
Kedelapan orang ronin kenamaan itu sudah mencabut katana masing-masing dan memasang persiapan tempur. Kaki mereka sedikit terpentang dengan kaki kanan ke depan. Pedang katana digenggam dengan kedua tangan.
Kushinage Tenko, ronin yang amat terkenal di seluruh kekaisaran Jeiji, seorang ronin yang katanya memiliki kepiawaian dalam ilmu pedang menyamai tokoh-tokoh legenda masa lampau. Seorang ronin yang amat ditakuti dan disegani karena sekali pedangnya tercabut, mustahil ditarik kembali sebelum kepala lawan telah terpisah dari badan.
Namun kali ini, di daratan musuh, dia sama sekali tidak mampu menyadari keberadaan tiga orang yang tiba-tiba datang itu. Seorang pemuda dengan pakaian amat sederhana, bermata kuning cerah yang sikapnya acuh tak acuh. Lalu seorang pemuda lain yang hanya bertangan satu, sebatang pedang tergantung di punggung, dia menatap kedelapan lawannya dengan dingin. Kemudian seorang kakek yang berwajah kereng, bermata tajam dengan pakaian serba hitam.
Sejak kapan mereka datang? Inikah yang dinamakan tokoh-tokoh pendekar dari daratan Chang? Tanpa sadar Tenko berpikir demikian.
"Kita libas saja mereka!" seru salah seorang temannya yang sudah siap dengan kuda-kuda menyerang.
Namun Tenko yang menjadi pimpinan dan lebih cerdik itu segera menghentikan perbuatan temannya. Dia memasukkan kembali pedangnya dan melangkah ke depan.
"Maafkan bila kedatangan kami mengganggu. Inikah yang dinamakan para pendekar Chang?" tanya Tenko walau dengan nada biasa, namun sama sekali tidak terdengar menghormati.
Kay Su Tek memandang dingin, Walet Hitam mengerutkan kening. Kemudian terdengar Sung Han berkata, "Kalian yang dijuluki sebagai ronin kan? Kalian sudah mengunjungi pantai daratan Chang di bagian selatan seberang pegunungan raksasa itu? Jika sudah, seharusnya kau tak perlu menanyakan pertanyaan bodoh itu."
"Pegunungan raksasa?" tanya Tenko.
"Pegunungan Tembok Surga."
Tenko mengerutkan kening, "Mungkin yang kau maksudkan adalah pegunungan tiada batas itu." Tenko memastikan dan Sung Han hanya mengangguk. "Ya, kami sudah datang ke pantai selatan semenjak kekaisaran Jeiji melakukan invasi."
"Apa di sana tidak ada para pendekar?"
"Ada."
"Lalu apa-apaan pertanyaanmu tadi? Bukankah sudah jelas jawabannya?"
Mendengar pertanyaan Sung Han yang tepat sasaran itu, Tenko menjadi jengah. Namun untuk menutupi rasa malunya, dia menjawab, "Kami hanya ingin memastikan bahwa malam ini kami tak salah bunuh orang. Kami menargetkan para pendekar di sini, bukan para jembel."
"Inilah kekuatan jembel!!" Sung Han membentak dan tiba-tiba saja tanpa diketahui semua orang, dia sudah berada di depan wajah Tenko dengan tangan terulur melakukan pukulan.
Ronin ini mengenal bahaya dan dia terkejut sekali. Namun karena sudah banyak pengalaman dan memang memiliki kepandaian, ia mengelak dengan cara miringkan kepala ke kanan. Secepat itu pula tangannya sudah mencabut pedang di pinggang dan menebasnya ke lambung Sung Han.
Akan tetapi tiba-tiba pandangannya berputaran. Kiranya saat pukulannya luput tadi, Sung Han telah memutar pergelangan tangan dan menangkap kepala Tenko. Lalu secepat kilat ia banting kepala itu.
"Braaakkk!!"
Tubuh itu jatuh miring tak bergerak lagi.
__ADS_1
"Tuan Kushinage!!" tujuh kawannya berseru kaget.
Akan tetapi pada saat itu, dua "jembel" lain sudah meloncat dan mengirim serangan. Seorang lawan dua ronin, kecuali Sung Han yang langsung menyambut serangan tiga ronin.
Mereka ini bukanlah sahabat-sahabat segolongan, maka diam-diam antara Sung Han dan dua orang lain saling mencurigai. Bahkan Sung Han pun saat ini tidak bisa terlalu memercayai Kay Su Tek.
Maka pertarungan itu dilakukan secara ngawur. Tidak ada formasi dan koordinasi. Walau begitu, kengawuran inilah yang membikin repot tujuh ronin itu dan menyerang kalang kabut.
Tujuh ronin itu harus diakui memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Ketiga tokoh pendekar ini merupakan pendekar sejati yang jarang sekali menemui banding, namun tujuh orang itu masih mampu bertahan dengan permaian pedang lengkung itu.
