
Seperti yang sudah direncanakan, mereka berlima pergi menuju ke gerbang barat melalui genteng-genteng rumah penduduk. Selama perjalanan ini mereka tak pernah saling bicara, untuk mengantisipasi adanya pendekar sakti yang mungkin saja berada di sekitar.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat dekat dengan tembok kota. Gu Ren mengajak mereka semua untuk berhenti terlebih dahulu dengan bersembunyi di balik sebuah kedai teh. Ia merunduk untuk menyamarkan tubuhnya di balik bayang-bayang, kemudian mengintip dari balik tembok.
"Nah, sesuai yang terlihat tadi, tak ada yang berubah," katanya setelah memastikan jumlah orang yang berada di pintu gerbang. Sepuluh berjaga di bawah, sepuluh lagi berkeliling, sedang tiga puluhan berada di atas membentuk barisan pemanah. "Kalian di sini lebih dulu, jangan keluar sebelum kuberi tanda."
Keempatnya mengangguk.
Gu Ren keluar dari persembunyian dan berjalan ke arah gerbang dengan biasa. Seolah dia memang seorang prajurit yang baru saja kembali dari tugas patroli.
Gu Ren menyapa beberapa orang yang sedang main catur di sana, ada yang menanyakan kenapa bajunya berdarah, Gu Ren hanya menjawab bahwa dia baru saja melawan macan tutul yang ada di hutan kecil dekat situ, dan itu merupakan darah macan. Ia masuk ke salah satu pintu yang merupakan tangga menuju ke atas. Ke tempat lonceng.
Sesampainya di atas, ada tiga orang di sana ditemani arak wangi berkualitas.
"Oh, siapa kau?" tanya salah seorang. "Aku belum pernah melihatmu, dari pasukan mana kau dan mau apa ke mari?"
Gu Ren tersenyum lebar. "Hanya melakukan tugas."
Seseorang lain mengerutkam kening. Dia lalu memandang bulan. "Tapi ini belum waktunya pergantian tugas."
Gu Ren masih tersenyum. "Ini sudah ganti tugas."
Dan sebelum ada seorang pun dari mereka yang membuka suara, tangannya sudah bergerak menggorok leher mereka dengan sepasang kipasnya. Darah menyiprat memenuhi satu ruangan kecil itu.
Gu Ren lalu menumpahkan guci arak dengan cara memecahkan guci tersebut. Ia lalu mengoles-oleskan darah tiga penjaga itu ke bajunya sendiri sebelum mencongkel secuil batu benteng lalu ia sambitkan ke tempat Xian Fa dan lainnya berada.
"Tak!"
Suara kerikil yang menghantam tembok bangunan terdengar. Itu merupakan tanda isyarat dari Gu Ren sesuai yang direncanakan tadi. Keempatnya saling pandang lalu mengangguk bersamaan. Sesaat kemudian, tubuh mereka melesat ke tujuan masing-masing. Xian Fa dan Han Ji pergi ke atas tembok bagian selatan pintu gerbang sedangkan Nie Chi dan Khuang Peng ke tembok bagian utara.
Karena mereka merupakan pendekar sejati, sehingga tak terlalu sulit untuk merambat tembok itu dengan cara seperti cicak. Sesampainya di atas, keempat orang itu segera mengeluarkan senjata pusaka mereka dan tanpa ragu menyerbu lima belas orang di masing-masing sisi tembok.
Tak sampai dua menit, keempat orang itu sudah berhasil meratakan mereka semua. Tanpa suara. Sekali pun ada suara, itu hanya berupa jeritan tertahan yang bahkan tak terdengar dari bawah karena hembusan angin kencang. Ternyata, tugas mereka dapat diselesaikan tanpa ada satu pun orang yang sempat lari menuju lonceng.
__ADS_1
Setelah beres, Gu Ren memberi tanda dan kelima orang itu langsung melompat turun dari atas tembok. Kemudian beraksi membantai semua penjaga yang terlihat di tembok barat ini.
"Penyusup!"
Satu teriakan nyaring yang belum selesai sepenuhnya, namun lehernya sudah ditembus oleh Pedang Darah. Keadaan cukup ramai beberapa saat di sini, namun hanya sebentar saja sebelum kembali sunyi.
"Ayo buka gerbangnya," kata Gu Ren dan pergi ke salah satu sisi. Demikian pula dengan tiga orang lain yang pergi ke salah satu sisi.
Empat orang pria itu lalu memutar roda gerigi yang berada di kedua sisi gerbang. Sontak gerbang bergerak membuka perlahan-lahan sampai terbuka sepenuhnya.
Setelah pintu gerbang terbuka, keadaan di luar masih sunyi hingga beberapa menit berselang. Sebelum terlihat satu cahaya obor kemudian disusul dengan obor-obor lainnya. Seketika hutan di depan sana menjadi terang benderang.
"Itu mereka, pasukan paduka putri," kata Gu Ren bernapas lega.
Memang itu adalah pasukan sang putri yang hendak menyerbu istana pangeran Song Ci tanpa menimbulkan peperangan di kota. Dia menggunakan siasat untuk masuk secara diam-diam dan menyergap pangeran itu bahkan sebelum siap.
Debu mengepul tinggi dari kejauhan, pasukan besar itu jelas tidak bersantai, mereka memacu kudanya dengan cepat.
