
Seperti yang diperintahkan oleh Giok Shi, seratusan orang ini segera menyebar ke berbagai penjuru mengepung markas Hati Iblis.
Para penjaga di depan gerbang dan di sekeliling markas itu sudah merasakan firasat buruk, ditambah berkelebatnya sosok bayangan yang cepat sekali. Mereka menjadi makin tidak tenang.
Akhirnya setelah beberapa waktu, barulah mereka dapat memastikan kalau bayangan yang berkelebat itu adalah para manusia. Segera salah satu penjaga gerbang berlari dan berseru.
"Bunyikan tanda bahaya!!"
"Teng....teng....."
Lonceng raksasa di atas menara dipukul keras guna memberi peringatan kepada semua anggota. Orang-orang yang masih berada di markas Hati Iblis itu tak sampai seratus orang, hanya tujuh puluhan saja. Tapi karena sudah menduga akan hal ini, maka Jin Yu sudah memerintahkan mereka untuk bersiap.
"Persiapan tempur!" seru Jin Yu memberi komando ketika salah seorang anggotanya datang melapor. Bersama putrinya, ia keluar dari bangunan paling besar dan berjalan menuju gerbang.
Putrinya mengenakan pakaian yang ringkas, berwarna merah gelap seperti warna kelopak bunga mawar. Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ukiran-ukiran indah.
Tapi pada saat itu, pasukan Naga Hitam dan Rajawali Putih yang sudah sadar kalau musuh telah mengetahui keberadaan mereka, segera menyerbu. Dari kanan, kiri, depan dan belakang diserbu oleh ratusan orang gabungan dua perkumpulan ini.
Di sebelah timur adalah Wan Jin bersama Sie Kang, bersama beberapa orang segera lompati pagar dan membuat onar. Begitu mereka masuk, terdengar pekik-pekik kesakitan dari pasukan Hati Iblis.
Tapi walaupun begitu, agaknya Hati Iblis tak mau terima kalah. Mereka segera menyerbu sungguh pun kalah jumlah. Sehingga di sana terjadi pertarungan mati-matian.
"Swuuusss..."
Wan Jin menghembuskan asap dari mulutnya setelah menghisap cangklong selama beberapa waktu. Hawa panas menyeruak dan membuat lawan bingung juga ketakutan.
Mereka bingung dan bimbang apakah akan mundur atau menyerang karena bagaimana pun juga itu hanyalah asap. Tapi mereka juga takut karena yang mengeluarkan asap itu adalah seorang tokoh kosen, Wan Jin yang berjuluk Si Asap Guntur, tentu saja mereka pikir-pikir lagi sebelum maju menerjang.
Ada seorang yang nekat, ia berseru dan menerjang Wan Jin dari samping. Sedangkan pria tua itu sedang diselimuti oleh asap cangklongnya. Akibatnya, saat sosok nekat ini memasuki lingkup asap Wan Jin, tubuhnya kejang-kejang dan roboh seketika. Tak dapat bangkit lagi.
Hal yang sama terjadi kepada beberapa orang lain yang tak sengaja menghirup asap itu. Mereka menjadi sesak napas sebelum tewas dengan mata melotot.
"Hahahahaha....." tawa Wan Jin menggelegar. Karena tawanya ini pula ilmu asapnya itu makin tebal.
__ADS_1
Sedangkan di lain pihak, tak jauh dari sana, Sie Kang juga mengamuk hebat. Dengan santai saja ia mengayunkan tangan kanan dan kiri untuk kemudian terdengar pekikan nyaring tanda tewasnya seseorang.
Hati Iblis kacau balau, dikeroyok dari berbagai penjuru membuat mereka gugup dan tak karuan. Sungguh pun Jin Yu dan putrinya melakukan perlawanan hebat, tapi belum mampu untuk mendesak lawan yang memiliki banyak tokoh kosen. Di antaranya Sie Kang, Wan Jin dan Giok Shi.
"Hiaaaahhh!"
Jin Yu memekik saat melemparkan empat orang sampai belasan meter jauhnya. Mereka mengaduh-aduh namun hanya sebentar saja sebelum dibuat bungkam selamanya dengan pedang putrinya.
Ketika Jin Yu ingin mengamuk lagi, ada sambaran dahsyat dari kirinya. Cepat ia mengelak dan balas menyerang.
"Dukk–dukk!"