Hal ini terjadi bukan semata-mata karena tujuh orang itu yang murni dapat menahan gempuran tiga orang lawannya. Sama sekali tidak dan hal itu adalah mustahil!
Seperti yang sudah dijelaskan, diam-diam antara tiga orang itu saling mencurigai satu sama lain. Maka dalam pertempuran ini, karena khawatir dua orang lainnya menyerang diri sendiri, maka antara Sung Han, Kay Su Tek dan Walet Hitam itu saling lirik dengan waspada. Justru kewaspadaan mereka lebih tertuju ke dua orang "jembel" lain, bukan kepada musuh. Maka dapat dibayangkan jika ketiganya bekerja sama dan menyerang dengan serius, kiranya tujuh orang itu tak ada tempat untuk hidup lebih lama.
Pertandingan berlangsung hingga mencapai jurus ketiga puluh. Namun karena mereka saling waspada satu sama lain, maka tidak ada yang berniat untuk mengakhirinya lebih dulu.
Namun Sung Han yang sudah merasa jengkel itu menjadi tak sabar. Ketika ada katana yang meluncur cepat hendak menebas lehernya, dia menggerakkan tangan kanan meraih kerah punggung Walet Hitam. Kemudian ditariknya lelaki tua itu ke depannya seraya berseru.
"Mati sana!"
"Waahh...bocah setan!!"
Walet Hitam terkejut sekali dan menggerakkan tangan. Katana itu berhasil mengenai pergelangannya dan...
Pedang lengkung yang dibuat dari logam khusus itu terpotong menjadi beberapa bagian.
Karena marah, dia tak memedulikan musuh yang terkejut dan membalik untuk menyerang Sung Han. Tangan kanannya teraliri hawa Yin yang amat dingin, diarahkannya ke wajah Sung Han.
"Mampus!!"
"Incaranmu kurang tepat!" seru Sung Han dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Menarik kerah salah seorang ronin dan menjadikannya perisai.
"Desss!!"
Telak sekali tangan tua sedingin es itu menghantam wajah si ronin malang. Bekas samurai itu langsung terkulai dengan wajah pucat membiru, mati seketika.
Sematinya dia, dari belakang sana terdengar suara mendesing-desing secara aneh. Kiranya itu adalah Pedang Gerhana Bulan yang sudah tercabut dari tempatnya.
"Trang-trang-trang!"
__ADS_1
Tiga batang bilah katana terpotong seketika.
"Itu pedang gerhana!!"
"Pencuri!!"
Para ronin yang tinggal sisa enam itu berteriak-teriak. Mereka melompat mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak.
Melihat ini Kay Su Tek melintangkan pedangnya di depan dada, jubah lengan kirinya yang buntung itu berkibaran seperti ekor naga. Benar-benar mengerikan!
"Lawanmu aku!! Jangan jadi pengecut jika melawan kroco saja harus menggunakan pedang keramat itu!!" terdengar bentakan seseorang dan nampak bayangan berkelebat.
Kay Su Tek melirik ke kiri berbareng dengan gerakan pedangnya yang membacok.
"Trang!! Ngiiingg...."
Dua batang pedang bertemu dan terdengar suara mengaung yang memekakkan telinga. Kiranya Tenko yang disangka sudah mampus tadi kini telah bangkit dan mencabut pedang.
"Rasakanlah keganasan para ronin!! Hyaaaaahhh!!"
"Krakk...darr..!!!"
Kay Su Tek membelalakkan mata saking terkejutnya. Menahan tenaga ronin itu bagaikan ditindih sebuah gunung besar. Tangan tunggalnya bergetar sampai batu pijakannya pecah-pecah.
Melihat ini, walaupun terkejut namun enam orang ronin itu bangkit semangat mereka. Serentak keenam orang itu bergerak menyerbu Sung Han dan Walet Hitam. Ada yang berpedang, ada pula yang bertangan kosong karena pedangnya telah patah.
Maka terjadilah pertempuran yang aneh dan juga seru. Sung Han dan Walet Hitam itu bergerak cepat ke sana-sini bukan untuk menghindari serangan lawan, melainkan menghindari serangan kawan sendiri.
Karena baik Sung Han maupun Walet Hitam, terus mencari-cari kesempatan baik untuk membunuh seorang lainnya. Maka tak jarang mereka saling hantam sampai membuat para pengeroyoknya terhuyung.
Di sisi lain, betapa kaget dan girangnya Kay Su Tek ketika dia bertemu tanding dengan lawan yang cukup seimbang. Kiranya pedang di tangan Tenko itu juga merupakan pedang pusaka yang tak bisa dianggap remeh. Walau tak sekuat pedang gerhana, namun cukup hebat juga.
"Siapa namamu!!??" seru Kay Su Tek di tengah-tengah menghindari gencarnya serangan lawan.
"Kushinage Tenko!! Siapa namamu?!"
"Kay Su Tek!! Nyawamu akan dilahap Pedang Gerhana Bulan!"
"Hahaha...nyawamulah yang akan dihisap oleh Pedang Nagaku ini!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG