
Setelah melihat kepala pangeran yang dijambak oleh sang putri itu, semangat semua prajurit seperti diterbangkan ke udara. Mereka merasa putus asa. Jelas sekali nampak di raut wajah mereka.
Sebenarnya, tidak semua orang dari mereka yang benar-benar ingin memberontak. Bahkan mungkin sebagian besar masih setia terhadap kekaisaran. Namun keadaan memaksa mereka. Tentara dilatih untuk mentaati perintah atasan apa pun juga, tanpa pandang bulu dan secara membuta. Maka dari itulah, ketika pangeran Chang Song Ci hendak memberontak, para tentara itu tak ada pilihan lain.
Alasan ini pulalah yang sempat sedikit meragukan hati Sung Han. Karena itu dia sedikit bersyukur ketika sang putri tidak melakukan pembersihan. Ia mengampuni para perwira dan prajurit yang melemparkan pedangnya, sedangkan untuk yang masih nekat, terpaksa dibunuh.
Malam hari itu juga, istana pangeran Chang Song Ci yang berada di Kota Daun telah berpindah tangan. Para pelayan dan juru masak atau tukang kebun yang tidak tahu-menahu dibiarkan terus tidak tahu. Mereka tetap ditugaskan seperti biasa.
Para prajurit bekas bawahan pangeran dipecah dan disebar untuk menjadi pasukan dari jenderal-jenderal yang lain. Dan untuk orang yang berpangkat perwira atau bahkan jenderal dari Kota Daun, pangkatnya diturunkan menjadi prajurit biasa.
Perang saudara yang cukup hebat, terjadi tak lebih dari lima jam. Namun kabar baiknya adalah, sama sekali tidak ada penduduk yang terluka. Hasil yang cukup baik .....
...****************...
"Kalian tinggallah di sini dulu," desak putri Song Zhu sambil menarik-narik tangan Sung Hwa dan Sung Han. "Ayolah ...."
"Paduka, kami tak bisa berlama-lama di sini. Anda pasti sibuk," Sung Hwa menolak halus. "Lagipula ... kami ada beberapa urusan, jadi–"
"Kamar? Kalian butuh kamar, kan?" putri itu sudah menyela dulu bahkan sebelum Sung Hwa menyelesaikan perkataannya. "Di sini banyak kamar kosong, pakailah salah satunya. Apa kalian sedang berbulan madu?"
"Paduka!" sergah Sung Hwa jengah.
Memang setelah pertempuran itu selesai, Sung Hwa, Sung Han, Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi pergi menemui sang putri.
Wanita itu tak bisa berkata apa-apa ketika melihat sosok Han Ji yang menghapus riasannya, juga Xian Fa yang menghapus jenggotnya. Dia langsung menghambur ke pelukan Sung Hwa dan mengatakan sesuatu yang tak jelas dengan isak tangis hebat.
Setelahnya, dia meminta maaf kepada Sung Han atas kesalah pahamannya dahulu kala itu. Kiranya dia telah dijebak oleh pihak pemberontak yang memang ingin memburukkan nama Sung Han.
Setelah itu, kini, mereka dijamu langsung oleh sang putri dengan berbagai makanan kelas atas yang jarang sekali mereka rasakan. Sebagai kaum pendekar, hanya sekadar nasi dari istana saja sudah menjadi sebuah anugrah luar biasa.
"Sung Hwa, tinggallah dulu, ucapan paduka tak boleh dibantah," kata Gu Ren sambil mencomot kue kering di meja. Lalu dia tertawa. "Hahaha, apakah calonmu itu sudah tidak tahan."
"Mulut naga yang tak pernah dididik!" cela Sung Han. Dia sama sekali tidak memakai segala macam sopan santun. Karena di dunia pendekar, jika sudah bersahabat, segala kesopan santunan itu malah bisa menyinggung orang yang diajak bicara. Menganggap bahwa sopan santun itu perwujudan dari ketidak percayaan, menganggap orang itu bukan sahabat melainkan orang asing.
"Hahaha, aku kalah olehmu." Gu Ren duduk kembali dan menggingit kuenya. "Aku yang sudah banyak umur, belum juga ada yang melirik ...."
Sung Han memandangnya datar. Dia mengedarkan pandangan dan menunjuk ke salah satu sudut ruangan. "Pelayan yang ada di sana entah sudah sejak kapan melirikmu."
__ADS_1
Gu Ren tersentak dan segera menoleh. Benar saja, pelayan setengah tua itu langsung menundukkan muka dengan pipi merah. Demikian pula dengan Gu Ren yang tertawa canggung.
"Oh, astaga," gumam Sung Han mengeluh melihat kelakuan dua orang paruh baya seperti sepasang remaja baru bertemu lawan jenis itu.
"Kumohon, beberapa hari saja," sang putri masih terus mendesak Sung Hwa.
"T-tapi ...." Sung Hwa menjadi serba salah. Sehingga dia melirik Sung Han, menyerahkan segala keputusan pada pemuda itu.
Sang putri paham ini, jadi dia menarik mantel Sung Han, setengah menyeretnya paksa masuk ke dalam. "Mari kuantar kau ke kamarmu."
"Tunggu, paduka." Sung Han menyentakkan jubahnya, merenggutkan diri dari tarikan wanita bandel itu. Dia mundur dan menghela napas beberapa kali. "Maaf kalau tidak sopan, kami sungguh tak punya waktu untuk bersantai di sini," ucapnya seraya menjura.
Sang putri mengerucutkan bibir. "Santailah sejenak, apa tidak bisa? Aku juga ingin bercakap-cakap dengan Sung Hwa. Ada apa sih?"
