Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 241 – Pasukan Manusia Gunung


__ADS_3

Pada masa itu, sejatinya ada sosok penghuni dari Pegunungan Tembok Surga yang amat keramat dan sunyi. Tak banyak orang yang tahu kecuali warga penduduk dekat Pegunungan Tembok Surga. Para penghuni ini adalah Kerajaan Manusia Gunung.


Mereka hidup di dalam Pegunungan Tembok Surga yang amat panjang dan besar itu, yang puncak-puncak gunungnya sampai menembus awan seolah bisa meraba langit biru di bawah sinar mentari. Orang tak akan pernah mimpi sebelumnya jika di sana memang dihuni oleh manusia-manusia. Bahkan tidak sedikit jumlahnya, amat banyak.


Kerajaan Manusia Gunung sejatinya terdiri dari banyak sekali suku. Hingga kemudian beberapa ratus tahun lalu, ada seseorang yang berhasil menyatukan semua suku dan dia inilah yang diangkat sebagai raja pertama Kerajaan Manusia Gunung. Sejak saat itu, seluruh suku hidup damai dalam kesunyian dan ketentraman Pegunungan Tembok Surga. Seolah mereka ini hendak menyatukan diri dengan alam.


Mereka tak pernah turun gunung kecuali ke desa-desa sekitaran untuk sekadar bertegur sapa dengan para penduduk atau mengobati orang sakit. Mereka tak pernah mengganggu hidup orang sehingga keberadaan manusia gunung ini hampir seperti dongeng. Nyata-nyata mitos.


Namun bagi para pendekar, mitos tentang Kerajaan Manusia Gunung ini sudah terkenal sekali. Hampir semua dari mereka percaya sungguhpun hanya dengan mendengar namanya saja. Karena bagi pendekar, mereka tak lagi merasa aneh dengan keberadaan menusia yang bersunyi diri di tempat tak terduga. Sama halnya dengan Kerajaan Manusia Gunung.


Apa pun yang terjadi di daratan, kerajaan ini sama sekali tak mau ikut campur. Ia tak mau membantu salah satu pihak, juga tak mau menebar dendam ke pihak lainnya.


Karena hal inilah maka Tok Ciauw sedikit ragu untuk mendatangi tempat itu dan minta bantuan.


Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya tiga orang Pertapa Sunyi beserta tiga belas muridnya dan Tok Ciauw sampai di Pegunungan Tembok Surga. Sesampainya di sana, orang-orang sakti ini merasa amat kecil dan tak berdaya di hadapan gunung raksasa yang puncaknya sama sekali tidak kelihatan.


Mereka masuk ke dalam pegunungan itu. Namun beberapa menit setelah masuk ke sana, Tok Ciauw mencibir. "Apakah ada yang tahu di mana letak Kerajaan Manusia Gunung itu?"


Si mata putih, yang berjalan di depannya mendengus. "Mana kutahu?"


"Kalau begitu bagaimana kita akan mencari mereka?"


Kini si tinggi besar yang menjawab. "Keberadaan kita jika sudah masuk ke wilayah mereka, pasti akan diketahui. Karena itulah ketika tiba di jantung pegunungan, kita bisa memanggil mereka."


Tok Ciauw tak membantah lagi karena dia memang benar-benar tak tahu akan keadaan di sini. Apalagi tentang keberadaan manusia gunung itu.


Selang sehari perjalanan, mereka akhirnya tiba di daerah antah berantah yang amat padat dengan pohon-pohon raksasa. Semak belukar yang tinggi sampai ke dada pria dewasa, dan hewan-hewan liar yang ukurannya di atas rata-rata.


Sampai sini, si tinggi besar yang memimpin perjalanan itu menghentikan langkah diikuti oleh rombongannya.

__ADS_1


"Di sini," katanya.


Tak ada yang membantah, bahkan Tok Ciauw pun bungkam.


Empat orang itu tahu, bahkan seluruh murid Pertapa Sunyi juga sadar. Mereka ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi sekali sehingga kepekaan mereka terhadap sekitar sudah amat tajamnya.


Sudah sejak beberapa saat lalu mereka merasakan ada banyak pasang mata yang mengikuti. Namun gerakan mereka terlalu halus dan ringan, seolah bersatu dengan angin sejuk yang bertiup di sana. Ini hanya membuktikan bahwa para pengikut itu bukan orang lemah.