Dua lengan beradu dan akibatnya Jin Yu terhuyung-huyung. Diam-diam kaget sekali karena ada yang mampu mendesak tenaganya sampai membuat lengannya bergetar hebat. Tapi begitu ingat kalau penyerangan kali ini Rajawali Putih ikut ambil bagian, ia tak terlalu terkejut lagi.
"Sudah kuduga....kau yang datang..." ucap Jin Yu memandang kakek sepuh di depannya, "Makin tua makin pandai. Benar-benar luar biasa."
Sie Kang memandang dingin, "Terima kasih pujianmu. Tapi kali ini kita bukan hendak saling memuji."
Sie Kang mendengus tatkala merasakan sambaran angin tajam di punggungnya. Tapi tak ia hiraukan saat ada bayangan berkelebat menahan angin serangan itu.
"Bangsat!" bentak gadis putri Jin Yu ketika tiba-tiba Gu Ren datang dan menghalangi. Tanpa menunggu lama lagi, dua orang ini segera terlibat dalam pertarungan sengit dan menegangkan.
Begitu pula dengan Sie Kang dan Jin Yu, kedunya sudah saling serang dengan hebatnya.
Pertarungan berlangsung sampai lama sekali, lebih dari setengah hari. Ternyata anggota Hati Iblis ini memang tak boleh dipandang ringan, mereka kuat-kuat dan tangkas. Sehingga sungguh pun kalah jumlah, tetap bisa bertahan sekian lamanya.
Giok Shi serta dua murid utamanya, Pat Kue dan Bao Leng, menunjukkan aksi yang luar biasa. Seolah-olah mereka ini yang menjadi pimpinan setelah Gu Ren dan Sie Kang sibuk beradu tinju dengan lawan-lawan mereka.
Giok Shi sengaja tidak mengeluarkan ilmu warisan Raja Dunia Silatnya, karena berpikir hal itu tak terlalu dibutuhkan.
Tak berselang lama akhirnya Hati Iblis mulai kelelahan dan mencapai babak akhir dari pertempuran. Mereka mulai panik dan tak jarang ada yang melarikan diri.
Pertarungan Gu Ren dan putri Jin Yu agaknya telah selesai. Gadis jelita yang tak ada seorang pun tahu namanya ini sudah tergeletak lemas di ujung sana. Tinggal satu serangan lagi tentu dia akan mati.
__ADS_1
Namun saat Gu Ren ingin melakukan tebasan terakhir, ada tubuh besar menerjangnya dari belakang. Refleks ia miringkan badan namun celakanya sedikit terlambat, pundak kanannya kena hantam tangan lawan.
"Auughh!"
Gu Ren terpelanting saat Jin Yu menerjangnya tiba-tiba.
"Ingat ini! Kami akan kembali!!" Jin Yu berseru seraya menggendong putrinya yang sudah pucat tak sadarkan diri. Lelaki itu pun tak lebih baik, lehernya memerah dan mata kirinya pecah.
Tak menunggu jawaban, Jin Yu putar balik lalu menerobos barisan. Walau pun terluka, ternyata dia masih sangat berbahaya. Terbukti dengan beberapa kibasan tangan, banyak orang roboh karenanya.
"Kejar!" seru Sie Kang dan melesat cepat.
Akan tetapi aneh sekali. Ketika Jin Yu berbelok ke belakang salah satu bangunan, dan saat Sie Kang berhasil mengejar, dua orang itu lenyap, seolah tak pernah ada di sana.
Tentu Sie Kang menjadi bingung dan menoleh ke sana ke mari. Bahkan dia menekan-nekan tembok dan tanah guna mencari kalau semisal ada semacan tombol rahasia. Tapi hasilnya nihil.
"Mana mereka?" Wan Jin telah sampai pula dan siap dengan cangklongnya.
"Lenyap." Sie Kang menghela nafas. "Mereka lolos...."
Ketika ia alihkan pandangan ke arah bekas pertempuran, keningnya berkerut dalam, tapi juga menghembuskan nafas lega, "Yah....setidaknya Hati Iblis sudah kalah."
"Masih ada yang lolos. Ayo kejar!" Wan Jin mendesak.
Sie Kang menggeleng, "Kejarlah kalau mampu. Apakah kau pikir orang-orang Hati Iblis lemah? Mereka pasti sudah kabur jauh."
"Tapi...." katanya lagi, "Ini belum selesai...." lanjutnya menatap ke arah kepergian Jin Yu dan putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Sepasang Pedang Gerhana...
...Bagian 1 : Adu Domba...
__ADS_1
...Selesai...
BERSAMBUNG