"Sebelum para pelapor menyampaikan kedatangan kita ke istana, kita harus sampai duluan!" seru putri Song Zhu dengan gagahnya di barisan terdepan. Di sebelah kanan ia ditemani oleh Khong Tiat. Sedangkan barisan garis depan diisi oleh Naga Hitam dan Rajawali Putih.
Begitu pasukan ini memasuki pintu gerbang, serentak lima orang pendekar itu menjura hormat. Sepintas lalu putri itu melirik ke samping dan melihat sosok Han Ji.
Dia tersenyum haru. Gu Ren sudah mengatakannya, bahwa satu-satunya perempuan yang akan membantu untuk membuka gerbang nanti adalah Sung Hwa yang sedang menyamar.
Namun putri itu sadar dia tak ada waktu untuk sekadar reuni. Dia terus memacu kudanya menuju ke istana diikuti oleh lima ratusan pasukannya. Keadaan menjadi berisik begitu pasukan besar ini menerobos masuk. Lonceng raksasa di dua gerbang lainnya dipukul nyaring dan para penduduk keluar rumah dengan panik.
Salah seorang dari pasukan sang putri, yang memegang terompet, meniup terompet itu kuat-kuat seolah hendak menyaingi suara lonceng. Ditiup dengan nada dan tempo tertentu. Itu merupakan isyarat untuk menyerang.
"Maju terus!!" perintah sang putri sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Dari depan sana, sudah menyerbu sepasukan prajurit Kota Daun yang asalnya dari istana. Mereka segera bentrok dengan pasukan besar ini.
Putri Chang Song Zhu memang tak terlalu pandai ilmu silat, kepandaiannya hanya di tingkat lumayan. Namun setelah bersahabat dengan para pendekar, apa lagi Khong Tiat, dia banyak menerima petunjuk dari mereka dan kepandaiannya meningkat pesat. Sehingga saat ini permainan pedangnya dari atas kuda sungguh membuat nyali lawan menciut.
__ADS_1
Dia amat cantik, amat gagah dan sedap dipandang. Namun satu ayunan pedangnya selalu berhasil memutus urat tenggorokan lawan. Seolah kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya itu semacam hipnotis yang membuat musuh kaku terpesona, namun pada saat-saat itulah tanpa disadari orang itu sendiri, sebilah pedang telah berhasil merenggut nyawanya.
"Terobos!! Kawal sang putri!!" Khong Tiat berseru. Dia merupakan pimpinan para pendekar yang posisinya tepat di bawah Gu Ren. Sehingga karena kini Gu Ren tak ada, dialah yang mengambil alih perintah.
Serentak para pendekar maju dan melingkari sang putri, mereka fokus untuk membuat jalan bagi sang putri. Pasukan dari Kota Daun dapat didesak sampai akhirnya terpaksa mundur.
Kemudian pasukan besar milik sang putri terus bergerak menuju istana tuan kota. Sesampainya di sana, mereka kembali dihadang oleh sepasukan tentara Kota Daun.
Namun pada saat itu, semua orang dibuat kagum ketika kurang lebih dua pasukan ini terpisah sejauh puluhan tombak, terlihat bayangan-bayangan lima orang yang melewati atas kepala mereka. Seperti terbang.
Setelah mendarat di antara dua pasukan, lima orang ini mengamuk bagai gelombang laut pasang. Menggulung-gulung dan menghantam dengan ganas semua orang pasukan Kota Daun itu.
Senjata kelima orang ini berputar-putar dan mengeluarkan bunyi mengaung-ngaung. Sehingga saat pasukan tuan putri sudah dekat, lebih dari tiga puluhan tentara Kota Daun telah tewas.
"Buka jalan darah, lindungi sang putri!!" Gu Ren berteriak. Ia mengibaskan kipasnya ke depan dan gulungan angin menyambar, menerbangkan orang-orang. Terciptalah sebuah jalan untuk pasukan sang putri lewat.
"Maju!" seru sang putri. Tanpa memedulikan kanan kiri, ia fokus untuk melarikan kudanya menuju ke pintu gerbang istana.
Ketika sudah tiba dekat, saat mereka sudah siap untuk mendobrak, lagi-lagi nampak kelebatan bayangan. Kali ini dua orang.
Dua bayangan itu menghantam pintu gerbang istana dengan amat kerasnya dan pintu besar itu jebol seketika. Saat debu yang mengepul mulai menipis, tampak dua orang yang berdiri di kanan dan kiri gerbang. Di tangan mereka memegang sebatang pedang.
"Silahkan," ucap kedua orang pria dan wanita muda itu sambil menundukkan kepala.
Putri itu tahu siapa mereka. Pastilah pengawal pribadinya dan tentu Sung Han. Seseorang yang telah dituduhnya sebagai pemberontak!
Tepat pada saat itu, pasukan membanjir memasuki istana dan perang besar terjadi di dalam. Namun ternyata, setelah beberapa jam, dan bahkan sebelum perang itu selesai, sudah terdengar bunyi terompet dari atas genteng istana. Kiranya sang putri bersama beberapa pendekar sudah berdiri di sana.
Dengan tubuh penuh luka, sang putri mengangkat sesuatu di ujung pedangnya. Sinar obor menerangi benda itu yang ternyata adalah sebuah kepala. Kepala tuan Kota Daun, pangeran Chang Song Ci!
Sang putri berteriak dengan pengerahan tenaga dalam. "Menyerahlah atau mati?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG