
Agaknya benar seperti yang diucapkan gadis bercadar itu, tempat ini tidak sesederhana kelihatannya.
Terbukti setelah rombongan itu melanjutkan perjalanan, tiga orang dari baju kuning terperosok jatuh ke dalam jurang yang tertutup semak belukar. Lalu seorang dari baju biru langit tewas seketika setelah mencium kabut kehijauan yang datangnya entah dari mana.
Sedangkan dari pihak Putri Elang sendiri, tujuh orang sudah meregang nyawa ketika tanpa sengaja menginjak rumput-rumput racun.
"Apa kau sudah hafal dengan medan di sini?" tanya wanita bercadar kepada Sung Han dengan tatapan penuh selidik. Bagaimana pun juga , Sung Han lah yang masih tampak sehat dibanding lainnya.
Pemuda itu menjawab singkat, "Tidak."
"Lalu kenapa dari tadi kau tak ada gangguan?" salah seorang baju kuning bertanya penasaran.
"Keberuntungan, atau takdir mungkin?"
Pemuda ini tak menghiraukan celaan dan umpatan dari orang-orang sekelilingnya. Ia terus melangkah seenaknya sesuai keinginannya.
Melihat Sung Han dari tadi tidak terganggu oleh berbagai macam bahaya di hutan ini, maka sejak saat itu tiga rombongan ini mengekor ke mana pun Sung Han melangkah. Dan Sung Han tak mempermasalahkannya, toh kalau dia celaka yang lain akan terkena imbasnya juga.
Tapi entah keberuntungan Sung Han yang kelewatan atau memang sudah habis berbagai macam jebakan itu, sehingga sampai mereka tiba di kawasan yang banyak terdapat lembah serta jurang, mereka selamat.
"Ini tempatnya? Sesuai rumor yang beredar?" Sung Han membuka percakapan melihat pemandangan di bawahnya, sebuah lembah yang cukup curam dengan jurang dalam di sebelah kanannya.
"Sepertinya begitu, lihat ada banyak orang!" kata si baju kuning menunjuk ke pinggiran jurang. Memang di sana sudah berkumpul banyak orang.
"Tunggu apa lagi? Ayo turun." ajak Sung Han tanpa memedulikan yang lainnya, ia segera melangkah menuruni lembah.
Jalan di lembah itu licin sekali, sehingga memaksa mereka untuk mengerahkan tenaga dalam pada kaki dan meningkatkan kewaspadaan. Tapi walaupun begitu, jurang di bawah sana nampak jauh lebih berbahaya.
Rombongan yang sudah tiba lebih dulu itu tahu akan kehadiran Sung Han dan tiga rombongan lain. Mereka memandang penuh perhatian, beberapa dari mereka sudah ada yang mengenal Sung Han.
Sampai di bawah, segera tatapan sinis dan bermusuhan menyambut mereka. Tapi Sung Han tak peduli dan terus melangkah mendekati jurang.
"Bocah, tak ada hormat sama sekali kepada orang-orang yang sudah datang lebih dulu?"
Tiba-tiba ada orang tinggi besar sudah mencengkeram pundak Sung Han dari belakang. Sung Han menghela napas berat.
"Bukankah di sini tidak ada kawan? Kita semua musuh untuk saling berebut pedang itu kan?"
Orang ini menyeringai, melihat dari perawakannya tentu bukan orang baik. "Kalau begitu, kami harus lihat apakah engaku memang pantas menjadi musuh kami."
__ADS_1
Sung Han merasakan sambaran angin menuju tengkuknya, ia tak hiraukan itu. Hatinya mencela dengan kebodohan orang yang hanya melihat dari penampilan luarnya saja. Ia mendengus lirih.
"Hup!"
Sung Han menangkap tangan orang itu yang tadinya hendak memukul, kemudian ia angkat ke depan dan membantingnya. Lebih tepatnya melemparnya.
Kurang lebih sejauh dua langkah di depan adalah jurang, maka tindakan Sung Han ini sudah lebih dari cukup untuk orang itu terlempar masuk ke dalam jurang yang menganga. Orang-orang berseru kaget.
"Apa!?"
"Gila!!"
"Bocah, kau berani!!"
Ada seorang lagi yang menyerbu dan sepertinya kawan dari orang pertama. Sung Han memandang lebih teliti, melihat dari caranya berlari ilmu kepandaiannya tentu sangat rendah. Maka setelah mendengus pendek, ia miringkan tubuh dan menselonjorkan kakinya. Akibatnya orang itu tersandung dan bernasib sama seperti orang pertama.
"Ada lagi?" tanyanya singkat dan tenang.
Tak ada lagi orang yang berani menantang, bahkan bergerak pun harus hati-hati. Sedang tiga perkumpulan yang tadi berangkat bersama Sung Han memasang wajah bersyukur karena pemuda itu tak ada niatan jahat.
Dua orang dari dua perkumpulan berbeda datang menghampiri, Sung Han cukup terkejut mengenal keduanya.
"Kebetulan sekali Sung Han...." Bao Leng, perwakilan Naga Hitam menyapa.
"Haha, sudah kuduga kau akan datang ke mari. Nyalimu cukup besar berani datang sendiri." kata seorang lainnya. Pemuda seumuran Sung Han mungkin sedikit lebih tua, seumurna Yu Ceng. Ia memakai sabuk sutra warna emas. Kay Su Tek, bersama dua murid tingkat satu lainnya, ia memimpin rombongan perwakilan Perguruan Awan.
Sung Han bingung harus memberi tanggapan bagaimana, maka dia hanya berdeham dan berbalik untuk melihat kedalaman jurang.
"Dalam sekali ya...." katanya yang tak menampak dasar dari jurang itu.
"Kau ke mari hendak mencari pedang itu juga?" Kay Su Tek bertanya sembari melihat jurang bersama Sung Han, "Apakah rumor itu benar?" katanya kemudian tidak menemukan tanda-tanda pantulan cahaya di kedalaman jurang.
"Aku ke mari hanya penasaran." Sung Han menjawab dan berhasil mengejutkan semua orang.
Bao Leng mendengus.
"Arogan...." gumamnya tapi masih didengar oleh Sung Han. Pemuda itu hanya acuh.
"Apa maksudmu dengan rumor?" Sung Han bertanya kepada Kay Su Tek.
__ADS_1
"Katanya pedang itu memantulkan cahaya sehingga bisa terlihat dari atas sini." ucap pemuda itu.
"Jangan-jangan yang menyebarkan informasi ini adalah sastrawan itu? Tapi itu hanya dugaan, semua orang bisa juga menduga demikian." batin Sung Han.
"Dipikir-pikir masuk akal juga." Sung Han menolehkan pandangannya ke arah Bao Leng yang di sebelah kiri, "Naga Hitam juga ingin mengambil pedang itu?"
"Mengamankan! Kalau partai lain yang berhasil dapat dan tak digunakan untuk membuat onar, kami akan melepasnya..."
"Hahaha, apakah Naga Hitam berhak atas ungkapan itu? Kalian kah yang memiliki lima pusaka legendaris?" ejek Sung Han. Bao Leng mendelik.
Pemuda ini mendengar suara bisik-bisik, agaknya mereka meributkan soal tindakannya yang melempar dua orang ke dalam jurang itu. Entah benar atau tidak, karena dia mendengar bisik-bisik soal hal lain.
"Lihat...itu dia." bisik salah seorang di rombongan paling ujung.
"Sepertinya begitu, ayo kita pergi diam-diam." sambut orang lainnya.
Mereka berjumlah enpat belas orang, dan seperti yang dikatakan tadi, diam-diam mereka mundur dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Sung Han melihat ke satu arah, dan memang benar di sana ada sinar biru keputih-putihan. Bao Leng serta Kay Su Tek melihat itu, dan spontan tuan muda Perguruan Awan ini berseru.
"Wah, itukah pedang gerhana?" serunya yang melihat sinar di dasar kegelapan jurang.
Hal ini tentu memancing keributan dan beramai-ramai semua orang mendekati jurang untuk melihat lebih jelas. Tatapan serakah langsung tercipta di mata mereka begitu melihat sinar itu.
"Ayo turun!!" teriak pimpinan salah satu perkumpulan.
Diikuti teriakan-teriakan lainnya, mereka segera mencari jalan turun. Tiga perkumpulan yang tadinya bersama Sung Han juga sudah bergerak.
Sebentar saja, hanya menyisakan Sung Han bersama Naga Hitam dan Perguruan Awan.
"Ingin lihat?" kata Sung Han.
"Heh, kau takut bocah?" Bao Leng mengejek.
"Hahaha, ayo turun dan lihat keramaian!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1