Sung Han dan Sung Hwa saling lirik dengan ragu. Tatapan mata Sung Han seolah minta pendapat Sung Hwa. Gadis itu berpikir sejenak lalu mengangguk.
Sung Han kembali menatap sang putri. "Kami ... jika tidak salah lihat, waktu pertempuran itu, melihat beberapa orang Jeiji."
Seketika ruangan yang sedang menikmati makan minum itu menjadi hening. Yang sebelumnya berisik dengan keributan orang-orang yang membanggakan kegagahannya di perang itu, bungkam seketika dan mendengarkan penuh perhatian.
tiga orang tokoh utama lain, pewaris pusaka keramat, sudah bangkit berdiri dengan muka pucat.
"Mata kami tidak lamur atau bahkan buta. Kami hafal dengan bentuk rahang serta cekungan mata orang-orang Jeiji. Kau pun pasti sama. Dan kami tadi mendengar beberapa prajurit, di sela-sela pertempuran, berteriak dengan bahasa Jeiji. Sebelum mereka akhirnya menyebar dan dibantai," jawab Sung Han.
Semua orang menghela napas lega. Sang putri berkata, setengah mencela. "Baguslah, sekarang berarti mereka sudah habis, kan? Kau ini membuat khawatir saja."
"Siapa yang tahu?" jawab Sung Han dengan pertanyaan. "Kita tak bisa memastikan untuk siapa teriakan itu ditujukan. Bagaimana jika teriakan itu ditujukan untuk para pendekar Jeiji yang mengintai dari balik bayangan?"
Kembali wajah semua orang diliputi ketegangan. Mereka berbisik-bisik kepada teman sebelah dengan nada gelisah. Salah satu jenderal bangkit dari kursinya dan datang menghampiri. Dia berkata.
"Paduka, apa yang tuan pendekar ini katakan benar adanya. Saya sendirilah yang bertanding dengan beberapa orang Jeiji itu. Tapi saya tak pernah berpikir jika teriakan itu ditujukan untuk orang yang berada di luar kancah pertempuran."
Wajah sang putri memerah karena marah. Dia mengangkat tangan dan mengeplak kepala jenderal muda itu. "Kenapa tak kau laporkan sejak tadi?"
"Maaf ...."
Sung Han yang melihat kesempatan ini segera mundur menghampiri Sung Hwa. Mereka berdua lalu menjura lagi saat Sung Han berpamit. "Paduka, izinkan kami pergi untuk memastikan itu. Sungguh ini amat menggelisahkan hati kami."
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan putri Song Zhu, keduanya sudah melesat pergi meninggalkan istana itu.
...****************...
Setelah itu, sang putri membuat perjamuan setelah kemenangan perang itu menjadi semacam rapat kilat. Dia membagi-bagi tugas kepada para jenderal dan perwira untuk menyisir setiap bagian dari kekaisaran Chang ini.
Sedangkan sepasang kekasih itu pergi ke sembarang tempat. Sampai berminggu-minggu kemudian, mereka melakukan semacam "perburuan" di wilayah utara ini. Lebih tepatnya di dekat Pegunungan Tembok Surga.
Namun, jika mereka berharap akan bertemu para ronin yang pada masa ini cukup mudah ditemui, adalah mereka hanya menemukan para pedagang Jeiji yang membawa pedang katana. Bukan itu yang mereka cari.
Saat itu, kekhawatiran Sung Han makin hebat ketika mendapat kenyataan bahwa seluruh samurai pelarian saat pertempuran di benteng Mustika Naga, dan para ronin, seolah lenyap ditelan bumi dari wilayah utara ini.
Bahkan desa-desa yang dijarah para ronin itu sudah kembali seperti semula. Para penduduk merasa senang karena para rampok dari kekaisaran luar itu sudah pergi. Namun ini hanya menambah kegelisahan Sung Han dan Sung Hwa.
"Apalagi yang mereka rencanakan?"
Pada suatu pagi, Sung Han terlihat marah sekali sampai merobohkan satu batang pohon. Ketika hendak merobohkan pohon kedua, Sung Hwa menyentuh tangannya dan berkata halus.
"Tenang dan duduklah, ada aku di sini, mari kita pikirkan bersama ...." Gadis itu dengan penuh kesabaran, menuntun Sung Han untuk duduk di bawah salah satu pohon. Ia menggenggam tangan Sung Han erat dan meletakkan kepalanya di pundak Sung Han.
"Kau gelisah," kata Sung Hwa lirih.
"Siapa yang tidak gelisah dengan keadaan seperti ini? Sudah berbulan-bulan kekaisaran Jeiji tak ambil pergerakan. Kita hanya saling menunggu, dan ini lebih menegangkan dari pada pertempuran skala besar!"
"Tenang ..., tenang ...." Sung Han mengelus dada Sung Hwa. "Pasti ada sesuatu."
"Apa itu? Bukankah kita selama ini sedang mencari 'sesuatu' itu?"
Makin lama, Sung Han merasa makin gelisah dan tak tenang. Dia tak pernah duduk diam. Matanya melirik ke sana-sini dan tangan yang menggemham tangan Sung Hwa itu berubah menjadi cengkeraman.
Selang beberapa waktu, Sung Hwa tersadar. Dengan wajah memerah, dia merenggutkan dirinya dari tubuh Sung Han dan menyeret tubuhnya mundur beberapa meter dari Sung Han.
"Sung Han, belum waktunya! Dasar kurang ajar!" umpatnya. Dan wajah Sung Hwa sudah semerah buah apel sampai ke lehernya.
Sung Han menggaruk tengkuknya, memalingkan muka. "Aku tahu. Kau yang mulai."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG