Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 82 – Seorang Pemuda


__ADS_3

"Hiaaat....Haitt....Haaaa!!!"


Terdengar pekik-pekik nyaring di tengah hutan itu. Tepat di pinggir telaga kecil, hampir mirip rawa karena tertimbun banyaknya semak, nampak seorang pemuda yang hanya menggunakan celana tanpa baju sedang berlatih silat di sana.


Dari gerakannya amat tangkas dan kuat, tidak ada satu pun gerakan sia-sia. Semua serangan dan setiap langkah bukan hanya gerakan kosong belaka.


Orang akan terkejut ketika mengetahui fakta bahwasannya pemuda ini telah mengulang-ulang gerakan yang sama sampai seribu kali! Dan kali ini sedang proses ke gerakan seribu satu.


Selang beberapa jam, gerakannya sedikit berubah. Meskipun begitu gerakannya tetap tangkas dan berisi. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung sudah membasahi tubuhnya, menyiprat ke sana-sini setiap kali bergerak.


Di satu waktu, dia melakukan gerakan penutup berupa lompatan jauh ke depan. Kedua tangan terkembang dengan jari-jari terbuka lebar. Ia membentak nyaring ketika dua tangannya itu bergerak saling bersilangan menghantam batang pohon dari kanan kiri. Ini bukan gerakan silat biasa, melainkan gerakan yang tak sengaja dibuatnya saat sedang coba-coba. Sekedar gerakan main-main.


"Bugh! Bugh!"


Terdengar suara nyaring ketika lambat laun batang itu bengkok dan patah oleh capitan kedua tangan si pemuda. Tanpa dapat dicegah lagi pohon itu berderak dan roboh.


"Huh...." si pemuda membuang napas untuk menenangkan dirinya. Selang beberapa saat ia membasuh tubuh di telaga dan setelah selesai segera pergi ke puncak bukit dekat sana.


Kembali ia membuka baju atas dan bermeditasi, mengumpulkan hawa panas matahari sampai malam datang. Kemudian menyerap hawa bulan sampai malam lewat.


Melihat cara meditasinya, dapatlah diketahui siapa orang ini. Dia tak lain adalah Sung Han, pewaris Pedang Gerhana Matahari yang sudah beberapa bulan ini mengasingkan diri.


Hal ini didasari oleh pengalaman terakhirnya bertempur dengan Jin Yu dan dua orang bertopeng. Jelas terlihat dan terasa olehnya saat itu bahwa kekuatannya menurun jauh. Entah apa sebabnya dia tak tahu, dipaksa untuk berpikir pun juga tidak ketemu alasan logis.


Maka tanpa ada pilihan lain Sung Han memutuskan pergi mengasingkan diri dan memperdalam ilmunya. Ia kembali menjalankan latihan-latihan yang dulu diberikan gurunya, mengulang-ulang sampai tulang punggungnya berasa hampir patah. Berlatih gerakan silat, mengangkat batu, menggulingkan batang pohon dan lain sebagainya.


Lalu setiap hari dia juga melakukan meditasi di bawah sinar matahari dan bulan. Saat pagi-pagi sekali, baru dimulai latihan rutinnya. Kemudian saat tengah hari, dia kembali meditasi sampai pagi lagi.


Hal yang aneh sekali pun terjadi, dan ini benar-benar membuat Sung Han kesal bukan main. Kalau dia memiliki kekuatan sehebat dewa, tentulah sudah dibalikkan satu gunung untuk meredakan rasa marahnya.


Persoalan ini terkait dengan penurunan kekuatannya. Sudah berbulan-bulan dia berada di hutan ini dan berlatih keras, tapi hasilnya tak sesuai harapan.


Ia dapat merasakan kekuatan tenaga dalam dan ketangkasannya melonjak tinggi, bahkan mungkin lebih kuat dari sebelumnya. Tapi tetap saja dia merasa ada sesuatu yang mengganjal sehingga membuat potensinya terhambat.


Entah apa itu Sung Han tak paham, tapi dia selalu merasa ada tembok penghalang raksasa yang membatasi kekuatannya. Sehingga hanya dalam tubuhnya saja tenaga dalam itu meningkat, namun untuk pertarungan, kekuatan yang dikeluarkan sama sekali tidak mengalami perubahan.


"Sebenarnya ada apa dengan diriku!!?" umpatnya kesal pada hari ke seratus enam puluh empat. Sembari mengumpat, ia memukul batu yang lebih besar darinya tiga kali lipat.


"Braaakk!!"


"Bangsat!!" dia kembali memekik kesal, "Dengan kekuatanku yang dulu, setidaknya batu ini sudah berlubang besar. Dan kekuatanku yang sekarang seharusnya bisa hancur!! Tapi kenapa hanya berlubang sebesar ini? Kenapa kekuatanku tak bisa keluar dengan sempurna!?"

__ADS_1


Dia memandangi lubang pada batu itu yang sama besar dengan perut gajah. Dan Sung Han tak puas dengan itu.


"Ah sudahlah!!" akhirnya dia putus asa dan memutuskan untuk pergi, terjun kembali ke dunia ramai. Bagaimana pun juga jiwa petualangnya tak mengijinkan ia untuk tinggal menetap di satu tempat.


Maka berangkatlah Sung Han pada pagi hari itu timur. Ia berjalan lurus saja mengikuti kemana kakinya melangkah. Tiga hari kemudian, sampai di lereng Pegunungan Persik, ia membelok menuju utara menyusuri lereng pegunungan itu.


Selang beberapa hari, dia sampai di satu desa kecil. Sebuah desa yang masih bernaung di bawah kekuasaan kota Daun, kota tempat pangeran Chang Song Ci berkuasa. Sebuah kota yang menjadi muara dari sungai Ekor Ular yang mengalir di sepanjang Pegunungan Persik.


Ia memasuki desa itu dengan tenang, langkah kakinya lambat-lambat. Tapi keningnya berkerut saat mendapati penyambutan tidak bersahabat.


"Ada apa dengan orang-orang ini? Apakah wajahku nampak seperti penjahat?" gumamnya sambil melirik-lirik sekitar. Saat memandang satu gadis kecil seumuran Yu Ping, melihat ekspresi itu, wajahnya sedikit memucat, "Ekspresi jijik apa itu? Jangan bilang dia menganggap aku seorang penjahat cabul?"


Ia mencoba acuh dan terus melangkah. Tapi semakin jauh masuk ke dalam desa, orang-orang itu makin terang-terangan mencemooh dia. Berupa umpatan dan cacian yang membuat kuping Sung Han berkedut sebal.


"Dia pasti orangnya."


"Siapa bilang? Tapi memang patut dicurigai..."


"Siapa tahu? Yang terus terlihat penampakannya bukankah seorang pemuda? Walau mengenakan jubah panjang, tapi postur tubuhnya itu memang pemuda."


"Hih....dia melirik ke mari, ayo pergi!" dua orang itu mengkirik dan berlalu cepat-cepat.


Saat dirinya sampai di kedai makan untuk sekedar mengisi perut, keadaan serupa pun terjadi. Makanan pesanannya dibuat hambar dan para pelayan sama sekali tidak bersikap ramah. Bahkan orang-orang pergi menjauhi mejanya.


"Pasti ada sesuatu....aku tak mau jadi kambing hitam dari awan mendung di desa ini!" gumam Sung Han sekeluarnya dari rumah makan dan memutuskan untuk mengelilingi desa.


Sampai ketika dia melewati satu rumah kecil, yang berada di sudut desa. Telinganya mendengar suara tangisan hebat dari gadis muda dan ibunya. Saat Sung Han menengok dan melihat ke jendela yang terbuka, dilihatnya pria paruh baya yang juga sedang menatapnya. Matanya basah air mata, namun tatapannya menyiratkan kebencian hebat.


Sung Han menjadi kikuk, lalu berlalu setelah menunduk sejenak.


"Pasti ada sesuatu....pasti!!" ia makin yakin dengan firasatnya.


Ketika tiba di rumah lain, ia menemukan sekeluarga yang duduk melingkar di ruang depan. Ada seorang bocah cilik sekitar tujuh tahunan. Sedangkan ibu dan ayah muda itu mungkin baru menginjak umur akhir tiga puluhan.


Sung Han berhenti dan memandang mereka penuh perhatian. Pintu rumah terbuka lebar, sehingga ia dengan sedikit tidak sopan bisa memandang isi dari rumah tersebut. Keningnya berkerut.


"Apakah mereka orang?" tanyanya kepada diri sendiri.


Bukan tanpa alasan, pasalnya tiga orang itu duduk melingkar, saling berhadapan, namun dalam keadaan pandang mata kosong dan wajah pucat seperti mayat. Sung Han yang khawatir tanpa permisi masuk ke dalam rumah dan mengguncang-guncang tubuh mereka.


"Hei, apa yang terjadi!?" Sung Han bertanya ketika sosok ayah dan ibu seolah terbangun dari mimpi. Sedang anaknya tetap bergeming.

__ADS_1


"Kau orang sini?" tanya si ibu mengambang.


"Kau orang luar?" tanya si ayah seperti mengigau.


Sung Han menggeleng dan menjawab, "Aku bukan orang sini." lalu dia menoleh ke arah sang ayah dan mengangguk, "Benar, aku orang luar."


Serentak pandangan ayah dan ibu ini menajam, penuh api kemarahan dan tanpa tahu bagaimana tangan mereka telah mencekal sebatang pisau dapur.


"Kau pelakunya!! Ya, pasti!! Katanya seorang pemuda!!" si ayah berteriak.


"Benar!! Aku melihat sendiri malam itu. Melihat dari cara berjalan dan kulitnya, pasti dia seorang pemuda!!" si ibu berteriak pula, "Tak ada orang luar yang datang akhir-akhir ini! Orang asing sepertimu pasti pelakunya!!" kali ini si ibu sudah menerjang dengan tusukan pisau.


"Wahh...hati-hati!!" Sung Han mengelak, serangan itu lewat di depan tubuhnya. Tapi dia kaget sekali ketika datang tusukan pisau lain dari sang ayah.


"Matilah kau iblis!!!" pekiknya dengan air mata bercucuran.


Sung Han bingung sekali, terpaksa ia mengelak sampai punggungnya menyentuh dinding.


Tapi inilah kesalahannya yang membuat ia menyesal sekali. Kiranya akibat gerakannya menghindar, serangan lelaki itu terus berlanjut dan tak mampu dihentikan. Maklum jika dia tak pernah menggunakan pisau untuk menyerang, ditambah dalam keadaan marah, sehingga si ayah lupa cara memperlambat langkah.


Maka saat serangannya lupur, si ayah kaget sekali sampai membuat kakinya tersandung. Akibatnya, dengan pisau terhunus ia menubruk istrinya yang juga terkejut sekali. Istrinya menggerakkan pisau mencoba menghalau pisau sang suami, tapi karena asal gerak saja, akibatnya sungguh memilukan.


"Crookk!! Crookk!!"


Dua pisau itu menembus dada masing-masing. Diiringi teriakan menyanyat, keduanya meregang nyawa.


Pemuda ini bergeming saking terguncang hatinya. Baru juga ia turun gunung sudah dikejutkan hal semacam ini.


Wajahnya pucat dan tubuhnya kaku ketika melihat si anak yang ternyata sudah membalikkan badan. Menengok semua kejadian itu dengan tatapan kosong.


"Ayah....ibu....?" gumamnya dengan linglung. Kemudian secara aenh dia tertawa ganjil, "Hahaha....baiklah, sekarang giliran aku. Ayah, ibu, kakak, marilah pergi menghadap malaikat maut bersama-sama sebagai keluarga."


Tangannya sudah mengambil pisau kecil dan ditodongkan mengarah leher. Sung Han yang masih terkejut itu tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Sehingga dia sama sekali tak berdaya untuk menolong saat si anak menusukkan pisau kecil itu ke leher sendiri.


"Croook!!"


Darah menyiprat ke mana-mana, bercampur dengan genangan darah dari ayah dan ibu, tubuh anak itu tergolek lemas dan jatuh ke lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2