persegi panjang yang kemungkinan besar digunakan untuk memberi makanan kepada tawanan.
Ruangan ini kecil saja, semua terbuat dari batu kecuali pintu itu. Inilah yang Sung Han benci.
"Batu ini lagi. Tenaga dalamku ikut terbelunggu sialan!!" umpat pemuda ini saat mengenali batu-batu penyusun lantai, dinding dan langit-langit.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang dari luar sana. Refleks Sung Han bersiap. Tapi dia menghela napas akan kebodohan sendiri. Orang di luar itu tak akan berlaku buruk padanya, apalagi membunuhnya. Bukti bahwa dia masih bisa bangun lagi setelah pingsan, itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka tidak ingin membunuh Sung Han lebih dulu.
Pintu terbuka, begitu Sung Han memandang jelas terlihat api kebencian di matanya. Tapi orang yang baru masuk membawa senampan roti kering beserta air minum di gelas kecil itu nampak tenang-tenang saja, bahkan dia tersenyum.
Di belakangnya, terdapat seorang lain. Seorang yang sudah dikenalnya sebagai pemegang pisau racun yang telah memotong tangan Kay Su Tek.
"Yah...kita bertemu lagi. Berapa kali kita bertemu? Dua kali? Ah...tiga kali, kau juga ada di jurang waktu itu." kata orang si pemegang nampan.
Dia duduk bersila di hadapan Sung Han dan meletakkan nampan itu di depannya. Masih dengan senyum menyebalkannya itu, berkatalah ia, "Namaku Bo Tsunji, sedang dia adalah Yu Fei."
Sung Han melirik makanan itu dan mencibir, "Kau sedang mengejekku."
"Hahaha, memang sedikit mengejek karena bagaimana pun kau tak bisa makan dengan tangan. Bisa kau coba gunakan kaki atau langsung mematuknya seperti ayam?"
"Cuih!!" tanpa ragu Sung Han meludahi wajah Bo Tsunji yang masih senyum-senyum itu. "Urusan apa yang membawamu ke mari? Kiranya kalian juga termasuk anjing pemberontak!"
Lelaki yang diludahi itu masih tersenyum dan dengan ringan mengusap ludah Sung Han. Ia berkata, "Kami memang pasukan pemberontak, maka dari itulah tak bisa kubiarkan kau menghalangi rencana kami akan penculikan putri."
Bo Tsunji tersenyum dan memberi tanda kepada Yu Fei yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. Yu Fei segera menyerahkan pedang yang dibawanya itu dan diterima Bo Tsunji. Melihat ini Sung Han baru sadar akan kenehan.
"Aku baru sadar kalau pedangku sudah berpindah tangan!" hatinya berkata.
Bo Tsunji memperlihatkan pedang itu ke hadapan Sung Han, "Kau lihat ini? Ini pedangmu, pedang yang sudah membantai banyak sekali anggota kami di malam itu. Sekarang berikan ilmu-ilmu simpananmu yang menjadi penunjang pedang ini, jika begitu ketua pasti bisa memberimu posisi ketika pemberontakan berhasil kelak."
Tiba-tiba terdenga tawa menggelegar, ditambah ruangan yang sempit itu membuat suara tawa Sung Han makin keras dan memekakkan telinga. Masih dengan tawanya, sekali lagi Sung Han meludahi Bo Tsunji.
"Cuih!! Bunuh saja aku sialan!!! Aku tak akan memberikan ilmu simpananku!"
Kali ini Bo Tsunji menunjukkan perubahan ekspresi. Wajahanya merah gelap ketika darah melonjak naik ke kepalanya. Secepat kilat ia sudah bangkit berdiri dan menendang dagu Sung Han.
"Buaghh!!"
__ADS_1
"Bajingan kau!!"
"Buangg!!*
"Bughh!"
"Buaghh!"
Pukulan dan tendangan bertubi-tubi dilontarkan Bo Tsunji menghujam tubuh Sung Han yang masih dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya. Pemuda itu tak sudi untuk sekedar berteriak, bahkan dia menerima semua hajaran itu dengan mata terbuka lebar.
"Jangan sombong!" kali ini Sung Han membentak. Lalu dengan kecepatan kilat tiba-tiba kakinya bergerak cepat menendang perut Bo Tsunji.
Orang itu terlalu terkejut dan tidak siap, membuatnya tak lagi sempat menghindar. Maka dengan telak tendangan Sung Han berhasil bersarang di perut Bo Tsunji.
"Bughh!!" Bo Tsunji terpental dan menabrak dinding. Walau begitu pedang gerhana masih di tangan. Ketika Yu Fei hendak maju memberi serangan balasan, Bo Tsunji menahannya.
"Hahahaha....kau telah membuat dirimu sendiri lemah dengan memasuki tempat ini. Apakah kau lupa bagaimana aku memberi hajaran padamu dan ketuamu malam hari itu. Belum cukupkah pengalaman itu untuk membuka matamu siapa yang lebih kuat?"
Memang sejatinya tingkat Sung Han dan dua orang itu masih sedikit lebih tinggi. Jika saja keduanya tak maju menyerang bersama di malam itu, mungkin Sung Han akan lebih mudah merobohkannya dengan pertandingan satu lawan satu.
Begitu pula dengan ruangan ini, walau tenaga dalam Sung Han terkurung, tapi itu juga berlaku sama kepada Bo Tsunji dan Yu Fei. Dengan tenaga dalam yang sama-sama terkurung dan hanya mengandalkan kekuatan fisik, agaknya masih Sung Han pemenangnya.
Bo Tsunji bangkit dan menatap Sung Han penuh kemarahan, "Kalau begitu roti ini adalah makanan pertama sekaligus terakhirmu di penjara ini. Matilah sedikit demi sedikit!"
"Hahahaha....!!" suara tawa Sung Han terdengar keras sekali. Mengiringi kepergian dua orang itu yang menahan kemendongkolan hati sebab tak bisa mengambil ilmu-ilmu Sung Han.
Sengaja Bo Tsunji membiarkan Sung Han mati pelan-pelan, selain untuk membalas sakit hatinya, dia juga berharap Sung Han akan minta ampun dengan memberikan ilmu-ilmunya. Jika begitu dia sama sekali tidak rugi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1