Si tinggi besar memerintahkan mereka semua untuk menjura. Maka Tok Ciauw menjatuhkan petinya dan menundukkan badan. Lalu si tinggi besar berbicara sembari mengerahkan tenaga dalam agar suaranya menyebar.


"Kami tiga orang Pertapa Sunyi dan para murid kami, ditemani oleh majikan Goa Emas, mohon diri untuk bertemu dengan raja Chunglai dari Kerajaan Manusia Gunung."


Segera terdengar reaksi. Suara semak dan daun yang yang bergesekan terdengar jelas di sana-sini. Disusul dengan suara mencicit dari arah kanan mereka.


"Tangkis!" si tinggi besar itu memberi komando.


Setelah semuanya dapat tersampok runtuh, keadaan menjadi hening. Kabut rasanya semakin tebal dan udara bertambah berat dengan keheningan menegangkan seperti ini.


Hingga di salah satu sisi, di balik kabut, terlihat kelebatan bayangan beberapa orang. Si tinggi besar itu memerintahkan supaya jangan bergerak.


Kelebatan bayangan itu tahu-tahu sudah muncul di atas mereka dengan senjata tombak yang sudah diacungkan ke ubun-ubun. Mereka terdiri dari tiga orang, menargetkan tiga Pertapa Sunyi.


"Haaapp!!"


Tiga pertapa itu bergerak cepat untuk menangkap ujung tombak dan mematahkannya. Disusul lompatan ke belakang untuk menghindari tubrukan tiga orang itu.


"Sabar! Kami datang sebagai sahabat!" seru si botak cebol dengan nada seramah mungkin.


Namun tiga orang tadi, dengan anehnya, berdiri diam bagai patung. Tidak kembali ke balik kabut, juga tidak menyerang.

__ADS_1


Pakaian mereka yang aneh, berupa mantel kulit hewan dan topeng serigala, menambah kesan seram di hati rombongan para pendekar ini.


Akan tetapi ketika si tinggi besar hendak menegur, ada suara terompet dari kejauhan dan sungguh ajaib, kabut tebal di sekeliling mereka itu lambat-laun mulai menepis hingga akhirnya lenyap sama sekali.


Baru saat inilah mata mereka terbuka lebar. Kiranya mereka ini entah sejak kapan telah dikurung oleh sepasukan manusia gunung. Mungkin ada ratusan jumlahnya. Dan mereka semua sudah menodongkan anak panah ke arah romnongan itu.


Namun ketika terdengar komando salah satu orang, mereka semua menurunkan senjata. Tak berselang lama, datanglah seorang pria tinggi besar yang berpakaian mewah. Bermantel bulu perak dan bertopi bulu. Sikapnya agung dan berwibawa, tatapannya tajam sekali.


"Pertapa Sunyi dan majikan Goa Emas? Kami sudah sering mendengar tentang dua nama itu. Kiranya kalian tidak berbohong," katanya dengan tegas namun bernada datar. "Perkenalkan, namaku Sakha."


Tujuh belas orang pendekar itu segera menjura. Si tinggi besar menjawab. "Kami sudah lupa siapa nama asli kami, sehingga biarlah saudara sekalian menyebut kami sebagai Pertapa Sunyi."


Tok Ciauw melanjutkan. "Namaku Tok Ciauw."


Pandangan Sakha semakin tajam. "Ada keperluan apakah para pendekar ingin menemui raja kami yang mulia?"


Mereka semua tahu bahwa kini jangan sampai salah bicara. Mereka sudah terkurung dan agaknya tak mungkin untuk keluar hidup-hidup jika sampai mereka bentrok. Sesakti-saktinya mereka, musuh-musuh ini juga bukan orang lemah dan merupakan lawan berat.


Sehingga dengan kehati-hatian luar biasa, si tinggi besar lalu mengatakan tujuannya mengapa dia datang ke sini untuk menemui raja Chunglai. Penjelasannya singkat saja namun cukup jelas. Tidak bertele-tele tapi tidak juga menyembunyikan sesuatu.


"Demikianlah," si tinggi besar menutup penjelasannya.


Pandangan Sakha menyipit. "Raja kami juga sedang memusingkan perihal itu. Kami tak bisa menolak tapi juga tak bisa menerima. Agaknya aku tak akan disalahkan jika mengizinkan kalian untuk menghadap beliau. Mari."


Mereka menghela napas lega. Memang belum ada kepastian apakah Kerajaan Manusia Gunung akan menerima mereka. Namun setidaknya kini terbukalah kesempatan untuk mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2